LOGINSore itu, kereta keluarga Grouss akhirnya berhenti di halaman kediaman mereka.
Belliza melangkah turun dengan tenang, diiringi kedua orangtuanya. Setelah melewati sambutan para pelayan, ia segera masuk ke dalam, langkah kakinya berderap pelan di lantai marmer yang berkilau.
Perjamuan panjang hari ini sudah cukup melelahkan. Yang ia inginkan hanyalah beristirahat di kamarnya. Ia menelusuri lorong panjang menuju kamar pribadinya. Gaunnya berdesir mengikuti setiap langkah.
Namun sebelum sampai, langkahnya terhenti ketika melihat sosok yang datang dari arah berlawanan.
Grezine Jasmine Grouss, adik bungsunya muncul dengan senyum ceria yang khas. Gadis itu tampak mengenakan gaun berwarna merah muda pucat, dihiasi pita kecil di sisi lengan.
Rambutnya yang digelung sebagian juga dihiasi jepit berbentuk bunga melati pink. Semua yang melekat pada dirinya seolah memancarkan kepribadian manja, ceria, dan sedikit centil, persis seperti yang dideskripsikan dalam novel.
"Kak Belliza!" seru Grezine riang, langkahnya segera menghampiri. "Kakak baru pulang, ya? Bagaimana perjamuannya? Apa Kakak bertemu banyak bangsawan hari ini?"
Suara Grezine melengking penuh rasa ingin tahu, matanya berkilat seperti anak kecil yang menunggu cerita menarik.
Belliza sempat terdiam. Ia tahu hubungannya dengan Grezine tidak pernah dekat. Bukan karena Grezine menghindarinya, melainkan karena Belliza asli yang selalu menjaga jarak. Kesibukannya, sikap acuhnya, dan pilihannya untuk membatasi interaksi membuat jarak itu semakin terasa.
Kini, melihat Grezine berdiri di hadapannya, penuh keceriaan dan tanpa ragu menyapanya, Belliza merasa sedikit canggung dan tidak tahu harus berbuat apa.
"Perjamuannya berjalan baik," akhirnya Belliza menjawab, suaranya tenang. "Dan... tentu saja melelahkan."
Grezine mengerjap, lalu tersenyum lebar sambil menautkan kedua tangannya di depan dada. "Ah, Kakak selalu bicara singkat. Aku ingin sekali mendengar lebih banyak cerita darimu. Tapi baiklah..." ia tertawa kecil sambil melangkah ke samping, membiarkan Belliza lewat. "Kakak pasti ingin segera beristirahat, kan? Jangan lupa ceritakan padaku nanti, meski hanya sedikit."
Belliza tertegun sejenak. Sampai akhirnya, ia mengangguk singkat kemudian melanjutkan langkahnya.
Grezine terdiam beberapa saat, matanya masih mengikuti punggung Belliza yang perlahan menghilang di balik tikungan lorong. Helaan napas kecil lolos dari bibirnya, membawa perasaan samar, antara kecewa dan rindu yang tak pernah ia akui dengan lantang.
Namun lamunannya buyar ketika sebuah sentuhan ringan mendarat di bahunya. Grezine terlonjak kecil dan segera menoleh.
Di sana, berdiri Raysenne Rose Grouss, kakak keduanya. Gaun berwarna merah marun yang dikenakan Raysenne menambah kesan anggun sekaligus tegas. Sorot matanya tajam, tapi ada kelembutan yang tak mudah ditangkap oleh orang asing.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Raysenne datar, meski nada suaranya sarat kepedulian.
Grezine berkedip, lalu tersenyum kaku sambil cepat-cepat menggeleng. "Tidak… tidak ada. Aku hanya-" ia terhenti, bibirnya menggurat senyum tipis yang terasa rapuh. "Aku hanya berharap Kak Belliza mau lebih sering berbicara denganku."
Raysenne menatap adiknya lama, kemudian menghela napas dan meraih tangan Grezine, menggenggamnya dengan lembut.
"Jangan terlalu berharap banyak darinya," ujarnya tenang. "Kak Belliza punya caranya sendiri dalam menunjukkan kepedulian. Kau hanya perlu bersabar."
