Mag-log inMyrrathis berdiri tegak di hadapan Belliza. Mata hitam legamnya menusuk dan dingin, namun ada sesuatu yang samar. Sekelebat kehangatan yang tak bisa Belliza tafsirkan.
"Selamat siang, Lady Grouss." ucap Myrrathis, suaranya terdengar tenang dan berat.
Belliza menegakkan punggungnya, mencoba terlihat tenang meski jantungnya berdetak tak karuan. Ia menjawab dengan sopan, "selamat siang juga, Tuan Tanderiz. Apa ada sesuatu yang mengharuskan Anda menghampiriku?"
Sejenak, Myrrathis hanya menatapnya tanpa kata, seolah mencari sesuatu di balik sorot mata Belliza. Keheningan itu membuatnya semakin gelisah. Baru kemudian, pria itu berkata pelan.
"Bagaimana kabarmu?"
Alis Belliza berkerut tipis. Pertanyaan itu sederhana, tapi sarat makna. Ia mendadak bingung.
Setelah ia terbangun di tubuh Belliza, ia kurang tahu siapa saja yang dekat atau jauh dari Belliza sebelumnya, tentunya selain kedua saudari perempuannya. Dan kini, seorang Marquess dari Mytheronia berbicara kepadanya dengan nada... terlalu akrab.
Apakah Belliza pernah punya hubungan dengan pria ini? Dan kalau iya, hubungan seperti apa? Sekutu? Sahabat? Atau sesuatu yang lebih dalam?
"Tentu saja kabarku baik, Tuan Tanderiz," jawab Belliza. Ia lalu menambahkan dengan hati-hati. "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
Pertanyaan itu membuat Myrrathis terdiam. Tatapannya sempat bergeser, seakan ada sesuatu yang tak ingin ia ungkapkan.
Namun sebelum pria itu sempat membuka suara, langkah berat terdengar dari samping. Duke Etrain muncul, wajahnya tegas dan penuh kewaspadaan. Tanpa berkata banyak, ia menarik tangan Belliza, lalu menempatkan putrinya di belakang tubuhnya seolah ingin melindunginya dari ancaman.
Sorot mata Duke Etrain menusuk tajam ke arah Myrrathis. Ia berdiri tegak di depan pria itu, bahunya kokoh menutupi pandangan Belliza. Lalu perlahan ia mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah sang Marquess. Suaranya rendah, nyaris tak terdengar oleh siapapun, bahkan Belliza yang hanya berjarak satu langkah pun tak bisa menangkap kata-katanya.
Namun jelas sekali kata-kata itu membawa bobot. Sorot mata Myrrathis yang tadinya tenang mendadak berubah. Tatapannya menajam, seolah hendak menusuk balik Duke Etrain, tapi ada sesuatu yang menahannya. Ia mengepalkan jemarinya di sisi tubuh, rahangnya mengeras, tanda amarah yang berusaha dikekang.
Belliza menoleh sedikit, berharap bisa membaca bibir ayahnya atau sekadar menangkap sepatah kata. Tapi semua terlambat, Duke Etrain sudah selesai berbisik. Lalu segera meraih tangan putrinya dan menariknya menjauh dari sana.
Sebelum benar-benar terbawa pergi, Belliza sempat menoleh sekali lagi ke arah Myrrathis.
Yang ia dapati bukan lagi tatapan tajam penuh wibawa. Melainkan sesuatu yang berbeda. Sorot mata yang kelam, namun dipenuhi kerinduan. Sorot yang seolah mengisyaratkan kehilangan sesuatu yang berharga, sesuatu yang sudah lama terlepas dari genggamannya.
Belliza terdiam sejenak, hatinya bergetar aneh. Ia tidak mengerti... apakah benar ada masa lalu antara dirinya dan Myrrathis? Atau sorot itu ditujukan pada seseorang yang lain?
Semakin jauh langkahnya menjauhi Marquess Mytheronia itu, semakin besar pula pertanyaan yang menyesaki kepalanya.
Duke Etrain terus melangkah, tangan kokohnya masih menggenggam lengan Belliza. Setelah menjauh dari Myrrathis, langkahnya berhenti di sebuah lingkaran kecil para bangsawan muda yang tengah berbincang dengan riang.
Di sana, berdiri Archduke Lenzoris, sosok yang paling ingin Belliza hindari sejak awal. Tingginya menjulang, sikapnya ramah, dan senyum tipisnya terkesan menawan di mata banyak orang. Tapi bagi Belliza, sosok itu membawa bayangan masa depan yang kelam, seperti yang ia ketahui dari novel.
Di sampingnya ada Archduchess Elena, adik perempuan Lenzoris, tampak anggun dan elegan. Tak jauh dari mereka, Lady Zoey tertawa pelan sambil menutup mulut dengan kipasnya. Sementara Lord Aedric berdiri tenang, sesekali ikut menyahut dalam percakapan.
