Home / Fantasi / Transmigrasi: Menjadi Permaisuri Terbuang / Bab 069 : Alasan yang Sebenarnya

Share

Bab 069 : Alasan yang Sebenarnya

Author: Xiao Chuhe
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-01 14:34:28

Terjadi sesuatu yang menyebalkan di detik terakhir sebelum keberangkatan ini. Esther berdiri di samping kereta kuda dengan wajah malas.

Di depannya, Lucien sudah naik lebih dulu dan membuka pintu kereta lebar-lebar supaya Esther bisa masuk dengan leluasa.

Sedangkan William masih berdiri di dekatnya, bahkan mengulurkan tangan untuk membantunya.

Esther menerima uluran tangan itu meski enggan. Satu-satunya alasan adalah mereka berada di tempat umum, betapa tidak etisnya kalau seorang Permaisuri
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Transmigrasi: Menjadi Permaisuri Terbuang   Bab 161 : Diremehkan

    Esok paginya, Esther mengantar William sampai perbatasan Ibukota. Berita kematian Duke Luthadel menyebar bersamaan dengan perginya William ke Utara. Bangsawan Ibukota mulai meributkan berita tersebut. Ada yang mengkhawatirkan keadaan di Utara, ada yang tidak berhati dan mencela-cela, ada yang memanfaatkan situasi untuk mendapatkan keuntungan pribadi, ada pula yang tidak mendukung calon duke Luthadel yang baru, Raymond Veldrath Luthadel. Esther kembali ke Istana setelah kuda William menjauh dari Ibukota. Ia didamping oleh Count Hudson dan Emma mengurus permasalahan politik yang datang bersamaan dengan berita duka tersebut.Banyak bangsawan yang mengkhawatirkan posisi Luthadel di rapat Dewan. Mereka mengatakan bahwa Raymond mungkin butuh lebih banyak belajar untuk meneruskan ayahnya di kursi dewan. Tapi saat ini, Kaisar sedang pergi ke Luthadel untuk memberikan penghormatan terakhir secara langsung. Luthadel adalah bangsawan yang mendapat dukungan penuh sebagai salah satu dari tiga

  • Transmigrasi: Menjadi Permaisuri Terbuang   Bab 160 : Kematian Duke Luthadel

    "Baginda …, Yang Mulia Duke Luthadel, telah berpulang." Theron menundukkan kepalanya. William diam. Berita itu jelas menghantam dadanya dengan keras. Sepulang dari liburan selama dua puluh hari yang penuh bahagia, ia malah diberitahu kalau paman jauhnya meninggal dunia. "Penyebab kematiannya?" tanya William dengan suara rendah. "Luthadel benar-benar diterjang suhu dingin ekstrem selama pertengahan musim semi, Baginda. Ini jelas sesuatu yang sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya." "Yang Mulia Duke, bersama keluarganya benar-benar berusaha keras untuk mengatasi masalah itu untuk melindungi rakyat mereka." "Mereka mengungsikan lebih dari dua ratus ribu jiwa ke Etzel dalam kurun waktu sepuluh hari terakhir. Tidak hanya Yang Mulia Duke, Yang Mulia Duchess dan kedua putranya sangat berusaha keras, Baginda." "Mereka benar-benar memaksakan diri demi keselamatan rakyat. Jalur Perbatasan pun ditutup sejak saat itu, Baginda. "Mereka kelelahan, dan tampaknya, ujian tersebut adal

  • Transmigrasi: Menjadi Permaisuri Terbuang   Bab 159 : Momen Terakhir

    Waktu berlibur itu berlangsung selama satu Minggu penuh. Berbagai aktivitas sosial juga menyibukkan mereka sesekali. Menikmati hari di tepi pantai adalah aktivitas yang paling disukai Esther. Kegiatan lainnya adalah berbelanja ke pasar dan menyapa penduduk Belmaris. Hari ini adalah hari terakhir mereka di Belmaris. Esther datang ke pasar dengan William, menyembunyikan identitas mereka dan berbaur dengan rakyat biasa. Tujuannya adalah kembali dengan oleh-oleh sebanyak mungkin selayaknya turis biasa. "Ini cantik." Esther menunjuk sebuah topi pantai berwarna coklat dengan hiasan bunga yang indah. William terkekeh. "Kau tidak bisa memakainya di istana kalau membeli ini."Esther memicingkan matanya. "Siapa yang bilang akan memakainya di Istana? Aku membelinya untuk dijadikan kenang-kenangan."Esther memilih di dalam dengan raut wajah bahagia. Ada banyak jenis topi pantai yang dijual. Dan itu membuatnya bingung ingin memilih yang mana."Yang ini saja." William mengambil topi yang perta

