공유

06. Lavender

작가: Semesta
last update 게시일: 2026-04-17 09:11:27

Malam itu, bulan menggantung bulat di langit, cahayanya menembus masuk lewat jendela besar dan menyelimuti kamar Belliza dalam terang pucat. Ia duduk di sebuah bangku dekat meja, tenggelam dalam buku tebal berisi informasi mengenai istana dan berbagai wilayah dalam Kekaisaran Sephanix.

Suara gesekan pena di atas kertas terdengar halus, sesekali ia mengguratkan catatan kecil di margin buku. Nama wilayah, garis kekuasaan, dan simbol keluarga bangsawan. Cahaya lilin di samping meja bergoyang perlahan, seolah ikut bernapas bersamanya.

Namun, keheningan malam tiba-tiba pecah oleh suara gaduh dari arah balkon.

Krek... krek...

Belliza sontak menoleh. "Apaan tuh?"

Pintu balkon terlihat bergetar, seperti sedang digerakkan paksa dari luar. Jantungnya berdegup kencang, jemarinya refleks meremas ujung buku. Ia berdiri perlahan, matanya tak lepas dari pintu itu.

Ruangan yang tadinya terasa hangat kini berubah dingin. Bahkan lilin di meja berkedip-kedip seakan takut. Ketika ia baru hendak menyentuh pegangan, pintu balkon tiba-tiba terbuka lebar. 

WUSHHH~!

Angin malam berhembus masuk, membawa aroma tanah basah dan embun. Tirai berdesir liar, menghantam satu sama lain seperti sayap burung besar yang sedang panik.

Di ambang pintu berdiri sosok berjubah panjang gelap. Tudungnya menutupi sebagian besar wajah, hanya memperlihatkan garis rahang tegas dan bibir yang terkatup rapat. Tubuhnya tinggi, hingga bayangannya menutupi sebagian besar cahaya bulan.

Belliza terpaku. Untuk sesaat ia merasa seperti sedang menghadapi makhluk asing yang keluar dari cerita gelap kuno.

Belum sempat ia berteriak, sosok itu melangkah masuk. Gerakannya cepat, teratur, dan tanpa suara, seperti sudah lama mengenali tempat itu.

Pintu balkon menutup menghempas, membuat Belliza hampir melompat.

Ia mundur selangkah. Jemarinya gemetar. Pikirannya berputar, bertanya tentang siapa dia? Pencuri? Pembunuh? Mata-mata kerajaan musuh? Atau…

Sosok itu perlahan mengangkat tudungnya.

"Marquess Myrrathis..."

Myrrathis, pria yang sedari awal ia rasakan penuh tanda tanya, dan yang jelas-jelas diwaspadai ayahnya, kini berdiri di hadapannya.

Myrrathis menyunggingkan senyum tipis. Cahaya bulan jatuh pada matanya yang berwarna hitam legam, memantulkan sesuatu yang tak dapat Belliza baca. Antara kerinduan, kesedihan, atau obsesi samar yang membuat napasnya tercekat. 

Pria itu melangkah, suaranya nyaris tak terdengar.

Belliza sontak mundur, tubuhnya gemetar halus dan jantungnya berpacu semakin cepat. Ia ingin berteriak, tapi tenggorokannya terasa tercekat, seolah suara tertahan di kerongkongan.

Langkah Myrrathis semakin cepat, hingga dalam sekejap, jarak di antara mereka lenyap. Tangannya terulur, menarik Belliza mendekat ke arahnya.

Belliza terhuyung, tubuhnya terjerat dalam lingkaran lengan pria itu. Satu lengan kokoh Myrrathis melingkari pinggangnya, menahan agar ia tidak bisa bergerak ke mana pun. 

Refleks, Belliza menempelkan telapak tangannya ke dada bidang Myrrathis yang masih terbalut jubah gelap itu. Ia mendongak, netra mereka bertemu dalam keheningan.

Detik itu, dunia seakan berhenti. Jantung keduanya berdegup kencang, beradu dalam irama yang sama antara panik, bingung, namun tak bisa saling melepaskan pandangan.

Tatapan Myrrathis perlahan melembut. Tangannya terangkat menyentuh pipi Belliza mengelusnya dengan lembut, berusaha menghafal setiap inci wajah gadis itu.

Belliza terperangah, kebingungan menguasai dirinya. Ia tidak mengerti... apa maksud semua ini? Mengapa pria yang nyaris tidak ia kenal menatapnya dengan cara seolah ia adalah sesuatu yang paling berharga?

Siapa dia? Apa yang pernah terjadi antara pemilik tubuh ini dan dia?

Bersamaan dengan itu, angin dari balkon menyapu masuk, menggoyangkan tirai dan rambut Belliza. Suara kain yang berdesir menambah ketegangan yang terasa menggantung di udara.

