Compartir

Tuan Martin, Berhenti Menggodaku
Tuan Martin, Berhenti Menggodaku
Autor: Iamyourhappy

Chapter 1

Autor: Iamyourhappy
last update Fecha de publicación: 2026-02-09 16:58:37

Ah... Martin... Jangan…” Suara Serena terdengar memohon, tercekat di tenggorokan saat tubuhnya ditekan ke kasur. Jemarinya mencengkeram seprai, berusaha mencari pegangan di tengah sensasi nikmat yang mendera.

"Lepaskan aku..."

Namun, tubuh di atasnya tidak bergerak. Sebaliknya, pria itu justru menekan lebih dekat, membuat panas tubuh mereka semakin terasa membara.

Dengan tangan kiri menahan dua pergelangan Serena. Tangan kanan pria tersebut bergerilya, menelusuri setiap lekuk tubuh Serena sembari sesekali meremas pelan.

Sampai akhirnya, jari pria itu menerobos masuk satu tempat terlarang.

“Hnng!”

Desahan tertahan itu lolos begitu saja bersamaan dengan tubuh Serena yang menegang. 

Berkali-kali pria itu menyerang, sampai akhirnya tubuh Serena mengejang, lalu berujung melemas dalam pelukan.

Di saat itu, tawa rendah penuh kemenangan terdengar, diiringi dengan bisikan dalam yang menggoda. 

“Mulutmu terus menolak, tapi… tubuhmu berkata sebaliknya, Serena….”

Terbaring tak berdaya di ranjang, Serena hanya bisa membatin.

Beberapa waktu lalu, dia hanya sedang menghadiri reuni SMA-nya. Berdiri di antara orang-orang yang dulu mengenalnya, mencoba terlihat baik-baik saja.

Jadi, kenapa sekarang dia justru berada di sini? Mendesah dan mengejang akibat terbuai kenikmatan yang diberikan musuh terbesarnya?!

*Beberapa saat yang lalu *

“Martin Raxter Benson digadang-gadang akan segera mewarisi The Benson Industry Group…”

Serena membaca artikel itu di ponselnya sambil bertopang dagu. Foto pria tampan itu memenuhi layar. Jas rapi, senyum tipis, hidup yang terlihat mulus tanpa celah.

Dia mendengus pelan.

“Hah… orang lain tinggal mewarisi perusahaan. Aku malah mewarisi utang.”

Jam baru menunjukkan pukul sepuluh pagi, tapi kantornya sudah terasa pengap. Kipas angin tua berputar berisik di atas kepala, mengaduk udara panas tanpa benar-benar mendinginkan apa pun.

Ruangan ini terlalu kecil untuk disebut kantor hukum. Dari luar malah lebih mirip warung ayam goreng. Hanya ada satu meja kerja, satu kursi, dan sofa sempit untuk klien. Dan klien pun jarang datang.

Serena baru saja hampir tertidur ketika—

Tok tok.

Matanya langsung terbuka. Jantungnya ikut berdebar.

Klien?

Dia buru-buru berdiri, merapikan rambut, memasang senyum paling profesional.

Membuka pintu, Serena menyapa, “Selamat datang di—”

Kalimatnya terhenti.

Senyumnya langsung hilang.

Pak Budi.

Pria bertubuh buncit dengan map cokelat di tangan.

Penagih utang.

“Pagi, Bu Pengacara,” sapanya santai, sudah melangkah masuk tanpa izin.

“Pagi, Pak,” jawab Serena pelan dengan senyum terpaksa. “Ada yang bisa… dibantu?”

Pak Budi tersenyum, lalu melengos masuk melewati Serena. Pria itu duduk di sofa dengan santai dan seakan berkuasa, lalu melemparkan sebuah map ke atas meja.

“Rekap terbaru utang keluarga Ibu.”

Serena menarik napas panjang. Sudah dia duga pria itu datang untuk membahas utang lagi.

Tanpa banyak bicara, Serena meraih map, lalu membaca isinya. Dan saat melihat angka yang tertera, alisnya langsung berkerut.

“Lima ratus lima puluh juta?! Awalnya lima ratus kan, Pak? Saya sudah nyicil lima tahun, kenapa malah bertambah?!”