Begitu Duke Etrain dan Belliza tiba, percakapan mereka terhenti. Empat pasang mata langsung mengalihkan perhatian.
"Duke Etrain, Lady Belliza," sapa Lenzoris lebih dulu. Ia mengangguk singkat sebagai salam penghormatan.
Elena ikut menyambut dengan hangat, "senang sekali akhirnya bertemu denganmu, Lady Belliza."
Lady Zoey hanya tersenyum tipis. Sedangkan Lord Aedric mengangguk sopan, menatap Belliza dengan cara yang tenang dan berkelas.
Belliza berusaha menjaga ekspresinya tetap tenang, meski dalam hatinya ada dorongan kuat untuk segera menjauh. Ia tidak ingin terjebak dalam lingkaran yang bisa menyeretnya ke arah takdir tragis yang pernah ia baca. Namun tatapan ayahnya yang penuh ekspektasi membuatnya menahan diri.
Setelah beberapa basa-basi sopan, Duke Etrain berpamitan pada mereka. Ia meninggalkan Belliza sendirian di lingkaran para bangsawan muda, lalu berjalan menuju kelompok para penguasa wilayah untuk bergabung dalam percakapan yang lebih berat.
Sekejap suasana menjadi kikuk. Belliza merasa semua mata kini tertuju padanya.
Lenzoris yang pertama kali memecah keheningan. "Lady Belliza, sungguh menyenangkan akhirnya bisa berbincang denganmu di luar ruang pertemuan. Pendapatmu tadi cukup berani."
Elena segera menyambung dengan ceria. "Benar sekali! Tidak semua orang berani bicara di hadapan Kaisar, apalagi ketika para bangsawan lain juga turut menyampaikan argumen mereka. Aku sangat mengagumimu, Lady Belliza."
Belliza membalas senyumnya sopan, mencoba menahan rasa canggung.
Di sisi lain, Lady Zoey melirik sekilas, "kau membuat para bangsawan muda terlihat... hmm, kurang menonjol, Lady Belliza. Namun, aku kira itu hal yang wajar bila seseorang memang punya keberanian lebih."
Ucapannya terdengar seperti pujian, namun Belliza bisa merasakan nada halus dari rasa iri yang berusaha ditutupi rapat-rapat.
Lord Aedric, dengan tenang juga menambahkan. "Aku setuju. Kaisar tidak akan mendengar bila pendapatmu tidak berbobot. Itu sudah cukup menunjukkan betapa pentingnya kehadiranmu."
Belliza mengangguk pelan. "Aku hanya menyampaikan apa yang kupikir benar," balasnya sopan.
Setelahnya, lingkaran percakapan mulai kembali dipenuhi suara tawa kecil, sapaan ramah, dan basa-basi diplomatis.
Keesokan paginya, kehidupan kembali berjalan seperti biasa. Belliza pergi ke museum, Myrrathis kembali ke area istal, sementara Lucarien melanjutkan aktivitasnya sebagai pedagang keliling. Namun bagi Varella, hari ini terasa berbeda. Sejak membuka mata pagi tadi, pikirannya terus tertuju pada satu hal. Ruang bawah tanah istana. Tempat yang selama ini hanya menjadi dugaan dalam penyelidikan mereka, sekarang ia akan benar-benar memasuki area itu.Kini Varella telah berdiri di dalam aula besar istana bersama puluhan kurator lainnya. Semua orang mengenakan pakaian formal yang menunjukkan status mereka sebagai peneliti dan penjaga artefak bersejarah. Suasana aula cukup tenang, hanya dipenuhi percakapan-percakapan kecil yang terdengar dari berbagai sudut ruangan. Varella berdiri dengan kedua tangan terlipat, matanya sesekali menyapu aula, mencoba mengingat sebanyak mungkin detail yang mungkin berguna nantinya. "Kau terlihat sangat serius pagi ini."Suara yang dikenalnya membuat Varella m
Saat malam semakin larut, Varella kembali membalikkan tubuhnya untuk kesekian kali. Selimut sudah ia tarik hingga ke dada, matanya pun telah terpejam berkali-kali, tetapi rasa kantuk tidak kunjung datang. Pikirannya terasa terlalu penuh untuk beristirahat.Pada akhirnya, ia menyerah.Dengan hati-hati agar tidak membangunkan Belliza, Varella turun dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar. Langkahnya membawanya melewati dapur hingga ke bagian belakang gubuk. Udara malam yang dingin segera menyambutnya, membuatnya tanpa sadar memeluk kedua lengannya sendiri. Perlahan, ia duduk di atas rerumputan yang masih lembap karena embun. Di hadapannya terbentang hamparan pepohonan gelap yang berdiri diam dalam keheningan malam. Namun perhatian Varella tidak tertuju ke sana. Matanya justru terangkat ke langit yang dipenuhi bintang-bintang berkelap-kelip.Lama ia hanya memandang ke atas tanpa mengatakan apa pun. Hingga tanpa sadar, ingatan mengenai seseorang yang paling ia rindukan kembali memen
