MasukLe jour de ma cérémonie avec Vincent Richard, le futur Alpha, la bague en pierre de lune qui m'était destinée, la future Luna, a mystérieusement disparu de l'écrin. À sa place se trouve une languette de canette déjà noircie par l'oxydation. Les applaudissements des invités s'éteignent immédiatement. Ils se tournent tous vers moi. Dans le silence, Joséphine Albert, l'amour d'enfance de Vincent, sort de la foule. Elle lève la main gauche et fait un signe de la main, la bague en pierre de lune sur l'annulaire. Puis, elle sort une bague assortie et la glisse au doigt de Vincent. « Tu dois être terrifiée, Angela, n'est-ce pas ? En fait, c'est moi qui porte la bague en ce moment. Cette languette de canette n'est pas un objet ordinaire, tu sais. Vincent me l'avait donnée quand nous étions encore des enfants. Elle symbolise l'amour éternel qui ne s'éteindra jamais. Maintenant, je te la donne. » Les paroles de Joséphine me transpercent le cœur. Je tremble violemment, comme si mon cœur était coupé en mille morceaux. Cependant, Vincent se contente de rire. « Joséphine a toujours des idées ridicules. Elle plaisante, Angela. Ne prends pas ses paroles au sérieux. » « Oh, je ne le ferai pas. » Je jette la languette de la canette dans le feu de joie, laissant échapper un petit rire sec. « Cette cérémonie est annulée. » Vincent m'attrape la main avant de me serrer dans ses bras. « Arrête de chercher à semer la zizanie, Angela ! Nous avons trouvé l'anneau, n'est-ce pas ? Cette alliance affectera l'avenir de nos meutes ! Ce n'est pas toi qui prends les décisions ici ! » Je me dégage de l'étreinte de Vincent, captant une trace d'odeur écœurante qui flotte autour de lui, une odeur qui n'est pas la mienne. « Il est vrai que la meute du Lac de la Lune va former une alliance avec la meute du Pierre Brun, mais mon futur compagnon n'est pas nécessairement toi. »
Lihat lebih banyak"Nyonya… malam ini, aku ingin kau mengingat setiap detiknya. Saat kau kembali ke rumah itu dan melihat suamimu, yang kau ingat hanyalah aku."
Suara pria itu parau, serak seperti kehausan. Napas hangatnya mendarat di kulit Ning Yuan yang telanjang, dan bulu-bulu halus di lengannya berdiri.
Ning Yuan memejamkan mata. Bibirnya tergigit menahan erangan ketika pria itu menggigit lembut daun telinganya, lidahnya menjilat kulit di baliknya.
"Aku sudah memperingatkanmu," bisik Ning Yuan, "Jangan bicara tentang suamiku di ranjang ini."
Ini bukan pertama kalinya Ning Yuan datang ke paviliun ini, tempatnya bergumul hangat dengan seorang pria bayaran.
Sejak dua tahun lalu, suaminya membawa pulang adik tiri Ning Yuan sebagai selir ke kediaman mereka, dan menghabiskan malam-malam dengan selirnya itu, Ning Yuan yang kesepian pun mencari cara untuk mengisi kekosongan hatinya.
Pria itu terkekeh pelan, suaranya dalam dan menggema pelan. "Baik, Nyonya… Kau hanya perlu fokus pada perasaan ini."
Jemari pria itu sudah bergerak turun, menyusuri pinggangnya, menggenggam pahanya. Kain sutra merah Ning Yuan melorot hingga pinggang, memperlihatkan dua gundukan putih dengan puncak merah muda.
Dia menunduk, mengambil puncak sensitif Ning Yuan ke dalam mulutnya. Menghisap perlahan, lidahnya bergerak dalam ritme yang membuat Ning Yuan kehilangan kendali.
Erangan panjang lolos dari bibirnya. Sensasi panas menyebar dari dadanya ke seluruh tubuh.
Tangannya mencengkeram bahu pria itu, merasakan otot-otot keras di balik jubah hitam yang setengah terbuka.
Pria itu terus menghisap, kadang menggigit lembut, kadang menjilat. Tangannya yang lain bergerak turun, menyusuri perut Ning Yuan yang rata, melewati pusarnya, berhenti di antara pahanya—di mana kehangatan dan kelembapan sudah menunggu.
"Kau seperti danau di musim hujan, Nyonya," bisiknya. "Dan kita bahkan belum mulai."
Jari pria itu menyusup ke dalam kelopak yang menunggu. Jari itu bergerak di dalam dirinya, mengeksplorasi, menemukan titik yang membuatnya melengkungkan punggung dan menggenggam rambut pria itu erat-erat.
"A-ah..." Dia terputus ketika pria itu menambahkan jari kedua, melebarkan lipatannya perlahan. "Kau terlalu cepat..."
"Bagaimana aku bisa sabar saat Nyonya ada dalam pelukanku seperti ini?" Pria itu menggeram pelan.