“Bunga, denda, administrasi. Semua jalan,” jawab Pak Budi enteng. “Walau Ibu bayar tiap bulan, tapi jumlahnya nggak nutup Bunga, Bu.”

Serena terdiam.

Tangannya masih memegang kertas itu, tapi pikirannya kosong. Rasanya percuma. Selama ini dia merasa sudah berusaha keras, ternyata utangnya bahkan tidak bergerak turun!

Melihat itu, Pak Budi tersenyum. “Yah, kalau Ibu mau utangnya lunas dan bukannya nambah terus, mulai minggu depan Ibu harus bayar minimal tiga puluh juta,” lanjutnya. “Kalau seperti itu, harusnya setelah satu-dua tahun, pasti lunas lah utangnya.”

Mendengar kalimat tersebut, Serena langsung mengangkat kepala dengan mata mendelik. “Tiga puluh?!”

“Biar kelihatan niat.”

“Pak, itu besar banget. Dari mana saya dapat uang segitu?!”

Pak Budi mengangkat bahu. “Ya, cari. Pinjam. Minta keluarga. Kan Ibu yang pengacara, lebih pintar dari saya yang bahkan nggak lulus SMA.”

Serena hampir tertawa.

Keluarga?

Ibunya sudah meninggal bertahun-tahun lalu. Ayahnya sakit-sakitan, meninggalkan pabrik bangkrut dan semua utang atas namanya. Kerabat yang dulu sering datang saat keluarganya masih berada, semuanya menghilang.

Sekarang, Serena hanya ada dirinya sendiri!

Selagi pikiran Serena berkecamuk, Pak Budi berdiri dari sofa dan melangkah ke pintu. “Kalau pembayaran Ibu telat, yang datang setelah ini bukan saya, tapi anak-anak tim saya. Dan asal Ibu tahu, mereka nggak sesabar saya. Mereka bisa duduk depan ruko, teriak-teriak, bilang Ibu pengacara penipu. Nanti klien Ibu kabur semua, dan Ibu terpaksa harus bayar dengan… cara lain.” Senyuman mesum terlukis di bibirnya.

Serena langsung menegang, tapi ekspresinya keras. “Saya akan bayar, jadi hal itu nggak akan terjadi.”

Mendengarnya, Pak Budi hanya mengangkat bahu dengan wajah meremehkan. “Ya, oke. Saya tunggu.”

Setelah pria itu pergi dan pintu kembali tertutup, tubuh Serena lemas dan dia langsung jatuh terduduk ke sofa. Matanya menatap angka di kertas itu lama.

Tiga puluh juta. Dari mana dia dapat uang sebanyak itu dalam waktu satu minggu?! Satu klien saja belum tentu dapat tiga juta!

Menyisir rambutnya dengan frustrasi, Serena bergumam, “Hidup seperti ini… apa gunanya?”

Tepat di saat itu, ponsel Serena bergetar. Dia menoleh ke arah layar dan melihat sebuah nama.

Bela. Sahabat baiknya.

Melihat hal tersebut, Serena menarik napas panjang, lalu menepuk kedua pipinya.

‘Serena, kau harus kuat!’

Lalu, dia mengangkat telepon dan tersenyum lebar. “Halo, sahabat kesayanganku!”

Suara Bela langsung terdengar jijik di sisi telepon yang lain. “Kenapa suaramu manis banget? Ngeri dengernya!”

Serena tersenyum tipis. “Pinjami aku uang.”

“Waw, Serena. Langsung to the point banget.”

Helaan napas lelah terlontar dari mulut Serena. “Bisa nggak?”

“Bisa… sepuluh juta cukup.”

Serena mengerjapkan mata. Dia tahu Bela akan membantu, tapi tidak menyangka sebesar itu. Baik sekali sahabatnya ini!

“Terima kas—”

Baru ingin berterima kasih, Bela tiba-tiba menyela, “Eits, tapi nggak segampang itu.”

“Hah?”

“Ada syaratnya.”

Serena menghela napas. Tentu saja.

