MasukDua puluh tahun kemudian, triplet tidak lagi hidup bersama.
Mereka menjalani hidup masing-masing.
Juga, karena pengaruh Tamara yang kerap membisikan pada mereka untuk hidup seusai passion diri sendiri, maka triplet juga si bungsu Tharey -panggilan untuk Tharsos- benar-benar hidup sesuai passion mereka.
Thea dan Tharey telah menjadi seniman dan model. Mereka tinggal merantau di berbagai negara menjalani pekerjaan mereka yang merupakan passion terbesar mereka.
Sedangkan Travish mendirikan perusahaan sendiri, yang jauh berbeda dari perusahaan ayahnya.
Dia hendak menunjukkan dia bisa berdikari sendiri.
Trevor sendiri pun sudah pensiun. Segala binsinya sudah dia jual pada Lorenzo seluruhnya sehingga dia kini hanya seorang pensiunan yang setiap harinya menemani Tamara dan menggeluti hobi berkuda dan berburu di sela-sela waktu senggangnya.
Hanya Tilly yang tidak merasa memiliki passion yang spesifik sehingga dia memilih bekerja pada Travish.
Saat ini sudah dua tahun dia bekerja pada Travish dan sudah merencanakan pernikahan dengan kekasihnya yang bernama Romeo.
“Ini bagus banget ya, Hon?” ujar Romeo Seymore pada Tilly saat mereka sedang berjalan-jalan ke mall terbesar dan terelit di kota mereka.
Di tangan pria itu adalah jam tangan bergengsi dengan harga lebih dari 100 ribu dolar.
Kilau permata di sekeliling jam membuat jam itu terlihat jelas kemewahan dan prestis yang terpancar di sana.
Tilly menatap ke arah jam dan mengangguk.
Dilihatnya wajah Romeo semakin berbinar. Pria itu menunjuk pada pelayan agar jam itu bisa dia coba.
Setelah memakainya, Romeo memandangi jam di tangannya dengan penuh kagum. Dia lalu juga berkaca di standing mirror di dekat mereka dan menatap pantulan dirinya yang tampak semakin gagah dengan jam tangan mahal itu di tangannya.
“Ini bagus sekali, Hon. Aku rasa ini jam tangan impian seluruh pria di dunia ini,” ujarnya lagi dengan penuh takjub.
Tilly kembali mengangguk meskipun dia mengingat-ingat, perasaan tidak ada keluarganya yang mengenakan jam tangan seperti itu. Ayahnya tidak, Travish juga tidak. Paman-pamannya pun tidak.
Kenapa mereka tidak ada yang ingin memakai jam seperti ini? Padahal secara harga, jam ini sangat prestisius.
Saat itu tatapan Tilly tertuju pada salah satu jam yang terpajang di kotak kaca, di dalam lemari kaca toko itu.
Dia menunjuk dan bertanya, “Kalau jam itu, berapa harganya?”
“Oh, itu edisi spesial, Nona. Tidak diproduksi lagi. Tapi saat diproduksi pertama kali, harganya 11 kali harga yang ini.”
Tilly mengangguk pelan. Jam yang dia tunjuk itu adalah yang dipakai ayahnya.
Pantas saja ayahnya memakai yang produksi limited.
Sedangkan di sampingnya, Romeo membelalak lalu menanyakan pada Tilly, “Kenapa kau menanyakan yang itu, Hon?”
Dengan apa adanya, Tilly menjawabnya, “Itu jam tangan ayahku.”
Romeo semakin terperangah. Ini gila! Ayahnya Tilly memang keren. Bisa memakai jam tangan seharga jutaan dolar.
“Kau jadi membeli ini?” tanya Tilly tiba-tiba memecah pemikiran Romeo.
Pria itu memandangi jam di tangannya, lalu berdecak pasrah, “Ah, aku rasa tidak jadi saja. Aku teringat ada villa baru yang ingin kubeli. Lalu masih ada investasi baru yang membutuhkan banyak dana. Huuuuft ... terpaksa jam ini nanti saja. Tidak mendesak.”
“Oh ... Tapi kamu tampak sangat menginginkannya, Hon,” ujar Tilly lagi mencaritahu kesungguhan hati Romeo. Lagipula, Romeo lah yang mengajaknya ke toko jam ini.
Dari kesan yang didapatnya saat Romeo mengajaknya ke sini, Tilly beranggapan Romeo siap membeli.
Tapi ternyata Romeo hanya ingin melihat-lihat. Tilly jadi merasa tak tega.
Apalagi jam itu tampak sangat pas pada Romeo.