  • Transmigrasi: Menjadi Permaisuri Terbuang   Bab 158 : Season 1 End

    Esther duduk di tepi ranjang dengan sehelai pakaian di tangannya. Raut wajahnya terlihat buruk saat menatap pakaian itu. 'Emma …, kau berani sekali menyelipkan pakaian seperti ini di koperku.' Ia bersungut-sungut dalam hati. Tidak. Melihat dari reaksinya, itu artinya di masa Esther, pakaian itu sama sekali tidak bisa disebut pakaian. Kainnya lembut dan tipis, tanpa lengan dan panjangnya hanya sebatas lutut. Terdapat belahan di bagian samping hingga paha atas. "Ugh …." Esther memejamkan mata, tidak mungkin ia memakai pakaian seperti ini, bukan? Ia melirik botol anggur pemberian Killian yang sudah duduk manis di atas meja dengan dua gelas kosong. William saat ini masih berada di kamar mandi. 'Tapi kalau tidak dipakai, bukankah terlalu menyia-nyiakan usaha Emma?' Esther berbicara pada dirinya sendiri dengan wajah tersipu. 'Terlebih, ini pasti sangat mahal ….' Ia menarik napas panjang, lalu memantapkan hati untuk tidak menyia-nyiakan usaha Emma dalam menyiapkan yang terbaik untuk l

  • Transmigrasi: Menjadi Permaisuri Terbuang   Bab 157 : Air Mata Putri Duyung

    Suara ombak masih menjadi musik latar belakang saat Esther dan William turun ke lantai satu untuk menemui Killian Constantine yang telah mnunggu di ruang tamu. Pemuda itu membawa dua orang pengawal yang berdiri di dekat pintu. Yang segera membungkuk dalam saat William dan Esther mendekat. Esther menghela napas pelan, mencoba menenangkan dirinya yang sedikit gelisah setelah menyadari kalau Killian Constantine adalah teman masa kecil Claire. Ia yang sudah hampir melupakan Claire itu, tiba-tiba saja diingatkan kembali karena pertemuannya dengan Killian. Melihat dua orang itu memasuki ruang tamu, Killian segera berdiri dan memberikan salam hormat yang formal. "Salam kepada Matahari Kekaisaran, Baginda Kaisar dan Yang Mulia Permaisuri. Merupakan kehormatan bisa menyambut kedatangan Baginda Kaisar dan Yang Mulia Permaisuri di Belmaris yang indah ini."William mengangguk dengan satu tangan terangkat sejajar dengan bahu. "Tidak perlu terlalu formal, duduklah kembali."Killian Constantin

  • Transmigrasi: Menjadi Permaisuri Terbuang   Bab 156 : Teman Masa Kecil Claire

    Esok paginya, Esther bangun dengan tubuh yang terasa lebih segar dari biasanya. Ia meregangkan tubuh dan menguap tanpa menutup mulutnya. Setelah itu, pandangannya terarah ke samping, William berbaring nyaman dan matanya masih tertutup. Deru napasnya stabil, ia tertidur sangat lelap. Esther tersenyum hangat melihat William dari jarak dekat itu. Mereka hampir selalu tidur di kamar yang sama akhir-akhir ini. Tapi memandangi wajah tidur William di pagi hari adalah hal yang pertama kali ia lakukan. Yang membuatnya bisa melakukan itu di sini adalah karena ia tidak perlu bangun buru-buru untuk bekerja, pun William tidak akan bangun duluan untuk segera kembali ke Istana Utama. William tiba-tiba membuka matanya, dengan senyum jahil, ia berkata, "Selamat pagi."Esther menatap malas. "Apa ini? Kau sudah bangun dari tadi?""Aku melihatmu membuka mata dengan susah payah sebelumnya. Ini lebih pagi dari biasanya aku bangun, jadi aku berpikir untuk pura-pura tidur dan melihat hal yang pertama kal

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status