LOGINMobil hitam mewah yang dikendarai Damian membelah jalanan malam dengan kecepatan sedang. Damian menyandarkan punggungnya pada kursi belakang, menatap pendar lampu kota yang membias di kaca jendela. Perasaan sesak dan berat yang biasanya selalu menghimpit dadanya belakangan ini perlahan terangkat. Hatinya terasa jauh lebih lega usai bisa bertemu dan bicara dengan Sienna secara tenang tanpa ketegangan, dan minum kopi racikan wanita itu secara langsung.Sesampainya di kediaman Damian. Damian melihat sebuah mobil terparkir di depan garasi. Keningnya berkerut dalam, dia menatap ke pintu rumah sejenak, sebelum akhirnya melangkah masuk melintasi lorong utama yang sunyi. Begitu melintasi area tengah, matanya menangkap sosok Edward yang sedang duduk santai di sofa ruang tamu seraya menyesap kopi.Benar dugaannya kalau sahabatnya ini yang datang."Kamu baru pulang?" panggil Edward seraya meletakkan gelasnya ke atas meja.Damian melirik sahabatnya itu sejenak. "Ikut aku ke ruang kerja," ujar
Mata tajam Damian seketika tertuju ke ponsel yang masih berdering di genggaman Sienna. Pria itu menyipitkan matanya, menangkap binar kecurigaan yang langsung menyeruak di dadanya. Posisinya yang mendadak menegak membuat aura di ruang tamu yang tadinya sunyi kini berubah tegang."Dari siapa?" tanya Damian dingin dengan nada suara menuntut.Sienna tidak menjawab. Dia menatap sekilas pada Damian, lalu sengaja mengabaikan pertanyaan itu dan memilih bangkit dari sofa. Tanpa pamit pada Damian, Sienna melangkah menjauh menuju sudut ruangan dekat jendela teras, menyapukan jemarinya untuk menggeser tombol hijau di layar."Halo, Julian?" sapa Sienna pelan usai menempelkan ponsel di telinganya.Dari seberang panggilan, suara hangat Julian terdengar begitu jernih. "Sienna, maaf mengganggumu. Aku mau bertanya... apa Sabtu malam besok kamu ada waktu luang?"Sienna mengerutkan dahinya tipis. "Sabtu malam? Kurasa tidak ada acara apa-apa. Ada apa?""Rekan bisnis utamaku mengadakan acara pesta perayaa
Sienna pergi ke dapur lalu segera memproses biji kopi milik Damian di mesin kopi yang Sienna miliki.Aroma khas biji kopi yang baru saja digiling perlahan memenuhi dapur kecil itu.Beberapa menit kemudian, Sienna melangkah keluar dari area dapur membawa cangkir porselen putih berisi kopi panas lalu meletakkannya di atas meja kaca di hadapan Damian."Silakan," ujar Sienna dengan suara datar dan tenang.Sienna kemudian mendudukkan diri di sofa tunggal yang berseberangan dengan Damian. Posisinya tegak, tetapi raut wajahnya benar-benar netral—tidak menunjukkan rasa marah, namun juga tidak memancarkan kehangatan yang dulu selalu menyambut Damian saat ia pulang ke rumah. Bagi Sienna, pria tegap di hadapannya ini tak ubahnya seorang tamu biasa yang kebetulan sedang menumpang minum di rumahnya.Damian meraih cangkir porselen tersebut. Uap tipis membumbung tinggi membawa aroma kopi yang begitu hangat dan familier. Saat cairan hitam itu menyentuh lidah Damian, rasa pahit yang berpadu dengan g
Plastik berisi kantong biji kopi itu kini berpindah ke genggaman Damian usai pria itu menyelesaikan pembayaran. Mereka melangkah keluar secara berdampingan melewati pintu toko, diiringi denting lonceng kecil yang perlahan meredup.Di tepi jalanan yang mulai temaram oleh sinar jingga sore, Sienna menghentikan langkah kakinya. Dia memutar tubuhnya menghadap Damian, menggenggam tali tas yang melingkar di bahunya dengan gerakan canggung."Terima kasih sudah mengantar saya, Damian," ucap Sienna akhirnya bicara dengan non formal. “Apa yang kamu inginkan sudah kamu dapatkan. Jadi aku bisa pulang sendiri naik bus dari sini."Damian menatap Sienna dengan raut tegasnya yang tidak menerima penolakan. Pria itu menggeleng pelan seraya membukakan pintu belakang mobil mewahnya."Aku yang mengajajakmu ke sini, Sienna," ujar Damian dengan suara rendah yang tegas namun tak lagi menekan. "Tentu saja aku yang harus mengantarmu pulang dengan selamat. Masuklah."Sienna sempat ragu sejenak. Namun, melihat
Sienna gelagapan mendengar pertanyaan Damian pada pemilik toko. Matanya berkilat panik sampai wajahnya menegang. Dan sebelum Sienna sempat menyusun alasan untuk menutupi situasi canggung itu, suara lembut pemilik toko tua itu memotong lebih dulu."Dia bilang kalau suaminya sangat suka biji kopi di toko ini, Tuan," ujar pria tua itu ramah seraya tersenyum pada Damian. "Sienna sering sekali ke sini hanya untuk membelikan kopi racikan favorit yang dia bilang menjadi kesukaan suaminya. Karena itulah beberapa hari ini saya rindu dengan kedatangan Sienna, sebab dia sudah agak lama tidak berkunjung."Damian membeku di tempatnya. Hatinya seperti bergetar hebat mendengar penjelasan jujur dari pria tua di hadapannya. Prasangkanya yang mengira Sienna akan mengumbar keburukannya runtuh seketika. Damian memutar kepalanya, dia menatap Sienna dengan sorot mata yang begitu pekat dan penuh arti yang tak mampu disembunyikan.Sementara itu, Sienna memilih menundukkan pandangan. Dia menolak untuk menat
Pertanyaan Sienna yang bernada menuntut jawaban logis itu membuat Damian membuang pandangannya sejenak ke arah jendela. Pertanyaan itu seolah dipenuhi kecurigaan yang membuat Damian mendadak tertekan.Damian kembali menatap pada Sienna, lalu dia mencoba memberi alasan. "Aku sudah terlanjur ada di sini bersamamu. Untuk apa repot-repot menyuruh Joana atau pelayan lain jika aku bisa langsung membelinya sendiri?"Sienna mendadak bungkam. Kata-katanya tertahan di tenggorokan. Alasan Damian terasa begitu dipaksakan dan tidak masuk akal untuk ukuran seorang CEO angkuh yang biasanya enggan mengurusi hal-hal kecil. Namun, melihat raut datar tanpa cela di wajah pria itu, Sienna memilih tidak memperpanjang perdebatan soal kopi.Keheningan melingkupi kabin mobil selama beberapa saat. Sienna menatap jemarinya yang bertaut rapat di atas pangkuan. Pikirannya kembali tertarik pada hal utama yang membuatnya cemas sejak pagi tadi."Tuan Blackwell…," panggil Sienna pelan, memecah kesunyian. “Bisakah







