Compartir

Perjamuan Berbisa

Autor: V.W. Anara
last update Última actualización: 2026-01-03 19:41:56

Puncak hotel Grand Hyatt Seoul malam itu tampak seperti mahkota bercahaya di tengah kegelapan kota. Namun, di dalam restoran privat yang telah dipesan khusus oleh HanGroup, suasananya jauh dari kata hangat. Cahaya lampu gantung kristal yang memantul di permukaan meja mahoni justru menciptakan bayangan-bayangan panjang yang tajam, serupa dengan niat orang-orang yang duduk di sekelilingnya.

Winda berdiri di samping Seonwoo, mengenakan gaun velvet biru tua yang membalut tubuhnya dengan sempurna namun terasa seperti baju zirah yang berat.

Seonwoo tidak membiarkan tangannya lepas dari pinggang Winda sedikit pun, cengkeramannya yang posesif adalah pengingat bahwa di sini, Winda bukanlah tamu, melainkan jarahan yang akan dipamerkan.

"Lihatlah wajah mereka, Winda." bisik Seonwoo tepat di telinganya sebelum mereka duduk. "Mereka adalah orang-orang yang meludahi nama ayahmu dua puluh dua tahun lalu. Dan malam ini, mereka harus melihatmu berdiri di sampingku. Bukankah itu sebuah ironi yang indah
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Reruntuhan Topeng Seonwoo

    Suara statis dari monitor jantung yang memanjang, sebuah garis datar yang melambangkan keheningan maut seolah menyedot seluruh oksigen di dalam kamar utama penthouse itu. Seonwoo masih berlutut di samping ranjang, tangannya yang gemetar menggenggam jemari Winda yang terasa dingin sedingin es. Di sekelilingnya, tim medis bergerak dalam kekacauan yang terukur. Dokter Oh berteriak memberikan instruksi, sementara seorang perawat dengan cepat mengisi alat pacu jantung elektrik."Siapkan dua ratus joule! Sekarang!" teriak Dokter Oh. Suaranya pecah, penuh dengan urgensi yang mengerikan.Seonwoo dipaksa mundur oleh salah satu petugas keamanan agar tidak menghalangi tindakan medis. Ia berdiri mematung, menatap tubuh Winda yang terhentak ke atas saat aliran listrik menghantam dadanya. Sekali. Dua kali. Garis di monitor itu masih tetap datar, mengeluarkan bunyi berdenging yang menyiksa pendengaran.Di sudut ruangan, Lee Sooyoung berdiri dengan keanggunan yang tidak terusik. Ia menyilangkan ta

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Taruhan Nyawa

    Kabin jet pribadi itu berguncang hebat saat menembus awan badai di atas Laut China Selatan, namun guncangan itu tak sebanding dengan kekacauan di dalam hati Han Seonwoo. Ia menatap layar tabletnya dengan napas tertahan. Grafik biometrik Winda di layar menunjukkan fluktuasi yang mengerikan. Garis hijau yang melambangkan detak jantung itu melonjak tajam, lalu melambat secara tidak wajar. "Tingkatkan kecepatan! Aku tidak peduli dengan konsumsi bahan bakar atau izin lintas udara!" raung Seonwoo kepada kopilot melalui interkom. Tangannya menggenggam kunci loker berkarat dari Jae-hyun hingga pinggiran logamnya melukai telapak tangannya. Darah merembes, namun ia tak merasakannya. Pikirannya melayang pada sosok ibunya, Lee Sooyoung. Wanita yang selama ini ia puja sebagai malaikat pelindung, kini berubah menjadi bayangan iblis yang siap mencabut nyawa wanita yang.. ia cintai. Cinta. Atau mungkin lebih tepatnya perasaan terlarang. "Jangan berani menyentuhnya, Ibu... Jangan berani," bis

