Share

Bab 87. Pergi ke Padang Rumput

Author: Zhang A Yu
last update publish date: 2026-06-10 15:10:21

Keheningan menyelimuti bagian depan Istana Dingin.

Di depan gerbang kayu yang tampak kokoh; sulit ditembus, Jenderal Besar He berdiri dengan punggung tegak bagai tombak yang menghujam bumi.

Jubah hitamnya berkibar perlahan, sementara tatapannya yang tenang tertuju lurus pada gerbang yang tertutup rapat, seolah-olah dia sedang memandang masa depan yang tak mampu diraihnya.

Saat bersamaan, suara Guli Haoran kembali terngiang-ngiang di benaknya.

"Kalau Guru ingin menyembuhkan He Lanyin, Me
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Transmigrasi: Menjadi Sang Permaisuri Terbuang   Bab 166. Kehilangan Jejak

    Jenderal Besar He berdiri di tengah toko pakaian dengan wajah yang perlahan gelap.Beberapa detik sebelumnya dia masih melihat Lin Ya Fei masuk ke dalam toko.Hanya beberapa detik!Sementara sekarang—Wanita itu menghilang secepat kilatan cahaya! Jenderal Besar He langsung berbalik.Tatapannya menyapu seluruh ruangan.Rak-rak pakaian berdiri di sepanjang dinding.Beberapa pelanggan sedang memilih kain.Pelayan toko sibuk membawa gulungan pakaian dari satu tempat ke tempat lain.Di antara mereka tidak ada yang terlihat seperti Lin Ya Fei! Jenderal Besar He mengerutkan kening. “Permaisuri?” gumamnya setengah emosi.Pria itu lantas berjalan ke sisi kiri toko.Memeriksa setiap sudut.Tidak ada.Dia berbalik ke sisi kanan.Tetap tidak ada.Jenderal Besar He berjalan semakin cepat.Seorang wanita yang sedang memegang kain langs

  • Transmigrasi: Menjadi Sang Permaisuri Terbuang   Bab 167. Kondisinya Memburuk, Tapi Tetap Tutup Mulut

    Sementara itu.Di sebuah ruangan bawah tanah yang dingin dan lembab. Beberapa obor menyala di sepanjang dinding batu.Cahayanya bergerak-gerak, membuat bayangan di dalam ruangan tampak semakin suram.Di tengah ruangan terdapat seorang pria muda yang terikat pada kursi kayu. Kepalanya tertunduk, pakaian yang dikenakannya sudah penuh noda darah, mapasnya terdengar berat dan tersendat.Dengan sorot mata tenang, Jenderal Murong Jinghe akhirnya beranjak dari yang awalnya jongkok menghadap pria muda itu. Suara langkah mendekat.Dia menoleh secara naluriah.Mendapati Kaisar Han mendekat, dia bergegas membuka pintu jerujinya sekaligus berdiri menyamping sambil menundukkan pandangan.Kaisar Han masuk dengan beberapa pengawal di belakangnya.Begitu melihat keadaan tawanan itu, tatapan Kaisar Han langsung berhenti.Pria muda yang terikat itu bahkan sudah hampir tidak mampu mengangkat kepalanya.

  • Transmigrasi: Menjadi Sang Permaisuri Terbuang   Bab 165. Totalitas

    Di tengah pusat keramaian Kota. Jenderal Besar He berjalan dengan langkah tenang, wajahnya tetap datar, sikapnya bahkan nyaris tidak berubah sedikit pun, padahal dia bisa merasakan tatapan orang-orang di sepanjang jalan.Satu per satu dari mereka diam-diam mencuri pandang! Ada yang pura-pura sibuk memilih buah, padahal matanya terus mengikuti mereka.Bahkan beberapa pria yang sedang duduk di kedai teh sampai sengaja memutar kepala.Jenderal Besar He tahu persis apa yang sedang mereka pikirkan.Bukankah Jenderal Besar He sudah memiliki istri? Mengapa sekarang secara terang-terangan berjalan bersama wanita ling long? Hampir semua orang mulai menduga-duga!Ditambah, Jenderal Besar He sedang mengenakan pakaian dinas lengkap. Zirah masih melekat di tubuhnya. Pedang masih tergantung di pinggang.Jelas sekali dia sedang bertugas!Tetapi menurut pandangan orang-orang—Jenderal BesarHe bahkan masih sempat membawa wanita ling long berkeliling! Jenderal Besar He menyadari semuanya. Namun, p

  • Transmigrasi: Menjadi Sang Permaisuri Terbuang   Bab 164. Sengaja Mengerjai Jenderal Besar He

