LOGINWARNING ‼️ GABAY NG MAGULANG ANG KAILANGAN KUNG IKAW AY BELOW 18 YEARS OLD. AND PLEASE DON’T COPY MY STORY OR EVENT COPY AND SELL IT TO THE READERS! ——————— Yvessirae Elswyth Quiova’s only job is to be a Contracted Wife to men who are dying, desperate to have a wife, or prideful men who simply want someone to show off to their friends as proof that they’re married. But the truth is—it’s all fake. It only takes one day to convince the people, friends, or family of her client that their son is truly married. After that, they immediately part ways. Elswyth charges a high fee for this kind of work, especially since physical needs like intimacy are allowed. However, under no circumstances is she allowed to get pregnant. Because once the contract ends, she vanishes like a bubble. That’s how Elswyth’s job ends. She’s known as Elly Mendoza—no one is allowed to know her real name. Everything changed when Elly met her new client: a wealthy man known as The Cold Heartless Men—Killian Rexander Morelli-Azaleano. The young men had no intention of ending their three-month contract as his girlfriend. But because of what she signed, Elly’s life becomes even more complicated. Killian begins searching for Elly’s true identity and real name—something Elly fears deeply. So even before the contract ends, she leaves and returns the payment. But this is where their game of hide-and-seek begins.
View MoreUdara Jakarta yang lembap menyambut Alina saat ia melangkah keluar dari pintu samping gedung. Langit masih gelap, namun di ufuk timur sudah tampak semburat jingga tipis. Shift-nya sebagai petugas kebersihan baru saja usai, meninggalkan aroma lemon dan amonia yang tajam melekat di pakaiannya seperti parfum permanen.
Tiba-tiba, deru mesin beberapa mobil mewah memecah keheningan fajar. Tiga sedan hitam mengilap berhenti tepat di depan lobi utama Menara Adhitama. Pintu mobil tengah terbuka, dan seorang pria melangkah keluar.
Jantung Alina serasa berhenti berdetak.
Ia pernah melihat wajah itu ribuan kali di majalah bisnis dan berita televisi. Wajah yang terpahat sempurna dengan rahang tegas, hidung mancung, dan sepasang mata elang yang dingin. Rambut hitamnya disisir rapi ke belakang, dan setelan mahalnya terlihat tanpa cela bahkan di waktu subuh seperti ini.
Damian Adhitama.
Putra mahkota keluarga Adhitama, yang sekarang duduk di singgasana yang dibangun di atas puing-puing kebahagiaan Alina.
Damian berjalan dengan langkah lebar dan penuh kuasa, diikuti oleh dua pengawal berbadan tegap. Ia tidak melirik ke sekelilingnya, dunianya hanya lurus ke depan. Namun, saat ia melewati Alina yang berdiri mematung di trotoar, sebuah berkas terlepas dari map yang ia pegang. Selembar kertas melayang turun dan mendarat tepat di dekat sepatu usang Alina.
Tanpa berpikir, naluri Alina bergerak. Ia membungkuk dan memungut kertas itu. Untuk sepersekian detik, dunia terasa melambat. Saat ia menegakkan tubuh untuk menyerahkannya, mata mereka bertemu.
Mata Damian sedingin es di kutub utara. Ada kilat keterkejutan sesaat melihat seorang wanita pembersih di sana pada jam sepagi ini, namun kilat itu segera padam, digantikan oleh ketidakpedulian yang mutlak. Baginya, Alina hanyalah bagian dari perabotan, tidak lebih penting dari tiang lampu di sebelahnya.
Alina menelan ludah, tangannya yang memegang kertas sedikit gemetar. Ini dia. Iblis itu sendiri. Berdiri kurang dari satu meter darinya. Ada sejuta umpatan yang ingin ia lontarkan, sejuta tuduhan yang ingin ia teriakkan. Namun yang keluar dari bibirnya hanyalah kebisuan. Mulutnya terkunci oleh kebencian yang terlalu dalam untuk diungkapkan dengan kata-kata.
Damian mengambil kertas itu dari tangan Alina tanpa mengucapkan terima kasih. Jari mereka tidak bersentuhan, tapi Alina bisa merasakan aura dingin yang menguar dari pria itu. Ia kemudian berbalik dan melanjutkan langkahnya masuk ke dalam lobi, menghilang di balik pintu kaca otomatis. Seolah-olah interaksi barusan tidak pernah terjadi.
