로그인Le jour de ma cérémonie avec Vincent Richard, le futur Alpha, la bague en pierre de lune qui m'était destinée, la future Luna, a mystérieusement disparu de l'écrin. À sa place se trouve une languette de canette déjà noircie par l'oxydation. Les applaudissements des invités s'éteignent immédiatement. Ils se tournent tous vers moi. Dans le silence, Joséphine Albert, l'amour d'enfance de Vincent, sort de la foule. Elle lève la main gauche et fait un signe de la main, la bague en pierre de lune sur l'annulaire. Puis, elle sort une bague assortie et la glisse au doigt de Vincent. « Tu dois être terrifiée, Angela, n'est-ce pas ? En fait, c'est moi qui porte la bague en ce moment. Cette languette de canette n'est pas un objet ordinaire, tu sais. Vincent me l'avait donnée quand nous étions encore des enfants. Elle symbolise l'amour éternel qui ne s'éteindra jamais. Maintenant, je te la donne. » Les paroles de Joséphine me transpercent le cœur. Je tremble violemment, comme si mon cœur était coupé en mille morceaux. Cependant, Vincent se contente de rire. « Joséphine a toujours des idées ridicules. Elle plaisante, Angela. Ne prends pas ses paroles au sérieux. » « Oh, je ne le ferai pas. » Je jette la languette de la canette dans le feu de joie, laissant échapper un petit rire sec. « Cette cérémonie est annulée. » Vincent m'attrape la main avant de me serrer dans ses bras. « Arrête de chercher à semer la zizanie, Angela ! Nous avons trouvé l'anneau, n'est-ce pas ? Cette alliance affectera l'avenir de nos meutes ! Ce n'est pas toi qui prends les décisions ici ! » Je me dégage de l'étreinte de Vincent, captant une trace d'odeur écœurante qui flotte autour de lui, une odeur qui n'est pas la mienne. « Il est vrai que la meute du Lac de la Lune va former une alliance avec la meute du Pierre Brun, mais mon futur compagnon n'est pas nécessairement toi. »
더 보기Tiga tahun berlalu …
“Yeay! Mommy pulang! I’m so happy!” Diego melompat-lompat kegirangan melihat Kimberly sudah pulang dari kantor. Bocah laki-laki itu tampak gembira. Kedua tangannya sudah mengulur ke Kimberly, meminta Kimberly untuk menggendongnya. “My handsome baby, kau merindukan Mommy, hm?” Kimberly menggendong putranya, dan menghujani pipi bulat putranya itu dengan kecupan bertubi-tubi. Dia memeluk putranya dengan erat. Pun Diego membalas pelukan Kimberly tak kalah erat. Bocah laki-laki itu memberikan kecupan di pipi Kimberly. “Yes, Mommy. I miss you so much. Kapan Daddy pulang, Mommy?” Bibir Diego tertekuk kala mengingat ayahnya belum juga pulang. Raut wajahnya menunjukkan jelas bahwa bocah laki-laki itu sangat merindukan Damian. “Diego sudah menanyakan kapan Damian pulang lebih dari seratus kali padaku, Kim. Aku bisa menjawab kapan kau pulang, tapi hal yang tersulit adalah menjawab kapan Damian pulang,” sambung Carol yang sejak tadi ada di sana. Hari ini Carol menjaga Diego, karena kebetulan dia tak terlalu sibuk. Sementara Kimberly memiliki meeting penting menggantikan ayahnya yang kebetulan sedang berada di New York, karena memiliki pekerjaan di sana. Tentu hanya Kimberly yang bisa menggantikan ayahnya. Ben—adik Kimberly itu masih sangat kecil dan tak mungkin bisa membantu tentang perusahaan. Dua minggu lalu Damian harus berangkat ke Paris untukmengurus pekerjaan di sana. Awalnya Kimberly ingin