INICIAR SESIÓNMalam itu, bulan menggantung bulat di langit, cahayanya menembus masuk lewat jendela besar dan menyelimuti kamar Belliza dalam terang pucat. Ia duduk di sebuah bangku dekat meja, tenggelam dalam buku tebal berisi informasi mengenai istana dan berbagai wilayah dalam Kekaisaran Sephanix.
Suara gesekan pena di atas kertas terdengar halus, sesekali ia mengguratkan catatan kecil di margin buku. Nama wilayah, garis kekuasaan, dan simbol keluarga bangsawan. Cahaya lilin di samping meja bergoyang perlahan, seolah ikut bernapas bersamanya.
Namun, keheningan malam tiba-tiba pecah oleh suara gaduh dari arah balkon.
Krek... krek...
Belliza sontak menoleh. "Apaan tuh?"
Pintu balkon terlihat bergetar, seperti sedang digerakkan paksa dari luar. Jantungnya berdegup kencang, jemarinya refleks meremas ujung buku. Ia berdiri perlahan, matanya tak lepas dari pintu itu.
Ruangan yang tadinya terasa hangat kini berubah dingin. Bahkan lilin di meja berkedip-kedip seakan takut. Ketika ia baru hendak menyentuh pegangan, pintu balkon tiba-tiba terbuka lebar.
WUSHHH~!
Angin malam berhembus masuk, membawa aroma tanah basah dan embun. Tirai berdesir liar, menghantam satu sama lain seperti sayap burung besar yang sedang panik.
Di ambang pintu berdiri sosok berjubah panjang gelap. Tudungnya menutupi sebagian besar wajah, hanya memperlihatkan garis rahang tegas dan bibir yang terkatup rapat. Tubuhnya tinggi, hingga bayangannya menutupi sebagian besar cahaya bulan.
Belliza terpaku. Untuk sesaat ia merasa seperti sedang menghadapi makhluk asing yang keluar dari cerita gelap kuno.
Belum sempat ia berteriak, sosok itu melangkah masuk. Gerakannya cepat, teratur, dan tanpa suara, seperti sudah lama mengenali tempat itu.
Pintu balkon menutup menghempas, membuat Belliza hampir melompat.
Ia mundur selangkah. Jemarinya gemetar. Pikirannya berputar, bertanya tentang siapa dia? Pencuri? Pembunuh? Mata-mata kerajaan musuh? Atau…
Sosok itu perlahan mengangkat tudungnya.
"Marquess Myrrathis..."
Myrrathis, pria yang sedari awal ia rasakan penuh tanda tanya, dan yang jelas-jelas diwaspadai ayahnya, kini berdiri di hadapannya.
Myrrathis menyunggingkan senyum tipis. Cahaya bulan jatuh pada matanya yang berwarna hitam legam, memantulkan sesuatu yang tak dapat Belliza baca. Antara kerinduan, kesedihan, atau obsesi samar yang membuat napasnya tercekat.
Pria itu melangkah, suaranya nyaris tak terdengar.
Belliza sontak mundur, tubuhnya gemetar halus dan jantungnya berpacu semakin cepat. Ia ingin berteriak, tapi tenggorokannya terasa tercekat, seolah suara tertahan di kerongkongan.
Langkah Myrrathis semakin cepat, hingga dalam sekejap, jarak di antara mereka lenyap. Tangannya terulur, menarik Belliza mendekat ke arahnya.
Belliza terhuyung, tubuhnya terjerat dalam lingkaran lengan pria itu. Satu lengan kokoh Myrrathis melingkari pinggangnya, menahan agar ia tidak bisa bergerak ke mana pun.
Refleks, Belliza menempelkan telapak tangannya ke dada bidang Myrrathis yang masih terbalut jubah gelap itu. Ia mendongak, netra mereka bertemu dalam keheningan.
Detik itu, dunia seakan berhenti. Jantung keduanya berdegup kencang, beradu dalam irama yang sama antara panik, bingung, namun tak bisa saling melepaskan pandangan.
Tatapan Myrrathis perlahan melembut. Tangannya terangkat menyentuh pipi Belliza mengelusnya dengan lembut, berusaha menghafal setiap inci wajah gadis itu.
Belliza terperangah, kebingungan menguasai dirinya. Ia tidak mengerti... apa maksud semua ini? Mengapa pria yang nyaris tidak ia kenal menatapnya dengan cara seolah ia adalah sesuatu yang paling berharga?
Siapa dia? Apa yang pernah terjadi antara pemilik tubuh ini dan dia?
Bersamaan dengan itu, angin dari balkon menyapu masuk, menggoyangkan tirai dan rambut Belliza. Suara kain yang berdesir menambah ketegangan yang terasa menggantung di udara.
Belliza merasakan jantungnya berpacu, bukan hanya karena takut... tapi karena kebingungan yang menusuk.
Kemudian tanpa peringatan, Myrrathis menariknya lebih dekat, membenamkan Belliza dalam dekapan hangatnya. Lengan kokohnya menahan, sementara jemarinya mengusap surai hitam Belliza dengan gerakan lembut, penuh kerinduan.
