Home / Romansa / Tuan CEO, Lepaskan Aku! / Dokumen Penghancur

Share

Dokumen Penghancur

Author: V.W. Anara
last update publish date: 2026-01-27 21:10:52

Malam di Seoul merayap dengan keheningan yang menyesakkan, namun di dalam kepala Jihan, segalanya bergemuruh seperti badai yang siap merobohkan segalanya. Ia berbaring di samping Se-hun yang telah terlelap, namun tangannya masih melingkar posesif di pinggang Jihan, sebuah belenggu daging yang membuat Jihan merasa seperti tawanan perang di atas ranjang sutra.

Perlahan, dengan gerakan yang nyaris tak kasat mata, Jihan menggeser tangan Se-hun. Ia menahan napas saat pria itu mengerang kecil dalam t
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Tempat Kita Pulang

    Satu tahun berlalu sejak Yura berjuang demi melawan penyakitnya. Kini, musim semi kembali menyapa seluruh penjuru kota dengan keanggunan yang sama, namun kali ini atmosfernya terasa jauh lebih ringan. Tidak ada lagi kabut kecemasan yang menggantung di antara pepohonan pinus, juga tidak ada lagi bayang-bayang menakutkan yang mengintai dari balik kegelapan. Bunga-bunga sakura liar kembali berguguran tertiup angin sepoi-sepoi menutupi rumput hijau dengan kelopak merah muda yang lembut, menciptakan pemandangan yang sangat Indah sebagai wujud nyata dari salah satu lukisan terbaik Winda.Di teras rumah kaca yang kini telah menjadi simbol kedamaian, sebuah meja panjang telah ditata dengan rapi. Aroma sedap dari masakan khas Indonesia yang bumbunya meresap sempurna dari rendang bercampur dengan aroma kopi yang segar. Hari ini adalah hari istimewa dimana merupakan hari perayaan ulang tahun Ji-hoo yang kedua sekaligus syukuran atas satu tahun kebebasan mereka semua dari belenggu masa lalu.

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Di Balik Duka

    Lorong rumah sakit yang terasa dingin dan mencekam itu kini telah menjadi saksi bisu dari sebuah perjuangan seorang wanita bernama Kim Yura. Sudah sepuluh hari sejak operasi besar itu dilakukan, dan Park Jae-hyun tidak pernah sekalipun meninggalkan sisi tempat tidur Yura. Pria yang dulunya dikenal sebagai pria dingin yang mampu meruntuhkan bursa saham hanya dengan satu gerakan tangan itu kini terlihat jauh lebih manusiawi dan jauh lebih rapuh dari sebelumnya .Jae-hyun duduk di kursi kecil, kepalanya bersandar pada pinggiran ranjang Yura. Matanya yang merah karena kurang tidur terus menatap layar monitor yang menampilkan detak jantung Yura yang kian stabil. Ia menggenggam tangan Yura yang masih terasa sangat lemah dengan gerakan yang pelan."Yura," bisik Jae-hyun, suaranya parau. "Musim semi hampir berakhir. Bunga-bunga sakura di kantor baru kita pasti sudah mulai gugur. Kau bilang ingin berdansa di sana tanpa musik, bukan? Aku sudah menyiapkan semuanya. Aku bahkan sudah menghafal l

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Runtuhnya Pertahanan Yura

    Pesta kebun di lereng bukit pagi ini seharusnya menjadi momen yang penuh tawa dan rasa syukur yang dalam dengan dihiasi langit berwarna biru yang seolah sedang memayungi rumah kaca yang kini telah kembali asri. Bahkan aroma daging panggang dan saus marinasi buatan Winda yang menyatu dengan wangi pinus itu seharusnya ikut membuat udara di sekitarnya terasa menyegarkan, tapi tampaknya pagi itu tidak akan berjalan seperti yang seharusnya.Seonwoo sedang berdiri santai dengan mengenakan kemeja linen putih yang membuatnya tampak berbeda dari biasanya, sementara Ji-hoo asyik merangkak di atas rumput hijau dengan pakaian bayi yang membuatnya tampak begitu menggemaskan, sesekali ia mengejar kupu-kupu yang hinggap di bunga-bunga liar sambil terus merangkak.Jae-hyun, yang baru beberapa hari menghirup udara bebas pun tampak begitu segar dengan balutan kemeja putih linen yang senada dengan yang Seonwoo kenakan, ia duduk di bangku kayu bersama Yura sambil terus-menerus memperhatikan wanita itu ya

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Janji Terakhir

    Langit di atas Lapas Permanen Seoul pagi ini tampak lebih cerah dari biasanya, awan kelabu yang menyelimuti sekeliling lapas itu selama berhari-hari itu seolah-olah sengaja menyingkir untuk memberikan jalan bagi sebuah awal yang baru bagi pria bernama Park Jae-hyun itu. Angin musim semi pun bertiup lembut membawa aroma bunga sakura yang mulai berguguran menutupi aspal kasar di depan gerbang penjara dengan kelopak-kelopak merah muda yang tampak begitu cantik.Di depan gerbang besi besar yang dingin itu sebuah mobil sedan berwarna hitam yang tampak mewah telah terparkir di sana. Seonwoo berdiri bersandar pada pintu mobil, tangannya yang sudah tidak lagi dibalut gips terlipat di depan dada. Di sampingnya, Winda berdiri dengan anggun sambil sesekali merapikan selimut Ji-hoo yang ada dalam dekapan Seonwoo. Namun, pusat dari segala penantian pagi ini adalah Kim Yura.Wanita itu berdiri beberapa langkah lebih depan dari yang lain. Ia mengenakan gaun sutra berwarna peach lembut memberikan

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Rahasia...

