Home / Rumah Tangga / Tuan Dingin & Nyonya Luka / Kepergian yang Mengguncang

Share

Kepergian yang Mengguncang

Author: Borneng
last update Petsa ng paglalathala: 2025-09-10 18:31:33

Pagi itu, mentari baru saja merangkak naik, menyinari jendela kamar Dila yang tirainya masih setengah tertutup. Suara burung yang bertengger di dahan mangga terdengar samar, namun hati Dila justru merasa berat begitu ia membuka mata. Ia menguap pelan, lalu meraih ponselnya di meja nakas. Jemarinya yang masih malas menekan layar, membuka aplikasi WhatsApp.

Namun pandangannya langsung terhenti pada sebuah status yang tak biasa.

"Selamat jalan Oma, semoga khusnul khotimah. Aamiin."

Status itu ditu
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Tuan Dingin & Nyonya Luka   Rumah yang Dipenuhi Cahaya (TAMAT)

    Pagi di Jakarta datang dengan cahaya lembut yang menembus jendela-jendela besar rumah Kenan. Udara terasa sejuk, burung-burung berkicau di taman belakang, dan aroma teh hangat menyebar dari dapur. Rumah besar itu kini tak lagi sunyi. Ia hidup, berdenyut, penuh tawa dan langkah kecil yang berlarian.Jifanya duduk di sofa ruang keluarga dengan bantal kecil menyangga punggungnya. Perutnya yang mulai membesar membuat semua orang memperlakukannya bak ratu. Setiap geraknya diawasi dengan penuh cinta.“Ji, jangan bangun sendiri,” tegur Kenan yang baru saja keluar dari kamar mandi, masih mengenakan kaus rumah. “Panggil aku kalau mau apa-apa.”Jifanya tersenyum kecil. “Mas, aku cuma mau ambil air putih.”“Air putih juga tugas suami,” jawab Kenan sambil mengambil gelas dan menyerahkannya. Nada suaranya lembut, matanya penuh perhatian.Dari dapur, Neha memperhatikan mereka. Wanita itu kini berbeda. Tak ada lagi sorot mata tajam atau nada suara dingin. Sejak t

  • Tuan Dingin & Nyonya Luka   Ketika Senja Mengajarkan Memaafkan

    Langit senja Jakarta sore itu tampak seperti kanvas raksasa yang dilukis Tuhan dengan warna jingga dan keemasan. Awan-awan tipis bergerak perlahan, seolah ikut menjadi saksi bahwa sebuah keputusan besar baru saja diambil. Angin sore berembus lembut, namun di hati Mustofa, ayah Kenan, hembusannya terasa dingin dan berat.Pria paruh baya itu berdiri di teras rumah sederhana miliknya, memandangi jalanan yang mulai lengang. Lampu-lampu rumah warga satu per satu menyala, menandai peralihan hari. Namun pikiran Mustofa masih tertahan pada percakapan siang tadi. Keputusan Kenan untuk berdamai dengan ibunya terasa seperti batu besar yang menekan dadanya.Mustofa menghela napas panjang. Ia mengenal betul watak mantan istrinya, Neha. Wanita itu keras kepala, mudah terhasut, dan sulit mengakui kesalahan. Luka yang ia goreskan di hati Kenan dan Jifanya bukan luka kecil yang bisa sembuh hanya dengan waktu singkat.Namun sore itu, Kenan pulang dengan wajah yang b

  • Tuan Dingin & Nyonya Luka   Ada Kebahagian di Balik Musibah

    Kabar kehamilam Jifanya sampai juga ke teliga ayah. Mustofa sangat bahagia dan menagis terharu, akhirnya putranya memiliki anak kandung juga dari istrinya. Setelah menunggu lima tahun perjuangan menahlukkan hati Jifanya, akhirnya pemilik semesta mem beri hadiah terindah untuk kesabaran untuk Kenan.“Aku sangat bahagia, selamat untukmu, Nak,” ucap Mustofa di ujung telepon.“Aku sangat bahagia Ayah, Qila akan punya adik,” ujar Kenan dengan suara bergetar.“Kalian masih di rumah sakit?”“Iya Ayah, kami akan pulang, Qila pasti sudah khawatir sama Mamanya.”“Bailklah pelan-pelan bawa mobilnya, jangan sampai Jifanya, capek. Ayah akan ke rumahhmu. Dila juga sudaha ada di rumah.”Di rumah, Dila dan suaminya dan putra mereka Izam datang ke rumah Kenan, setelah Qila menelpon menangis, dia mengadu kalau mamanya sakit dan di bawa ke rumah sakit.“Tenanglah