Alina masih berdiri di sana, napasnya memburu. Rasa benci yang membara memberinya energi baru. Pertemuan tak terduga itu mengoyak luka lama hingga kembali menganga.
Ironis. Gedung ini adalah Menara Adhitama. Markas besar korporasi yang telah merenggut segalanya darinya. Dua tahun terakhir, Alina Larasati, seorang gadis kurus berbalut seragam biru pudar, telah menjadi hantu tak terlihat yang muncul setelah semua orang penting pulang. Ia sengaja memilih pekerjaan ini, memilih untuk berada di jantung kekuasaan musuhnya, membiarkan kebenciannya terus menyala.
Setiap malam, tangannya yang ramping namun kapalan mendorong mesin pemoles di atas lantai marmer Italia yang sama, tempat ia pernah berjalan dengan anggun lima tahun lalu. Saat itu, ia mengenakan gaun sutra rancangan desainer ternama, menghadiri gala dinner sebagai putri tunggal Hendra Larasati. Sekarang, ia berlutut di atasnya, menggosok noda yang ditinggalkan entah oleh siapa.
Sebuah kilas balik melintas tanpa diundang. Pesta ulang tahun ayahnya. Taman belakang mansion mereka yang megah. Ayahnya tertawa lepas, seorang raja di industri properti. "Ingat, Alina," bisik ayahnya di sela-sela musik, "dunia bisnis ini hutan belantara. Jangan pernah membelakangi seekor serigala, bahkan jika ia tersenyum padamu."
Serigala itu adalah Karta Adhitama, ayah Damian, yang menyeringai sambil mengangkat gelas sampanye di pesta itu.
Hanya dalam enam bulan setelah pesta itu, neraka datang. Tuduhan penggelapan dana yang direkayasa, saham Larasati Group anjlok, diikuti pengambilalihan paksa oleh Adhitama Corp. Puncaknya, ayahnya ditemukan tewas di ruang kerjanya. Polisi menyebutnya bunuh diri. Alina tahu itu pembunuhan. Ibunya menyusul setahun kemudian karena patah hati. Aset mereka disita, dan Alina, sang putri, terlempar ke jalanan.
Dendam adalah api yang membuatnya tetap hidup. Ia tidak akan membiarkan api itu padam. Tidak sampai nama Adhitama hancur berkeping-keping. Dan setelah pertemuan pagi ini, Alina merasa lebih dari sekadar perabotan. Dia adalah bom waktu. Dan suatu hari nanti, dia akan meledak tepat di wajah Damian Adhitama.
Perjalanan pulang ke kamar kosnya yang sempit di gang becek terasa lebih menyesakkan dari biasanya. Bau comberan dan sampah menyambutnya. Pintu kamarnya yang terbuat dari triplek tipis ditempeli secarik kertas.
‘ALINA! UANG SEWA 3 BULAN BELUM DIBAYAR! LUNASI MINGGU INI ATAU ANGKAT KAKI!’
Tulisan tangan Bu Ratmi, pemilik kos, yang penuh amarah. Alina meremas kertas itu. Gajinya hanya cukup untuk makan. Keputusasaan mulai merayapinya, mengancam akan memadamkan api dendam yang selama ini ia pelihara.
Ia membuka pintu dan melemparkan dirinya ke atas kasur tipis yang terasa keras. Ia menatap langit-langit yang penuh sarang laba-laba. Jadi beginilah akhirnya? Setelah semua rencana besar, ia akan berakhir sebagai gelandangan?
Air mata panas mulai menggenang. Ia tidak menangis saat ayah dan ibunya meninggal, ia mengubah semua kesedihannya menjadi amarah. Tapi malam ini, setelah bertemu langsung dengan sumber penderitaannya dan dihadapkan pada kenyataan pahit hidupnya, pertahanannya goyah.
Saat itulah, suara mobil berhenti di depan gang sempitnya terdengar ganjil. Penasaran, ia mengintip dari celah jendela.
Sebuah sedan hitam yang berbeda dari milik Damian, namun sama-sama mewah. Seorang pria berpenampilan necis dengan setelan abu-abu keluar dari mobil, tampak canggung berjalan di gang becek itu.
