Home / Fantasi / Transmigrasi Sang Nona Antagonis / 04. Perjamuan di Tengah Riak

Share

04. Perjamuan di Tengah Riak

Author: Semesta
last update publish date: 2026-04-16 23:49:21

Myrrathis berdiri tegak di hadapan Belliza. Mata hitam legamnya menusuk dan dingin, namun ada sesuatu yang samar. Sekelebat kehangatan yang tak bisa Belliza tafsirkan.

"Selamat siang, Lady Grouss." ucap Myrrathis, suaranya terdengar tenang dan berat.

Belliza menegakkan punggungnya, mencoba terlihat tenang meski jantungnya berdetak tak karuan. Ia menjawab dengan sopan, "selamat siang juga, Tuan Tanderiz. Apa ada sesuatu yang mengharuskan Anda menghampiriku?"

Sejenak, Myrrathis hanya menatapnya tanpa kata, seolah mencari sesuatu di balik sorot mata Belliza. Keheningan itu membuatnya semakin gelisah. Baru kemudian, pria itu berkata pelan.

"Bagaimana kabarmu?"

Alis Belliza berkerut tipis. Pertanyaan itu sederhana, tapi sarat makna. Ia mendadak bingung. 

Setelah ia terbangun di tubuh Belliza, ia kurang tahu siapa saja yang dekat atau jauh dari Belliza sebelumnya, tentunya selain kedua saudari perempuannya. Dan kini, seorang Marquess dari Mytheronia berbicara kepadanya dengan nada... terlalu akrab. 

Apakah Belliza pernah punya hubungan dengan pria ini? Dan kalau iya, hubungan seperti apa? Sekutu? Sahabat? Atau sesuatu yang lebih dalam?

"Tentu saja kabarku baik, Tuan Tanderiz," jawab Belliza. Ia lalu menambahkan dengan hati-hati. "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"

Pertanyaan itu membuat Myrrathis terdiam. Tatapannya sempat bergeser, seakan ada sesuatu yang tak ingin ia ungkapkan.

Namun sebelum pria itu sempat membuka suara, langkah berat terdengar dari samping. Duke Etrain muncul, wajahnya tegas dan penuh kewaspadaan. Tanpa berkata banyak, ia menarik tangan Belliza, lalu menempatkan putrinya di belakang tubuhnya seolah ingin melindunginya dari ancaman.

Sorot mata Duke Etrain menusuk tajam ke arah Myrrathis. Ia berdiri tegak di depan pria itu, bahunya kokoh menutupi pandangan Belliza. Lalu perlahan ia mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah sang Marquess. Suaranya rendah, nyaris tak terdengar oleh siapapun, bahkan Belliza yang hanya berjarak satu langkah pun tak bisa menangkap kata-katanya.

Namun jelas sekali kata-kata itu membawa bobot. Sorot mata Myrrathis yang tadinya tenang mendadak berubah. Tatapannya menajam, seolah hendak menusuk balik Duke Etrain, tapi ada sesuatu yang menahannya. Ia mengepalkan jemarinya di sisi tubuh, rahangnya mengeras, tanda amarah yang berusaha dikekang.

Belliza menoleh sedikit, berharap bisa membaca bibir ayahnya atau sekadar menangkap sepatah kata. Tapi semua terlambat, Duke Etrain sudah selesai berbisik. Lalu segera meraih tangan putrinya dan menariknya menjauh dari sana.

Sebelum benar-benar terbawa pergi, Belliza sempat menoleh sekali lagi ke arah Myrrathis.

Yang ia dapati bukan lagi tatapan tajam penuh wibawa. Melainkan sesuatu yang berbeda. Sorot mata yang kelam, namun dipenuhi kerinduan. Sorot yang seolah mengisyaratkan kehilangan sesuatu yang berharga, sesuatu yang sudah lama terlepas dari genggamannya.

Belliza terdiam sejenak, hatinya bergetar aneh. Ia tidak mengerti... apakah benar ada masa lalu antara dirinya dan Myrrathis? Atau sorot itu ditujukan pada seseorang yang lain?

Semakin jauh langkahnya menjauhi Marquess Mytheronia itu, semakin besar pula pertanyaan yang menyesaki kepalanya.

Duke Etrain terus melangkah, tangan kokohnya masih menggenggam lengan Belliza. Setelah menjauh dari Myrrathis, langkahnya berhenti di sebuah lingkaran kecil para bangsawan muda yang tengah berbincang dengan riang.

