Chapter: 113. Kepala KuratorKeesokan paginya, kehidupan kembali berjalan seperti biasa. Belliza pergi ke museum, Myrrathis kembali ke area istal, sementara Lucarien melanjutkan aktivitasnya sebagai pedagang keliling. Namun bagi Varella, hari ini terasa berbeda. Sejak membuka mata pagi tadi, pikirannya terus tertuju pada satu hal. Ruang bawah tanah istana. Tempat yang selama ini hanya menjadi dugaan dalam penyelidikan mereka, sekarang ia akan benar-benar memasuki area itu.Kini Varella telah berdiri di dalam aula besar istana bersama puluhan kurator lainnya. Semua orang mengenakan pakaian formal yang menunjukkan status mereka sebagai peneliti dan penjaga artefak bersejarah. Suasana aula cukup tenang, hanya dipenuhi percakapan-percakapan kecil yang terdengar dari berbagai sudut ruangan. Varella berdiri dengan kedua tangan terlipat, matanya sesekali menyapu aula, mencoba mengingat sebanyak mungkin detail yang mungkin berguna nantinya. "Kau terlihat sangat serius pagi ini."Suara yang dikenalnya membuat Varella m
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-06-13
Chapter: 112. Kerinduan yang Tak TerbendungSaat malam semakin larut, Varella kembali membalikkan tubuhnya untuk kesekian kali. Selimut sudah ia tarik hingga ke dada, matanya pun telah terpejam berkali-kali, tetapi rasa kantuk tidak kunjung datang. Pikirannya terasa terlalu penuh untuk beristirahat.Pada akhirnya, ia menyerah.Dengan hati-hati agar tidak membangunkan Belliza, Varella turun dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar. Langkahnya membawanya melewati dapur hingga ke bagian belakang gubuk. Udara malam yang dingin segera menyambutnya, membuatnya tanpa sadar memeluk kedua lengannya sendiri. Perlahan, ia duduk di atas rerumputan yang masih lembap karena embun. Di hadapannya terbentang hamparan pepohonan gelap yang berdiri diam dalam keheningan malam. Namun perhatian Varella tidak tertuju ke sana. Matanya justru terangkat ke langit yang dipenuhi bintang-bintang berkelap-kelip.Lama ia hanya memandang ke atas tanpa mengatakan apa pun. Hingga tanpa sadar, ingatan mengenai seseorang yang paling ia rindukan kembali memen
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-06-13
Chapter: 111. Di Bawah Cahaya Bulan yang SamarCahaya bulan sedikit buram karena kabut tipis. Meski begitu, sinarnya tetap menerangi jalan setapak yang mereka lalui menuju gubuk persembunyian. Di depan, Lucarien dan Varella berjalan berdampingan, sementara Belliza dan Myrrathis mengikuti beberapa langkah di belakang. Dan Mimi sendiri setia berjalan di dekat kaki Belliza. Angin malam sesekali meniup ujung mantel mereka. Myrrathis melirik ke arah Belliza, lalu ia sedikit mendekatkan tubuhnya. "Kau terlihat sangat cantik malam ini," bisiknya pelan. Belliza langsung mengangkat sebelah alisnya. Ia menoleh ke arah pria itu, namun Myrrathis justru kembali menegakkan tubuhnya. Ia menatap lurus ke depan dengan ekspresi tenang, seolah tidak mengatakan apa pun secara tiba-tiba barusan. Belliza tersenyum kecil. Setelah beberapa saat, ia juga memberanikan diri mendekat. "Kalau begitu..." bisiknya pelan di dekat telinga pria itu. "Malam ini kau juga terlihat sangat tampan."Myrrathis menarik sudut bibirnya tersenyum tipis. Tatapan pria it
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-06-13
Chapter: 110. Sebuah PelukanBeberapa saat berlalu dalam keheningan. Angin malam terus berembus lembut di antara mereka, membawa udara dingin yang menenangkan. Namun ketenangan itu perlahan terusik saat suara langkah kaki terdengar mendekat dari lorong menuju balkon.Belliza menjadi orang pertama yang menyadari kehadiran seseorang. Ia mengangkat pandangannya dan melihat sosok tinggi yang berjalan mendekat dari balik bayangan lorong. Matanya sedikit melebar sebelum ia menoleh pada Letira."Lady Letira," bisiknya pelan.Letira mengangkat kepalanya. Saat mengikuti arah pandangan Belliza, tubuhnya sedikit menegang. Di ujung balkon, Archduke Xager telah berdiri dengan mantel hitamnya yang berkibar pelan diterpa angin malam.Keduanya perlahan melepaskan pelukan. Letira segera menghapus sisa air matanya dengan punggung tangan, berusaha menenangkan diri meski matanya masih terlihat sembab. Sementara itu, Xager tetap berdiri beberapa langkah dari mereka, memperhatikan dalam diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Tak lam
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-06-12
Chapter: 109. Keheningan yang PedihGhery--ayah Letira, yang sejak tadi berdiri tak jauh dari kerumunan segera berlari ke arah putrinya. Dengan tangan yang gemetar, ia memegang bahu Letira dan membalikkan tubuh gadis itu perlahan. Saat melihat mata putrinya, napasnya seakan terhenti. Pandangan Letira kosong, seolah ada sesuatu yang baru saja direnggut paksa dari dalam dirinya."Letira..." panggilnya lembut.Pria itu mengusap surai merah muda putrinya dengan lembut sebelum menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Letira tidak memberontak maupun membalas pelukan ayahnya. Ia hanya diam. Tidak ada raungan, tidak ada teriakan, hanya keheningan yang terasa jauh lebih menyakitkan daripada air mata.Seluruh aula terdiam menyaksikan pemandangan itu. Beberapa bangsawan wanita bahkan tampak menundukkan kepala dengan mata berkaca-kaca. Tidak sedikit yang merasa iba kepada Letira. Setelah beberapa saat, Letira perlahan melepaskan diri dari pelukan ayahnya. Wajahnya terlihat terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dihanc
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-06-11
Chapter: 108. Pesta DansaSementara di dalam aula, alunan piano Belliza perlahan berubah menjadi lebih lembut dan anggun. Para pelayan yang berjaga di sekitar aula mulai menyingkir dari bagian tengah ruangan, meninggalkan lantai marmer yang luas dan mengilap di bawah cahaya lampu kristal.Pesta dansa akhirnya dimulai.Para bangsawan berdiri di pinggir aula sambil memperhatikan lantai dansa yang masih kosong. Beberapa di antara mereka saling berbincang pelan, menunggu siapa yang akan menjadi pasangan pertama yang membuka tarian malam itu.Tak lama kemudian, Aldené melangkah ke tengah aula bersama Efanya.Keduanya langsung menjadi pusat perhatian. Dengan gerakan yang elegan, Aldené menggenggam tangan Efanya dan mulai memimpin tarian. Langkah mereka tampak begitu selaras seolah telah berlatih bersama selama bertahun-tahun. Semua pasang mata tertuju kepada mereka. Bahkan beberapa bangsawan mulai bertepuk tangan pelan sebagai bentuk apresiasi.Tak lama setelah itu, Kaisar Arthon berdiri dari tempat duduknya. Ia me
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-06-11