Cahaya matahari pagi yang masuk melalui jendela penthouse terasa seperti ejekan bagi Winda. Tubuhnya masih merasakan sisa-sisa sentuhan Seonwoo semalam, sentuhan yang menghancurkan sekaligus membekas secara fisik dan mental. Namun, tidak ada waktu untuk meratapi diri. Pukul tujuh pagi, Seonwoo sudah berdiri di ruang tengah, rapi dengan setelan jas navy buatan penjahit terbaik Italia, seolah-olah dia tidak pernah "menghancurkan" Winda beberapa jam yang lalu."Sepuluh menit. Jika kau belum siap di mobil, kau akan tahu konsekuensinya." ucap Seonwoo tanpa menoleh, suaranya sedingin es sambil mengancingkan jam tangan mewah di pergelangan tangannya.Winda terburu-buru mengenakan rok span hitam dan kemeja putih yang paling tertutup. Ia sengaja menaikkan kerah kemejanya, berusaha keras menyembunyikan tanda-tama kemerahan di lehernya yang masih terasa berdenyut panas.Di dalam mobil, keheningan menyelimuti mereka. Seonwoo sibuk dengan tabletnya, sementara Winda terus menunduk, meremas ponsel
Last Updated : 2025-12-31 Read more