Tatapan Grezine melembut, meski tetap ada bayangan kecewa di matanya. Ia mengangguk pelan. "Aku mengerti..."
Raysenne mengusap bahu Grezine sebelum akhirnya mereka berjalan bersama ke arah ruang tengah. Di balik sikap dinginnya, tersimpan rasa sayang yang tak pernah padam, meski jarang diungkapkan dengan kata-kata manis.
*****
Belliza menutup pintu kamarnya perlahan, membiarkan kesunyian menyelimuti dirinya. Langkahnya terasa berat saat ia berjalan menuju ranjang besar berhias tirai tipis berwarna gading. Ia duduk di tepi ranjang, jemarinya meremas halus lipatan gaun, seakan mencari pegangan yang tak pernah benar-benar ada.
Belliza menghela napas pelan, memejamkan mata sejenak guna menenangkan pikirannya. Senyum ceria Grezine masih jelas terbayang, senyum yang mengulurkan jarak, tapi tak pernah benar-benar bisa ia sambut. Ia tahu, Belliza asli selalu menjaga jarak dengan keluarganya. Dan kini, meski jiwa yang ada di tubuh itu berbeda, rasa canggung tetap menghantui.
"Apa aku coba buat lebih dekat aja ya sama mereka?" bisik Belliza pada dirinya sendiri, matanya terarah ke balkon kamarnya yang setengah terbuka.
Ia menghela napas panjang, langkahnya terasa berat saat bergerak menuju balkon. Dari sana, ia menatap langit sore yang kian meredup. Burung-burung beterbangan, kembali ke sarang mereka, seolah mengingatkan Belliza tentang arti pulang dan kebersamaan.
"Belliza... jarak yang kamu buat ke keluarga kamu itu berlebihan, apalagi ke dua adik kamu." gumamnya lirih, seakan berbicara pada jiwa Belliza asli yang pernah menghuni tubuh ini. "Nggak seharusnya kamu terus-terusan mengasingkan diri."
Tangannya menggenggam pagar balkon, dinginnya besi berpadu dengan sejuknya angin sore yang mulai berhembus. Rambutnya beterbangan mengikuti setiap hembusan angin.
"Aku bakal ubah apa yang bisa aku ubah," ucap Belliza. "Aku bakal perbaiki semuanya, dan aku bakal pastiin, akhir cerita kamu berbeda dari yang tertulis di novel. Aku janji."
Tok... tok... tok...
Suara ketukan pelan terdengar dari balik pintu. Belliza menoleh perlahan.
"Masuklah!" ujar Belliza sedikit berteriak karena jaraknya yang cukup jauh dari arah pintu kamar.
Saat pintu itu terbuka, Shenna masuk dengan membawa nampan berisi secangkir teh hangat yang mengepul harum. Di belakangnya, seorang pelayan lain mendorong wadah berisi air untuk persiapan Belliza membersihkan diri.
"Lady Belliza," sapa Shenna dengan nada hormat, lalu meletakkan nampan di atas meja kecil dekat ranjang. "Saya sudah menyiapkan teh hangat dan juga air untuk Anda membersihkan diri. Apakah Anda ingin saya membantu sekarang?"
Belliza menoleh sebentar, lalu tersenyum samar. "Letakkan saja dulu, Shenna. Aku hanya ingin beristirahat sebentar sebelum bersih-bersih."
Shenna mengangguk, lalu mundur setengah langkah. "Baik, Lady. Teh ini akan tetap hangat untuk beberapa saat. Silakan diminum kapan pun Anda mau."
Belliza berjalan kembali ke ranjangnya, duduk perlahan di tepi kasur empuk itu. Ia merasakan rasa lelah semakin menyeruak begitu tubuhnya menyentuh permukaan yang nyaman.
Shenna menunduk hormat sebelum beranjak menyiapkan kebutuhan lain di sudut ruangan. Sementara Belliza merebahkan tubuhnya di atas ranjang, membiarkan kelopak matanya perlahan tertutup.