Di sana, berdiri Archduke Lenzoris, sosok yang paling ingin Belliza hindari sejak awal. Tingginya menjulang, sikapnya ramah, dan senyum tipisnya terkesan menawan di mata banyak orang. Tapi bagi Belliza, sosok itu membawa bayangan masa depan yang kelam, seperti yang ia ketahui dari novel.

Di sampingnya ada Archduchess Elena, adik perempuan Lenzoris, tampak anggun dan elegan. Tak jauh dari mereka, Lady Zoey tertawa pelan sambil menutup mulut dengan kipasnya. Sementara Lord Aedric berdiri tenang, sesekali ikut menyahut dalam percakapan.

Begitu Duke Etrain dan Belliza tiba, percakapan mereka terhenti. Empat pasang mata langsung mengalihkan perhatian.

"Duke Etrain, Lady Belliza," sapa Lenzoris lebih dulu. Ia mengangguk singkat sebagai salam penghormatan.

Elena ikut menyambut dengan hangat, "senang sekali akhirnya bertemu denganmu, Lady Belliza."

Lady Zoey hanya tersenyum tipis. Sedangkan Lord Aedric mengangguk sopan, menatap Belliza dengan cara yang tenang dan berkelas.

Belliza berusaha menjaga ekspresinya tetap tenang, meski dalam hatinya ada dorongan kuat untuk segera menjauh. Ia tidak ingin terjebak dalam lingkaran yang bisa menyeretnya ke arah takdir tragis yang pernah ia baca. Namun tatapan ayahnya yang penuh ekspektasi membuatnya menahan diri.

Setelah beberapa basa-basi sopan, Duke Etrain berpamitan pada mereka. Ia meninggalkan Belliza sendirian di lingkaran para bangsawan muda, lalu berjalan menuju kelompok para penguasa wilayah untuk bergabung dalam percakapan yang lebih berat.

Sekejap suasana menjadi kikuk. Belliza merasa semua mata kini tertuju padanya. 

Lenzoris yang pertama kali memecah keheningan. "Lady Belliza, sungguh menyenangkan akhirnya bisa berbincang denganmu di luar ruang pertemuan. Pendapatmu tadi cukup berani."

Elena segera menyambung dengan ceria. "Benar sekali! Tidak semua orang berani bicara di hadapan Kaisar, apalagi ketika para bangsawan lain juga turut menyampaikan argumen mereka. Aku sangat mengagumimu, Lady Belliza."

Belliza membalas senyumnya sopan, mencoba menahan rasa canggung.

Di sisi lain, Lady Zoey melirik sekilas, "kau membuat para bangsawan muda terlihat... hmm, kurang menonjol, Lady Belliza. Namun, aku kira itu hal yang wajar bila seseorang memang punya keberanian lebih."

Ucapannya terdengar seperti pujian, namun Belliza bisa merasakan nada halus dari rasa iri yang berusaha ditutupi rapat-rapat.

Lord Aedric, dengan tenang juga menambahkan. "Aku setuju. Kaisar tidak akan mendengar bila pendapatmu tidak berbobot. Itu sudah cukup menunjukkan betapa pentingnya kehadiranmu."

Belliza mengangguk pelan. "Aku hanya menyampaikan apa yang kupikir benar," balasnya sopan.

Setelahnya, lingkaran percakapan mulai kembali dipenuhi suara tawa kecil, sapaan ramah, dan basa-basi diplomatis.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Transmigrasi Sang Nona Antagonis    150. Malam yang Tenang (End)

    Begitu sampai di ruang tamu, langkah Maura dan Tommy langsung terhenti.Suasana mendadak hening.Myrrathis berdiri tegak di depan televisi dengan wajah yang dipenuhi kewaspadaan. Di tangannya, sebilah pedang telah terhunus entah sejak kapan. Sedangkan di lantai, pecahan vas bunga berserakan ke segala arah.Sementara itu, televisi masih menyala, menampilkan adegan film horor. Seorang wanita berambut panjang dengan wajah pucat tiba-tiba muncul memenuhi layar, diiringi musik yang mencekam.Myrrathis sama sekali tidak berkedip. Tatapannya masih tertuju lurus ke arah televisi, seolah memastikan makhluk itu tidak akan keluar lagi. Beberapa detik berlalu. Kemudian, perlahan ia menoleh ke arah Maura, wajahnya benar-benar serius."Lavender."Maura berkedip bingung."Aku berhasil mengalahkan penyihir di dalam kotak itu."Hening.Maura menatap televisi, lalu menatap pecahan vas di lantai. Kemudian menatap pedang di tangan Myrrathis. Setelah itu... ia menoleh ke ayahnya yang juga sedang menatapny