Belliza terkejut bukan main, tubuhnya menegang, tapi dalam satu waktu... ada rasa tenang saat ia berada dalam dekapan Myrrathis. Dan setiap kali ia mencoba melepaskan diri, Myrrathis justru semakin mengeratkan pelukannya.
Lalu, suara bisikan samar terdengar memecah keheningan itu.
"Aku merindukanmu... Lavender."
Belliza terdiam, tubuhnya kaku dalam pelukan Myrrathis.
Lavender? Bukankah itu nama tengahnya? Nama yang hanya dipakai dalam lingkaran keluarga, diucapkan lembut oleh orangtuanya saat ia masih kecil dulu. Setidaknya itu informasi yang pernah ia dapatkan dalam novel.
Lalu... bagaimana bisa orang asing mengetahuinya?
Belliza menarik napas panjang, berusaha menenangkan gejolak dalam dadanya. Perlahan, Myrrathis melepaskan pelukannya, lalu menatap Belliza dengan sorot mata yang dalam.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Belliza, suaranya bergetar menahan rasa ingin tahu sekaligus takut.
Myrrathis sempat terdiam, seakan menimbang sesuatu. Lalu bibirnya melontarkan jawaban singkat.
"Seseorang di masa lalumu, yang tidak pernah kau ketahui keberadaannya."
Begitu sampai di ruang tamu, langkah Maura dan Tommy langsung terhenti.Suasana mendadak hening.Myrrathis berdiri tegak di depan televisi dengan wajah yang dipenuhi kewaspadaan. Di tangannya, sebilah pedang telah terhunus entah sejak kapan. Sedangkan di lantai, pecahan vas bunga berserakan ke segala arah.Sementara itu, televisi masih menyala, menampilkan adegan film horor. Seorang wanita berambut panjang dengan wajah pucat tiba-tiba muncul memenuhi layar, diiringi musik yang mencekam.Myrrathis sama sekali tidak berkedip. Tatapannya masih tertuju lurus ke arah televisi, seolah memastikan makhluk itu tidak akan keluar lagi. Beberapa detik berlalu. Kemudian, perlahan ia menoleh ke arah Maura, wajahnya benar-benar serius."Lavender."Maura berkedip bingung."Aku berhasil mengalahkan penyihir di dalam kotak itu."Hening.Maura menatap televisi, lalu menatap pecahan vas di lantai. Kemudian menatap pedang di tangan Myrrathis. Setelah itu... ia menoleh ke ayahnya yang juga sedang menatapny
Maura kembali menarik tangan Myrrathis. Ia membawa pria itu menuju sofa di depan televisi. Setelah keduanya duduk, Maura menyerahkan remote di tangannya."Ini namanya remote."Myrrathis menerima benda itu dengan hati-hati, membolak-baliknya sambil mengamati setiap tombol yang ada."Kalau ingin menyalakan televisi, tekan yang ini." Maura menunjuk tombol berwarna merah.Myrrathis mengangguk pelan, lalu menekannya dengan hati-hati. Seketika layar televisi mati. Kedua matanya langsung membulat."Hilang..."Maura menahan tawanya. "Coba tekan lagi."Dengan ragu, Myrrathis kembali menekan tombol yang sama. Beberapa detik kemudian, televisi kembali menyala. Pria itu berkedip beberapa kali sebelum menoleh pada Maura dengan wajah yang dipenuhi rasa takjub."Luar biasa..."Melihat ekspresi itu, senyum Maura semakin lebar. Rasanya seperti sedang mengajari anak kecil yang baru pertama kali melihat dunia.Di tengah suasana hangat itu, suara Tommy terdengar dari lantai dua."Maura!"Maura segera men
Sore harinya, setelah dokter memastikan kondisi Maura telah benar-benar stabil, ia akhirnya diperbolehkan pulang dari rumah sakit.Berbulan-bulan yang terasa begitu panjang akhirnya berakhir. Meski tubuhnya belum sepenuhnya pulih dan ia masih diwajibkan menjalani kontrol rutin, setidaknya kini ia tak lagi harus menghabiskan hari-harinya di balik dinding ruang rawat inap.Mobil yang dikendarai Tommy melaju membelah jalanan kota diiringi cahaya matahari sore yang mulai menghangat. Di kursi belakang, Maura duduk berdampingan dengan Myrrathis. Sesekali pria itu menoleh ke luar jendela, mengamati setiap bangunan, kendaraan, dan orang-orang yang berlalu lalang dengan rasa penasaran yang tak mampu ia sembunyikan.Tak lama kemudian, mobil berbelok memasuki sebuah kawasan perumahan yang tenang. Sebuah gerbang besi berwarna hitam perlahan terbuka ketika satpam mengenali kendaraan mereka. Mobil terus melaju hingga berhenti tepat di depan sebuah rumah dua lantai yang berdiri megah di tengah hala