Begitu sampai di ruang tamu, langkah Maura dan Tommy langsung terhenti.Suasana mendadak hening.Myrrathis berdiri tegak di depan televisi dengan wajah yang dipenuhi kewaspadaan. Di tangannya, sebilah pedang telah terhunus entah sejak kapan. Sedangkan di lantai, pecahan vas bunga berserakan ke segala arah.Sementara itu, televisi masih menyala, menampilkan adegan film horor. Seorang wanita berambut panjang dengan wajah pucat tiba-tiba muncul memenuhi layar, diiringi musik yang mencekam.Myrrathis sama sekali tidak berkedip. Tatapannya masih tertuju lurus ke arah televisi, seolah memastikan makhluk itu tidak akan keluar lagi. Beberapa detik berlalu. Kemudian, perlahan ia menoleh ke arah Maura, wajahnya benar-benar serius."Lavender."Maura berkedip bingung."Aku berhasil mengalahkan penyihir di dalam kotak itu."Hening.Maura menatap televisi, lalu menatap pecahan vas di lantai. Kemudian menatap pedang di tangan Myrrathis. Setelah itu... ia menoleh ke ayahnya yang juga sedang menatapny
Maura kembali menarik tangan Myrrathis. Ia membawa pria itu menuju sofa di depan televisi. Setelah keduanya duduk, Maura menyerahkan remote di tangannya."Ini namanya remote."Myrrathis menerima benda itu dengan hati-hati, membolak-baliknya sambil mengamati setiap tombol yang ada."Kalau ingin menyalakan televisi, tekan yang ini." Maura menunjuk tombol berwarna merah.Myrrathis mengangguk pelan, lalu menekannya dengan hati-hati. Seketika layar televisi mati. Kedua matanya langsung membulat."Hilang..."Maura menahan tawanya. "Coba tekan lagi."Dengan ragu, Myrrathis kembali menekan tombol yang sama. Beberapa detik kemudian, televisi kembali menyala. Pria itu berkedip beberapa kali sebelum menoleh pada Maura dengan wajah yang dipenuhi rasa takjub."Luar biasa..."Melihat ekspresi itu, senyum Maura semakin lebar. Rasanya seperti sedang mengajari anak kecil yang baru pertama kali melihat dunia.Di tengah suasana hangat itu, suara Tommy terdengar dari lantai dua."Maura!"Maura segera men
Sore harinya, setelah dokter memastikan kondisi Maura telah benar-benar stabil, ia akhirnya diperbolehkan pulang dari rumah sakit.Berbulan-bulan yang terasa begitu panjang akhirnya berakhir. Meski tubuhnya belum sepenuhnya pulih dan ia masih diwajibkan menjalani kontrol rutin, setidaknya kini ia tak lagi harus menghabiskan hari-harinya di balik dinding ruang rawat inap.Mobil yang dikendarai Tommy melaju membelah jalanan kota diiringi cahaya matahari sore yang mulai menghangat. Di kursi belakang, Maura duduk berdampingan dengan Myrrathis. Sesekali pria itu menoleh ke luar jendela, mengamati setiap bangunan, kendaraan, dan orang-orang yang berlalu lalang dengan rasa penasaran yang tak mampu ia sembunyikan.Tak lama kemudian, mobil berbelok memasuki sebuah kawasan perumahan yang tenang. Sebuah gerbang besi berwarna hitam perlahan terbuka ketika satpam mengenali kendaraan mereka. Mobil terus melaju hingga berhenti tepat di depan sebuah rumah dua lantai yang berdiri megah di tengah hala
Myrrathis melangkah pelan menuju jendela di samping ranjang rumah sakit. Dengan gerakan tenang, ia membuka daun jendela itu. Seketika angin pagi berembus lembut, membawa aroma pepohonan dan hangatnya sinar matahari masuk ke dalam ruangan. Tirai putih berkibar perlahan.Tak lama kemudian, Tommy berdiri dari kursinya."Ayah keluar sebentar."Maura mengangguk kecil.Pria paruh baya itu menatap Myrrathis sekilas, lalu tersenyum tipis sebelum melangkah keluar dan menutup pintu perlahan, memberi keduanya ruang untuk berbicara.Ruangan kembali hening.Myrrathis berdiri di dekat jendela sambil menatap Maura. Senyum tipis sedari tadi tak pernah benar-benar hilang dari wajah pria itu. Sorot matanya begitu hangat... seolah semua luka yang pernah mereka lalui kini hanyalah kenangan yang perlahan memudar.Maura berdeham pelan."Bagaimana kau bisa sampai ke sini?"Myrrathis menoleh. "Aurora yang membawaku."Maura terdiam.Myrrathis berjalan mendekat, lalu duduk di kursi di samping ranjang."Setelah