Belliza merasakan jantungnya berpacu, bukan hanya karena takut... tapi karena kebingungan yang menusuk.

Kemudian tanpa peringatan, Myrrathis menariknya lebih dekat, membenamkan Belliza dalam dekapan hangatnya. Lengan kokohnya menahan, sementara jemarinya mengusap surai hitam Belliza dengan gerakan lembut, penuh kerinduan.

Belliza terkejut bukan main, tubuhnya menegang, tapi dalam satu waktu... ada rasa tenang saat ia berada dalam dekapan Myrrathis. Dan setiap kali ia mencoba melepaskan diri, Myrrathis justru semakin mengeratkan pelukannya.

Lalu, suara bisikan samar terdengar memecah keheningan itu.

"Aku merindukanmu... Lavender."

Belliza terdiam, tubuhnya kaku dalam pelukan Myrrathis. 

Lavender? Bukankah itu nama tengahnya? Nama yang hanya dipakai dalam lingkaran keluarga, diucapkan lembut oleh orangtuanya saat ia masih kecil dulu. Setidaknya itu informasi yang pernah ia dapatkan dalam novel.

Lalu... bagaimana bisa orang asing mengetahuinya?

Belliza menarik napas panjang, berusaha menenangkan gejolak dalam dadanya. Perlahan, Myrrathis melepaskan pelukannya, lalu menatap Belliza dengan sorot mata yang dalam.

"Siapa kau sebenarnya?" tanya Belliza, suaranya bergetar menahan rasa ingin tahu sekaligus takut.

Myrrathis sempat terdiam, seakan menimbang sesuatu. Lalu bibirnya melontarkan jawaban singkat.

"Seseorang di masa lalumu, yang tidak pernah kau ketahui keberadaannya."

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Transmigrasi Sang Nona Antagonis    78. Kucing Putih

    Perjalanan mereka berlangsung mulus sejauh ini. Roda kereta berputar stabil, bergoyang lembut mengikuti medan jalan. Namun, di dalam kereta, suasana jauh dari kata nyaman.Belliza dan Varella duduk berhadapan tanpa banyak bicara. Keduanya sama-sama menjaga sikap, sama-sama terikat aturan bangsawan, dan sama-sama canggung pada pertemuan pertama mereka.Tapi bayangan Varella dan Myrrathis berjalan berdampingan di lorong istana beberapa hari lalu terus menghantam pikiran Belliza. Setiap kali mengulang momen itu, dadanya seperti ditarik ke bawah… rasanya berat dan mengganggu.Pada akhirnya, ia tahu diam tidak akan membuat rasa itu hilang."Duchess Varella?"Varella menoleh, sedikit terkejut. Senyum tipis terukir di bibirnya, sopan namun tetap menjaga jarak. Rambut keemasannya berkilau terkena sinar matahari yang masuk dari jendela."Ya, ada apa, Grand Duchess?"Belliza menarik napas pelan. "Aku ingin menanyakan sesuatu.""Kau bisa menanyakannya."Tatapan Belliza sedikit merendah, lalu ke

  • Transmigrasi Sang Nona Antagonis    77. Keheningan yang Bising

    Malam itu, ruang makan kediaman Grouss tampak ramai oleh cahaya, namun sunyi oleh hati yang saling menjauh. Para pelayan berlalu-lalang menata hidangan, tetapi suara langkah mereka hanya menjadi gema yang tidak benar-benar menyentuh siapa pun.Belliza duduk di kepala meja dengan posisi anggun, namun jari-jarinya yang saling menggenggam di atas meja menyimpan sesuatu yang tak bisa disembunyikan. Ketegangan yang merayap, dan hati yang memberat.Di sisi kirinya, Meline duduk dengan wajah datar yang dingin. Sejak awal, wanita itu tidak menatap Belliza sekali pun. Ada jarak halus namun tajam di sana, seperti sekat kaca yang tak terlihat namun menyakitkan.Grezine tampak berusaha ceria, tetapi tatapan matanya gugup. Raysenne tenang, tapi ketegangan bahunya jelas terlihat. Dan Tuan Brondez yang duduk di seberang berusaha menyamankan suasana dengan senyuman tipis yang sopan.Begitu para pelayan mundur dan pintu ditutup, hening tebal turun perlahan, menyesaki ruangan seperti kabut dingin.Bell