Tampak Romeo menggeleng pelan, tapi wajahnya terlihat tidak rela. “Ya, aku sangat menginginkannya, tapi aku juga sadar diri tidak sanggup membayar ini.”
“Kau bisa meminjam kartu kreditku, kalau kau mau ...” ujar Tilly seraya menaikkan sebelah alisnya.
Romeo tertegun sejenak.
Di benak Romeo, setelah mendengar bahwa ayahnya Tilly memiliki jam yang 11 kali lebih mewah dari jam yang diliriknya ini, pastilah Tilly anak konglomerat.
Kalau begitu, harga jam ini bagi Tilly pastilah hanya seperti harga selembar kaos. Hanya hal kecil saja.
Tapi Romeo merasa dia masih harus bermain peran sebagai pria baik-baik.
Dia bertanya, “Apa bisa, Hon? Harga jam ini sangat mahal. Apa kartu kreditmu memiliki limit sebesar itu?”
Dengan polosnya, Tilly menjawab, “Aku rasa cukup.”
Tilly tersenyum lebar sambil terkikik kecil tanpa berpikiran buruk sedikit pun tentang Romeo.
Sedangkan Romeo saat menggunakan kartu kredit Tilly dan mendapati harga jam-nya mampu ditanggung kartu kredit Tilly dengan mudah, aliran darah dalam dirinya terasa memancar ke segala penjuru.
Tiba-tiba saja dia menyadari dia telah menemukan harta karun dalam hidupnya.
Hari berlalu seperti sekelebat cahaya.Dalam sekejap saja Tilly sudah memasuki masa-masa menanti kelahiran.Tapi Tamara merasa tidak puas.“Ini sudah hampir melahirkan, tapi kamu tidak membuat baby shower?” tanyanya yang penasaran dengan jenis kelamin cucunya ini kelak.“Nanti saja, Mom. Baby showernya saat sudah lahiran saja.”“Haiizz, Tilly, Mom kan penasaran jenis kelamin anakmu.”“Nanti saja, Mom. Simpan saja rasa penasaran itu. Hehehe.”Tamara hanya tersenyum masam. Di sana hadir Jane juga yang ikut tersenyum masam.Saat Tamara melirik Jane, dia bertanya lewat lirikan matanya.“Aku tidak tahu, Aunty. Jangan tanya padaku. Tilly benar-benar tidak memberitahuku. Aku rasa cucu anda ini akan berbakat menjadi seorang intel atau agen rahasia. Karena Tilly benar-benar penuh rahasia sejak dia hamil.”“Ha? Begitu ya?” Tamara membuang napasnya jauh-jauh dengan gaya yang berlebihan.Lalu setelah itu mereka semua tertawa. Trevor menyeletuk, “Aku sangat setuju kalau cucuku berbakat jadi intel.
“Lalu bagaimana dengan morning sick mu yang sepanjang hari kau rasakan? Apa kata dokter?” celetuk Tamara sekalian mengalihkan pembicaraan mereka dari topik yang terlalu dibuat-buat Trevor.Mendengar itu, malahan Tilly dan Sergio terperangah.“Oh ... iya ya ... kita kan mau bertanyaa pada dokter tentang itu ya ... tapi malah lupa ...”“Ya ampun. Jadi kalian tidak bertanya tentang morning sickness mu itu sama skeali?” celetuk Trevor dengan memasang wajah mencela.Tilly dan Sergio hanya bisa terkekeh menertawakan kepikunan mereka sendiri. ***Hari-hari kehamilan berikutnya berjalan dengan unik dan penuh keribetan.Dimulai dari Sergio yang memperlakukannya seperti porselen mudah pecah, yang setiap kali dia bangkit dari kursi langsung dipapah seakan-akan Tilly sudah nenek-nenek 120 tahun.Padahal perutnya saja belum juga buncit.Satu lagi adalah perhatian berlebih dari ayahnya, juga over protektif yang dia rasakan dari ayahnya itu.“Jangan ke mana-mana sendirian, Tesoro ...”“Tentu! Ak
