Share

Chapter 2

Author: Iamyourhappy
last update publish date: 2026-02-09 16:59:10

“Aku tidak menyangka orang sesibuk dirimu akan datang ke acara seperti ini.”

Suara itu terdengar pelan di samping telinga Serena. Wanita itu pun menghela napas berat dan melihat sosok martin yang duduk di kursi sebelahnya.

Ucapan itu membuat rahangnya mengeras. Sarkastis. Padahal jelas pria di sebelahnya jauh lebih sibuk dari siapa pun di ruangan ini.

Saat ini, mereka berada di ruang VIP sebuah restoran hotel. Bukan aula besar, hanya ruangan privat dengan satu meja panjang dan sekitar dua puluh orang. Lampunya hangat, musik pelan, suasananya lebih mirip makan malam santai daripada reuni besar-besaran.

Dan dari sekian banyak kursi kosong…

Serena justru didorong Bela untuk duduk tepat di sebelah Martin.

Dasar teman baik sialan.

“Kalau aku sibuk,” balas Serena tenang, “Kau seharusnya lebih tidak punya waktu lagi, ‘kan?”

Martin menyandarkan punggungnya. “Aku menyempatkan diri.”

“Rajin sekali.”

“Beberapa hal memang layak disempatkan.”

Nada suaranya datar, tapi entah kenapa kalimat itu terdengar seperti mengandung maksud lain.

Serena pura-pura tidak peduli. Dia mengambil gelas minumannya, berusaha fokus pada meja, bukan pada pria di sampingnya yang kehadirannya terasa terlalu mencolok.

Jas gelapnya rapi. Kancing manset berkilau samar. Rambut tertata bersih. Bahkan duduk santai pun dia terlihat seperti sedang rapat penting.

Terlalu kontras dengan dirinya yang hanya mengenakan dress pinjaman Bela.

Belum sempat suasana tenang, seseorang menyela.

“Martin, lama banget nggak ketemu!”

Seorang wanita duduk di seberang mereka. Serena mengenal wajah itu. Livia. Dulu populer, cantik, dan terang-terangan menyukai Martin sejak SMA.

“Kau sekarang di kantor pusat Benson, ya? Pasti sibuk banget.”

Martin menoleh sekilas.

“Iya.”

Hanya itu.

Tidak ada senyum. Tidak ada basa-basi.

Livia terkekeh canggung, mencoba lagi. “Sering ke luar negeri juga, kan?”

“Kadang.”

Selesai.

Lalu Martin memalingkan tubuhnya kembali ke Serena, seolah percakapan tadi tidak pernah ada.

“Kantor hukummu masih di tempat lama?” tanyanya.

Serena berkedip. “Bagaimana kau tahu? Kau memata-mataiku?”

Martin mengangkat kedua tangannya. Lalu menunjuk Bela dan Max bergantian. “Mereka sering membicarakanmu.”

Serena mengerti. Meski tidak ada, tetap saja menjadi topik panas teman-temannya. “Masih,” jawabnya singkat.

“Klienmu banyak?”

“Cukup.”

Martin menatapnya beberapa detik, seolah tahu itu jawaban aman. Sudut bibirnya terangkat tipis, tapi dia tidak membongkarnya.

Livia terdiam. Jelas ingin berbicara lagi, tapi Martin sama sekali tidak memberinya ruang. Setiap dia mencoba menyela, Martin sudah lebih dulu mengajak Serena bicara.

Seolah hanya Serena yang penting.

Perhatian itu membuat Serena tidak nyaman.

“Apa tidak sebaiknya kau bicara dengan Livia saja?” ucapnya akhirnya, nada suaranya halus tapi jelas. “Dari tadi dia ingin mengobrol denganmu.”

Isyarat halus itu jelas, agar Martin berhenti mengganggunya, tapi—

Martin menatapnya lurus, lalu tersenyum tipis selagi menopang sisi wajahnya dengan tangan. “Aku lebih ingin berbicara denganmu.”

Serena terdiam sepersekian detik. Entah apa ini perasaannya saja atau… pria ini sedang menggodanya?!

Di seberang, senyum Livia memudar. Tatapannya dilemparkan tajam kepada Serena, tampak jelas tidak senang.