    Pagi itu langit di kota Seoul ini terlihat sendu dengan tampilan warna yang abu-abu, awan pun seakan sengaja menahan diri untuk tidak menumpahkan air hujan. Di distrik Gangnam yang bising, gedung baru Kantor Hukum Jae-Yura berdiri dengan kokoh, memantulkan kesibukan kota pada dinding kacanya yang mengilat. Namun, di dalam ruangan utama milik Yura, suasananya cukup berbeda dan jauh dari kata bising. Hanya ada kesunyian yang mencekam, yang sesekali dipecah oleh suara helaan napas milik Yura.Winda berdiri di depan pintu kayu besar ruang kerja Yura. Tangannya yang memegang sebuah botol obat kecil tanpa label itu terasa dingin. Ia baru saja kembali dari apotek di pusat kota, tempat seorang kenalan lamanya memberikan konfirmasi yang meruntuhkan separuh dunianya pagi ini.“Ini bukan vitamin, Winda. Ini obat pereda nyeri saraf stadium akhir. Biasanya digunakan untuk pasien yang mengalami tekanan besar di otak agar mereka tetap bisa beraktifitas secara baik.”Kalimat itu terngiang-ngiang di

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Di Atas Gedung Baru

    Matahari musim semi bersinar terik di atas distrik Gangnam, memantul pada dinding kaca gedung-gedung pencakar langit yang menjadi simbol kekuatan ekonomi Seoul. Di salah satu sudut paling mewah, sebuah gedung perkantoran tiga lantai berdiri dengan desain arsitektur modern yang minimalis namun sangat berwibawa. Di bagian depan, terukir huruf logam berwarna perak yang elegan."KANTOR HUKUM JAE-YURA & PARTMER".Ini adalah hadiah dari Han Seonwoo, sebuah bentuk penebusan dosa dan rasa terima kasih yang tak terhingga atas pengorbanan Jae-hyun dan kesetiaan Yura. Bukan sekadar ruko kecil di sudut sempit seperti dulu, kini kantor mereka adalah salah satu firma hukum yang paling diperhitungkan di Seoul, lengkap dengan sistem keamanan tingkat tinggi dan tim staf yang profesional.Pagi itu, Kim Yura melangkah keluar dari mobil sedan hitam yang dikemudikan oleh supir pribadi kiriman Sekretaris Kim. Ia mengenakan setelan jas formal berwarna biru tua yang pas di tubuhnya, rambutnya ditata rapi, da

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Keheningan Sebelum Badai

    Malam di lereng bukit itu terasa sepi yang luar biasa, seolah alam semesta sedang menahan napasnya sebelum melepaskan sesuatu yang besar. Di luar rumah kaca, langit malam yang biasanya dihiasi bintang kini tampak pekat dan rendah, tertutup awan salju yang berat. Angin tidak berdesir; ia hanya diam,

    last updateLast Updated : 2026-03-31
  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Pertemuan Di Balik Kaca

    Dinding penjara Seoul Pusat selalu terasa beberapa derajat lebih dingin daripada udara di luar. Bau karbol yang tajam bercampur dengan aroma logam dan keputusasaan yang mengendap di setiap sudut koridor. Di dalam ruang kunjungan yang dipisahkan oleh kaca tebal kedap suara, Jae-hyun duduk mematung.

    last updateLast Updated : 2026-03-30
  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Di Ambang Penantian

    Malam telah merayap jauh meninggalkan sisa-sisa jingga di ufuk Barat. Di lereng bukit yang sunyi, rumah kaca itu tampak berpendar lembut seperti lampion raksasa di tengah kegelapan hutan pinus. Di dalamnya, kehangatan menyelimuti setiap sudut ruangan, kontras dengan udara malam pegunungan yang mula

    last updateLast Updated : 2026-03-31
  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Rumah Untuk Jiwa Yang Pulang

    Badai salju yang melanda lereng bukit ternyata juga menyelimuti pusat kota Seoul dengan kepekatan yang sama. Di balik tembok beton penjara, suara angin yang menderu terdengar seperti nyanyian pilu yang mengetuk-ngetuk jeruji besi. Suhu di ruang kunjungan terasa lebih menggigit hari ini, membuat uap

    last updateLast Updated : 2026-03-31
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status