Myrrathis melangkah pelan menuju jendela di samping ranjang rumah sakit. Dengan gerakan tenang, ia membuka daun jendela itu. Seketika angin pagi berembus lembut, membawa aroma pepohonan dan hangatnya sinar matahari masuk ke dalam ruangan. Tirai putih berkibar perlahan.Tak lama kemudian, Tommy berdiri dari kursinya."Ayah keluar sebentar."Maura mengangguk kecil.Pria paruh baya itu menatap Myrrathis sekilas, lalu tersenyum tipis sebelum melangkah keluar dan menutup pintu perlahan, memberi keduanya ruang untuk berbicara.Ruangan kembali hening.Myrrathis berdiri di dekat jendela sambil menatap Maura. Senyum tipis sedari tadi tak pernah benar-benar hilang dari wajah pria itu. Sorot matanya begitu hangat... seolah semua luka yang pernah mereka lalui kini hanyalah kenangan yang perlahan memudar.Maura berdeham pelan."Bagaimana kau bisa sampai ke sini?"Myrrathis menoleh. "Aurora yang membawaku."Maura terdiam.Myrrathis berjalan mendekat, lalu duduk di kursi di samping ranjang."Setelah
Setelah berbulan-bulan menjalani pemulihan intensif, tubuh Maura yang sempat melemah kini perlahan kembali pulih. Meski masih harus menjalani terapi rutin, dokter menyatakan kondisinya berkembang jauh lebih baik dari perkiraan. Pagi itu, sinar matahari menembus jendela kamar rawat inap, menghangatkan ruangan yang telah menjadi rumah kedua Maura selama berbulan-bulan.Gadis itu duduk bersandar di kepala ranjang. Sebuah selimut tipis menutupi kedua kakinya, sementara Tommy--ayahnya duduk di kursi di samping ranjang sambil menyuapinya semangkuk bubur hangat."Pelan-pelan," ucap pria itu lembut. "Dokter bilang lambungmu masih perlu penyesuaian."Maura tersenyum kecil. "Baik, Ayah."Beberapa saat mereka hanyut dalam keheningan. Hingga akhirnya, Tommy meletakkan mangkuk bubur di atas meja kecil di samping ranjang."Maura,"Gadis itu menoleh."Ayah belum pernah menceritakan bagaimana kamu ditemukan, ya?"Maura menggeleng pelan."Kalau begitu, Ayah akan menceritakan semuanya padamu." Tommy me
Perlahan, Belliza membuka matanya.Tak ada lagi langit-langit aula pernikahan,suara riuh para tamu, dan lantai marmer dingin yang dipenuhi darah. Yang menyambutnya hanyalah hamparan cahaya putih yang membentang tanpa ujung. Terasa hangat dan tenang, seolah seluruh rasa sakit yang selama ini ia bawa perlahan luruh bersama cahaya itu.Belliza menundukkan pandangan.Gaun pengantin yang beberapa saat lalu membalut tubuhnya telah lenyap. Kini ia mengenakan gaun putih sederhana yang berkibar lembut, mengikuti embusan angin yang entah datang dari mana.Ia mengangkat wajahnya perlahan. Di hadapannya, sesosok peri kecil dengan sayap bercahaya muncul di antara kilauan putih yang memenuhi tempat itu."Aurora..."Peri berstatus tinggi itu tersenyum lembut. Ia mengepakkan sayapnya perlahan hingga berhenti tepat di hadapan Belliza. Tangan mungilnya terulur, mengusap pipi gadis itu dengan penuh kelembutan."Tugasmu..." ucap Aurora lirih, suaranya selembut angin musim semi, "untuk menyeimbangkan dunia
Sore itu, kereta keluarga Grouss akhirnya berhenti di halaman kediaman mereka.Belliza melangkah turun dengan tenang, diiringi kedua orangtuanya. Setelah melewati sambutan para pelayan, ia segera masuk ke dalam, langkah kakinya berderap pelan di lantai marmer yang berkilau.Perjamuan panjang hari i
Myrrathis berdiri tegak di hadapan Belliza. Mata hitam legamnya menusuk dan dingin, namun ada sesuatu yang samar. Sekelebat kehangatan yang tak bisa Belliza tafsirkan."Selamat siang, Lady Grouss." ucap Myrrathis, suaranya terdengar tenang dan berat.Belliza menegakkan punggungnya, mencoba terlihat
Dentang lonceng istana berbunyi tiga kali, menandakan pertemuan dimulai.Kaisar Bexern Elstammer berdiri dari singgasananya. Permaisuri Beandra duduk anggun di sisi kirinya, sementara Archduke Lenzoris dan Archduchess Elena duduk di kursi kehormatan di kedua sisi."Para pemimpin wilayah, bangsawan
Sinar matahari menembus masuk lewat sela-sela jendela tinggi, menyinari ruangan luas yang dipenuhi rak-rak buku menjulang. Aroma kayu tua dan lembaran kertas mengisi udara, terasa hangat, menenangkan, namun sekaligus asing.Perlahan, Maura membuka mata. Pandangannya masih kabur saat ia mengangkat t







