LOGINMengisahkan Valyria Soga Kinaru Gadis sebatang kara yang baru ditinggal mati oleh Kakak satu-satunya. Kemalangannya tidak berhenti sampai insiden penculikan yang membuatnya tewas misterius. Valyria kira dia sudah tiada namun ia terbangun di dunia lain menjadi Tuan Muda dari Keluarga Bangsawan Grayii. Sesuatu yang mengejutkan adalah semua orang menganggapnya sebagai Tuan Muda Valerin Grayii, mendiam kakaknya sendiri yang sudah lebih dulu keluar masuk ke dunia ini. Demi mengetahui semua rahasia dan pecahan misteri mengenai diri dan keluarganya, Valyria dengan pasrah memainkan peran sebagai Tuan Muda Valerin yang dilayani oleh dua pelayan misteriusnya pula. Panacea Sang Maid yang dewasa ternyata seorang Iblis dan Pelayan Pria yang tampan ternyata seorang Vampir dari Kerajaan Musuh. Tidak hanya itu, dia harus mempelajari dunia ini yang berbeda dengan dunianya, sebagai Bangsawan yang diberi tugas khusus dari Kerajaan untuk membasmi masalah saat ini yakni wabah obscure yang membuat manusia jadi zombie. Disela-sela petualangannya, Sang Pelayan Pria justru menunjukkan perhatian istimewahnya bahkan di berbagai insiden dia rela mengorbankan keselamatannya demi Valerin. Lantas Bagaimana Valyria menjalani hidup dustanya akankah Valyria menemukan cara Kembali ke dunianya?
View More“Valyria ... Valyria ...”
Panggilan seseorang akan namanya, membuat sosok bertubuh ramping, mengenakan setelan jas cokelat dipadupadankan dengan dasi merah marun tersentak kaget. Kedua mata iris merah lembayungnya menatap dengan kaget, membulat dengan wajah melongo manisnya.
“Riasanmu sudah selesai, cepat kau sudah ditunggu pemotertannya.”
Mengangguklah pria berwajah campuran maskulin dan feminim ini, cantik dan indah. Dia pun sempat membenahi surai pirangnya yang berantakan. “Aku benci pemotretan,” ujarnya dengan bibir ranum yang dikerucutkan.
Tubuh berpostur ramping itu duduk berpose dalam sebuah studio. Gadis itu memengangi sebuah apel merah yang sedang dikecupnya. Tatapannya kearah kamera sengaja dibuat tajam sekaligus sendu menawan.
Crek ... crek ... crek ...
Beberapa Kru Wanita yang ada di studio itu juga tampak senyum-senyum malu, pasalnya kesempurnaan sosok yang menjadi model kali ini begitu indah, rupawan, dan cantik. Hingga pemotertan selesai semua tampilan itu hanyalah tipuan demi sesuap nasi.
“Ah, aku capek memakai wig!” teriak seseorang sambil membuka wig pirang itu. Sosok aslinya mulai tampak. Gadis cantik jelita yang memiliki rambut hitam panjang yang berkilau dengan indah. Sebuah pepatah mengatakan don’t jugde by its cover memiliki makna jangan menilai dari tampilan luar. Gadis itu demikian sama dengan sampul buku hitam tapi didalam sana ada lembaran kertas bunga-bunga cantik.
“Kali ini Iklan kita pasti laku keras berkatmu!” puji Sang Manajer.
“Asal bayaranku pemotretan ini tidak terlambat seperti bulan lalu karena aku perlu untuk bayar sewa rumah kontrakanku dan biaya Perawatan Kakakku,” sahut Gadis itu sembari mencopoti seluruh aksesorisnya, dimulai dari anting perak, menghapus riasan wajah, melepas contact lens merah lembayung itu dan yang terakhir melepas dua kancing atas lehernya pada kemeja putih dan tak lagi mengenakan jas cokelat.
Sang Manager menghela napas cukup panjang. “Agensi ini membutuhkanmu untuk melanjutkan sosok dari Valerin, dia aset utama kami dan kau tahu sendiri jika sampai orang-orang tahu perihal kondisi asli dari Valerin,” ucap Si Manajer.
