Share

Bab 010 : Pisah Ranjang

Auteur: Xiao Chuhe
last update Date de publication: 2026-01-30 12:05:33

Esther diam, menatap Emma dengan raut datar. “Tidak datang …, maksudmu?” suaranya terdengar sedikit gemetar.

Emma menghela napas panjang sebelum menjelaskan. “Itu …, tampaknya penyakit Baginda Kaisar kambuh …, beliau hampir mengamuk seperti kehilangan kendali diri. Lalu Nona Saintess mengurungnya di kamar pribadi beliau dan merapalkan do’a sepanjang malam.”

Esther tidak mengatakan apa pun. Ekspresi wajahnya tenang. Emma bahkan tidak berpikir Esther akan setenang ini setelah mendengar cerita itu
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé
Commentaires (2)
goodnovel comment avatar
Lara Croft
next kakk, gak sabarrr
goodnovel comment avatar
Rifda Nafisha
gantung bgt ya ampoonnnnn
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Latest chapter

  • Transmigrasi: Menjadi Permaisuri Terbuang   Bab 143 : Truth or Drink

    Malam harinya, selepas mandi, Esther duduk di meja kerja di kamarnya sambil membaca surat balasan dari Duchess Luthadel dan yang lainnya. Ia mendapat respon baik dari rekan-rekannya. Emma mengetuk pintu, lalu masuk sambil membawa botol anggur. "Minumannya saya letakkan di sini, Yang Mulia." Ia meletakkan botol anggur itu di atas meja bundar dekat jendela, tempat Esther memakan camilan, atau terkadang makan malam saat sedang sendirian. "Terima kasih, kau sudah boleh beristirahat." Esther merapikan surat-surat itu. Tak lama setelah Emma pergi, pintu kamar kembali terbuka. Namun karena tak kunjung terdengar suara seseorang atau langkah kakinya, Esther menoleh menatap pintu kamarnya. Ia sedikit terkejut saat melihat William berdiri di ambang pintu sambil diam menatapnya. "William? Ada apa?" William tersentak. "Oh, tidak apa-apa. Aku hanya terkejut saja melihatmu masih terjaga. Sudah dua malam kau sudah tidur lelap sat aku datang."Esther tersenyum. "Aku menunggumu, bukankah sudah

  • Transmigrasi: Menjadi Permaisuri Terbuang   Bab 142 : Trendsetter yang Berbakat

    Esther mengembuskan napas panjang ketika dirinya akhirnya berhasil memasuki gerbong kereta dengan lancar. Emma yang duduk di depannya tersenyum menahan tawa. "Tampaknya Yang Mulia Duke belum benar-benar rela melepaskan Anda, ya, Yang Mulia …."Hal itulah yang membuat Esther sampai mengembuskan napas lega. Ayahnya menahannya hampir lima jam tanpa melakukan apa pun selain membicarakan hal-hal tak perlu. Sudah lewat dua jam dari jadwal pulang yang sudah Emma tetapkan. "Bagaimana dengan Countess Nerida? Dia pasti sudah menungguku lama ….""Seharusnya tidak ada masalah, Yang Mulia. Sebelum pergi, saya menitipkan pesan pada pelayan agar menyampaikannya pada Nyonya Countess jika beliau tiba sebelum Anda pulang." "Hoo? Kau melakukan persiapan yang matang rupanya." Esther menatap penuh selidik, mencurigai sesuatu yang lucu. "Kau bekerja sama dengan ayahku atau bagaimana?"Emma tertawa kecil. "Tentu saja tidak, Yang Mulia. Tapi saya sudah mengira sesuatu seperti ini akan terjadi, jadi saya

  • Transmigrasi: Menjadi Permaisuri Terbuang   Bab 141 : Ayah dan Putri Kesayangannya

    William menguap lebar saat sedang berjalan di lorong menuju kamar Esther. "Aku pulang terlambat …." Ia memijat pelan tengkuk lehernya yang masih terasa kaku—meski sudah mandi—sambil mengembuskan napas panjang. Hari ini cukup melelahkan, tapi ia selalu menantikan malam hari di mana dirinya akan bertemu dengan Esther lagi. Hanya saja, ia tidak yakin apakah wanita itu masih terjaga atau justru sudah tertidur lelap. Saat ia membuka pintu kamar Esther, kekhawatirannya menjadi nyata. Wanita itu sudah meringkuk hangat di balik selimutnya. Deru napasnya stabil dan tenang, William tersenyum tipis. Ia mendekat dan merapikan anak rambut di dahinya. "Kau juga pasti sudah lelah, ya." Karena Esther sudah tidur, William tak punya pilihan selain segera tidur. Semoga besok ia bangun lebih awal dan Esther masih ada di kamarnya. ***"Selamat pagi, Baginda." Begitu membuka mata, suara berat Norbert yang justru menyapa telinganya. William duduk dengan tatapan malas. "Aku bangun kesiangan?" "