Ning Yuan merasakan tubuhnya mulai bergetar, otot-otot di perutnya menegang. Hingga ia akhirnya mencapai puncak.
Dengan napas terengah-engah, Ning Yuan membuka mata. Tubuhnya puas, namun sudut hatinya terasa hampa.
Sebab, setiap selesai di ranjang ini dan pulang kembali ke kediaman Shen, ia akan kembali menjadi istri dan menantu yang tidak dianggap.
Ning Yuan bangkit dan menarik jubahnya kembali hingga menutupi bahu polosnya. Sebelum ia sempat beranjak, pria itu menahan lengannya.
"Nyonya… kau mau ke mana?"
Ning Yuan tersenyum tipis. "Aku harus kembali ke kediamanku. Seperti yang sudah kukatakan, hubungan kita selesai. Ini adalah terakhir kalinya aku menemuimu."
Ya. Ning Yuan sudah memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Setelah ini, ia akan mengambil kehormatannya kembali sebagai nyonya muda.
Pria itu menatapnya dengan rahang yang mengeras. Meski ia sudah dibayar, ia seolah tak rela melepaskan pelanggan tetapnya selama dua tahun terakhir itu.
"Bukankah kau tidak punya tempat di sana? Bukankah mereka menjadikanmu sapi perah keluarga Shen? Itu sebabnya kau datang padaku. Kenapa sekarang meninggalkan aku dan memilih mereka?"
Ning Yuan tersenyum, hatinya tersentuh. Tatapan pria bayaran yang sudah dua tahun melayaninya ini seolah benar-benar mempedulikannya.
Ia mengelus pelan kedua pipi pria itu di tangannya. "Ada beberapa hal yang harus aku urus. Dan tidak bisa aku katakan padamu."
"Aku memberimu bayaran lebih untuk malam ini. Setelah itu, kau bisa hidup dengan lebih baik, dan berhenti menjadi pria bayaran."
Pria itu tertegun. Begitu Ning Yuan melepaskannya dan beranjak dari kasur, dua tangan kokoh itu menariknya kembali ke dalam pelukannya.
"Tidak… belum selesai," desisnya di telinga Ning Yuan. "Karena Nyonya membayar lebih, maka aku akan… beri pelayanan lebih."
Dia membalikkan tubuh Ning Yuan, menelungkupkannya di atas ranjang. Tubuh pria itu menekannya dari belakang—berat, hangat. Dan dia merasakan keinginannya yang keras menekan kulit punggungnya.
"Apa yang kau… ah…"
Ning Yuan menggigit bantal menahan erangan ketika pria itu menyusup ke dalam dirinya dari belakang—perlahan, inci demi inci, sampai kepenuhan membanjirinya. Setiap kali, setiap kali, rasanya seperti pertama kali.
Pria itu mulai bergerak. Lambat. Membiarkannya menyesuaikan diri. Kemudian ritmenya meningkat, lebih dalam, lebih cepat. Suara tubuh mereka bertabrakan di ruangan sunyi.
"Kau... terlalu... dalam..." Ning Yuan mencoba berkata.
Tapi kata-katanya terpotong ketika pria itu mencapai sudut yang membuatnya hampir menjerit. Tangannya mencengkeram seprai, kukunya hampir merobek kain. Puncaknya datang lagi, dan lagi.
Tubuhnya bergetar hebat di bawah pria itu—gelombang kenikmatan menyapu dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Kau benar-benar wanita yang keras kepala, Ning Yuan," suara rendah pria itu menyapu telinganya lembut. "Aku berjanji padamu, suatu hari nanti kau akan kembali ke atas ranjangku atas keinginanmu sendiri."
***
Saat Ning Yuan kembali ke kediaman Shen, ia melihat kereta besar berhias berhenti di pelataran.
Peti-peti mewah diturunkan. Dan di sana, berdiri dengan anggun, adalah Ning Xue'er. Di sampingnya, Shen Ziyuan, suami Ning Yuan, berdiri dengan tangan melingkari pinggang Ning Xue’er.
"Ah, Kakak Ning Yuan?"
Ning Xue'er melihatnya pertama kali. Wajahnya berseri dengan senyum manis khasnnya.
"Kami baru saja tiba. Aku dan Kakak Ziyuan sangat merindukan rumah ini!" Dia melangkah mendekat dengan anggun, dan dengan sengaja menyentuh perutnya yang masih rata.
"Aku juga ingin memberitahu kabar baik. Aku hamil, Kak. Anak Kakak Ziyuan."