  • Tuan Dingin & Nyonya Luka   Kepanikan yang Membahagiakan

    Matahari sore itu menyinari halaman rumah Kenan dengan lembut. Suara tawa Aqila terdengar dari teras, bercampur dengan suara ceria Jifanya yang sedang bermain bersamanya. Rumah yang dulu sempat diselimuti kegelisahan kini mulai kembali berdenyut dengan keceriaan. Namun, di balik senyum hangat yang menghiasi wajah Kenan, ada satu hal yang tak bisa ia sembunyikan, beban di hatinya masih berat.Meski telah memaafkan ibunya, luka itu belum sembuh. Luka yang tak terlihat, tapi terus mengganggu setiap detak jantungnya.Sore itu, Kenan duduk sendirian di bangku kayu di taman depan rumah. Angin sore berhembus pelan, membawa aroma bunga kenanga yang mekar di sudut halaman. Tiba-tiba, langkah ringan terdengar mendekat dari belakang. Kenan tak perlu menoleh, ia tahu itu adalah Jifanya.“Ada apa, Sayang?” suara Jifanya terdengar lembut, seperti biasa. Ia duduk di sebelah Kenan, menatapnya dengan mata yang penuh rasa ingin tahu.Kenan menghela napas, panda

  • Tuan Dingin & Nyonya Luka   Demi Cinta dan Luka yang Tertinggal

    Sore itu langit menggantung kelabu, seakan ikut menyerap semua resah yang mengendap di hati Kenan. Angin yang bertiup dari arah utara membawa aroma tanah basah, namun sama sekali tidak menenangkan pikirannya. Hari ini, di ruang tamu sebuah rumah megah namun terasa dingin tanpa kehangatan, kenyataan pahit akhirnya terkuak, pelaku penculikan Aqila bukan orang lain, melainkan darah dagingnya sendiri ibunya, Bu Neha.Polisi hebat itu sudah terbiasa menghadapi kriminal, tetapi kali ini hatinya nyaris runtuh. Seandainya pelakunya orang lain, mudah saja ia seret ke penjara tanpa ragu. Namun bagaimana jika tangan itu adalah tangan yang dulu menimangnya? Bagaimana jika pelakunya adalah perempuan yang selama ini ia junjung tinggi, yang telapak kakinya disebut-sebut sebagai pintu surga?Duduk di hadapannya, Bu Neha menunduk dengan mata bengkak. Tangisnya mungkin sudah mengering, tetapi luka yang ia tinggalkan di hati anak-anaknya baru saja menganga.“Iya,” ucap

  • Tuan Dingin & Nyonya Luka   Ketikan Pelukan Menjadi Benteng

    Hanya beberapa menit dibutuhkan untuk melumpuhkan para pelaku. Kenan berlari ke mobil, wajahnya pucat menahan marah sekaligus khawatir. Kaca belakang mobil sudah retak lebar. Ia membuka pintu dengan tergesa, memeluk Jifanya erat, lalu langsung menggendong Aqila yang menangis tersedu.“Papa…!” teriak Aqila sambil memeluk lehernya erat-erat.“Tidak apa-apa, Sayang. Papa sudah menghukum mereka,” ucap Kenan, menciumi kepala putrinya berulang-ulang. Nada suaranya bergetar, meski ia mencoba tegar.“Mereka membentak Mama sama Om Bagas,” isaknya.“Iya, Papa sudah memborgol tangan mereka. Mereka tidak akan macam-macam lagi sama Qila.”Jifanya tetap berusaha terlihat tenang. Ia tahu, jika ia ikut panik, Aqila bisa trauma. Tapi begitu Kenan memeluknya, seluruh kekuatan pura-puranya runtuh. Kakinya lemas. Ia menutup wajah dengan kedua tangan, dan tangisnya pecah.Kenan menoleh ke arah Theo, rekan se

  • Tuan Dingin & Nyonya Luka   Aroma Dosa yang Membekas

    Matahari sore menggantung malas di langit kota. Hawa panas menyisakan gerah yang melekat pada kulit siapa saja yang melangkah di jalanan. Asap kendaraan bercampur dengan debu membuat udara semakin sesak. Namun di bawah rindang pohon kampus yang mulai meranggas, seorang perempuan berdiri mematung. N

  • Tuan Dingin & Nyonya Luka   Rumah Ini Bukan Untukku

    Pagi yang seharusnya hangat berubah menjadi kabut kelabu bagi Jifanya. Baru beberapa minggu tinggal sebagai menantu di rumah Kenan, tapi rasanya seperti bertahun-tahun dalam penjara dingin tanpa jendela. Setiap langkah yang ia ambil selalu salah di mata ibu mertuanya. Mulai dari cara makan yang dis

  • Tuan Dingin & Nyonya Luka   Di Balik Dingin Kenan, Ada Luka yang Tersembunyi

    Senja mulai turun perlahan saat mobil Kenan melaju membelah jalanan kota yang lengang. Langit sore berwarna abu-abu gelap, menyimpan ancaman hujan yang tak kunjung turun. Suasana di dalam mobil pun tak kalah kelabunya. Hening, seperti menyimpan bom waktu yang siap meledak kapan saja.Jifanya duduk

  • Tuan Dingin & Nyonya Luka   Hujan yang Menyimpan Rahasia

    Sore itu, awan menggantung kelabu di atas atap-atap rumah kontrakan. Rintik hujan turun perlahan, menetes di genting dan membasahi halaman tanah yang becek. Aroma tanah basah menusuk hidung, menambah kesan muram yang menyelimuti udara. Langit seakan ikut merasakan kerapuhan hati seorang wanita yang

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status