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Konfrontasi Tambora

    Malam di Jakarta tidak pernah terasa sesunyi ini bagi Han Seonwoo. Di tengah gang sempit Tambora yang berbau lembap dan pengap, sorot lampu SUV hitam miliknya membelah kegelapan, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menakutkan di dinding bata yang berlumut. Di hadapannya, Park Jae-hyun berdiri dengan kemeja yang sudah kotor, namun tatapan matanya tetap setajam silet, tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun meski moncong senjata tim keamanan Seonwoo mengepungnya dari segala arah.Seonwoo menerjang maju, mencengkeram kerah kemeja Jae-hyun hingga kain itu mengerit . "Di mana kunci itu, Jae-hyun? Jangan mengujiku di tanah kotor ini! Aku bisa membuatmu membusuk di sini tanpa ada satu orang pun di Seoul yang akan menemukan jasadmu!"Jae-hyun tersenyum, sebuah senyuman pahit yang penuh ejekan. Ia perlahan merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kunci logam tua yang sudah berkarat, digantung pada sebuah gantungan plastik kusam bertuliskan nomor '304'."Kunci ini menuju ke sebua

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Perburuan Di Jakarta

    Deru mesin pesawat jet pribadi HanGroup membelah kegelapan langit malam menuju arah selatan. Di dalam kabin yang mewah namun terasa mencekam, Seonwoo duduk terpaku, menatap gelas wiskinya yang belum tersentuh. Matanya merah, bukan karena kantuk, melainkan karena gejolak emosi yang saling beradu: amarah pada Jae-hyun, kecemasan pada kondisi Winda yang ia tinggalkan, dan ketakutan luar biasa akan kata-kata Dokter Oh yang terus berdengung di telinganya.Seseorang sengaja memicu jantungnya... dan orang itu bukan Anjar."Tuan Han, kita akan mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma dalam tiga puluh menit," lapor asistennya melalui interkom. "Tim lapangan di Jakarta sudah melacak sinyal terakhir ponsel cadangan Jae-hyun di kawasan Jakarta Pusat, dekat gedung lama kantor cabang kita."Seonwoo hanya mengangguk dingin. Ia tidak peduli seberapa jauh Jae-hyun berlari, ia akan menyeret pria itu kembali ke Seoul dan memastikan rahasia itu mati bersamanya.Sementara itu, di Penthouse Seoul...Winda

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Penjara Emas

    Kesunyian di dalam penthouse milik Han Seonwoo kini bukan lagi sekadar sunyi, melainkan sebuah tekanan yang nyaris meledak. Tiga hari telah berlalu sejak Seonwoo mengunci pintu utama dan memutus seluruh akses komunikasi Winda. Selama itu pula, tidak ada satu butir nasi pun yang melewati kerongkongan Winda. Ia tidak berteriak, tidak menangis, dan tidak memohon. Ia hanya duduk diam di sudut balkon yang terkunci, menatap langit Seoul dengan pandangan kosong, mencoba melakukan perlawanan paling sunyi yang tidak pernah dihadapi Seonwoo.Seonwoo masuk ke dalam kamar dengan langkah yang tidak lagi tenang. Di tangannya, sebuah nampan berisi bubur hangat yang masih mengepul tampak tak tersentuh sejak tiga jam lalu. Ia meletakkan nampan itu di atas meja dengan dentingan keras yang memecah kesunyian."Makan, Winda." perintah Seonwoo. Suaranya rendah, namun ada getaran kecemasan yang coba ia sembunyikan di balik nada ketegasannya.Winda tidak bergeming. Ia bahkan tidak menoleh. Wajahnya yang semu

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Jebakan Sistem

    Pagi itu, atmosfer di gedung utama HanGroup terasa jauh lebih mencekam daripada biasanya. Udara seolah membeku, meninggalkan rasa pahit di setiap helaan napas para karyawan. Park Jae-hyun melangkah masuk ke lobi dengan setelan abu-abu gelap yang disetrika sempurna, wajahnya tetap datar seperti biasanya, namun ia segera menyadari bahwa dunia yang ia bangun selama bertahun-tahun di perusahaan ini telah runtuh dalam semalam.Tidak ada sapaan hormat dari staf administrasi. Tidak ada bungkukan badan dari para juniornya. Yang ada hanyalah tatapan mata yang cepat-cepat dialihkan, bisik-bisik yang tertahan di balik telapak tangan, dan aura pengucilan yang sangat nyata.Begitu ia sampai di depan meja kerjanya, dua pria dari Divisi Kepatuhan dan Keamanan Internal sudah berdiri menunggu dengan tangan bersedekap. Di atas meja Jae-hyun, sebuah kotak karton kosong telah disiapkan, sebuah simbol kematian karier yang paling hina bagi seorang eksekutif."Manajer Park Jae-hyun." ucap salah satu pria it

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status