Mag-log inBruk. William meletakkan buku besar itu di depannya. Harold Lambert membulatkan mata dengan panik. Ia tidak menyangka William akan sampai memiliki benda itu. "Melihat dari reaksimu, sepertinya kau tahu ini buku apa, ya?" William menaikkan sebelah alis. "Karena kau tahu ini buku apa, artinya kau juga tahu apa yang akan kukatakan, kan?" "Harold Lambert. Mulutmu yang berkata bahwa kau melakukannya seorang diri dan menolak mengakui pengkhianatanmu terhadap Ravenshire, menjadi omong kosong dan kebohongan yang buruk di hadapan buku ini."Harold Lambert mengepalkan tangannya yang gemetar. Ia tidak bisa menyangkal lagi. Dengan keberadaan buku tersebut, bukti kejahatannya jelas. Mustahil ia bisa lolos. "Terdapat tiga nama mencurigakan di dalam buku ini, Harold Lambert. Sekarang, sedang dilakukan penyelidikan mengenai tiga nama itu. Tapi tim penyelidik tidak bisa menemukan latar belakang orang-orang ini. Menariknya, nama keluarganya tidak terdaftar sebagai rakyat Ravenshire.""Jadi kemungk
"Harold Lambert?" Esther terkejut mendengar nama itu. William mengangguk, dia mengambil pisau dan garpunya. "Setelah tertangkap, tim penyelidik menemukan lebih banyak hal yang janggal dari bisnis yang dijalankan Lambert.""Penimbunan gandum itu sepertinya membuka kasus yang jauh lebih besar lagi. Berkaitan dengan transaksi ilegal, pencucian uang dan itu kemungkinan memiliki hubungan dengan negara tetangga.""Hal tersebut harus ditanyakan langsung pada yang bersangkutan. Karena ini menyangkut reputasi Kekaisaran."Esther terdiam. "Aku tidak menyangka masalahnya akan melebar sejauh ini.""Benar. Dia dulunya adalah salah satu bangsawan yang paling kupercayai. Ah …, ternyata kepercayaan pun tidak ada artinya di mata uang yang banyak." William terkekeh. "Kita berhenti dulu membahas hal-hal yang bisa membuat makanan kita jadi hambar." Esther tertawa. "Hambar katamu ….""Bagaimana keseharianmu selama aku pergi, Esther? Aku telah mendengarnya dari banyak orang, tapi aku tetap ingin mendenga
Saat itu, situasi di Rumah Sakit Kuil benar-benar kacau karena kematian pasien tersebut.Sebenarnya, William sangat ingin terlibat langsung. Esther melarangnya karena penyakit itu menular. Ia meminta Dokter Sylvia untuk memakai alat perlindungan diri lengkap saat mengurus jasad pasien wabah. Pasien yang bukan terkena wabah dipindahkan ke rumah sakit lain demi keamanan dan keselamatan mereka. Jasad tersebut dikebumikan untuk melenyapkan virus yang ada di dalamnya. Pembakaran mungkin akan menyebarkan virus melalui asap meski tidak ada kepastian akan mati atau tidak saat terbakar. Esther melakukannya sebagai bentuk antisipasi pertama sebelum semuanya memburuk. Pasien Pertama, Rowen, dinyatakan sembuh. Tapi tiga orang yang terjangkit setelahnya telah meninggal salah satunya. Esther semakin yakin kalau wabah ini benar-benar membutuhkan penanganan khusus. Kalau diperlukan, seluruh Ibukota bahkan bisa saja ditutup. Selama huru-hara kematian pasien pertama tersebut, Esther bergerak leb
"Kepada Baginda Kaisar William Ravenshire. Harapan kami, semoga kemakmuran dan kestabilan senantiasa melingkupi wilayah kekaisaran Anda. Kami mengikuti dengan saksama perkembangan situasi internal di Ravenshire, khususnya terkait pelantikan Duke Raymond Veldrath Luthadel sebagai pemimpin baru di wilayah strategis tersebut.""Kami berharap ikatan persaudaraan antar negara tetap terjaga baik. Sehubungan dengan pelantikan Duke Luthadel, kami bermaksud mengusulkan pertunangan antara beliau dengan kerabat kami, Tuan Putri Kelima Elaina de Vesperis, sebagai bentuk penguatan diplomasi.""Putri Elaina dikenal memiliki karakteristik yang tenang dan pendidikan yang cukup untuk dapat mendampingi seorang Duke dalam tugas-tugasnya. Kami merasa ikatan ini mungkin dapat menjadi salah satu cara untuk mempererat hubungan diplomatik di masa depan.""Tentu, ini hanyalah sekadar usulan. Jika Baginda Kaisar atau Duke Luthadel memiliki rencana tersendiri, Anda berdua berhak mengabaikan surat ini dengan ala
Melalui pertanyaan William, Baldwin mulai menceritakan tentang dirinya yang ditugaskan langsung oleh Esther untuk mengawasi Wilayah Lambert. Vincent menambahkan cerita tentang pengungsi Lambert yang datang begitu tiba-tiba sampai membuat kericuhan di depan gerbang. Cerita itu terus berlanjut sampai William mendengar bahwa Esther turun ke lapangan untuk mengatasi masalah pengungsi itu. Lalu Baldwin menjalankan tugasnya. Count Lambert yang datang ke Istana dengan air mata palsu, meminta dana bantuan senilai seratus ribu koin emas. Esther yang menyetujuinya debgan tujuan tertentu, dan hasil dari rencana itu telah diperoleh Baldwin setelah empat hari bersabar. "Saya sudah menangkap kusir yang mengatarkan seorang bangsawan Lambert yang memasuki Kastel Lambert. Kusir itu adalah saksi penimbunan gandum tersebut.""Bangsawan setempat yang terlibat ada empat orang termasuk Count Harold Lambert sendiri. Mereka begitu percaya diri membagi seratus ribu koin emas itu untuk diri mereka sendiri,
Sinar matahari pagi menembus celah gorden, menyinari wajah Esther yang masih terlelap. William terbangun lebih dulu, matanya tak lepas dari sosok istrinya yang begitu tenang, dan ia benar-benar menikmati mengamati wajah yang tak ia lihat sebulan terakhir itu. Tangannya terulur, jemarinya menyusuri lekuk wajah Esther dengan sangat hati-hati. Senyumnya terukir begitu jelas. Ia mendengar deru napas Esther yang stabil. Senang rasanya melihat wanitanya baik-baik saja. Tapi, ia tahu betul rasa lelah yang Esther sembunyikan. "Baginda …." Esther membuka matanya perlahan. William terkejut melihatnya yang tiba-tiba terbangun. "Kau masih boleh tidur sebentar lagi, Esther." Ia tersenyum, mengusap lembut pipinya. "Aku memang masih mengantuk." Esther memejamkan matanya lagi. "Tidurlah lagi. Pekerjaan hari ini, aku ingin kau memercayakannya padaku." William mengecup dahinya. "Hmm …." William beringsut duduk, segera setelah membersihkan diri dan berpakaian resmi, ia memutuskan untuk memulai p







