Masuk"Aku juga mengenalmu dengan baik sejak kita berada di Akademi, aku, kau, Valerin dan Frederitch, tapi ... Valerin yang kita tahu saat ini bukanlah Pria yang pernah kau cintai dulu, dokter," ucap Alphonse sembari menarik pedang dari sarung pedang milik Matthias yang ada didekatnya kemudian menghunuskan pedang itu pada dokter Louisa. dokter Louisa langsung sekarat. Ia masih berdiri melihat cairan merah yang merembah luah dari perutnya itu. Kemudian ia terkapar jatuh tak sadarkan diri. "Tekadku sudah bulat, setelah kutaklukkan Boerhavia maka Dust Bones akan jadi Kerajaan yang tak tertandingi!" bentak Alphonse. Sebelumnya …“Louisa, kau tahu bukan jika Yang Mulia hendak memasuki wilayah terlarang?” Pria Paruh Baya berambut putih oleh uban itu mendekati seorang Wanita yang sedang berdiri di Benteng Kerajaan Dust Bones.Malam hari ini udara tak hanya dingin namun sepi. Wanita berambut hitam Panjang itu hanya bisa diam mematung mengabaikan Jenderal Cyprus yang menghampirinya. “Apa yang
"Aku benar-benar tak percaya dengan kabar ini, bagaimana bisa selama ini Pengkhianat Kerajaan bisa hidup bersama dengan kita Yang Mulia? terlebih sekarang dia menjadi Permaisuri di Craver Rose, sungguh licik," ucap Mathias yang baru memasuki ruang rapat di Istana Kerjaan Dust Bones.Mathias tak lagi menyembunyikan raut wajah bencinya itu terhadap Ellis. Ia duduk dengan wajah masam kemudian melipat kedua tangan didada bahkan Pria itu belum melepaskan baju zirahnya. Ia menatap Raja Dust Bones yang hanya diam mematung itu. "Jangan katakan Yang Mulia selama ini sudah tahu itu?" terka Mathias. "Matthias, jaga ucapanmu pada Yang Mulia," tegur Jenderal Cyprus. Matthias menggeleng sembari menghela napas. "Anda tahu betapa bencinya aku dengan Earl Grayii, dia alasan seluruh keluargaku lenyap karena Obscure," celetuk Matthias. "Itu benar tapi Earl Grayii berkat Earl Grayii yang muncul di peperangan dengan Brunia tempo waktu lalu, wabah di medan perang berhenti dan tak menyebar masuk ke wil
Mentari pagi menyingsing, Ellis terbangun karena berkas cahaya yang menyelinap masuk diantara celah jendela. Ia tak mendapati Suaminya di ranjang Kasur. Ellis langsung beranjak berdiri untuk mencari Si Rambut Pirang itu.Seisi Kastil sudah Ellis telusuri. Ia berjalan pelan dengan gaun tidur dan kain menutupi kedua bahu telanjangnya. Hari masih pagi meski matahari sudah menaik. Suaminya itu memang vampir tapi Frederitch lebih manusia dari manusia itu sendiri.“Apa Frederitch tidak meninggalkan pesan padamu Panacea?” tanya Ellis cemas.Panacea menggeleng. “Tidak, Tuan Muda.”Ellis langsung beranjak ke kamarnya. Ia langsung mengganti pakaian. Kemudian keluar terburu-buru. “Aku titip Vila ini padamu Panacea, jika Frederitch muncul sebelum aku tiba katakanlah gunakan link untuk memanggilku,” ucap Ellis sembari beranjak pergi.Panacea bahkan tak sempat untuk mencegahnya karena Ellis keburu pergi. Helaan napas Panacea terdengar cukup Panjang saat itu. “Bagaimana bisa kukatakan jika Yang Muli
"Bersulang untuk pernikahan yang mulia Frederitch dan yang mulia Ellis!" William berseru sembari mengangkat gelasnya."Bersulang!" Semua tamu undangan pun bersuka cita seraya bersulang atas pernikahan Frederitch dan Ellis."Ah, betapa cantiknya Tuan Muda," ucap Panacea terkagum-kagum melihat Ellis yang berdampingan dengan Frederitch itu.Pesta pernikahan ini hanya digelar di Kuil Bulan dan pesta kecil yang diadakan dihalaman Kuil itu pula. Ini semua permintaan Ellis karena ia ingin pernikahan ini sederhana dan dihadiri orang-orang yang dikasihinya, tak lupa juga Mantan Raja Dust Bones meski Putri Primavera tampak absen.Sepasang pengantin baru itu duduk di kursi, tepat di atas altar dengan pakaian serba putih. Pengantin pria yang tampan juga mengangkat gelasnya dan pengantin wanita yang cantik sedang tertunduk malu.Tatapan teduh Frederitch melirik Ellis. "Kenapa Ellis?" tanyanya.Ellis hanya gugup dengan pernikahan ini karena akhir bahagia yang terasa tak nyata sedang ia terima. "A-a