    Miao Hongyu masih berdiri di tempat. Balok besar berada di kedua tangannya. Untuk beberapa detik, dia hanya menatap pria muda yang terikat di dipan. Pria muda itu tak sama sekali bereaksi, bahkan ketika Miao Hongyu mengangkat balok nya perlahan, wjahnya tetap tanpa ekspresi. Miao Hongyu menarik napas panjang kemudian— Balok menghantam punggung pria muda tersebut dengan keras! Benturannya terdengar cukup jelas hingga beberapa prajurit yang berdiri tidak jauh dari sana tanpa sadar menoleh. Tubuh pria muda itu tersentak. Namun hebatnya, dia tidak berteriak. Miao Hongyu justru sesaat memejamkan mata seperti sedang menahan sesuatu, rahangnya tanpa sadar mengeras, tangannya yang menggenggam balok pun mencengkeram semakin kuat. Beberapa detik kemudian, pukulan demi pukulan terus berlanjut. Sampai pada pukulan ketujuh, barulah Miao Hongyu berhenti. Balok masih berada di tangannya, napasnya terdengar lebih berat. Di depannya, punggung pria muda itu mulai menunjukkan luka akibat puku

  • Transmigrasi: Menjadi Sang Permaisuri Terbuang   Bab 163. Satu Tertangkap

    “Sisakan satu hidup-hidup!” Suara Jenderal Murong Jinghe menggema di sepanjang jalan. Dalam sekejap— “Serang!” Belasan prajurit Kekaisaran langsung bergerak. Pedang-pedang terhunus hampir bersamaan. Para penyergap bercadar hitam tidak mundur sedikit pun. Mereka justru melesat maju dengan gerakan cepat dan terlatih. Benturan pedang terdengar bertubi-tubi. Jenderal Murong Jinghe sendiri langsung maju paling depan. Satu orang penyergap mengayunkan pedangnya ke arah lehernya. Jenderal Murong Jinghe memiringkan tubuh. Tebasan itu hanya melewati sisi bahunya. Dan pria itu langsung membalas dengan satu pukulan keras pada pergelangan tangan lawannya. Pedang penyergap terlepas! Belum sempat pria itu mundur— Jenderal Murong Jinghe sudah mencengkeram kerah belakang pakaiannya. Dan tubuh pria bercadar

  • Transmigrasi: Menjadi Sang Permaisuri Terbuang   Bab 162. Ashile Sun Diselamatkan

    Tiba-tiba— Sesuatu melesat dari arah yang tidak diketahui. Benda kecil itu jatuh tepat di antara Ashile Sun dan Jenderal Murong Jinghe yang masih saling berhadapan. Keduanya sama-sama tersentak. Namun, sebelum sempat melihat benda apa itu— Ledakan kecil terdengar. Dalam sekejap, serbuk pekat berwarna gelap menyembur ke segala arah. Asap itu begitu tebal hingga dalam hitungan detik seluruh halaman dipenuhi kabut hitam yang membatasi pandangan. Jenderal Murong Jinghe langsung bereaksi. Dia menarik napas pendek, kemudian secara naluriah menutup hidung untuk tahan napas dan mulutnya sambil mengangkat lengan untuk melindungi kedua matanya. Di sekelilingnya, suara para prajurit mulai terdengar kacau. “Ukhuk!” “Ukhuk!” “Hati-hati! Jenis serbuk ini beracun!” “Jangan bergerak sembarangan!” Tidak ada satu pun dari mereka yang bisa melihat secara jelas. Bahkan Jenderal Murong Jinghe sendiri kehilangan arah. Di dalam ruangan, Kaisar Han juga segera berdiri dari kur

  • Transmigrasi: Menjadi Sang Permaisuri Terbuang   Bab 2. Memandang Penuh Kebanggaan

    Pagi itu. Lin Ya Fei sedang menyusui. Wan Ning mendekat ke arahnya dengan wajah bersedih. “Ada apa?” Dagu Lin Ya Fei sedikit terangkat. Wan Ning tiba-tiba berlutut, dan tangisannya mendadak pecah. Lin Ya Fei tak sama sekali simpati, melainkan menatapnya tajam. “Jangan cengeng! Masalah tid

  • Transmigrasi: Menjadi Sang Permaisuri Terbuang   Bab 1. Tiba-tiba Melahirkan

    Malam itu dingin sekaligus basah. Lampu kota berpendar di atas aspal yang mengilap oleh sisa hujan. Suara sirene polisi meraung-raung memecah kesunyian, menggema di antara gedung-gedung tinggi. “Berhenti! Angkat tangan!” seru mereka. Seorang wanita berlari di permukaan atap gedung seperti bay

  • Transmigrasi: Menjadi Sang Permaisuri Terbuang   Bab 4. Menghilang Dengan Cepat

    Waktu bergulir. Pertandingan berkuda sekaligus memanah akhirnya selesai. Para peserta kembali ke titik awal dengan napas yang belum sepenuhnya stabil, kuda-kuda mereka masih mengibaskan ekor, sebagian menghentakkan kaki ke tanah seolah enggan berhenti. Sementara itu, para petugas bergerak cepat

  • Transmigrasi: Menjadi Sang Permaisuri Terbuang   Bab 3. Guli Haoran Bocah Jagoan

    Saat bersamaan. Derap kaki kuda terdengar dari kejauhan. Pelan. Lalu, semakin jelas, semakin berat. Semua kepala menoleh hampir bersamaan ke arah gerbang masuk arena. Seekor kuda hitam muncul lebih dulu. Tubuhnya besar, otot-ototnya menonjol di bawah kulit gelap mengilap, surainya kasar tertiup

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status