“Apa syaratnya?” tanya Serena cepat. Dia rela melakukan apa saja demi uang ini. Kalau tidak, hidupnya akan hancur! Hanya membantu Bela, apa sulitnya, ‘kan?

“Temenin aku ke reuni sekolah!”

Mendengar itu, Serena menyesal sudah yakin lebih dulu. Dia mulai menggigit jari.

Reuni adalah salah satu acara yang paling tidak dia sukai. Menurut Serena, itu adalah acara pamer pencapaian hidup dan berusaha mencari kegunaan teman lama.

Melihat pencapaian teman-temannya jujur membuat Serena senang, tapi ketika tiba saatnya dia menceritakan pencapaiannya, apa yang bisa dia ceritakan? Utang yang semakin bertambah setiap detiknya?

Yang benar saja!

Sadar Serena ragu, Bela langsung merengek. “Serena! Ayo dong. Sekali ini aja! Cuma temenin aku ke reuni dan kau langsung dapat sepuluh juta, apa susahnya sih???”

Mendengar omongan Bela, Serena pun menatap ke arah kertas tagihan di meja. Tiga puluh juta tercetak jelas di sana, dan peringatan Pak Budi terngiang jelas dalam kepala.

Akhirnya, setelah berpikir matang, Serena pun berkata, “Oke… tapi kirim uangnya secepatnya. Aku perlu.”

“YES!” seru Bela di sisi telepon yang lain. “Aku menjemputmu nanti. Aku akan mendandani kamu. Dijamin cantik!”

Serena hanya tersenyum lelah. Dan saat ponsel dimatikan, artikel berita yang tadi dia baca terlihat. Lalu, senyuman Serena sepenuhnya menghilang, digantikan kerutan dalam di kening.

Datang ke reuni rasanya seperti menggali kuburan sendiri.

Apalagi kalau satu orang itu datang dan bertemu dengannya.

Musuh bebuyutannya.

Memikirkan itu saja sudah cukup membuat perutnya tidak nyaman.

Malas memikirkan hal yang belum tentu terjadi, Serena mematikan ponselnya lalu memasukkannya ke kantong celana.

“Tidak mungkin,” gumamnya pada diri sendiri. “Orang sesibuknya mana mungkin datang ke acara reuni tidak penting seperti ini.”

Serena mencoba meyakinkan diri.

Tapi… tentu saja hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana.

Karena ketika Serena tiba di restoran hotel bersama Bela, matanya langsung bertemu dengan sepasang mata tajam dan dalam, yang dari dulu membuat pria itu disebut murid tertampan di satu sekolah.

Dan sekarang, berdiri lebih tinggi dari orang-orang di sekitarnya, dengan postur lurus, bahu lebar, dan jas gelap rapi, pria tersebut tampak lebih tenang dan berwibawa dari terakhir Serena mengingatnya.

Saat melihat sosok Serena, wajah pria itu, yang sejak tadi terlihat dingin dan formal saat berbicara dengan beberapa alumni lain, langsung berubah cerah.

Sudut bibirnya terangkat.

Bukan senyum sopan.

Tapi senyum mengenali.

“Serena Jane,” sapanya santai, suaranya dalam dan familiar. “Lama tidak bertemu.”

Serena menggertakkan gigi, tangannya mengepal.

Kenapa…? Kenapa musuh bebuyutannya, sang pewaris The Benson Industry Group, Martin Raxter Benson, datang ke acara reuni ini?!

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 260

    Bela cepat-cepat mengalihkan kamera pada dirinya sendiri. “Cukup, jangan mengurusi orang lain. Kau harus fokus pada pemulihanmu! Aku akan segera menjengukmu dan memberitahu mereka!”Lalu panggilan mati.Bela menghela napas lega karena sahabatnya baik-baik saja. Karena ia memiliki firasat buruk sejak Martin menjawab pertanyaannya dengan jeda yang cukup lama.Mengenai Isaac dan Ava yang memojok berdua? Entah terserah mereka.“Sayang,” panggil Jason menarik pinggangnya.“Iya suamiku.” Bela tersenyum.Jason mengalihkan pandangannya karena tersipu dengan panggilan itu.Bela menoel pipi Jason berkali-kali karena lucu.“Awas kamu nanti. Berhenti menggodaku.” Jason meremas pelan pinggang Bela.Di sisi lain, yang katanya memojok berdua ternyata sedang membicarakan sesuatu. Isaac memandang Ava yang menggunakan dress berwarna maroon.“Kau cantik,” ucapnya.“Terima kasih.” Ava menunduk sebentar.“Tapi, apa kau memang sesibuk itu sampai tidak bisa makan denganku?” tanya Isaac.Ava menahan senyumny