Saat tiba di kamar untuk beristirahat, Sergio masih seakan tak percaya dengan berita yang dikabarkan Tilly.Hamil ...Hamil!!!Rasanya dia ingin terbang dan berputar-putar di udara seperti balon besar yang tiba-tiba terlepas dari ikatannya sehingga terbang tanpa arah dengan cepat.Sergio ingin mengekspresikan kegembiraannya seperti itu.“Daddy di sini ...” katanya sambil menangkupkan telapak tangannya di perut Tilly yang masih rata.“Oh ... ini paling-paling baru berapa minggu. Mana mungkin dia sudah bisa mendengar suararmu ...” ledek Tilly dalam kekehannya.“Tidak apa-apa. Dia mendengar atau tidak aku tetap ingin bicara sedini mungkin pada bayi kita.”Tilly tersenyum bahagia dan membiarkannya.Saat akan tidur, Sergio memeluknya dengan kehati-hatian melingkarkan tangannya di perut Tilly.“Apa yang kau rasakan? Katanya kalau hamil itu morning sick. Kau tidak muntah-muntah,” ucap Sergio sambil mengusapkan ujung hidungnya di pipi Tilly.“Aku beruntung tidak morning sick. Tapi ya morning
Gelak tawa kembali terdengar menderu, membuat wajah Raffaele semakin masam.Di tengah-tengah itu, Tilly bangkit dari kursinya untuk ke toilet.“Biar aku temani,” ujar Sergio menawarkan diri, tapi Tilly tidak bersedia.“Tidak apa-apa. Kau di sini saja.”Dia lalu langsung berlalu dan Sergio pun tetap tinggal di meja makan.Ketika lima menit berlalu, Tamara pun menyusul Tilly.Dia menunggu Tilly di depan toilet. Ketika Tilly keluar, Tamara menghampirinya.“Kamu baik saja? Kau terlihat agak sedikit pucat.”“Iya, Mom. Aku baik saja, hanya badanku memang terasa sedikit kurang sehat.”“Kenapa memaksakan diri? Lebih baik langsung ke kamar, berisitirahat, Tilly.”Tilly tersenyum. “Aku masih ingin di tengah-tengah kalian.”“Ya, Tilly, besok kita masih bisa berkumpul lagi.”“Aku tahu, Mom.”Mereka kembali ke ruang makan. Makan malam tinggal sebentar lagi saja setelah selesai, mereka kembali ke ruang duduk, berbincang sambil duduk-duduk di sana.Saat itulah, Tilly pun tiba-tiba berdiri di antara
Barulah saat mendengar kalimat ini, Trevor membelalak. “Apa? Kalian tega tidak merestui aku dan mommy kalian? Coba lihat wajah mommy kalian berbinar sampai-sampai sinar berlian pun kalah terang.”Tilly dan Thea yang berusia 6 tahun lebih memberengut dan melipat kedua tangan mereka. Sedangkan Travish menyeletuk sehingga ayah mereka lebih terdiam lagi.“Berlian tidak bersinar, tetapi memantulkan cahaya!”Trevor melotot. “Kau ...!!!”Kala itu Travish hanya menjawabnya dengan mengedikan bahunya.“Baiklah, aku tentu tidak akan menolak jika kau memang berniat tulus mentraktir kami semua. Biarkan kami yang memilih menunya!”“Tentu saja!” sahut Travish enteng.Lalu Tilly dan Thea pun kembali berbincang sebagai dua saudari yang telah lama tak berjumpa.Ada banyak yang akan mereka perbincangkan.Tilly masih sempat menyambung topik tentang ayah mereka tadi, “Rencanamu tadi, tentu saja aku mendukungmu! Cukup aku yang mengalami ini semua, walaupun hasilnya baik, tapi membayangkan sebelum hasil ter
Selepas liburan, keluarga sudah menunggu mereka di kediaman Kakek Rod.Acara akhir tahun menjadi hal yang dinanti dan moment berkumpulnya seluruh keluarga Kozlov.Tilly bangun pagi itu, sebelum mereka menuju mansion Kakek Rod dan merasakan seluruh tubuhnya penuh semangat tapi juga terasa berat, seperti ada yang tidak beres dengan tubuhnya.Tilly tidak mengerti tapi dia berusaha untuk terlihat biasa saja, terlihat sehat dan bugar.“Kau tidak apa-apa?” tanya Sergio ketika melihat wajah tidak biasa Tilly.“Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit pusing.”“Kita bisa memundurkan kedatangan kita ke rumah kakekmu,” tawar Sergio seraya merangkul Tilly dan memeluknya.“Tidak. Aku sudah tak sabar ingin bertemu mereka semua.”“Baiklah. Tapi kau harus minum obat.”“Iya, kalau begitu nanti kita mampir di apotek, ya?”“Oke. Begitu juga bagus.”Mereka bersiap lalu melakukan perjalanan. Seperti yang diminta Tilly mereka singgah di apotek dan Tilly yang turun membeli obat-obatannya.Setelah itu, perjalanan k