Hal itu membuat Serena justru makin jengkel. Pria ini seakan tahu dirinya tidak suka jadi pusat perhatian, dan sengaja membuat Livia kesal padanya!

“Martin, kamu—”

Tiba-tiba suara keras memecah suasana.

“Eh! Lihat nih!”

Max, mantan ketua kelas, berdiri sambil menunjuk mereka berdua.

“Ranking satu sama ranking dua duduk sebelahan lagi! Nostalgia banget!”

Beberapa orang langsung tertawa, menceritakan bagaimana Serena dan Martin dahulu di sekolah. Ada yang mengungkit bagaimana keduanya selalu berebut nilai tertinggi sampai guru pun hafal nama mereka, ada juga yang berkata setiap presentasi kelas pasti berubah jadi ajang debat diam-diam di antara mereka. Intinya, keduanya seperti dua saingan abadi yang tidak pernah akur, tapi juga tidak pernah bisa dipisahkan.

Serena memijit pelipisnya, merasa semua itu kenangan memalukan.

Dan di saat ini, tiba-tiba teman baiknya, Bela, malah menambahkan pernyataan gila, “Tapi kalau dilihat sekarang… kalian sekarang cocok nggak sih?”

Serena melotot, lalu menoleh ke arah Bela. Tampak temannya itu tersenyum jahil.

Bela sialan!

Tapi belum sempat Serena mengatakan apa pun, semua orang langsung ribut.

“Wah, benar tuh!”

“Iya juga! Aura-nya pas banget! Satu cantik dan serius, yang satu ganteng dan berwibawa!”

Max, yang duduk di sebelah Bela, menyeringai. “Kenapa nggak pacaran aja? Kalian berdua sama-sama jomblo, kan?”

Sorakan langsung memenuhi ruangan.

Serena melotot. Bela dan Max jelas bekerja sama untuk hal ini!

Tapi, untuk menjaga imagenya, Serena pun meletakkan gelas dan berkata, “Jangan bicara yang aneh-aneh. Kami tidak cocok!”

“BOOOO!” Semua orang berseru, merasa Serena tidak seru.

Max tertawa, lalu menoleh ke Martin. “Gimana, Bro? Nggak tertarik sama Serena?”

Sebelum Martin menjawab, Livia buru-buru menyela.

“Sepertinya kurang cocok,” katanya manis. “Serena kan tipe yang fokus kerja. Pasti nggak sempat mikirin hubungan. Lagipula… kariernya lagi dibangun, kan?”

Kalimatnya halus, tapi jelas meremehkan.

Serena tersenyum tipis.

Anehnya, dia tidak sepenuhnya tersinggung. Karena memang benar, mana mungkin dirinya dan Martin bersama.

Martin sekarang pewaris The Benson Industry Group. Hidupnya rapih, mapan, terjamin.

Sedangkan dirinya? Pengacara kecil dengan kantor di gang sempit dan utang yang belum tentu lunas sampai tua.

Dunia mereka sudah berbeda jauh.

Sejak dulu pun pria itu hanya senang menjahilinya.

Mana mungkin mereka bisa menjalin hubungan dan—

“Aku tidak keberatan.”

Serena mematung. Dia menoleh ke samping, menatap Martin yang baru saja bicara.

“Apa?”

Semua orang, seperti Serena, terkejut.

Martin, dengan perangainya yang tetap santai, balik menatap Serena dengan senyum tipis penuh makna. “Kalau Serena tidak keberatan… ayo kita pacaran.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 278

    Anniversary yang diinginkan Serena adalah makan dengan teman terdekat. Dan hari ini Martin mewujudkannya, memberikan nuansa hangat sebagai perayaan ulang tahun pernikahan mereka. Halaman taman belakang disulap dengan begitu cantik. Meja panjang dilapisi oleh taplak berwarna putih. Lalu sisi kanan dan kirinya terdapat kursi yang digunakan untuk duduk pada tamu. “Cheers untuk Serena dan Martin!” teriak Bela mengangkat gelas yang berisi anggur. Semua orang tertawa dan akhirnya mengangkat gelasnya. Lalu disusul oleh bunyi gelas yang berdenting. Bela menoleh ketika suaminya mengusap pinggangnya pelan. “Kamu bersemangat karena ingin minum bukan?” “Tentu saja.” Bela mengangguk. “Meski Serena bilang hanya makan-makan, tapi sesungguhnya ini pesta.” Menatap sahabatnya sebentar. Sedangkan Serena hanya menggeleng pelan. “Kamu yang menjaga anak-anak,” ucap Bela. “Jangan minum alkohol setetes pun.” Jason meneguk ludahnya mendengar larangan dari istrinya. Tapi ia mengangguk setuju. Bagaimana

