แชร์

Bab 100. Rasanya Mau Mati

ผู้เขียน: Zhang A Yu
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-25 11:58:18

Derap kuda memecah keheningan malam.

Jenderal Besar He memacu kudanya tanpa menahan sedikit pun kecepatan.

Jubah gelapnya berkibar hebat diterpa angin, sementara kuku-kuku kuda perang miliknya itu menghantam jalan batu dengan dentuman beruntun yang menggema sepanjang jalan utama.

Istana Dingin berada jauh di bagian utara kota kekaisaran. Bila ditempuh menggunakan kereta biasa, perjalanan itu membutuhkan waktu yang tidak singkat.

Bagi Jenderal Besar He yang menunggang kuda terbaik pasukan, jarak
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
adisti wulandari
kok cuma 1 bab tor. jadi penasaran kok bisa udah sampe duluan
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Transmigrasi: Menjadi Sang Permaisuri Terbuang   Bab 185. Perjalanan ini Memang Tidak Mudah

    Pada akhirnya, Jenderal Besar He meninggalkan gerbang Kota sebelumnya.Dia sengaja menunggangi kudanya dengan kecepatan sedang.Angin musim gugur bertiup melintasi jalanan, mengangkat ujung jubahnya yang berwarna gelap.Sejak meninggalkan kota, dia sudah menyadari adanya beberapa orang yang mengikuti perjalanannya.Kadang-kadang, bayangan mereka muncul di antara pepohonan. Pada kesempatan lain, mereka bersembunyi di balik gundukan tanah atau bahkan rumput liar setinggi orang dewasa.Sayangnya, kemampuan mereka menyembunyikan keberadaan diri masih jauh dari kata sempurna.Jenderal Besar He menarik sudut bibirnya tipis.Dia lalu mengusap leher kudanya sekali. Kemudian mengarahkan tunggangannya menuju jalan kecil yang membentang di antara dua bukit.Jalan itu jauh lebih sempit dibandingkan jalan utama. Permukaannya dipenuhi bebatuan, sementara pepohonan lebat di kedua sisinya menciptakan bayangan yang cukup gelap meskipun matahari masih tinggi.Tempat itu harusnya paling bagus untuk meny

  • Transmigrasi: Menjadi Sang Permaisuri Terbuang   Bab 184. Bukan Sekedar Bos Restoran

    Jenderal Besar He bahkan tidak mengangkat alisnya.Pria itu hanya melirik wanita cantik di hadapannya sekilas, lalu mengalihkan pandangan ke cangkir teh yang baru saja diantarkan pelayan.“Sepertinya Nona salah mengenali orang” suaranya terdengar datar.Setelah mengucapkan kalimat itu, Jenderal Besar He mengangkat cangkir teh ke bibirnya. Dia meniup permukaan teh yang masih mengepulkan uap tipis, kemudian menyesapnya santai seolah-olah pembicaraan mereka sudah berakhir.Wanita cantik itu menopang dagunya menggunakan sebelah tangan. Sepasang matanya yang indah terus mengamati pria bertubuh besar tersebut.Semakin lama dia memperhatikan, semakin lebar senyum di wajahnya! Lantas, dia bertanya, “Kalau begitu, boleh aku tahu nama Tuan?”Jenderal Besar He meletakkan cangkir tehnya. Tanpa tergesa-gesa, dia merogoh bagian dalam pakaiannya.Sesaat kemudian, sebuah besi plakat berwarna gelap diletakkan di atas meja. Di permukaannya terukir satu karakter marga keluarga Luo.Tak berhenti sampai

  • Transmigrasi: Menjadi Sang Permaisuri Terbuang   Bab 183. Tidak Bisa Ikut Campur

    Song Ji Wei tak sama sekali memahami maksud perkataan Guli Haoran.Hingga selang tak lama kemudian ....“Terbangkan merpati ini dari taman belakang.” Tiba-tiba saja Guli Haoran menyodorkan burung merpati berbulu putih bersih.Tangan Song Ji Wei terulur secara naluriah, burung merpati putih itu beralih ke tangannya.Guli Haoran kemudian berbalik tanpa mengucapkan sepatah kata apapun lagi.Tanpa banyak tanya, Song Ji Wei membawa burung merpatinya keluar. Dia berjalan menelusuri koridor demi koridor, bangunan satu ke bangunan lain, jalan setapak yang membelah taman, dan hampir satu dupa berlalu dia sudah berdiri persis di tengah taman belakang.Barusan dia melihat beberapa prajurit berpatroli, tapi mereka tidak terlalu menggubris kemunculannya.Kini, Song Ji Wei memperhatikan burung merpati itu lamat-lamat seperti sedang berusaha mencari apa yang tersimpan di baliknya.Benar saja.Dalam waktu singkat, Song Ji Wei berhasil menemukan gulungan kecil sebuah surat dari balik bulu-bulu bersih

  • Transmigrasi: Menjadi Sang Permaisuri Terbuang   Bab 182. Menyelesaikannya Dalam Waktu Singkat