“Aku lelah membahas soal kakakku, lagi pula aku terima pekerjaan pengganti sebagai dia karena kami punya wajah yang mirip,” sahut Gadis itu. Kenyataan akan senantiasa pahit. Ia berjuang sendiri meski menipu demi popularitas dari Model asli Agensi. Ia tak bisa menyangkal semuanya. Kedua mata violet milik Gadis itu mulai berkaca-kaca menahan tangis.
Manajer menghela napas untuk kedua kalinya. “Aku tahu ini sulit bagimu, kami masih menyelidiki kasus kakakmu dan untuk sementara ini mainkan sandiwaramu sebagai Valerin, demi kelangsungan hidup kalian juga.” Manajer berucap sambil beranjak pergi dari Ruang Ganti itu.
Hari menjelang sore. Dia berjalan keluar dari gedung pencakar langit ini. Kedua matanya menatap langit yang dominan citrus petang itu, ada pun awan menggulung namun tak seberapa. Tatapannya sendu tanpa gairah kehidupan, dipasangnya earphone yang menyumbat kedua telinganya. Tangan rampingnya tampak menekan tombol pada ponselnya untuk memilih alunan musik yang akan menemani perjalanannya.
“Ini saja.” Gadis itu berucap saat pilihannya jatuh pada musik Ludovico Einaudi – Life, alunan musik kegemarannya. Kemudian sepasang kaki jenjang itu berjalan lebih laju untuk halte bus, duduk disana bersama beberapa orang yang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang sibuk dengan handphonenya, atau ada pula yang sibuk berbincang dengan temannya. Sepasang iris mata violet itu tak lepas menatap hiruk pikuk kehidupan kota sibuk ini, kepadatan akan kisah kehidupan semua orang berbeda-beda. Kini, dirinya hanya bisa melamuni teringat akan masa lampau yang kebetulan menyedihkan. Lamunan itu melayang ke ingatan masa lalu.
“Valyria, ingat jangan berpisah dari kakakmu.”
“Valerin, jaga adikmu baik-baik.”
Valyria Soga Kinaru, masih begitu kecil untuk mengerti ucapan orang tuanya dikala itu. Semua kemalangan yang menimpanya bersama kakak laki-lakinya. Valerin Darly Kinaru. Saat ini harus menjalani perawatan atas penyakitnya yang tiba-tiba saja muncul. Valyria namanya, jadi seorang diri berjuang tanpa kedua orang tua yang sudah tiada.
Kedua orang tuanya pergi tergesa-gesa pada malam hari, tepat saat diluar sana tengah digemuruhi oleh badai hujan. Kedua orang tuanya meninggalkan rumah ini tanpa mengatakan alasannya. Perpisahan singkat dengan pesan singkat itu pula, hal yang terakhir mereka dengar. Valyria ingat jika Sang Kakak menggengam tangannya dengan tegar dan kuat.
Tepat pagi hari usai badai itu. Saat subuh bahkan mentari belum tampak menaik. Seorang polisi tiba dikediaman mereka, memberikan berita mengenai kematian kedua orang tuanya. Mereka bilang, mobil yang kedua orang tuanya kendarai tergelincir licinnya jalan keluar dari jalan raya kemudian dihantam oleh sebuah truck hingga tewas di tempat.
Seorang gadis kecil yang tak tahu apa-apa itu, hanya bisa menggengam tangan Sang Kakak. Dia masih begitu muda untuk memahami kemalangan yang seharusnya masih bersekolah dan bermain dengan bebas. Sang Kakak juga masih remaja, namun harus bersikap dewasa. Valyria begitu sedih, semenjak itu dia tak mau jauh-jauh dari Valerin Darly Kinaru.
Keluarga Kinaru meninggalkan dua kakak beradik dengan kekayaan yang mereka warisi. Usia mereka yang masih anak-anak, diharuskan untuk menetap bersama Sang Wali. Wali mereka satu-satunya hanya paman beserta isterinya, sementara paman mereka yang lain berada di Negara yang berbeda. Paman dan isterinya ini dinilai paling cocok untuk Valyria dan Valerin. Walaupun sebenarnya bertolak belakang. Mereka bahkan tak begitu akrab dengannya sebaliknya hanya mau keuntungan dari Kinaru Bersaudara ini.