  • Transmigrasi Sang Nona Antagonis    149. Grand Piano

    Maura kembali menarik tangan Myrrathis. Ia membawa pria itu menuju sofa di depan televisi. Setelah keduanya duduk, Maura menyerahkan remote di tangannya."Ini namanya remote."Myrrathis menerima benda itu dengan hati-hati, membolak-baliknya sambil mengamati setiap tombol yang ada."Kalau ingin menyalakan televisi, tekan yang ini." Maura menunjuk tombol berwarna merah.Myrrathis mengangguk pelan, lalu menekannya dengan hati-hati. Seketika layar televisi mati. Kedua matanya langsung membulat."Hilang..."Maura menahan tawanya. "Coba tekan lagi."Dengan ragu, Myrrathis kembali menekan tombol yang sama. Beberapa detik kemudian, televisi kembali menyala. Pria itu berkedip beberapa kali sebelum menoleh pada Maura dengan wajah yang dipenuhi rasa takjub."Luar biasa..."Melihat ekspresi itu, senyum Maura semakin lebar. Rasanya seperti sedang mengajari anak kecil yang baru pertama kali melihat dunia.Di tengah suasana hangat itu, suara Tommy terdengar dari lantai dua."Maura!"Maura segera men

  • Transmigrasi Sang Nona Antagonis    148. Rumah

    Sore harinya, setelah dokter memastikan kondisi Maura telah benar-benar stabil, ia akhirnya diperbolehkan pulang dari rumah sakit.Berbulan-bulan yang terasa begitu panjang akhirnya berakhir. Meski tubuhnya belum sepenuhnya pulih dan ia masih diwajibkan menjalani kontrol rutin, setidaknya kini ia tak lagi harus menghabiskan hari-harinya di balik dinding ruang rawat inap.Mobil yang dikendarai Tommy melaju membelah jalanan kota diiringi cahaya matahari sore yang mulai menghangat. Di kursi belakang, Maura duduk berdampingan dengan Myrrathis. Sesekali pria itu menoleh ke luar jendela, mengamati setiap bangunan, kendaraan, dan orang-orang yang berlalu lalang dengan rasa penasaran yang tak mampu ia sembunyikan.Tak lama kemudian, mobil berbelok memasuki sebuah kawasan perumahan yang tenang. Sebuah gerbang besi berwarna hitam perlahan terbuka ketika satpam mengenali kendaraan mereka. Mobil terus melaju hingga berhenti tepat di depan sebuah rumah dua lantai yang berdiri megah di tengah hala

  • Transmigrasi Sang Nona Antagonis    147. Pagi yang Hangat

    Myrrathis melangkah pelan menuju jendela di samping ranjang rumah sakit. Dengan gerakan tenang, ia membuka daun jendela itu. Seketika angin pagi berembus lembut, membawa aroma pepohonan dan hangatnya sinar matahari masuk ke dalam ruangan. Tirai putih berkibar perlahan.Tak lama kemudian, Tommy berdiri dari kursinya."Ayah keluar sebentar."Maura mengangguk kecil.Pria paruh baya itu menatap Myrrathis sekilas, lalu tersenyum tipis sebelum melangkah keluar dan menutup pintu perlahan, memberi keduanya ruang untuk berbicara.Ruangan kembali hening.Myrrathis berdiri di dekat jendela sambil menatap Maura. Senyum tipis sedari tadi tak pernah benar-benar hilang dari wajah pria itu. Sorot matanya begitu hangat... seolah semua luka yang pernah mereka lalui kini hanyalah kenangan yang perlahan memudar.Maura berdeham pelan."Bagaimana kau bisa sampai ke sini?"Myrrathis menoleh. "Aurora yang membawaku."Maura terdiam.Myrrathis berjalan mendekat, lalu duduk di kursi di samping ranjang."Setelah