Jantung Alina berdebar kencang. Pria itu berhenti tepat di depan pintu kamarnya dan mengetuk tiga kali.
Dengan ragu, Alina membuka pintu.
"Selamat pagi. Apakah saya berbicara dengan Nona Alina Larasati?" tanya pria itu dengan nada formal.
"I-iya, saya sendiri," jawab Alina, suaranya serak.
Pria itu tersenyum tipis. "Perkenalkan, saya Rendra, asisten pribadi Tuan Damian Adhitama."
Dunia Alina seakan berputar. Damian Adhitama? Mengapa asistennya mencarinya sampai ke tempat kumuh ini? Apakah karena insiden tadi pagi?
"Ada perlu apa?" tanya Alina, berusaha terdengar lebih berani dari yang ia rasakan.
Rendra tidak menjawab. Ia justru menyodorkan sebuah map tebal berwarna krem. "Tuan Damian Adhitama ingin bertemu dengan Anda. Ini menyangkut sebuah proposal yang akan mengubah hidup Anda."
Tangan Alina gemetar saat menerima map itu. Rasanya berat. Ia menatap Rendra dengan penuh curiga, lalu perlahan membukanya.
Di dalamnya, hanya ada dua benda.
Yang pertama adalah selembar cek. Mata Alina membelalak saat melihat deretan angka nol di sana. Lima ratus juta rupiah.
Yang kedua adalah selembar kertas tebal. Di bagian atas tertulis dengan huruf kapital yang tegas:
PROPOSAL PERNIKAHAN KONTRAK
Alina mengangkat kepalanya, menatap Rendra dengan napas tercekat. Keputusasaan, keterkejutan, ketakutan, dan secercah harapan liar yang mengerikan berbaur menjadi satu di dalam dadanya.
KILLIAN REXANDER MORELLI - AZALEANO Napa lingon ako kay Flame naka tayo lang ito sa gilid dahil pag gising namin ng umaga nandito si Renia at ang ina nito. “Ano ibig sabihin nito?” Naguguluhan kong tanong. “Gusto niya humingi ng tawad, dinala ko sila dito upang mag usap kayo. Nasa sa inyo ng dalawa ang desisyon.” Sagot ni Flame at hindi ko maiwasan hindi magulat. Ang asawa ko naman tila walang pakialam ito sa nangyayari. “G-gusto ko lang naman mang hingi ng tawad bago ako sumuko sa mga pulis..” napa lingon ako kay Renia. “Sa akin wala na sa akin ang lahat. Hindi mo naman sinaktan ang baby ko at hindi ako marunong mag tanim ng sama ng loob.” Wika ng asawa ko at nakuha pa nito ang ngumuya. “Hon, are you serious? Hindi ka ba nagtataka?” Tanong ko sa asawa ko “May gawin man ako si Miss Flame alam niya pwede niya ako tapusin dito mismo.” Sagot ni Renia. Nilingon ko ito at dahan dahan ito lumuhod. “Patawarin niyo ako, nadala lang ako ng galit ko sa lahat mas lalo na ng selos.