menemani suaminya itu, tapi kondisi tak memungkinkan. Wanita itu memiliki banyak tanggung jawab di perusahaannya. Ditambah Diego sudah mulai bersekolah. Usia Diego saat ini adalah tiga tahun. “Sayang, Daddy bilang akan pulang tiga hari lagi. Kau sabar, oke?” Kimberly menyapukan hidungnya ke hidung mancung dan mungil Diego. “Daddy juga bilang, kalau dia pulang akan membawakan banyak mainan untukmu.” Wanita itu melanjutkan ucapannya memberi tahu. “Tiga hari lagi, Mommy?” Diego menunjukkan tiga jemari mungilnya ke hadapan Kimberly. Kimberly menganggukkan kepalanya. “Iya, Sayang. Tiga hari lagi Daddy akan pulang. Kau harus mengerti, Diego. Daddy sibuk dengan pekerjaannya, demi dirimu dan Mommy. Daddy ingin memberikan yang terbaik di hidup kita. Sekolahmu tidak murah. Mainanmu juga tidak murah. Kebutuhan kita sangat banyak.” “Mommy … Daddy selalu bilang Daddy memiliki banyak uang. Daddy bisa membelikan apa pun untuk kita. Aku mengingat apa yang Daddy katakan padaku, Mommy,” ujar Diego dengan bibir yang kian terkekuk. “Sayang, Daddy memang memiliki banyak uang, tapi kalau Daddy tidak bekerja keras, maka apa yang Daddy miliki saat ini pasti akan hilang, Sayang.” Kimberly membelai pipi Diego dengan lembut. “Oh begitu.” Diego mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya sudah, lebih baik kau main bersama dengan pengasuhmu dulu. Mommy ingin bicara sebentar dengan Bibi Carol, Sayang.” Kimberly membelai-belai pipi Diego, dan memberikan kecupan di sana. “Oke, Mommy,” jawab Diego patuh. Detik selanjutnya, Kimberly menurunkan tubuh Diego, dan pengasuh dengan sigap membawa Diego dari tempat itu. Tampak senyuman di wajah Kimberly dan Carol terlukis melihat Diego yang begitu menggemaskan. “Bagaimana pekerjaanmu, Kim? Semua baik-baik saja, kan?” tanya Carol seraya menatap hangat Kimberly. “Bisa dikatakan baik tapi juga sangat melelahkan.” Kimberly duduk di sofa yang terdekat dengannya, disusul Carol yang juga duduk di samping Kimberly. “Thanks, sudah membantuku menjaga Diego.” “Tidak perlu berterima kasih, aku malah senang sekali bisa menjaga Diego, Kim.” Carol mengambil orange juice di hadapannya, dan meminum perlahan. “Anyway, aku ingin bercerita sesuatu padamu, Kim.” “Katakan, apa yang ingin kau ceritakan?” Kimberly juga mengambil orange juice yang ada di hadapannya, meminum perlahan, menyandarkan punggungnya ke sofa. Carol menghela napas dalam. “Ibuku bilang kalau sampai detik ini aku tidak mau dijodohkan dengan Adrik, aku harus ikut kencan buta disalah satu situs ternama dan terpercaya. Lihatlah ibuku menganggapku benar-benar seperti wanita yang tidak laku.” Carol nyaris hampir gila menghadapi kedua orang tuanya. Hingga detik ini, dia masih terus dijodohkan oleh pria Russia yang sudah dia tolak. Hanya saja tahun ini ibunya mengajukan padanya, jika dirinya tak mau dijodohkan, maka harus ikut dalam kencan buka yang ada di salah satu situs terpercaya. Ini memang sudah benar-benar gila! Carol dianggap seperti wanita yang tak mampu mendapatkan kekasih saja. Well, bisa dikatakan semua terjadi karena sampai detik ini Carol masih sendiri. Memang Carol sudah beberapa kali berkencan, tapi hasilnya masih nihil. Dia tak kunjung memiliki kekasih. Dia tak pernah cocok dengan pria-pria yang selama ini berkencan dengannya. Kimberly mengulum senyumannya geli mendengar