  • Transmigrasi Sang Nona Antagonis    146. Kembali Pulih

    Setelah berbulan-bulan menjalani pemulihan intensif, tubuh Maura yang sempat melemah kini perlahan kembali pulih. Meski masih harus menjalani terapi rutin, dokter menyatakan kondisinya berkembang jauh lebih baik dari perkiraan. Pagi itu, sinar matahari menembus jendela kamar rawat inap, menghangatkan ruangan yang telah menjadi rumah kedua Maura selama berbulan-bulan.Gadis itu duduk bersandar di kepala ranjang. Sebuah selimut tipis menutupi kedua kakinya, sementara Tommy--ayahnya duduk di kursi di samping ranjang sambil menyuapinya semangkuk bubur hangat."Pelan-pelan," ucap pria itu lembut. "Dokter bilang lambungmu masih perlu penyesuaian."Maura tersenyum kecil. "Baik, Ayah."Beberapa saat mereka hanyut dalam keheningan. Hingga akhirnya, Tommy meletakkan mangkuk bubur di atas meja kecil di samping ranjang."Maura,"Gadis itu menoleh."Ayah belum pernah menceritakan bagaimana kamu ditemukan, ya?"Maura menggeleng pelan."Kalau begitu, Ayah akan menceritakan semuanya padamu." Tommy me

  • Transmigrasi Sang Nona Antagonis    145. Harapan?

    Perlahan, Belliza membuka matanya.Tak ada lagi langit-langit aula pernikahan,suara riuh para tamu, dan lantai marmer dingin yang dipenuhi darah. Yang menyambutnya hanyalah hamparan cahaya putih yang membentang tanpa ujung. Terasa hangat dan tenang, seolah seluruh rasa sakit yang selama ini ia bawa perlahan luruh bersama cahaya itu.Belliza menundukkan pandangan.Gaun pengantin yang beberapa saat lalu membalut tubuhnya telah lenyap. Kini ia mengenakan gaun putih sederhana yang berkibar lembut, mengikuti embusan angin yang entah datang dari mana.Ia mengangkat wajahnya perlahan. Di hadapannya, sesosok peri kecil dengan sayap bercahaya muncul di antara kilauan putih yang memenuhi tempat itu."Aurora..."Peri berstatus tinggi itu tersenyum lembut. Ia mengepakkan sayapnya perlahan hingga berhenti tepat di hadapan Belliza. Tangan mungilnya terulur, mengusap pipi gadis itu dengan penuh kelembutan."Tugasmu..." ucap Aurora lirih, suaranya selembut angin musim semi, "untuk menyeimbangkan dunia

  • Transmigrasi Sang Nona Antagonis    06. Lavender

    Malam itu, bulan menggantung bulat di langit, cahayanya menembus masuk lewat jendela besar dan menyelimuti kamar Belliza dalam terang pucat. Ia duduk di sebuah bangku dekat meja, tenggelam dalam buku tebal berisi informasi mengenai istana dan berbagai wilayah dalam Kekaisaran Sephanix.Suara geseka

  • Transmigrasi Sang Nona Antagonis    05. Berjarak

    Sore itu, kereta keluarga Grouss akhirnya berhenti di halaman kediaman mereka.Belliza melangkah turun dengan tenang, diiringi kedua orangtuanya. Setelah melewati sambutan para pelayan, ia segera masuk ke dalam, langkah kakinya berderap pelan di lantai marmer yang berkilau.Perjamuan panjang hari i

  • Transmigrasi Sang Nona Antagonis    03. Perbincangan Politik Bangsawan Muda

    Dentang lonceng istana berbunyi tiga kali, menandakan pertemuan dimulai.Kaisar Bexern Elstammer berdiri dari singgasananya. Permaisuri Beandra duduk anggun di sisi kirinya, sementara Archduke Lenzoris dan Archduchess Elena duduk di kursi kehormatan di kedua sisi."Para pemimpin wilayah, bangsawan

  • Transmigrasi Sang Nona Antagonis    02. Pertemuan di Istana Sephanix

    Ruangan kamar Belliza sama mewahnya dengan perpustakaan tadi, bahkan mungkin lebih. Langit-langit tinggi dengan lampu gantung kristal yang berkilau, dinding dihiasi lukisan-lukisan bunga musim gugur, dan perabotan berukir emas yang tampak begitu mahal. Shenna berdiri di belakangnya, sedang merapik

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status