MasukDi tengah savana yang seolah-olah tidak berujung, di antara rumput ilalang setinggi perut kuda, suara puluhan pasang kaki kuda mengguncang tanah. Pada barisan paling depan, Huza Ergen memacu kudanya secepat angin. Jubah bulu khas suku Tiele berkibar liar di belakang tubuhnya. Rambut panjang pria itu bergerak mengikuti terpaan angin, sementara wajahnya sangar, dingin, tetapi jika diperhatikan lebih teliti, sudut bibirnya justru sedikit terangkat. Di sebelahnya, Ashile Sun memacu kudanya tak kalah cepat. Wajah pria itu sama kerasnya, tatapannya lurus ke depan. Di belakang mereka, puluhan pria suku Tiele ikut memacu kuda masing-masing. Beberapa membawa busur, sebagian lainnya membawa pedang melengkung. Suasana mereka sama sekali tidak tampak seperti pasukan yang hendak pergi berperang. Namun, lebih mirip sekelompok pemburu yang sedang menuju perburuan paling menarik dalam hidup mereka. “HA!” Huza Ergen kembali menghentakkan kedua tumitnya ke sisi tubuh kuda. Kudanya melesat se
“Hi hi,” tawa kecil keluar dari bibir Lin Ya Fei.Alih-alih menjawab pertanyaan itu, Lin Ya Fei justru mengangkat satu tangannya dan dengan santai mengusap punggung Kaisar Han.Gerakannya perlahan, lembut, nyaris seperti seorang penggoda ulung yang sengaja ingin mempermainkan pria di hadapannya.“Huza Ergen itu pasti mengejarku, ya?”Pertanyaan itu seketika membuat wajah Kaisar Han mengeras.Kaisar Han dengan cepat menarik tubuhnya menjauh. Namun, tangannya masih mencengkeram lengan Lin Ya Fei.“Kamu!” desisnya.Lin Ya Fei hanya mengangkat alis. “Hmm?”Tatapannya sengaja dibuat begitu polos, tapi justru itulah yang membuat Kaisar Han semakin kesal.Lin Ya Fei hendak membuka mulut lagi. Namun, dalam waktu yang bahkan tidak bisa diprediksi—Kaisar Han tiba-tiba saja menyambar bibirnya.Mata Lin Ya Fei langsung membelalak, tubuhnya membeku, senyuman menggoda yang sejak tadi menghiasi wajahnya lenyap begitu saja.Kaisar Han sengaja menekan bibirnya lebih lama, bahkan dia juga sengaja men
“PAMAN!”Teriakan Huza Ergen menggema di antara pepohonan yang tertutup salju.Pada saat bersamaan, serigala putih yang tadi terluka langsung memanfaatkan kekacauan itu.Tubuh besarnya bergerak secepat kilat! Dengan luka menganga di bagian perut dan darah yang terus menetes di atas hamparan putih, makhluk itu berbalik, menerjang ke arah pepohonan, lalu menghilang ke dalam hutan.Tidak ada satu pun yang menghiraukan!Semua perhatian para pemburu kini tertuju pada satu sosok yang tergeletak di atas salju.Huza Ilger.“Paman!” Huza Ergen berlari.Busur yang sejak tadi digenggamnya langsung dilempar begitu saja ke samping.Dengan wajah panik yang tampak alami, dia segera berlutut di samping tubuh Huza Ilger yang sudah bersimbah darah.“Paman!” Huza Ergen coba menggoyang lengan pamannya itu. Tidak ada jawaban.Huza Ergen dengan cepat mengangkat tubuh pamannya sedikit, sementara tangan lainnya langsung bergerak ke arah leher Huza Ilger; mencari denyut nadi.Selang beberapa detik.Wajah Hu
Dua minggu sebelumnya. Asisten tabib Asha—Suyin—baru saja mengoleskan obat ke bekas cakaran serigala putih di punggung Huza Ilger. Meski luka cakaran itu tidak terlalu dalam, hampir dua minggu ini belum juga mengering secara sempurna. Berhubung letaknya sulit dijangkau tangan sendiri, Huza Ilger meminta bantuan tabib Asha yang dipercayainya untuk mengobati. Malam itu, kebetulan sekali tabib Asha sedang membantu proses persalinan salah seorang anggota suku. Maka dikirimlah asistennya, Suyin. Selesai menutup kembali bekas luka sang mantan pemimpin suku Tiele, Suyin membungkukan punggung dengan tangan menyilang di depan dada; tanda berpamitan. Huza Ilger mulanya melambaikan tangan tanda mempersilahkan, tetapi detik berikutnya .... “Bisa berkuda?” Tiba-tiba saja pria itu bertanya. Suyin mengangguk. Tanpa penjelasan lebih lanjut, Huza Ilger mendadak bangkit. Mengeluarkan satu kantong koin dari laci. Lalu, menyerahkannya pada Suyin. Kening Suyin mengernyit tak mengerti. Huza