ucapan Carol. “Ikuti kata hatimu. Jika kau ingin pergi ke kencan buta, maka silakan pergi. Tapi jika tidak, jangan pernah lakukan. Seperti yang pernah aku katakan padamu, menikah bukan sebuah kompetisi, Carol. Mungkin pria yang tepat untukmu memang belum waktunya tiba. Akan tiba di saat waktunya tepat.” Carol mengangguk sependapat dengan Kimberly. “You’re right, Kim. Aku juga tidak mau terburu-buru. Daripada aku salah dalam memilih pasangan, lebih baik aku nikmati diriku untuk pengembangan diri. Lagi pula, takdir tidak akan pernah salah. Mungkin saja pria yang memang menjadi milikku saat ini sedang ada di suatu kota atau negara yang entah di mana. Butuh waktu untuk bertemu denganku.” Kimberly tersenyum merespon ucapan Carol. *** Malam semakin larut. Kimberly terlelap sambil memeluk Diego. Pelukan hangat itu membuat Diego tidur sangat pulas. Selama Damian berada di luar negeri, Kimberly selalu tidur dengan Diego. Selain kesepian, dia ingin selalu memberikan banyak perhatian dan kasih sayang pada Diego. Tak selang lama, pintu kamar terbuka. Seorang pria melangkah masuk ke dalam kamar secara perlahan demi tak menimbulkan suara. Pria itu meletakan tas dan jasnya ke sofa, menghampiri Kimberly yang terlelap di ranjang, duduk di pinggir ranjang, dan menatap Kimberly dan Diego dengan tatapan hangat. Pria itu membelai pipi Kimberly lembut, mengecupinya di sana. Refleks, sayup-sayup mata Kimberly terbuka secara perlahan. Tampak di kala mata Kimberly sudah terbuka, betapa terkejut dirinya melihat Damian di hadapannya itu. “Damian? K-kau sudah pulang?” Kimberly melebarkan matanya terkejut melihat Damian ada di hadapannya. Harusnya tiga hari lagi suaminya itu baru pulang, tapi kenapa malah sekarang suaminya itu ada di hadapannya? “Maaf membuatmu terbangun.” Damian mengecup bibir Kimberly. “Aku sengaja pulang cepat ingin memberikan kejutan untukmu dan Diego.” “Astaga, Damian.” Kimberly memeluk erat tubuh Damian, membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya itu. “Aku sangat merindukanmu. Sangat sangat merindukanmu. Kau tahu? Diego sampai terus-terusan menanyakan kapan kau pulang. Putra kita juga merindukanmu.” Wanita itu mengeluh merindukan sang suami. Bayangkan saja ditinggal hampir dua minggu, tentu tidak mudah. Damian tersenyum samar. Pria itu membalas pelukan Kimberly sambil melihat Diego yang masih tertidur pulas. “Iya, aku minta maaf. Pekerjaanku banyak sekali, Kim. Maaf sudah meninggalkanmu dan Diego cukup lama. Aku juga sangat merindukan kalian.” Kimberly mendongakkan kepalanya, menatap Damian. “Kau menyebalkan sekali. Bisa-bisanya bilang padaku akan pulang tiga hari lagi, padahal malam ini kau pulang.” Damian menarik dagu Kimberly, mencium dan melumat bibir sang istri. “Anggap saja ini kejutan, Kim,” bisiknya serak. Kimberly tersenyum, menatap Damian, dengan tatapan penuh cinta. “Welcome home, Sayang. Aku senang sekali kau sudah pulang.” *** Amsterdam, Netherlands. Sebuah ruang kerja mewah terlihat sosok pria tampan sedang menyesap vodka di tangannya. Pria itu menatap hasil laporan perusahaannya dalam beberapa tahun terakhir yang mengalami peningkatan tajam. Tampak senyuman puas di wajah pria itu terlukis samar. “Tuan Fargo, kondisi perusahaan sekarang benar-benar sangat baik. Tuan Olsen dan Tuan Deston sampai menghubungi saya, mengatakan