Cahaya bulan sedikit buram karena kabut tipis. Meski begitu, sinarnya tetap menerangi jalan setapak yang mereka lalui menuju gubuk persembunyian. Di depan, Lucarien dan Varella berjalan berdampingan, sementara Belliza dan Myrrathis mengikuti beberapa langkah di belakang. Dan Mimi sendiri setia berjalan di dekat kaki Belliza. Angin malam sesekali meniup ujung mantel mereka. Myrrathis melirik ke arah Belliza, lalu ia sedikit mendekatkan tubuhnya. "Kau terlihat sangat cantik malam ini," bisiknya pelan. Belliza langsung mengangkat sebelah alisnya. Ia menoleh ke arah pria itu, namun Myrrathis justru kembali menegakkan tubuhnya. Ia menatap lurus ke depan dengan ekspresi tenang, seolah tidak mengatakan apa pun secara tiba-tiba barusan. Belliza tersenyum kecil. Setelah beberapa saat, ia juga memberanikan diri mendekat. "Kalau begitu..." bisiknya pelan di dekat telinga pria itu. "Malam ini kau juga terlihat sangat tampan."Myrrathis menarik sudut bibirnya tersenyum tipis. Tatapan pria it
Beberapa saat berlalu dalam keheningan. Angin malam terus berembus lembut di antara mereka, membawa udara dingin yang menenangkan. Namun ketenangan itu perlahan terusik saat suara langkah kaki terdengar mendekat dari lorong menuju balkon.Belliza menjadi orang pertama yang menyadari kehadiran seseorang. Ia mengangkat pandangannya dan melihat sosok tinggi yang berjalan mendekat dari balik bayangan lorong. Matanya sedikit melebar sebelum ia menoleh pada Letira."Lady Letira," bisiknya pelan.Letira mengangkat kepalanya. Saat mengikuti arah pandangan Belliza, tubuhnya sedikit menegang. Di ujung balkon, Archduke Xager telah berdiri dengan mantel hitamnya yang berkibar pelan diterpa angin malam.Keduanya perlahan melepaskan pelukan. Letira segera menghapus sisa air matanya dengan punggung tangan, berusaha menenangkan diri meski matanya masih terlihat sembab. Sementara itu, Xager tetap berdiri beberapa langkah dari mereka, memperhatikan dalam diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Tak lam
Ghery--ayah Letira, yang sejak tadi berdiri tak jauh dari kerumunan segera berlari ke arah putrinya. Dengan tangan yang gemetar, ia memegang bahu Letira dan membalikkan tubuh gadis itu perlahan. Saat melihat mata putrinya, napasnya seakan terhenti. Pandangan Letira kosong, seolah ada sesuatu yang baru saja direnggut paksa dari dalam dirinya."Letira..." panggilnya lembut.Pria itu mengusap surai merah muda putrinya dengan lembut sebelum menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Letira tidak memberontak maupun membalas pelukan ayahnya. Ia hanya diam. Tidak ada raungan, tidak ada teriakan, hanya keheningan yang terasa jauh lebih menyakitkan daripada air mata.Seluruh aula terdiam menyaksikan pemandangan itu. Beberapa bangsawan wanita bahkan tampak menundukkan kepala dengan mata berkaca-kaca. Tidak sedikit yang merasa iba kepada Letira. Setelah beberapa saat, Letira perlahan melepaskan diri dari pelukan ayahnya. Wajahnya terlihat terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dihanc
Sementara di dalam aula, alunan piano Belliza perlahan berubah menjadi lebih lembut dan anggun. Para pelayan yang berjaga di sekitar aula mulai menyingkir dari bagian tengah ruangan, meninggalkan lantai marmer yang luas dan mengilap di bawah cahaya lampu kristal.Pesta dansa akhirnya dimulai.Para bangsawan berdiri di pinggir aula sambil memperhatikan lantai dansa yang masih kosong. Beberapa di antara mereka saling berbincang pelan, menunggu siapa yang akan menjadi pasangan pertama yang membuka tarian malam itu.Tak lama kemudian, Aldené melangkah ke tengah aula bersama Efanya.Keduanya langsung menjadi pusat perhatian. Dengan gerakan yang elegan, Aldené menggenggam tangan Efanya dan mulai memimpin tarian. Langkah mereka tampak begitu selaras seolah telah berlatih bersama selama bertahun-tahun. Semua pasang mata tertuju kepada mereka. Bahkan beberapa bangsawan mulai bertepuk tangan pelan sebagai bentuk apresiasi.Tak lama setelah itu, Kaisar Arthon berdiri dari tempat duduknya. Ia me







