Masuk“Viscount Rovana!" Panggil Panacea terhadap Pria yang tengah mengamati jejak kaki disebuah jalanan ini.Pria yang mengenakan jubah cokelat itu tampak berpikir dengan serius. “Apa Val pernah mengatakan padamu tentang mungkin saja ada orang yang sengaja menyebarkan wabah ini?” tanya Viscount Rovana kepada Panacea.Panacea menggeleng, jubah hitam beserta gaun hitamnya menyapu tanah lembab itu. “Tidak Viscount, jalan pikirannya teramat sulit diterka.” Panacea tersenyum simpul.“Yah, Valerin yang dulu menyukai keributan, selalu berisik, dan pembuat onar,” ucap Viscount Rovana. Viscount Rovana seolah tengah mengenang sosok Earl Grayii. “Kami berteman sejak di akademi Militer, Fredericth yang selalu menempeli Valerin, senantiasa mencegahnya bersikap gegabah," ucap William Rovana sambil mengeluarkan puntung rokok dari saku celananya. William Rovana melirik sosok Panacea Eerie yang hanya diam memerhatikannya."Jika saat itu masih belum beranjak kau pasti sudah jadi pengantin Valerin yang itu."
Valerin Grayii baru tiba di sebuah Pabrik Lama Keluarga Grayii. Dia menuruni kuda dalam sekali lompatan. Rambut hitam pendeknya basah kuyup karena keringatnya sendiri. Valerin tidak tahu sudah bergegas memacu kudanya dengan seberapa cepat untuk tiba kemari.Jika dugaannya benar, maka selama ini jawabannya ada di sana. Bisa dibilang gegabah tapi Valerin Grayii menjadikan dirinya sebagai umpan hidup. Valerin yang membaca pola dari rentetan kejadian Frederitch yang sempat menghilang kemudian kembali tanpa jantung juga jadi alasan bagi Valerin memberinya misi untuk menjauh dari Valerin. Kedua matanya melebar menatap beberapa orang yang sudah berdiri disana. Semua itu sudah dalam perhitungannya. Valerin tertawa hambar. “Haha ... kupikir pertemuan ini terlalu cepat, bukan begitu Yang Mulia Nikolai dan Puteri Primavera?" celetuk Valerin.“Untuk seukuran tikus kotor, dia cukup cerdas," hina Wanita dengan surai pirang itu menatap angkuh.“Apa yang adik kecil kami lihat darimu? Kau tak cantik
Valerin Grayii itu sudah cukup lama tak merasakan waktu senggang. Dia kini tengah bersantai di kebun halaman belakang manor Grayii karena nanti malam ia akan berangkat untuk menjalankan misi yang lain. Dia tak sendiri, ditemani secangkir teh seduhan Friday dan Sang Pembuat tentu saja. Valerin tak henti-henti tersenyum, seperti Gadis yang dilanda kasmaran. “Aku tak pernah membayangkan menjadi seorang remaja yang merasakan jatuh cinta haha." Valerin terkekeh pelan.Sementara itu, Friday yang berada dalam setelan pakaian resminya menatap keheranan. “Apakah teh yang kubuat membuat moodmu membaik Tuan Muda?” tanya Friday usai menuangkan teh dalam cangkir kosong yang telah diminum oleh Valerin.“Tidak-tidak, oh ... kau tentu saja alasannya. Bukan teh yang kau buat Pangeran," goda Valerin. Valerin memerhatikan Friday yang kala itu mengenakan jubah biru tua panjang, dalam pakaian kemeja hitam formal dan pedang yang tersarung ikat pinggangnya. Friday tak berpakaian seperti pelayannya meski i
“Val, apa yang sedang kau lakukan?” Friday baru tiba bersama dua anggota lain dari Paladin of Dustbones. William Rovana dan Leon Sirius. Atas permintaan Valerin, Friday dengan senang hatinya membawa kedua orang itu.Valerin menyeka keringatnya. Dia tengah berada di ruangan pabrik keluarga Grayii. Pabrik yang sudah lama ditinggalkan itu kini disulap seperti ruangan berteknologi muktahir. Setidaknya gadis bersurai pendek ini sudah mempermak pabrik itu menjadi markasnya.“Tidak ada, hanya memperbaharui beberapa alat yang ada disini,” jawab Valerin Grayii sambil memberikan ketiganya tiga buah chip berbentuk earphone. “Benda ini mampu melacak keberadaan, alat komunikasi, dan radar koordinat,” ucap Valerin sambil berjalan ke arah komputer yang ada ditengah-tengah ruangan itu dengan layar monitor tipis transparan. “Keluargaku, Ayah dan ibuku berserta kakakku itu membuat dan menitipkan semua peralatan ini bahkan tanpa Dustbones dan Crave Rose tahu.” Valerin Grayii berucap sambil tersenyum kec
“Valerin Grayii. Kaukah itu?” Valerin dan Alphonse kompak segera menoleh saat mendengar suara itu.Valerin Grayi memicingkan matanya, sepasang violet milik Valerin bias oleh cairan air matanya yang hendak keluar. Bibirnya gemetar usai menatap sosok proyektor yang tersenyum padanya. Valerin menundukkan kepalanya sejenak. “Val, kau kenapa?” tanya Alphonse cemas.Gadis berpakaian necis seperti lelaki itu menggeleng pelan. “Itu ... Hologram, Hologram ibuku.” Valerin Grayii menahan isak tangisannya dengan tegar.Hologram dengan siluet ibunya itu amat mirip dengan tampilan manusia, jika saja Valerin tak menyadari pantulan dari sensor alat hologram dari logo logo diphylleia grayi pada tengah-tengah ruangan “Aku Valyria,” ucap Valerin berusaha tersenyum pada Hologram canggih dengan kemampuan sistem AI-nya itu.“Oh, Aku mengerti.” Hologram ibunya tersenyum menatap Valerin. “Kau Valerin saat ini.” Kata ibunya lagi.Valerin Grayii mengangguk pelan “Itulah aku saat ini.” Valerin berucap sambil
“Aku tak mengerti masalahmu, sungguh.” “Kalau begitu kau bisa memikirkannya bukan, apa masalahmu denganku Frederitch?”Friday memandang Wanita itu dingin. “Sikapmu yang membebaskanku, menolongku, dan membantuku bukanlah cuma-cuma, bukan?" terka Friday pada Wanita yang duduk disebelahnya itu.Wanita dengan perangai yang elegan, duduk dengan menegak segelas cairan merah. “Kau cerdas, Fredericth. Tak diragukan dari tunanganku," ledek Wanita itu menatap Friday aka Frederitch Drew Raymond dengan kekehan kecilnya. “Rhea hentikan itu!” bentak Friday."Yang Mulia rendahkan nada bicaramu terhadap keponakan manisku, Yang Mulia Frederitch." Pria paruh baya itu berdiri tepat disebelah Friday, meremat pundak Pemuda itu dengan keras.Friday terdiam dengan tatapan dinginnya, diam-diam menahan amaranya. Ia mendeham setelah itu tersenyum, secepat itu memanipulasi lawan bicaranya. “Baik, Professor Dawn. Katakan apa yang keponakanmu ini inginkan?” tanya Friday."Bukannya sudah jelas Yang Mulia, setel