mereka bangga pada perkembangan perusahaan Anda, Tuan,” ujar Gene melaporkan. Dalam waktu kurun dari tiga tahun, Fargo mampu membuat perusahaannya memiliki terobosan dalam berinovasi. Alhasil, sekarang perusahaannya sudah jauh lebih berkembang. Tentu Fargo yang dulu sangat berbeda dengan Fargo yang sekarang. Hidup Fargo hanya terisikan tentang pekerjaan dan pekerjaan. Ya, dia selalu fokus dengan pekerjaannya sampai melupakan segalanya. “Good,” komentar Fargo menanggapi ucapan Gene. “Hm, Tuan … saya ingin memberi tahu Anda sesuatu,” kata Gene serius. “Ada apa?” “Saya dengar Nona Gilda sekarang sedang dekat dengan seseorang pria. Maksud saya di sini, dalam kondisi Nona Gilda belum mendapatkan donor mata, ternyata dia sepertinya telah berhasil mendapatkan pria yang tepat untuknya.” “Aku senang mendengarnya. Dia memang harus move on, dan mulai menata hidup baru.” “Apa Anda tidak mau mencoba dekat dengan seorang wanita, Tuan?” “Aku belum tertarik, Gene. Mereka bisa jadi hanya membuang waktuku saja. Lebih baik aku fokus pada bisnisku.” “Tapi, Tuan, Anda jadi kembali ke Los Angeles, dua hari lagi, kan?” Gene bertanya memastikan mengenai rencana Fargo yang ingin kembali ke Los Angeles. Fargo menatap lurus ke depan dengan pikiran yang menerawang. “Sebenarnya aku mulai menyukai Amsterdam, dan nyaman tinggal di sini, tapi aku sadar tidak mungkin tinggal di sini selamanya. Dan, ya, aku harus kembali. Sudah lebih dari tiga tahun aku meninggalkan Amerika. Waktunya aku untuk menata hidupku di sana.”***
Holla, ini Season dua dari novel Damian&Kimberly. Sebelum membaca ini baca dulu novel yang berjudul Terpikat Pesona Paman Suamiku.
Follow I*: abigail_kusuma95
Quand Vincent a vu Bernard, il a écarquillé les yeux de surprise. Il a même reculé de deux pas, incrédule. Puis, il s'est mis à glousser d'amusement.« Ça suffit, oncle Bernard. Ne plaisante pas. Tout le monde sait que tu n'aimes pas du tout les louves. Depuis 29 ans, tu n'as jamais eu de louve à tes côtés. Comment est-il possible que tu deviennes le compagnon d'Angela ? »Ses paroles m'ont surprise. Je ne pouvais que me tourner vers Bernard, sous le choc. Cependant, ce dernier me regardait tendrement.« Bien sûr. C'est parce que je suis amoureux d'Angela depuis toujours. C'est toi qui es aveugle pour l'avoir abandonnée sur le lieu de la cérémonie de liaison. J'ai attendu 29 ans, et j'ai enfin saisi cette occasion en or d'être avec elle. »« À ce propos, je dois te remercier, Vincent. C'est grâce à ta stupidité que je peux être avec la louve que j'aime. Je n'aurai plus à vivre le reste de ma vie dans la solitude. »De toute évidence, Vincent ne le croyait pas.« Ça suffit, oncle Bernar
Point de vue d'AngelaLes doigts de Bernard entrelacés aux miens, nous nous tenions à nouveau sur l'estrade de la cérémonie de liaison. Tout le monde a applaudi bruyamment tout en nous donnant sa bénédiction. L'ancien qui officiait a commencé à réciter à nouveau les vœux de liaison pour nous.Je ne m'attendais pas à ce que Bernard fasse autant de préparatifs pour moi. Cela faisait à peine une heure que je l'avais appelé, et pourtant, le lieu de la cérémonie de liaison avait été complètement transformé grâce à son personnel.Les clôtures et la magnifique arche tissée de roses rouges étaient de retour. Le tapis rouge, orné de motifs complexes, recouvrait le sol. Même le bouquet que je tenais était en or pur.En résumé, cette cérémonie était parfaite.Les invités que Bernard avait invités à la cérémonie étaient tous présents. Tout le monde continuait à nous acclamer et à nous crier leurs vœux de bonheur.Une fois que l'ancien qui officiait a prononcé les vœux, Bernard s'est à nouveau age