Setelah berbulan-bulan menjalani pemulihan intensif, tubuh Maura yang sempat melemah kini perlahan kembali pulih. Meski masih harus menjalani terapi rutin, dokter menyatakan kondisinya berkembang jauh lebih baik dari perkiraan. Pagi itu, sinar matahari menembus jendela kamar rawat inap, menghangatkan ruangan yang telah menjadi rumah kedua Maura selama berbulan-bulan.Gadis itu duduk bersandar di kepala ranjang. Sebuah selimut tipis menutupi kedua kakinya, sementara Tommy--ayahnya duduk di kursi di samping ranjang sambil menyuapinya semangkuk bubur hangat."Pelan-pelan," ucap pria itu lembut. "Dokter bilang lambungmu masih perlu penyesuaian."Maura tersenyum kecil. "Baik, Ayah."Beberapa saat mereka hanyut dalam keheningan. Hingga akhirnya, Tommy meletakkan mangkuk bubur di atas meja kecil di samping ranjang."Maura,"Gadis itu menoleh."Ayah belum pernah menceritakan bagaimana kamu ditemukan, ya?"Maura menggeleng pelan."Kalau begitu, Ayah akan menceritakan semuanya padamu." Tommy me
Perlahan, Belliza membuka matanya.Tak ada lagi langit-langit aula pernikahan,suara riuh para tamu, dan lantai marmer dingin yang dipenuhi darah. Yang menyambutnya hanyalah hamparan cahaya putih yang membentang tanpa ujung. Terasa hangat dan tenang, seolah seluruh rasa sakit yang selama ini ia bawa perlahan luruh bersama cahaya itu.Belliza menundukkan pandangan.Gaun pengantin yang beberapa saat lalu membalut tubuhnya telah lenyap. Kini ia mengenakan gaun putih sederhana yang berkibar lembut, mengikuti embusan angin yang entah datang dari mana.Ia mengangkat wajahnya perlahan. Di hadapannya, sesosok peri kecil dengan sayap bercahaya muncul di antara kilauan putih yang memenuhi tempat itu."Aurora..."Peri berstatus tinggi itu tersenyum lembut. Ia mengepakkan sayapnya perlahan hingga berhenti tepat di hadapan Belliza. Tangan mungilnya terulur, mengusap pipi gadis itu dengan penuh kelembutan."Tugasmu..." ucap Aurora lirih, suaranya selembut angin musim semi, "untuk menyeimbangkan dunia
Malam itu, bulan menggantung bulat di langit, cahayanya menembus masuk lewat jendela besar dan menyelimuti kamar Belliza dalam terang pucat. Ia duduk di sebuah bangku dekat meja, tenggelam dalam buku tebal berisi informasi mengenai istana dan berbagai wilayah dalam Kekaisaran Sephanix.Suara geseka
Myrrathis berdiri tegak di hadapan Belliza. Mata hitam legamnya menusuk dan dingin, namun ada sesuatu yang samar. Sekelebat kehangatan yang tak bisa Belliza tafsirkan."Selamat siang, Lady Grouss." ucap Myrrathis, suaranya terdengar tenang dan berat.Belliza menegakkan punggungnya, mencoba terlihat
Dentang lonceng istana berbunyi tiga kali, menandakan pertemuan dimulai.Kaisar Bexern Elstammer berdiri dari singgasananya. Permaisuri Beandra duduk anggun di sisi kirinya, sementara Archduke Lenzoris dan Archduchess Elena duduk di kursi kehormatan di kedua sisi."Para pemimpin wilayah, bangsawan
Ruangan kamar Belliza sama mewahnya dengan perpustakaan tadi, bahkan mungkin lebih. Langit-langit tinggi dengan lampu gantung kristal yang berkilau, dinding dihiasi lukisan-lukisan bunga musim gugur, dan perabotan berukir emas yang tampak begitu mahal. Shenna berdiri di belakangnya, sedang merapik