“Gadis bodoh! Berkeras kepala, bukankah kubilang untuk mengganti taplak meja makan dengan warna emas, kenapa kuning gading yang jelek ini!” Bentak Si Bibi.
“Apa kau bisu?!” bentak Sepasang suami istri itu sama saja, memperlakukan Valyria Soga Kinaru lebih tinggi dari pelayan namun lebih rendah dari keluarga. Tubuhnya yang kurus, kurang makan kurang berbahagia pula.
“Bicara! Kenapa kau diam!” bentak Wanita itu mencengkeram dagu Valyria amat keras. Baik wanita itu pun tahu, Valyria Soga Kinaru memiliki paras yang cantik. Mirip seperti mendiang sang ibu, iparnya itu. “Kedua iris mata anehmu itu berani menatapku, hah?!” Omel Sang Bibi. Anak-anak yang seharusnya tumbuh dengan sehat, harus bersusah hati dengan kegiatan kesehariannya yang berat mengurusi rumah mereka sendiri.
Valyria Soga Kinaru, cukup lelah dengan kehidupan ini. Dia tahu, walinya ini tak tulus mengasihi mereka berdua. Tidak lebih untuk kekayaan yang kedua orang tuanya tinggalkan. “Aku cukup, jangan sentuh aku lebih keras lagi. Singkirkan tanganmu yang menjijikkan itu!” sahut Valyria ketus. Dia terbilang keras kepala dari pada sang kakak, Valerin Darly Kinaru yang lemah lembut.
“Valyria! Ya Tuhan, maafkan dia Bibi, Valyria hanya sedang kelelahan,” ucap Sang Kakak, masih mengenakan seragam putih abu-abunya itu baru pulang akibat kelas tambahan untuk menghadapi ujian kelulusan. sementara Valyria usai sekolah harus jadi Babu di rumah itu. Mungkin karena bukan anak sulung, pewaris yang lebih berhak atas kekayaan itu seolah hanya tertuju pada Sang Kakak tapi Valyria, tak membencinya. Dia berlari menggapai tubuh sang kakak, kemudian memeluknya.
“Maafkan aku, tidak mau lagi berada di rumah kita,” ucap Valyria jujur. Keinginan Valyria Soga Kinaru, hanya Kakaknya yang menyanggupi. Tahun kelulusannya, mereka pindah ke rumah kontrakan yang sangat sederhana. Sang Kakak, Valerin Darly Kinaru menyekolahkan adiknya, membiayainya dan mengayominya. Bekerja apapun untuk Sang Adik, tak sulit bagi anak-anak Kinaru yang memang jenius. Valyria bahkan dapat menyusul ketertinggalan pendidikannya, sementara Valerin berkuliah dengan beasiswanya dan pekerjaannya di kantor penerbitan mendiam kedua orang tuanya. Hidup mereka, mulanya baik-baik saja. Hingga pada bulan maret di hari yang baru henti akan guyuran hujan, Valyria Soga Kinaru mendapatkan kabar baik dari Sang Kakak yang akan melanjutkan studinya diluar Negeri. Bersuka hatinya kedua kakak beradik Kinaru ini, Valyria menyanggupi hidup seorang diri diusianya yang mulai beranjak dewasa beserta meridhai Sang Kakak akan studi lanjutannya itu.
Valyria semakin bangga pada kakaknya Valerin. Selain jenius, pintar dan tampan. Valyria mendapat kabar jika Valerin juga bekerja sebagai Model Pemotretan disela-sela perkuliahannya. Valyria merasakan hidup berkecukupan dari Sang Kakak hingga bertahun-tahun Valerin mulai tak mengabarinya namun rutin memberinya uang bulanan.
Suatu hari hidup Valyria hancur untuk kedua kalinya. Dia malah mendapati kabar jika Sang Kakak jatuh sakit parah. Valyria mendatangi Negeri Kuntum Mawar itu disaat musim dingin untuk menemui Valerin. Valyria mendapati Valerin mulai tak karuan dan jadi gila. Hari-hari Valyria berubah semenjak saat itu, dia yang menggantikan peran Sang Kakak. Dia akan rutin mengunjungi Sang Kakak yang ada di Rumah Sakit Jiwa. Biarpun Sang Kakak sering meracau akan hal yang tak pernah dia pahami, dia tetap menyayangi Sang Kakak sepenuh hatinya.