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 259

    Alat medis kembali berbunyi dan bunyinya lebih kencang. “Mohon maaf, anda pergi dulu.” Martin digiring keluar sedangkan Serena masih berada di dalam ruangan untuk ditangani. Orang tuanya pun sudah berupaya untuk menenangkan tapi Martin tidak akan bisa tenang dalam keadaan istrinya masih berjuang di dalam sana. Menunggu dalam keadaan yang begitu cemas namun akhirnya dokter keluar beserta perawa yang lain. “Bu Serena sudah membaik, tadi keadaannya sempat drop karena pendarahan yang cukup hebat. Tapi sekarang sudah membaik dan akan kami pindahkan ke ruang biasa.” Martin menghembuskan napas lega dan akhirnya Serena dipindahkan ke ruang inap biasa. “Serena, sayang.” Martin mengambil tangan Serena, menatap istrinya yang membuka mata setelah sekian lama. “I love you,” ucap Martin mengecup dahi Serena beberapa kali. “Terima kasih sudah bertahan.” Serena tersenyum, kemudian menatap langit-langit kamar yang berwarna putih ini. “Aku tadi seperti bertemu dengan mama.” Martin mengangguk se

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 258

    Berjuang melahirkan putra mereka di dalam ruangan.Jeritan Serena terdengar menyakitkan bagi Martin.Ia mendampingi istrinya yang tengah berjuang membawa putra mereka keluar untuk melihat dunia.Martin menangis, mengecup punggung tangan yang ia genggam berkali-kali.Sampai akhirnya terdengar bunyi tangisan bayi. Martin menunduk dan mengecup pipi istrinya. “Kamu berhasil.”Serena mengangguk dan tersenyum. “Sayang, aku ngantuk.”“Jangan.” Martin mengusap pipi Serena. “Lihat aku. Jangan tidur ya,” lanjutnya.Serena tidak tahu kenapa rasanya begitu mengantuk, ia hampir tertidur jika bukan Martin yang berusaha agar membuatnya tetap terjaga.Martin yang berbicara, meski pria itu tidak terlalu bisa berbicara panjang dan lebar.“Pak ini bayinya,” ucap dokter membawa bayi mereka mendekat.Akhirnya Martin menggendong anaknya, putranya yang paling ia tunggu. “Sayang,” lirihnya.“Kamu dan Mommy berhasil,” ucapnya dengan lembut. Kemudian menyentuh tangan mungil anaknya.“Mathias Brady Benson,” uca

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 257

    1 bulan berlalu.“Sayang kamu yakin datang ke pernikahan Bela dan Jason?” tanya Martin memeluk istrinya dari belakang.Serena menatap pantulan dirinya yang siap menggunakan dress berwarna hitam yang tertutup. Dengan perut yang sudah besar.“Yakin, kita sebentar saja. Aku takut kelelahan,” jawab Serena.Martin memandang istrinya tidak yakin. “Aku punya firasat yang..”“Bagus,” lanjut Serena. kemudian berbalik dan menatap suaminya.Tangannya bergerak merapikan dasi Martin yang sedikit miring. “Aku harus datang ke pernikahan sahabatku.”Serena mendengus pelan. “Aku tidak habis pikir dengan mereka, satu bulan? Persiapan mereka terasa terburu-buru. Mereka seperti ‘kebelet kawin’.”Seketika tawa Martin pecah karena mendengar kalimat istrinya. “Pasti mereka seperti itu.”“Aku yakin Jason yang paling parah,” lanjutnya.Serena tertawa, kemudian mengambil tangan Martin, kemudian memeluknya. “Ayo hadiri pernikahan merkea yang kebelet itu.”“Jika Jason mendengarnya dia pasti akan marah-marah.” Ma