Waktu bergulir. Pintu Paviliun Naga Langit perlahan tertutup dari luar. Jenderal Besar He melepaskan tangannya dari daun pintu, lalu berbalik. Baru saja tubuhnya sepenuhnya menghadap ke arah lorong— Sosok Guli Haoran sudah berdiri tepat di hadapannya dengan pedang kayu terselip di lipatan tangan di depan perut. Katanya, “Ayo berlatih lagi, Guru!” Jenderal Besar He sempat terdiam. Tatapan tajamnya turun perlahan ke arah Guli Haoran. Entah sejak kapan anak itu sudah menunggunya di depan Paviliun Naga Langit. Dia tidak menyadari. Menandakan betapa halusnya pergerakan Guli Haoran. Jenderal Besar He menghela napas panjang tanpa mengatakan apa pun. Berikutnya. Di halaman samping yang cukup luas, Guli Haoran berdiri dengan kedua kaki terbuka. Pedang kayu digenggam erat oleh tangan kecilnya.Wajahnya serius, sorot matanya lurus ke depan. Beberapa langkah darinya, Jenderal Besar He berdiri tegak sambil memperhatikan tanpa ada satu kata pun yang keluar dari mulut pria
Dengan langkah lebar seolah diburu waktu, serta sorot mata setajam elang yang melalang buana di angkasa, Jenderal Besar He berjalan cepat melewati lorong di antara tembok-tembok istana yang menjulang tinggi. Pakaian dinasnya berkibar ringan setiap kali langkahnya bergerak. Wajah nya tampak dingin tapi mengandung aura membunuh. Gulungan bambu di tangannya digenggam erat. Undakan demi undakan dinaikinya tanpa sekalipun memperlambat langkah. Koridor demi koridor dilewatinya. Para pelayan dan penjaga yang berpapasan dengannya segera menepi ke sisi jalan, kemudian membungkuk memberi hormat. Jenderal Besar He seolah tidak memiliki waktu untuk memperhatikan semua itu. Langkahnya terus bergerak cepat sekaligus tegas hingga akhirnya bangunan megah Paviliun Naga Langit muncul di hadapannya. Di depan paviliun, Kasim Zhou yang sedang berdiri berjaga sejak tadi langsung menyadari kedatangan pria itu dari kejauhan. Matanya menyipit secara naluriah. Setelah berhasil mengenali soso
Matahari tenggelam perlahan, Permaisuri Liao tiba di Paviliun Naga Langit. Dia datang-datang langsung saja membantu Kaisar Han Xiao Se menanggalkan jubah, yang memang akan dilepaskan Kaisar sendiri. Permaisuri Liao terbiasa melakukan hal seperti ini, alhasil hanya dilirik sekilas oleh Kaisar. Ju
Matahari hampir naik ke permukaan, Kaisar Han Xiao Se baru tiba di aula pertemuan. Pejabat yang berbaris rapi di sana tidak pernah pergi sejak awal! Bukan hanya karena mereka setia menunggu kedatangan Kaisar Han Xiao Se meski kaki hampir mati rasa sekalipun, tapi juga karena melangkah keluar sebe
Di kamar masa kecil Kaisar Han Xiao Se. Pintu kayu dibuka perlahan.Bibi Su berdiri di ambang, menunduk hormat. “Silakan, Yang Mulia.”Kaisar melangkah masuk tanpa banyak bicara.Bibi Su kemudian menarik pintu. Dan sebelum benar-benar menutup, dia berkata lembut, “Selamat beristirahat, Yang Mulia.
Paviliun Naga Langit.Aroma dupa yang biasanya menenangkan, kini bercampur dengan sesuatu yang sangat tidak pantas berada di dalam ruangan.“Hu hu hu, Yang Mulia,” tangis kasim Zhou serak sekaligus terputus-putus, “Permaisuri Lin .... Permaisuri Lin itu benar-benar keterlaluan!”Kaisar Han Xiao Se