  • Transmigrasi Sang Nona Antagonis    76. Kotak Musik dan Liontin

    Suara-suara di lorong memudar. Yang tersisa hanya denyut halus di telinga Belliza dan rasa mencekik di tenggorokan. Ia menggigit bibir bawahnya, berusaha menekan sesuatu yang menghangat di balik mata. Belliza ingin mengulurkan tangan, memanggil Myrrathis, tapi suara itu mati di kerongkongan. Bukan karena ia marah pada pria itu, tidak sedikit pun. Tapi karena ia merasa… tak pantas menyela.Jadi ia hanya berdiri. Memilih untuk memendam semua yang ingin ia ucapkan. Ia menonton dari jauh saat Myrrathis dan Varella melangkah berdampingan, perlahan menghilang di tikungan.Dan saat punggung mereka lenyap, seakan ada sesuatu di dalam dirinya yang ikut tenggelam. Lorong terasa dingin. Seolah Myrrathis membawa serta kehangatan itu pergi.Belliza masih terdiam ketika sebuah sentuhan ringan menyentuh pundaknya. Ia sontak menoleh.Lucarien.Wajah pria itu memancarkan kebingungan bercampur kekhawatiran. "Ada apa, Grand Duchess? Apa sesuatu mengganggumu?"Belliza menahan napas sejenak, lalu menatap

  • Transmigrasi Sang Nona Antagonis    75. Sebuah Misi Penyamaran

    Aula pertemuan siang itu tampak hening. Para prajurit yang menjaga pintu menunduk hormat ketika satu per satu para pemimpin wilayah mulai memasuki aula.Count Lucarien melangkah masuk lebih dulu, wajahnya yang biasanya ramah kini tampak mengeras oleh ketegangan. Di belakangnya, Viscount Elandor menyusul dengan langkah teratur. Tak lama kemudian, Duchess Varella muncul, membawa elegan khasnya yang lembut namun berwibawa.Dari ujung ruangan, Belliza mengamati mereka satu per satu. Ia duduk dengan tampak tenang, meski jantungnya tidak. Ada seseorang yang ia tunggu sejak tadi, seseorang yang kedatangannya justru membuat hatinya terasa semakin berat.Dan akhirnya... pintu kembali terbuka.Myrrathis.Pria itu melangkah masuk dengan langkah tenang, namun ada sesuatu yang berbeda hari itu. Pandangannya sempat bertemu dengan Belliza, hanya sekejap, namun cukup untuk membuat napasnya tercekat.Bukan karena ia ingin menghindar. Hanya saja ia tidak ingin membuat Belliza semakin terbebani. Karena

  • Transmigrasi Sang Nona Antagonis    74. Tentang Sejarah dan Kenyataan

    Aurora melayang perlahan ke bawah, mendekati buku tebal yang sejak tadi hanya digenggam tanpa pernah dibuka. Sayapnya mengepak lembut, menghasilkan kilau emas tipis yang jatuh ke sampul usang berwarna gelap itu.Belliza mengusap sisa air mata di pipinya, napasnya kini lebih teratur. Meski dadanya masih sesak, ada sedikit ruang untuk bernapas dan berpikir. Aurora-lah yang menciptakan ruang itu.Aurora menyentuh sampul bukunya. Cahaya tipis berpendar dari ujung jarinya, membuat kontur tulisan di sampul tampak lebih jelas."Buku ini..." ucap Aurora pelan, "tidak sepenuhnya salah. Tapi juga... tidak sepenuhnya benar."Belliza mengerjap, bingung. "Maksudmu?"Aurora memandangnya lama, seolah menimbang sesuatu yang berat."Ratusan tahun sebelum keluarga Grouss berdiri di Autronia... Kaum Ven dikenal sebagai kaum terkuat di seluruh penjuru kekaisaran. Para penguasa tunduk bukan karena takut akan pemberontakan..." Ia berhenti sejenak, suaranya merendah seperti rahasia yang dijaga rapi. "Melain

  • Transmigrasi Sang Nona Antagonis    73. Malam Yang Sama

    Malam turun di kediaman Grouss, menyelimuti seluruh bangunan dalam keheningan. Meski suara jangkrik masih terdengar, ada jeda panjang di antaranya. Cahaya bulan menembus masuk melalui sela jendela perpustakaan, jatuh lembut di sisi wajah Belliza.Ia duduk diam di kursi pojok, tertutup bayang rak-rak buku tinggi. Sudah berjam-jam ia di sana, namun buku tentang sejarah Kaum Ven yang digenggamnya tak juga dibuka. Matanya memandang keluar jendela, namun pikirannya terperangkap di tempat lain, di satu titik yang tak bisa ia hindari.Satu tetes air mata lolos pelan dari pelupuknya, menuruni pipinya yang dingin."Maafkan aku…" bisiknya, nyaris tak terdengar. Ia memejamkan mata, rasa sesak dalam dadanya membuatnya ingin mengecil, ingin lenyap, ingin membuat semuanya berhenti.Ia tidak bermaksud membuat Myrrathis terluka. Ia tidak pernah ingin Myrrathis diseret dalam kemarahan ibunya. Tapi semuanya sudah terlanjur terjadi. Dan kini gambaran Myrrathis berdiri sendirian di depan gerbang… terus m

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status