"Kenapa kau baru katakan itu Na?!" jerit Ellis yang kesadarannya bercampur dengan Liriel. "Sudah kukatakan, aku rela jadi apapun untukmu, aku selamatkan keturunanmu, dan aku penjarakan ragamu bersama Albert di Boerhavia, semua demi kau!" bentak Frederitch dengan kedua mata merah lembayungnya yang menyalang. Sama halnya dengan Ellis, Frederitch kala ini sedang terpengaruh oleh Leluhurnya, Narendra.BRAKKKKK! Sebuah tangan memukul tengkuk Ellis dengan cepat sehingga Ellis langsung tak sadarkan diri. Seseorang langsung meraih tubuh Ellis yang pingsan itu setelahnya ia meniupkan taburan serbuk putih pada Frederitch yang langsung membuat Frederitch kembali pada dirinya. "Sungguh? akulah orang yang harusnya paling murka akibat perlakuan kalian berdua, kalian jelas-jelas sudah mencuri permata paling berharga dari Suku Gandaria dan sekarang malah aku yang harus mengurusi pertengkaran pasangan ini," omel Panacea panjang lebar. Dialah orang yang muncul untuk melumpuhkan Ellis dan menyadarka
"B-bagaimana bisa?""Oh Yang Mulia, Anda pura-pura tak tahu tetapi aku tahu, leluhurmu pasti menceritakan kisah lama bagaimana bangsa kalian bisa ada, bukan?" Semua orang di ruang makan itu terpukau saat Ellis melepaskan sanggul rambutnya yang langsung berubah berwarna perak. Ellis sudah tahu semua kisah dunia ini berkat masuk ke dalam alam bawah sadar yang Liriel perlihatkan padanya. Ellis tahu dunia ini adalah akhir dari awal kisah dosa dari Liriel. "Aku tahu semuanya, hidup yang lalu dan masa kini ... aku orang dari dunia lain yang mewarisi kutukan ini Yang Mulia, kini menyembuhkanmu adalah perkara mudah bagiku karena aku juga yang mengetahui penyakit itu." Ellis berucap dengan lantang. Frederitch terperangah terkejut, kedua mata birunya membelalak tak percaya dan ia langsung berjalan mendekati Ellis kemudian mendekatinya. "Ellis, jangan bilang kau membangkitkan kekuatanmu?" tanya Frederitch."Oh Frederitch, seluruh ingatanku sudah terbuka, aku juga ingat ... kita pernah bertemu
“Apa katamu?! tidak mungkin, kau bohong bukan?”“Benar, Tuanku.”“Jangan bilang jika Panacea malah Ratu?”“Bukan Tuan Muda." Panacea tersenyum simpul. “Panacea Eerie dulunya penyihir, berbeda dari Yang Mulia Frederitch. Saya sudah lama mengabdi dengan Anda yang sebelumnya." Valerin langsung menger
“Apa?! Ini kediamanmu?!” Valerin terkejut bukan main. Oh, ternyata Valerin sudah membayangkan jika tugasnya begitu berat. Viscount Rovana menaikkan sebelah alisnya heran. "Iya, benar, apa kau benar-benar tak ingat?" "Bukan, hanya saja ... dilihat dari sisi mana pun, usangnya Manor ini seperti su
Valerin duduk dibelakang yang sedang menunggangi sebuah kuda yang dikendalikan oleh Friday Sang Pelayan. Kuda putih ini ditunggani sepasang berbeda ras. Awalnya Valerin canggung tapi Friday yang memengang kendali kuda ini terlampau tenang. Ia pun berangsur-angsur merasa nyaman apalagi sesekali meny
“Tuan Muda, Tuan Muda!"Valerin Grayii ternyata ketiduran didalam kereta kuda sejak perjalanan mereka dari manor ke pusat kota. Valerin mengusak kedua matanya, semua ini karena Valerin kesulitan tidur sejak kemarin malam. “Engh." Valerin merentangkan kedua tangannya.“Tuan muda, kita sudah sampai d