Point de vue de VincentLes paroles d'Angela m'ont mis dans une colère folle. Elle affirmait que son nouveau compagnon était un Alpha plus fort que moi !Cela signifiait donc qu'elle était mécontente que je n'aie pas encore hérité de ma meute en tant que nouvel Alpha.Tout le monde autour de moi se moquait ouvertement de moi ou me faisait comprendre qu'Angela était la seule raison pour laquelle j'avais obtenu tout ce que je voulais aujourd'hui. Ce n'est que lorsque je parvenais à forcer Angela à se soumettre à moi à plusieurs reprises que ces loups-garous admettaient à contrecœur que j'étais très compétent.Bien sûr, j'étais extrêmement heureux d'entendre cela. J'aimais voir une louve puissante comme Angela se soumettre à moi.Cependant, lors de notre cérémonie d'union, Angela avait vraiment eu le culot de me répliquer ! C'est pourquoi je voulais lui donner une leçon en emmenant Joséphine en voyage avec moi.J'aurais jamais pensé que mon ami m'enverrait un texto pour me dire qu'Angela
Je me suis retournée et j'ai fait une grande annonce devant les invités et l'ancien qui officiait.« Mesdames et messieurs, la cérémonie va avoir lieu. Mon nouveau compagnon sera bientôt là. Veuillez patienter quelques instants. »J'étais depuis toujours une louve très déterminée. Ma mère était décédée alors que je n'étais encore qu'une petite louveteau, et mon père n'avait pas voulu se trouver une nouvelle compagne depuis lors. J'assumais donc peu à peu les responsabilités et le pouvoir qui revenaient à la Luna.Ainsi, je suis devenue l'une des louves les plus influentes de la meute du Lac de la Lune. Si j'avais été une louve lâche, sans opinion propre, ma meute aurait été capturée par d'autres loups-garous depuis longtemps.Quant à Vincent, le seul loup-garou pour lequel je m'étais sacrifiée dans le passé, je l'avais déjà chassé de ma vie.Les invités ont recommencé à murmurer entre eux. Ceux qui avaient initialement l'intention de quitter les lieux ont finalement décidé de rester. I
...J'ai fixé du regard la languette de canette que Vincent Richard, mon futur compagnon, avait glissée à mon doigt. Pendant un long moment, je suis restée sans voix.La musique forte et les bavardages, qui créaient une atmosphère bruyante, se sont instantanément tus. Les murmures des invités ont ra
Vincent me menaçait. Pendant un instant, j'ai cru avoir mal entendu. Mais c'était bien la vérité. À cet instant, Vincent se tenait là, le visage impassible, crachant des mots qui me transperçaient le cœur comme des lames. J'ai enfoncé mes ongles dans mes paumes pour me forcer à me calmer. Mais mes
En observant la lueur de suffisance qui traversait les yeux de Joséphine, j'ai enfin compris pourquoi elle était restée seule aujourd'hui. Par le passé, lorsque Vincent et moi sortions ensemble, Joséphine insistait pour se joindre à nous. Aujourd'hui, elle avait l'intention de gâcher ma cérémonie.












Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.