LOGIN“Hati-hati, baby.” Martin ketar-ketir melihat Serena yang begitu bahagia menyusuri hutan.Karena mereka sekarang sedang menuju air terjun yang berada di tengah hutan.Serena berjalan dengan gembira dan meninggalkan Martin di belakang.Pagi-pagi sekali dengan cuacanya yang bagus meski sedikit dingin.“Aku baik-baik saja, nanti kalau aku lelah, kau harus menggendongku.” Serena menoleh ke belakang sebentar.Martin mengangguk pasrah. “Baiklah, suamimu yang perkasa ini akan menggendongmu.”Martin melotot karena senggolan dari sampingnya. “Kenapa kau menyenggolku?”Aldi terkekeh pelan. “Mas yakin bisa menggendong mbak Serena?”“Kenapa tidak yakin?” tanya Martin tidak terima.“Lihat aku.” Martin kemudian melipat lengan kaosnya, kemudian mengangkat kedua lengannya.“Lihat ini!” menunjukkan ototnya.Aldi berwow ria, kemudian menyentuh gumpalan otot di lengan Martin.“Sungguhan ternyata.”Martin mengangguk dengan bangga lalu menurunkan tangannya. “Aku menghabiskan waktuku lebih lama di ruang gy
Hari ini adalah pembahasan pertama mengenai rencana renovasi sebuah gedung apartemen yang sudah tua.Bela tidak menyangka, seorang Jason yang merupakan pewaris perusahaan tamban dan katanya begitu sibuk, bisa berada di sini.Anehnya lagi nampak begitu santai dan begitu sengaja.“Oke, kita mulai sekarang,” ujar Bela.Sepanjang presentasi, Bela merasa Jason selalu menatapnya.Sesekali menyipitkan mata dan tersenyum.Dan berpuluh-puluh menit berakhir.Bela menyudahi diskusi dengan tenang karena Jason langsung menyetujui idenya.“Ruanganmu bagus juga,” ucap Jason ketika masuk ke dalam ruangan Bela.Bela mengambil duduk di atas sofa lalu menselonjorkan kakinya di atas meja kecil di depan.“Kau tidak sibuk?” tanya Bela begitu lelah.“Sebentar lagi aku harus kembali ke kantor,” balas Jason.Bela menoleh ke samping, di mana Jason sedang duduk. “Kau sengaja meminta bos agar aku langsung yang menangani proyek ini?”“Iya,” balas Jason dengan jujur.“Kenapa?” tanya Bela menyipitkan mata.“Karena
Serena tertawa melihat respon para ibu-ibu yang sekarang membuang muka.“Sudah biasa bu-ibu. Biasanya lebih parah,” ucap Serena kemudian berlari mendekati Martin.“Oh besar juga!” Mengambil boneka yang di dapat oleh Martin.“Mbak, Mas Martin dapat bonekanya setelah menghabiskan seratus ribu membeli peluru!” adu Sari pada Serena.Serena mengerjap pelan. “Sebanyak itu kau gunakan untuk bermain, Martin?”“Aku hanya ingin menang dan mendapatkan boneka lucu ini!” mengusap pipi boneka yang saat ini berada di pelukan Serena.“Yasudahlah,” ucap Serena menggeleng pelan sembari menatap Sari.“Dia juga sama saja!” Sari menunjuk Aldi yang berada di sampingnya.Sari mengangkat bonekanya dengan lesu. “Seratus ribu.”“Seratus ribu.” Serena mengangguk dengan pasrah.“Martin, Serena. kami pergi dulu ya. Kereta kami berangkat sebentar lagi.”Akhirnya tiga teman baru Martin itu pergi karena harus pulang.Sedangkan Serena dan Martin masih berada di pasar karena ingin membeli pakaian dulu.“Oh lumayan,” u
Di bagian pasar tengah ada deretan penjual yang menjual berbagai jajanan sampai makanan berat.Serena dan Martin memilih untuk menikmati jajanan.Lalu ketiga teman Martin juga terlihat sangat menikmati makanan.“Hadap sini!” bu Kartini mengarahkan kamera ponselnya untuk memotret Serena.Serena dan Martin menghadap kamera bu Kartini. Kemudian berpose tersenyum dan saling memeluk.“Cekrek!” suaranya sangat keras.“Bagus! Kalian terlihat cantik dan tampan meski di kamera majapahitku,” ucap bu Dewi.“Ganti pose.”Serena semakin memeluk lengan Martin. lalu Martin menunduk dan mencium puncak kepala Serena.“Bagus!” sahut bu Dewi sembari memandang ponsel bu Kartini.“Kenapa kabutnya banyak sekali?” bu Maya mendekat dengan menyipitkan matanya.“Biar saja. Aku akan memerkannya di status bahwa aku punya anak baru!” balas bu Kartini.Serena menggeleng pelan melihat pertengkaran mereka. Lalu beralih menyuapi Martin dengan tahu goreng yang tadi mereka beli.Martin mengunyahnya perlahan karena pana