Lamunan Valyria buyar oleh bunyi klakson Bus yang berhenti di depan halte. Valyria yang sedari tadi melamun buru-buru masuk ke dalam Bus. Bus berhenti di depan sebuah gedung Rumah Sakit Jiwa. Valyria masuk ke dalam Rumah Sakit sambil menyapa beberapa perawat yang sedang bertugas.
Valyria terdiam memandangi Sang Kakak yang mengamuk dengan ucapan yang asal. Ia melihat Perawat yang berusaha menenangkan Valerin meski mereka kesulitan. Valyria mendekati kakaknya itu. “Kak Darly, aku datang,” ucap Valyria.
Valerian langsung memandangi Valyria. Pria itu langsung tenang. Ia berjalan ke ujung ranjang kasur kemudian duduk disana. Pria itu tak berbicara tapi tangan kanannya menepuk-nepuk ranjang kasur disebelahnya.
“Ayo, Kita makan dulu.” Valyria meraih mangkuk dari Sang Perawat. “Terima kasih, setelah ini biarkan aku yang mengambil alih,” ucap Valyria. Kedua tangan kecilnya, mengelap ujung bibir sang kakak yang belepotan dengan sapu tangannya. “Syukurlah, Kakak lebih tenang dan mau makan sampai habis.” Valyria berucap dengan kedua iris violet itu menatap sendu, pria yang sedang melamun itu.
“L’Histoire se Répète,” ucap Valerin Darly Kinaru setelah itu menggengam tanganValyria. Dia mengguman kalimat itu dengan jelas. Kemudian tertawa dengan nyaring, biarpun tertawa sepasang iris violetnya juga berkaca-kaca. Menangis dengan tersedu-sedu, akan ekspresi wajah yang bertabrakan itu.
Valyria Soga Kinaru menatap sedih Valerin. Setelah itu Valyria memeluk Valerin dengan erat. “Je comprends ton ressenti,” sahut Valyria sambil mengusap-usap puncak kepala Sang Kakak, dia mengatakan turut mengerti akan perasaannya. Berdusta kecil, agar Valerin menjadi tenang.
“Kalau bukan Nona Valyria, kami tak akan mengerti ucapan kakakmu ini,” ucap Perawat. “Kami tak perlu memberi obat penenang, kami kira dia akan mengamuk lagi.” Lanjutnya lagi.
Valyria menggeleng. “Kami memang bisa menggunakan beberapa bahasa, sebagai kebiasaan yang dilakukan oleh kedua orang tua kami jadi maafkan sikap Kakakku ini,” ucap Valyria.
Tak terasa jika hari mulai larut malam bagi Valyria mengunjungi kakaknya. Dia menghantar Valerin ke kamar perawatannya. Sebelum pulang, dia menyelimuti sang kakak “Cerita yang berulang ya?” tanya Valyria teringat perkataan kakaknya tadi mengenai L’Histoire se Répète yaitu sejarah atau cerita yang berulang. Lagi-lagi kakaknya bergumam hal yang tak dapat dipahaminya.
Valyria, mengusap puncak kepala Pria Muda itu. “Aku akan kembali lagi besok.” Valyria berbisik kepada Sang Kakak yang sudah pulas tertidur. Dia pun pergi meninggalkan Valerin.