Quand Vincent a vu Bernard, il a écarquillé les yeux de surprise. Il a même reculé de deux pas, incrédule. Puis, il s'est mis à glousser d'amusement.« Ça suffit, oncle Bernard. Ne plaisante pas. Tout le monde sait que tu n'aimes pas du tout les louves. Depuis 29 ans, tu n'as jamais eu de louve à tes côtés. Comment est-il possible que tu deviennes le compagnon d'Angela ? »Ses paroles m'ont surprise. Je ne pouvais que me tourner vers Bernard, sous le choc. Cependant, ce dernier me regardait tendrement.« Bien sûr. C'est parce que je suis amoureux d'Angela depuis toujours. C'est toi qui es aveugle pour l'avoir abandonnée sur le lieu de la cérémonie de liaison. J'ai attendu 29 ans, et j'ai enfin saisi cette occasion en or d'être avec elle. »« À ce propos, je dois te remercier, Vincent. C'est grâce à ta stupidité que je peux être avec la louve que j'aime. Je n'aurai plus à vivre le reste de ma vie dans la solitude. »De toute évidence, Vincent ne le croyait pas.« Ça suffit, oncle Bernar
Point de vue d'AngelaLes doigts de Bernard entrelacés aux miens, nous nous tenions à nouveau sur l'estrade de la cérémonie de liaison. Tout le monde a applaudi bruyamment tout en nous donnant sa bénédiction. L'ancien qui officiait a commencé à réciter à nouveau les vœux de liaison pour nous.Je ne m'attendais pas à ce que Bernard fasse autant de préparatifs pour moi. Cela faisait à peine une heure que je l'avais appelé, et pourtant, le lieu de la cérémonie de liaison avait été complètement transformé grâce à son personnel.Les clôtures et la magnifique arche tissée de roses rouges étaient de retour. Le tapis rouge, orné de motifs complexes, recouvrait le sol. Même le bouquet que je tenais était en or pur.En résumé, cette cérémonie était parfaite.Les invités que Bernard avait invités à la cérémonie étaient tous présents. Tout le monde continuait à nous acclamer et à nous crier leurs vœux de bonheur.Une fois que l'ancien qui officiait a prononcé les vœux, Bernard s'est à nouveau age
Point de vue de VincentLes paroles d'Angela m'ont mis dans une colère folle. Elle affirmait que son nouveau compagnon était un Alpha plus fort que moi !Cela signifiait donc qu'elle était mécontente que je n'aie pas encore hérité de ma meute en tant que nouvel Alpha.Tout le monde autour de moi se moquait ouvertement de moi ou me faisait comprendre qu'Angela était la seule raison pour laquelle j'avais obtenu tout ce que je voulais aujourd'hui. Ce n'est que lorsque je parvenais à forcer Angela à se soumettre à moi à plusieurs reprises que ces loups-garous admettaient à contrecœur que j'étais très compétent.Bien sûr, j'étais extrêmement heureux d'entendre cela. J'aimais voir une louve puissante comme Angela se soumettre à moi.Cependant, lors de notre cérémonie d'union, Angela avait vraiment eu le culot de me répliquer ! C'est pourquoi je voulais lui donner une leçon en emmenant Joséphine en voyage avec moi.J'aurais jamais pensé que mon ami m'enverrait un texto pour me dire qu'Angela
Je me suis retournée et j'ai fait une grande annonce devant les invités et l'ancien qui officiait.« Mesdames et messieurs, la cérémonie va avoir lieu. Mon nouveau compagnon sera bientôt là. Veuillez patienter quelques instants. »J'étais depuis toujours une louve très déterminée. Ma mère était décédée alors que je n'étais encore qu'une petite louveteau, et mon père n'avait pas voulu se trouver une nouvelle compagne depuis lors. J'assumais donc peu à peu les responsabilités et le pouvoir qui revenaient à la Luna.Ainsi, je suis devenue l'une des louves les plus influentes de la meute du Lac de la Lune. Si j'avais été une louve lâche, sans opinion propre, ma meute aurait été capturée par d'autres loups-garous depuis longtemps.Quant à Vincent, le seul loup-garou pour lequel je m'étais sacrifiée dans le passé, je l'avais déjà chassé de ma vie.Les invités ont recommencé à murmurer entre eux. Ceux qui avaient initialement l'intention de quitter les lieux ont finalement décidé de rester. I
...J'ai fixé du regard la languette de canette que Vincent Richard, mon futur compagnon, avait glissée à mon doigt. Pendant un long moment, je suis restée sans voix.La musique forte et les bavardages, qui créaient une atmosphère bruyante, se sont instantanément tus. Les murmures des invités ont ra
Vincent me menaçait. Pendant un instant, j'ai cru avoir mal entendu. Mais c'était bien la vérité. À cet instant, Vincent se tenait là, le visage impassible, crachant des mots qui me transperçaient le cœur comme des lames. J'ai enfoncé mes ongles dans mes paumes pour me forcer à me calmer. Mais mes
En observant la lueur de suffisance qui traversait les yeux de Joséphine, j'ai enfin compris pourquoi elle était restée seule aujourd'hui. Par le passé, lorsque Vincent et moi sortions ensemble, Joséphine insistait pour se joindre à nous. Aujourd'hui, elle avait l'intention de gâcher ma cérémonie.












Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.