Bangunan yang cukup luas.Di dalamnya ada banyak penjual yang menjual berbagai aneka ragam kebutuhan.Martin tidak melepaskan genggaman tangannya pada Serena.Mereka masih ke dalam dengan senang, apalagi Serena yang tidak berhenti tersenyum.Namun baru satu langkah masuk, Martin menatap tiga ibu-ibu yang sedang menawar pakaian.“Serena, mereka temanku,” lirih Martin.Serena mengikuti arah pandang Martin, ada tiga ibu-ibu yang sibuk berbicara dengan penjual pakaian.Serena mengernyit pelan. “Bagaimana kau bisa mengenal mereka?”“Kami bertemu di kereta dan mereka membantuku selama perjalanan,” jelas Martin.Sedangkan salah satu ibu-ibu di sana menyadari. “Itu pak si-i-o kita!” menunjuk Martin yang bersama Serena.Martin mengangkat tangannya dan tersenyum canggung. “Halo,” ucapnya.Serena memandang Martin lalu memandang ibu-ibu yang di sana.Lalu tertawa pelan. “Aneh sekali.”“Sudah ya, pokoknya 3 ini seratus ribu! Kalau tidak boleh kami pergi!” ibu Dewi yang kekeh menawar.“Baiklah-baik
Kedua tangan Martin bergetar tidak karuan.Ponselnya mati karena kehabisan daya.Babak penentuan atas harga dirinya dan Serena, tentang pernikahan mereka yang sah harus ditunjukkan kepada mereka yang menuduh ‘kumpul kebo.’Berkat bantuan Sari yang membawakan powerbank akhirnya Martin bisa menghidupkan ponselnya kembali.Serena memeluk erat lengan Martin sembari menunggu layar ponsel menyala.“Sepuluh, sembilan,” ucap bapak botak yang menghitung detik dua jam yang terkahir.Serena menoleh dengan tajam. ‘Dasar tua bangka! Aku tidak akan melupakanmu!’ jerit hati Serena.Martin membuka layar percakapannya dengan Jason dan membuka foto yang baru saja dikirim.“Ini!”Martin menyodorkan ponselnya pada ketua RT.Ketua RT melihat dan membaca dengan serius. Lalu memandingkan foto Serena dan Martin dengan aslinya.“Benar, mereka sudah menikah,” ucap final Pak RT.Serena dan Martin saling memandang, kemudian berteriak kesenangan.“Aaa!” Serena melompat kecil sembari memeluk Martin dengan begitu b
“Kau sudah sampai daritadi?” tanya Serena terkejut, karena kata Martin kemungkinan satu jam lagi sampai menjemputnya.Tetapi sekarang Martin sudah berada di hadapannya.“Baru,” balas Martin kemudian membukakan pintu mobil untuk Serena.“Tunggu!” Serena berlari ke dalam, lalu merapikan penampilannya
Kemarahan Bela adalah bentuk kasih sayangnya pada Serena. Bagi Bela, Serena adalah sahabat sekaligus saudara perempuannya. Karena mereka berdua telah melalui banyak hal bersama. Bela hanya kecewa pada Serena kenapa tidak memberitahunya tentang hal sebesar itu. Dan apa yang membuat Serena harus men
Martin terdiam memandang ayah Serena yang tertidur karena efek obat. Kedua tangannya berada di atas paha dan jika saja ayah Serena dalam keadaan sehat, ia bisa berbicara lebih banyak.Tetapi kata Serena, ayahnya mengidap dimensia yang parah. Maka Martin tidak mau mengatakan hal yang tidak berguna d
Serena berpikir, ia mengernyit karena otaknya sedang berpikir dengan keras jawabannya. Martin memang suka sekali memberi pertanyaan, tetapi Serena melupakan clue yang berasal dari wajah Martin. Serena menoleh dan memandang Martin yang saat ini sedang tersenyum. “Kau berpikir aneh kan?” mendorong M