    Miao Hongyu tidak langsung menjawab.Pria itu hanya melirik ke arah pangkal pahanya beberapa saat.Ekspresinya sama sekali tidak menunjukkan kepanikan. Bahkan tangannya tetap bergerak memeras susu sapi hingga tetesan terakhir masuk ke dalam ember.Song Ji Wei justru semakin panik. “Jenderal Miao!”Miao Hongyu tetap tenang.Setelah dirasa cukup, dia bangkit perlahan.Tangannya meraih ember berisi susu tersebut, kemudian mengulurkannya kepada Song Ji Wei.“Sudah selesai.”Song Ji Wei refleks menerima ember itu. Namun, wajahnya masih dipenuhi kekhawatiran.“Lututmu berdarah, Jenderal Miao!” Tatapannya kembali jatuh ke kaki Miao Hongyu. “Segera panggil tabib!”Miao Hongyu tersenyum tipis. “Bukan masalah besar, Tuan muda Song.”“Tabib militer juga sudah memberinya pertolongan pertama.”Song Ji Wei terdiam.Pandangan bocah itu masih tertuju pada luka di kaki Miao Hongyu. Lalu, perlahan terangkat hingga tepat bertemu dengan wajah pria tersebut.“Begitu.” Kepanikan di wajahnya sedikit mereda,

  • Transmigrasi: Menjadi Sang Permaisuri Terbuang   Bab 181. Harga Diri Song Ji Wei Serasa Diinjak-injak

    Waktu bergulir. Jenderal Besar He selesai mengemasi beberapa barangnya ke dalam tas kain. Terakhir, Alan Ruo memasukkan dua botol minum berbahan dasar kulit labu ke tas kuda suaminya itu. Kata Jenderal Besar He ketika kakinya hampir menaiki punggung kudanya. “Jangan tinggalkan rumah meski hanya selangkah.” Alan Ruo paling tahu isi pikiran Jenderal Besar He. Wanita itu mengangguk meyakinkan, “Aku akan menunggumu pulang.” Jenderal Besar He mengusap puncak kepala istrinya itu beberapa saat, sebelum berakhir mengecupnya kemudian dia bergegas menaiki kuda. Tali kekang ditarik, bokong kuda dihentak. Kuda berjalan cepat melewati gerbang kediaman sang Jenderal Besar. Tepat setelah itu, gerbang secepatnya ditutup bahkan sekaligus digembok dari dalam. Seru Alan Ruo. “Perketat penjagaan!

  • Transmigrasi: Menjadi Sang Permaisuri Terbuang   Bab 180. Tampan Saja Jelas Tidak Cukup

    Di Istana Dingin.Lin Ya Fei sedang duduk bersimpuh di permukaan bantalan empuk.Punggung wanita itu tegap, wajahnya tenang, tetapi sorot matanya menunjukkan ketertarikan yang cukup besar.Di hadapannya terletak pedang bergagang giok hitam milik Tang Xuanyue.Tangan Lin Ya Fei terulur. Jemarinya menggenggam gagang pedang tersebut dengan gerakan seolah terlihat hati-hati, tapi sorot matanya penuh minat. Perlahan dia menghunusnya. Tampaklah bilah pedang yang sebagian masih tertutup wadah. Pandangan Lin Ya Fei langsung tertuju pada bagian mata pedang yang baru saja terlihat.Hanya dengan melihat pantulan cahaya pada permukaannya, setiap orang pasti menyadari betapa luar biasanya ketajaman pedang tersebut.Mata Lin Ya Fei lantas menyipit tanpa sadar. Sorot matanya bertambah serius sekaligus kagum. Kemudian pandangannya beralih ke bagian gagang pedang.Di sana terukir ular hitam, yang ukirannya terlihat seperti sudah ada di sana sejak awal.Kilau hitam pekat pada ukiran tersebut tampak

  • Transmigrasi: Menjadi Sang Permaisuri Terbuang   Bab 6. Ada Penyusup

    Malam turun seperti tirai hitam yang menelan seluruh suara. Istana dingin tenggelam dalam keheningan. Angin malam hanya sesekali berdesir, menyapu dedaunan kebun kecil yang tumbuh rapi di halaman. Tidak ada penjaga, tidak ada cahaya terang selain remang bulan yang jatuh tipis di tanah. Di at

  • Transmigrasi: Menjadi Sang Permaisuri Terbuang   Bab 5. Menantang Kaisar

    Huli Haoran menggeser batu ke lubang kecil yang sama, lalu berbalik lari—memunggungi Kaisar—tanpa pernah melihat ataupun menganggap pria itu ada di sana. Tangan Kaisar mengepal, matanya menyipit tidak suka. “Bocah ini!” Kasim Zhou membuka mulut nyaris bersuara, “...” Tanpa sempat mereka melaku

  • Transmigrasi: Menjadi Sang Permaisuri Terbuang   Bab 4. Menghilang Dengan Cepat

    Waktu bergulir. Pertandingan berkuda sekaligus memanah akhirnya selesai. Para peserta kembali ke titik awal dengan napas yang belum sepenuhnya stabil, kuda-kuda mereka masih mengibaskan ekor, sebagian menghentakkan kaki ke tanah seolah enggan berhenti. Sementara itu, para petugas bergerak cepat

  • Transmigrasi: Menjadi Sang Permaisuri Terbuang   Bab 3. Guli Haoran Bocah Jagoan

    Saat bersamaan. Derap kaki kuda terdengar dari kejauhan. Pelan. Lalu, semakin jelas, semakin berat. Semua kepala menoleh hampir bersamaan ke arah gerbang masuk arena. Seekor kuda hitam muncul lebih dulu. Tubuhnya besar, otot-ototnya menonjol di bawah kulit gelap mengilap, surainya kasar tertiup

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status