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 277

    “Isaac,” lirih Ava menatap seorang pria yang berada di hadapannya sedang mengulurkan tangan.Isaac tersenyum tipis dengan tangan yang masih terulur ingin membantu Ava.Tidak sengaja lewat dan melihat seseorang yang menjadi pusat perhatian. Dan anehnya meski tidak pernah bertemu, ia masih mengingat dengan jelas bagaimana wajah perempuan yang membuatnya berantakan 5 tahun yang lalu.Isaac menunduk. “Ayo aku bantu.”Ava mengusap pipinya kemudian menerima uluran tangan Isaac. “Aku bisa pulang sendiri.”“Terima kasih.” Ava baru saja ingin berjalan, tapi langkahnya hampir tersandung lagi.Untungnya ada Isaac yang menangkapnya dengan cepat. Isaac merengkuh pinggang Ava untuk membantu. “Hati-hati.”“Aku akan mengantarmu.” Isaac akhirnya membantu Ava untuk masuk ke dalam mobil.Dan ketika berada di dalam mobil, kecanggungan pun terjadi.Ava membuang wajah ke samping, lalu kedua tangannya bersindekap. Sesekali menghembuskan napas kasar.Isaac menoleh ke samping, kemudian menghela napas pelan. “

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 276

    Seorang perempuan tengah mengusap rambutnya kasar keluar dari sebuah rumah besar.Berjalan sendiri dan terburu-buru, namun ada satu pria yang mengejarnya.“Ava tunggu!” Arjuna berlari lalu menangkap tangan Ava. “Tunggu, sebentar.”Ava melepaskan tangan Arjuna. “Aku sudah berusaha membuat orang tuamu senang, tapi mereka tetap tidak merestui kita. Aku tahu aku bukan dari keluarga baik-baik seperti yang orang tuamu inginkan, tapi mereka tidak berhak menghina ibuku yang sedang berjuang di rumah sakit.”“Maafkan aku. Kita nikah lari saja oke?” Arjuna menyentuh kedua bahu kekasihnya.Satu tahun mereka menjalin hubungan asmara. Tetapi, selama setahun itu pula hubungan mereka ditentang oleh keluarga Arjuna.Ava tahu backround keluarganya yang membuat orang tua Arjuna enggan memberi restu.Tapi, ia berusaha memenangkan hati orang tua Arjuna dengan membelikan beberapa barang untuk ibu Arjuna setiap kali dirinya gajian, membawa banyak makanan setiap kali datang ke rumah orang tua Arjuna dan diri

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 275

    Dua anak yang sedang kejar-kejaran itu membuat kedua orang tuanya pusing.Anak kembar yang sedang berlarian itu sedang berebut mainan, tidak ada yang mau mengalah meski mereka saudara. Dan meski masing-masing mereka sudah mendapatkan mainan yang sama.Bela berkacak pinggang. “Berhenti!” ucapnya seperti seorang komando barisan di upara bendera.Dua anak itu akhirnya berhenti, lalu berbaris seperti layaknya barisan.“Jangan bertengkar, mainan kalian sama,” ucap Bela begitu lelah. Kemudian berkacak pinggang dan mengambil sapu panjang yang berada di sampingnya.“Mau ini?” tanyanya.“Tidak,” balas mereka serempak.Tapi itu hanya terjdi beberapa menit setelahnya, mereka sempat kembali bermain dengan tertib tapi setelah itu kembali bertengkar lagi.Bela menggigit bibir bawahnya, kemudian ikut berlari mengejar anaknya sembari membawa sapu panjang.“Mana yang nakal? Sini Mama cambuk!” Bela menggila. Ikut berlarian mengejar dua anaknya yang kini ketakutan dengan sapu panjang.“AAAA MAMA!”“MAMA