YVESSIRAE ELSWYTH QUIOVA - AZALEANO Napansin ko ang pag lingon ni Miss Flame sa malaking wall clock nila dito sa mansion. May tila hinihintay ito na mangyari kung ano man ito hindi ko alam kung ano ayoko rin mag tanong kasi nahihiya ako. Umupo ako sa pang isahang upuan habang hawak ko ang tinimpla kong gatas. “H-hindi ka ba napapagod kaka lingon sa oras?” Tanong ko dito. Lumingon ito sandali. “Dahil kakaunting oras na lang at hindi parin nakakapag desisyon si Renia. Mapipigilan ko ang pagkamatay ng mga tao sa ampunan pero hindi ang mansion na ito.” Paliwanag nito. “Kung mahuli ako sigurado mamatay kayong lahat dito. Ang bomba hindi ko basta maalis dahil kapag hinawakan ito sasabog ito. Isa pa wala pang sinasabi rin si Brent about sa bomba paano ito maalis alam ko kaya niya yun matatagalan lang.” Dagdag ni Miss Flame na kina takot ko. “Dapat na tayo umalis kung ganun?” Tanong ko dito. “Kayo ang aalis hindi ko iiwan ang bahay na pinag hirapan ko, pinag hirapan ko mabuo lahat
RENIA KARISSA DENOVA BAGSAK ANG BALIKAT ko ng sabihin na sa akin ng mga doktor na aking pinag tanungan na wala na silang magagawa sa nakadikit sa aking balat. Kahit subukan ko alisin ito lalo siyang kumakapit sa balat ko na kung minsan pa ay lumilipat ng pwesto ang bagay na nasa katawan ko. Sumakay ako ng sasakyan at patungo ako sa pulis station ng upang mag sampa ng kaso. Hindi naman nag tagal nakarating na ako ngunit habang naglalakad sa parking lot. Nararamdaman ko ang sharp pain sa balat ko nang silipin ko ang loob ng damit ko nakita ko na dumudugo ang balat ko. Doon ko naalala ang sinabi ng Flame na ‘yun. Napa tingin ako sa labas ng istasyon ng pulis, hindi ko maiwasan hindi mapa atras. “Tama siya nalalaman nila ang galaw ko, ngunit gusto ko parin mag sampa ng kaso.” Bulong ko napa yuko ako ng biglang nakaramdaman ako na tila hinuhukay ang balat ko ng matatalim na galamay ng bagay sa tyan ko. Doon ko naisipan na lisanin ang lugar na ito. Wala ng pag asa kung mag mamatiga
YVESSIRAE ELSWYTH QUIOVA - AZALEANO “Anong—- anong laruan?!” Tanong ni Renia. “Simula sa araw na ito, lahat ng plano ninyo malalaman ko, hindi lang maririnig kundi makikita sa bawat gawin ninyo against sa akin, unti-unting papasok ang bagay na yan sa katawan mo..” paliwanag ni Flame. “Miss Flame..” tawag ko dito at agad akong nilapitan ng asawa ko. “Hindi lang ‘yun, sa oras na makita namin ang ginagawa ninyo at naka pasok na yan sa katawan mo, mas mabilis ang kilos niyan. At sa oras na pumunta sa puso mo ‘yan unti unti kang papatayin ng bagay na yan..” putol ni Miss Flame. Napa singhap ako ng hangin ganun din si Killian at Renia. Binaba naman ni Damon ang baril nito at tinago. “Worst? Sasabog ka sa oras na nagkamali ka, bawat galit at tibok ng puso mo mararamdaman mo ang pag sikip ng puso mo at hirap sa paghinga.” Lumapit si Miss Flame dito at nag salita muli. “Iwasan mo ang pag iyak, galit at kabahan kapag nasa loob mo na ang bagay na ‘yan dahil kukunin niyan ang buhay mo.
YVESSIRAE ELSWYTH QUIOVA - AZALEANO KINAUMAGAHAN NAGULAT KAMING lahat nasa corn farm na si Miss Flame may dala itong karet o klase din ng itak pero pa letter C ang mismong bakal na may talim. “Kailan ka pa nakarating?” Tanong ni Killian dito at binaba na nito ang mga mais na nakuha nito. “Kan
YVESSIRAE ELSWYTH QUIOVA - AZALEANO Abala akong kumain ng orange ngayon habang sila nag uusap patungkol sa pag announce about my pregnancy. Pero sinabi ko na kanina na kung pwede kahit gawin na lang ito ng asawa ko mag isa kasi ayoko masyadong ma-expose mas lalo medyo sensitibo ako. Pumayag ang
YVESSIRAE ELSWYTH QUIOVA a.k.a ELLY MENDOZA Habang pinapanood ko ang kasal ni Renia at Aren Hexson hindi ko maiwasan hindi mapa ngiwi. Dahil sobrang tahimik at tila walang buhay ang mga tao. Isa pa halata na matapang ang ina ni Aren o mataray. “Aalis muna ako..” paalam nito at humalik sa pisngi
YVESSIRAE ELSWYTH QUIOVA a.k.a ELLY MENDOZA “Totoo bang ikakasal na si Renia?” Tanong ko kay Killian at tumabi ako dito sa upuan. “Yes. Dad told me.” He confirmed it at hinila ako nito at niyakap ako nito bigla. “Bakit parang may mali? Diba hinahabol habol ka lang niya tapos ngayon ikakasal na






Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
reviews