Valerin Grayii baru tiba di sebuah Pabrik Lama Keluarga Grayii. Dia menuruni kuda dalam sekali lompatan. Rambut hitam pendeknya basah kuyup karena keringatnya sendiri. Valerin tidak tahu sudah bergegas memacu kudanya dengan seberapa cepat untuk tiba kemari.Jika dugaannya benar, maka selama ini jawabannya ada di sana. Bisa dibilang gegabah tapi Valerin Grayii menjadikan dirinya sebagai umpan hidup. Valerin yang membaca pola dari rentetan kejadian Frederitch yang sempat menghilang kemudian kembali tanpa jantung juga jadi alasan bagi Valerin memberinya misi untuk menjauh dari Valerin. Kedua matanya melebar menatap beberapa orang yang sudah berdiri disana. Semua itu sudah dalam perhitungannya. Valerin tertawa hambar. “Haha ... kupikir pertemuan ini terlalu cepat, bukan begitu Yang Mulia Nikolai dan Puteri Primavera?" celetuk Valerin.“Untuk seukuran tikus kotor, dia cukup cerdas," hina Wanita dengan surai pirang itu menatap angkuh.“Apa yang adik kecil kami lihat darimu? Kau tak cantik
Valerin Grayii itu sudah cukup lama tak merasakan waktu senggang. Dia kini tengah bersantai di kebun halaman belakang manor Grayii karena nanti malam ia akan berangkat untuk menjalankan misi yang lain. Dia tak sendiri, ditemani secangkir teh seduhan Friday dan Sang Pembuat tentu saja. Valerin tak henti-henti tersenyum, seperti Gadis yang dilanda kasmaran. “Aku tak pernah membayangkan menjadi seorang remaja yang merasakan jatuh cinta haha." Valerin terkekeh pelan.Sementara itu, Friday yang berada dalam setelan pakaian resminya menatap keheranan. “Apakah teh yang kubuat membuat moodmu membaik Tuan Muda?” tanya Friday usai menuangkan teh dalam cangkir kosong yang telah diminum oleh Valerin.“Tidak-tidak, oh ... kau tentu saja alasannya. Bukan teh yang kau buat Pangeran," goda Valerin. Valerin memerhatikan Friday yang kala itu mengenakan jubah biru tua panjang, dalam pakaian kemeja hitam formal dan pedang yang tersarung ikat pinggangnya. Friday tak berpakaian seperti pelayannya meski i
“Val, apa yang sedang kau lakukan?” Friday baru tiba bersama dua anggota lain dari Paladin of Dustbones. William Rovana dan Leon Sirius. Atas permintaan Valerin, Friday dengan senang hatinya membawa kedua orang itu.Valerin menyeka keringatnya. Dia tengah berada di ruangan pabrik keluarga Grayii. Pabrik yang sudah lama ditinggalkan itu kini disulap seperti ruangan berteknologi muktahir. Setidaknya gadis bersurai pendek ini sudah mempermak pabrik itu menjadi markasnya.“Tidak ada, hanya memperbaharui beberapa alat yang ada disini,” jawab Valerin Grayii sambil memberikan ketiganya tiga buah chip berbentuk earphone. “Benda ini mampu melacak keberadaan, alat komunikasi, dan radar koordinat,” ucap Valerin sambil berjalan ke arah komputer yang ada ditengah-tengah ruangan itu dengan layar monitor tipis transparan. “Keluargaku, Ayah dan ibuku berserta kakakku itu membuat dan menitipkan semua peralatan ini bahkan tanpa Dustbones dan Crave Rose tahu.” Valerin Grayii berucap sambil tersenyum kec
“Valerin Grayii. Kaukah itu?” Valerin dan Alphonse kompak segera menoleh saat mendengar suara itu.Valerin Grayi memicingkan matanya, sepasang violet milik Valerin bias oleh cairan air matanya yang hendak keluar. Bibirnya gemetar usai menatap sosok proyektor yang tersenyum padanya. Valerin menundukkan kepalanya sejenak. “Val, kau kenapa?” tanya Alphonse cemas.Gadis berpakaian necis seperti lelaki itu menggeleng pelan. “Itu ... Hologram, Hologram ibuku.” Valerin Grayii menahan isak tangisannya dengan tegar.Hologram dengan siluet ibunya itu amat mirip dengan tampilan manusia, jika saja Valerin tak menyadari pantulan dari sensor alat hologram dari logo logo diphylleia grayi pada tengah-tengah ruangan “Aku Valyria,” ucap Valerin berusaha tersenyum pada Hologram canggih dengan kemampuan sistem AI-nya itu.“Oh, Aku mengerti.” Hologram ibunya tersenyum menatap Valerin. “Kau Valerin saat ini.” Kata ibunya lagi.Valerin Grayii mengangguk pelan “Itulah aku saat ini.” Valerin berucap sambil


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.