  • Transmigrasi: Menjadi Permaisuri Terbuang   Bab 140 : Keberhasilan Pertama

    "Kau ini …."Pelayan itu semakin menundukkan kepalanya, kedua tangannya meremas gaun dengan kuat, berusaha mengurangi rasa takutnya sendiri. "Apakah pelayan baru?" tanya Esther melanjutkan kalimatnya. Matanya menatap penuh selidik, mulai dari warna rambut hitam kecoklatan yang familier itu, hingga bahunya yang sedikit terangkat, dan gerakan menelan ludah yang terlihat jelas. "Be-benar, Yang Mulia. Saya dipindahkan dari Istana Utama bersama empat orang teman saya."Esther menyunggingkan senyum tipis, ia tahu itu hanya dengan mendengar suaranya saja. Suara yang tempo lalu membicarakan Claire di Istana Utama, bahkan merendahkannya yang seorang Permaisuri. "Kalau begitu …, selamat datang." Esther tersenyum lebar seramah mungkin.Ia terlihat seperti akan berusaha keras untuk meninggalkan kesan sebagai atasan yang baik dan terhormat di depan pelayan kurang ajar itu. Ah …, sungguh cara membalas dendam yang sangat manis ….Pelayan itu tampak terkejut melihat ekspresi wajah Esther yang be

  • Transmigrasi: Menjadi Permaisuri Terbuang   Ban 139 : Panjat Sosial

    Dua hari setelah undangan itu diserahkan pada Countess Nerida, Esther menerima banyak surat ucapan terima kasih dan janji akan menghadiri pestanya dari mereka yang telah menerima undangan tersebut. Dalam dua hari, surat balasan yang Esther terima mencapai tiga puluh buah. Ia yang sedang sibuk mengurus persiapan pesta, jelas tak memiliki waktu untuk membukanya satu-persatu dan mendata siapa saja yang akan hadir. Jadi Theron diperintahkan William untuk membantu Norbert memeriksa surat-surat itu. Dari daftar penerima undangan yang telah dibuat dua hari terakhir, sudah ada lebih dari tiga puluh orang yang dipastikan hadir. Kebanyakan bergelar Viscountess, Marchioness dan Countess. Perkiraan Esther, ada sekitar tiga puluh orang Baroness yang mungkin akan menerima undangannya. Namun yang tertera di data sementara itu baru sebelas orang Baroness. Theron dan Norbert saling menatap. Theron terkekeh kaku. "Dari mana Yang Mulia membuat spekulasi seberani itu …?" Terdengar suara langkah k

  • Transmigrasi: Menjadi Permaisuri Terbuang   Bab 138 : Percaya

    Esok harinya, William berencana untuk pergi ke Istana Permaisuri lebih awal dari biasanya, ia bahkan sengaja menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin agar bisa mewujudkan rencana itu. Tapi, Theron justru menahannya di ruang kerja sesaat sebelum ia menandatangani dokumen terakhirnya. William menatap jengkel. "Ada apa?" "Apakah Anda sudah dengar? Yang Mulia Permaisuri berencana memanfaatkan Butik Neridean untuk menyebarkan undangan pesta tehnya." Laporan itu singkat, padat dan jelas.William diam, ia menatap Theron dengan satu alis terangkat. "Memangnya kenapa?" tanya William, acuh tak acuh, seolah informasi itu bukan hal yang mengejutkan sama sekali baginya. Theron memperbaiki posisi berdirinya dengan gugup. "Dilihat dari mana pun …, itu terlalu berisiko untuk reputasinya, Baginda …. Beliau memaksakan seluruh bangsawan dari berbagai kelas untuk setara melalui undangan itu."William mengulas senyum, menandatangani dokumen terakhirnya, lalu menumpuk dokumen itu di atas tumpukan lainny

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status