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 256

    “Jangan main-main. Bagaimana mungkin menikah besok. Kita belum persiapan!” Bela memukul Jason pelan.Jason terkekeh pelan. “Baiklah-baiklah.” Kemudian menarik Bela kembali ke dapan pelukannya.Bela tersenyum, kemudian menyandarkan kepalanya di dada Jason. “Jujur padaku, apa kamu pernah bermain dengan perempuan lain selama bersamaku?”“No, tentu saja tidak.” Balas Jason langsung.“Sungguh?” tanya Bela melepaskan pelukannya, kemudian menatap kekasihnya lebih dalam. “Sekalipun tidak?”Jason langsung menggeleng keras. “Tidak.”“Chat?”“Tidak!”Bela tersenyum dengan bahagia. Kemudian mengangguk dengan puas. “Tapi tunggu,” ucapnya.“Kalau begitu kamu tidak pernah melakukannya ‘kan?” tanya Bela memastikan.Jason menyipitkan mata kemudian menggeleng. “Dengan tanganku sendiri.”“Shit, bagus!” Bela memberikan jempolnya kemudian tertawa. “Kerja bagus, Jason.” Lalu menepuk bahu Jason dengan bangga.Jason mendekat, kemudian menarik pinggang Bela. “Ayo menikah besok saja, supaya kamu bisa membantuk

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 255

    “Huh-huh!” Bela mengeratkan genggaman tangannya pada Jason.Mengambil napas berulang kali karena dirinya benar-benar gugup setengah mati.“Aku di sini, aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu,” ucap Jason mengecup punggung tangan Bela.Bela mendekat dan mengecup pipi Jason. “Aku hanya sedikit gugup karena takut, ah bukan takut. Maksudku adalah aku tahu mereka pasti tidak akan menyukaiku, tapi aku—”“Hei-hei.” Jason menangkup wajah Bela. “Tidak masalah, meski mereka tidak merestui hubungan kita. Kita akan tetap bersama, tidak peduli dengan restu atau penilaian mereka.”Bela menatap kekasihnya. Kemudian ia berusaha menyerahkan semuanya pada Jason.Hari ini ayah Jason mengundang Bela makan malam.Bela tahu orang tua Jason terobsesi menikahkan Jason dengan perempuan yang memiliki kriteria tertentu.Dan jika dibandingkan dirinya, dirinya bukan apa-apa karena orang tuanya tidak memiliki apapun sekarang.Dirinya hanya pegawai kantoran.“Tenang, oke?” Jason menunduk dan mencium bibir Bel

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 120

    “Kau sudah sampai daritadi?” tanya Serena terkejut, karena kata Martin kemungkinan satu jam lagi sampai menjemputnya.Tetapi sekarang Martin sudah berada di hadapannya.“Baru,” balas Martin kemudian membukakan pintu mobil untuk Serena.“Tunggu!” Serena berlari ke dalam, lalu merapikan penampilannya

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 111

    Kemarahan Bela adalah bentuk kasih sayangnya pada Serena. Bagi Bela, Serena adalah sahabat sekaligus saudara perempuannya. Karena mereka berdua telah melalui banyak hal bersama. Bela hanya kecewa pada Serena kenapa tidak memberitahunya tentang hal sebesar itu. Dan apa yang membuat Serena harus men

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 106

    Martin terdiam memandang ayah Serena yang tertidur karena efek obat. Kedua tangannya berada di atas paha dan jika saja ayah Serena dalam keadaan sehat, ia bisa berbicara lebih banyak.Tetapi kata Serena, ayahnya mengidap dimensia yang parah. Maka Martin tidak mau mengatakan hal yang tidak berguna d

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 104

    Serena berpikir, ia mengernyit karena otaknya sedang berpikir dengan keras jawabannya. Martin memang suka sekali memberi pertanyaan, tetapi Serena melupakan clue yang berasal dari wajah Martin. Serena menoleh dan memandang Martin yang saat ini sedang tersenyum. “Kau berpikir aneh kan?” mendorong M

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status