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 274

    Mathias berpura-pura tidak mendengar pertanyaan orang tuanya. Ia sibuk memeluk bola dengan pipi yang sudah merah.Persis seperti Serena ketika tersipu.“Sepertinya aku tahu,” ucap Martin tersenyum sembari memandang istrinya.Lalu menatap putranya melalui spion kaca. “Anak baru ‘kan? Dia bilang kamu tampan.”Mathias mendongak dan menatap ayahnya melalui kacanya. Wajahnya tidak bisa berbohong jika ucapan ayahnya memang benar.“Ada murid baru?” tanya Serena menoleh ke belakang. “Sungguh? Seperti apa dia?”Mathias menatap Serena dengan ragu. Kemudian tersenyum. “Dia cantik,” ucapnya sangat pelan, seperti seseorang yang begitu gengsi untuk memuji lawan jenis.Serena tertawa, kemudian menatap lurus ke depan.Martin melirik istrinya lalu menyenggol lengan istrinya pelan.Mereka sama-sama terkejut karena sudah ditahap putra mereka tahu mana yang cantik.“Bertemanlah dengan dia,” ucap Serena menahan senyumnya.Mathias mengangguk pelan, kemudian melompat turun dan mendekati bangku orang tuanya.

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 273

    5 tahun berlalu.“Hai boy!” Martin menyambut putranya yang baru saja keluar dari sekolah.Mathias berlari kecil ke arah ayahnya yang menjemputnya. Dengan senyum sumringah dan tubuh yang begitu ringan, Mathias langsung melompat masuk ke dalam mobil.Martin menatap bola yang dilempar Mathias ke belakang. “Habis main bola?”“Iya,” jawab Mathias kemudian mengulurkan tangannya dan menunjukkan lima jarinya.“Tos!” Martin bertos ria dengan putranya.Ia tidak tahu kenapa Mathias begitu suka dengan sepak bola. Setiap hari selalu membawa bola sendiri ke sekolah. Lalu di bawa pulang dan keesokan harinya di bawa lagi.Saat ditanya kenapa tidak ditinggal di sekolah saja, katanya tidak mau takut bolanya hilang.Yasudah, Martin tidak masalah selagi putranya bisa sekolah dengan baik dan semangat.“Kita jemput Mommy dulu,” ucap Martin menyetir dengan pelan. tidak seperti biasanya, karena sekarang ia menyetir sendiri.“Bagaimana dengan sekolahmu tadi? Ada yang menyenangkan?” tanya Martin.Mathias duduk

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 157

    “Berhenti bermain ponsel!” Jason merebut ponsel Bela.“Aku menelepon bosmu dan mengajakmu ke sini bukan untuk berbicara dengan orang lain.” Jason mengangkat ponsel Bela tinggi-tinggi.Bela menghela napas pelan, kemudian menatap Jason, pria gila yang menelepon bosnya dan berkata akan membawanya sebe

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 156

    21++“Aku sudah bilang kita bisa melakukannya di rumah.” Serena mendongak, sementara Martin sibuk sekali menciumi lehernya.“Mau datang ke konsernya?” tanya Martin berhenti.Serena terdiam kemudian menjawab ‘Iya.’“Maka kau harus bersedia kumakan sekarang,” balas Martin.Dan Serena pasrah, sulit ju

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 155

    “Aku lapar!” Martin ingin meraih bibir Serena lagi, tetapi Serena menghindar.“Ayo pergi dari sini dulu.” Serena menyeret Martin lagi, tanpa mengindahkan keinginan Martin yang masih menciumnya.Dan akhirnya mereka sampai di parkiran. “Ayo pergi dari sini.”Serena buru-buru memasang seatbeltnya.Mar

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 154

    Bela menoleh ke belakang dan melihat Serena sudah menyeret Martin pergi.Sedangkan dirinya malah terjebak bersama Jason untuk mengalihkan perhatian Max agar tidak menangkap keberadaan Martin dan Serena.“Duduk di sana!” Bela menepuk-nepuk bahu Jason.Dan Jason pindah dengan sukarela, meski bibirnya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status