LOGIN“Aku tidak menyangka orang sesibuk dirimu akan datang ke acara seperti ini.”
Suara itu terdengar pelan di samping telinga Serena. Wanita itu pun menghela napas berat dan melihat sosok martin yang duduk di kursi sebelahnya.
Ucapan itu membuat rahangnya mengeras. Sarkastis. Padahal jelas pria di sebelahnya jauh lebih sibuk dari siapa pun di ruangan ini.
Saat ini, mereka berada di ruang VIP sebuah restoran hotel. Bukan aula besar, hanya ruangan privat dengan satu meja panjang dan sekitar dua puluh orang. Lampunya hangat, musik pelan, suasananya lebih mirip makan malam santai daripada reuni besar-besaran.
Dan dari sekian banyak kursi kosong…
Serena justru didorong Bela untuk duduk tepat di sebelah Martin.
Dasar teman baik sialan.
“Kalau aku sibuk,” balas Serena tenang, “Kau seharusnya lebih tidak punya waktu lagi, ‘kan?”
Martin menyandarkan punggungnya. “Aku menyempatkan diri.”
“Rajin sekali.”
“Beberapa hal memang layak disempatkan.”
Nada suaranya datar, tapi entah kenapa kalimat itu terdengar seperti mengandung maksud lain.
Serena pura-pura tidak peduli. Dia mengambil gelas minumannya, berusaha fokus pada meja, bukan pada pria di sampingnya yang kehadirannya terasa terlalu mencolok.
Jas gelapnya rapi. Kancing manset berkilau samar. Rambut tertata bersih. Bahkan duduk santai pun dia terlihat seperti sedang rapat penting.
Terlalu kontras dengan dirinya yang hanya mengenakan dress pinjaman Bela.
Belum sempat suasana tenang, seseorang menyela.
“Martin, lama banget nggak ketemu!”
Seorang wanita duduk di seberang mereka. Serena mengenal wajah itu. Livia. Dulu populer, cantik, dan terang-terangan menyukai Martin sejak SMA.
“Kau sekarang di kantor pusat Benson, ya? Pasti sibuk banget.”
Martin menoleh sekilas.
“Iya.”
Hanya itu.
Tidak ada senyum. Tidak ada basa-basi.
Livia terkekeh canggung, mencoba lagi. “Sering ke luar negeri juga, kan?”
“Kadang.”
Selesai.
Lalu Martin memalingkan tubuhnya kembali ke Serena, seolah percakapan tadi tidak pernah ada.
“Kantor hukummu masih di tempat lama?” tanyanya.
Serena berkedip. “Bagaimana kau tahu? Kau memata-mataiku?”
Martin mengangkat kedua tangannya. Lalu menunjuk Bela dan Max bergantian. “Mereka sering membicarakanmu.”
Serena mengerti. Meski tidak ada, tetap saja menjadi topik panas teman-temannya. “Masih,” jawabnya singkat.
“Klienmu banyak?”
“Cukup.”
Martin menatapnya beberapa detik, seolah tahu itu jawaban aman. Sudut bibirnya terangkat tipis, tapi dia tidak membongkarnya.
Livia terdiam. Jelas ingin berbicara lagi, tapi Martin sama sekali tidak memberinya ruang. Setiap dia mencoba menyela, Martin sudah lebih dulu mengajak Serena bicara.
Seolah hanya Serena yang penting.
Perhatian itu membuat Serena tidak nyaman.
“Apa tidak sebaiknya kau bicara dengan Livia saja?” ucapnya akhirnya, nada suaranya halus tapi jelas. “Dari tadi dia ingin mengobrol denganmu.”
Isyarat halus itu jelas, agar Martin berhenti mengganggunya, tapi—
Martin menatapnya lurus, lalu tersenyum tipis selagi menopang sisi wajahnya dengan tangan. “Aku lebih ingin berbicara denganmu.”
Serena terdiam sepersekian detik. Entah apa ini perasaannya saja atau… pria ini sedang menggodanya?!
Di seberang, senyum Livia memudar. Tatapannya dilemparkan tajam kepada Serena, tampak jelas tidak senang.
Hal itu membuat Serena justru makin jengkel. Pria ini seakan tahu dirinya tidak suka jadi pusat perhatian, dan sengaja membuat Livia kesal padanya!
“Martin, kamu—”
Tiba-tiba suara keras memecah suasana.
“Eh! Lihat nih!”
Max, mantan ketua kelas, berdiri sambil menunjuk mereka berdua.
“Ranking satu sama ranking dua duduk sebelahan lagi! Nostalgia banget!”
Beberapa orang langsung tertawa, menceritakan bagaimana Serena dan Martin dahulu di sekolah. Ada yang mengungkit bagaimana keduanya selalu berebut nilai tertinggi sampai guru pun hafal nama mereka, ada juga yang berkata setiap presentasi kelas pasti berubah jadi ajang debat diam-diam di antara mereka. Intinya, keduanya seperti dua saingan abadi yang tidak pernah akur, tapi juga tidak pernah bisa dipisahkan.
Serena memijit pelipisnya, merasa semua itu kenangan memalukan.
Dan di saat ini, tiba-tiba teman baiknya, Bela, malah menambahkan pernyataan gila, “Tapi kalau dilihat sekarang… kalian sekarang cocok nggak sih?”
Serena melotot, lalu menoleh ke arah Bela. Tampak temannya itu tersenyum jahil.
Bela sialan!
Tapi belum sempat Serena mengatakan apa pun, semua orang langsung ribut.
“Wah, benar tuh!”
“Iya juga! Aura-nya pas banget! Satu cantik dan serius, yang satu ganteng dan berwibawa!”
Max, yang duduk di sebelah Bela, menyeringai. “Kenapa nggak pacaran aja? Kalian berdua sama-sama jomblo, kan?”
Sorakan langsung memenuhi ruangan.
Serena melotot. Bela dan Max jelas bekerja sama untuk hal ini!
Tapi, untuk menjaga imagenya, Serena pun meletakkan gelas dan berkata, “Jangan bicara yang aneh-aneh. Kami tidak cocok!”
“BOOOO!” Semua orang berseru, merasa Serena tidak seru.
Max tertawa, lalu menoleh ke Martin. “Gimana, Bro? Nggak tertarik sama Serena?”
Sebelum Martin menjawab, Livia buru-buru menyela.
“Sepertinya kurang cocok,” katanya manis. “Serena kan tipe yang fokus kerja. Pasti nggak sempat mikirin hubungan. Lagipula… kariernya lagi dibangun, kan?”
Kalimatnya halus, tapi jelas meremehkan.
Serena tersenyum tipis.
Anehnya, dia tidak sepenuhnya tersinggung. Karena memang benar, mana mungkin dirinya dan Martin bersama.
Martin sekarang pewaris The Benson Industry Group. Hidupnya rapih, mapan, terjamin.
Sedangkan dirinya? Pengacara kecil dengan kantor di gang sempit dan utang yang belum tentu lunas sampai tua.
Dunia mereka sudah berbeda jauh.
Sejak dulu pun pria itu hanya senang menjahilinya.
Mana mungkin mereka bisa menjalin hubungan dan—
“Aku tidak keberatan.”
Serena mematung. Dia menoleh ke samping, menatap Martin yang baru saja bicara.
“Apa?”
Semua orang, seperti Serena, terkejut.
Martin, dengan perangainya yang tetap santai, balik menatap Serena dengan senyum tipis penuh makna. “Kalau Serena tidak keberatan… ayo kita pacaran.”
Serena sejenak bisa melupakan segala permasalahannya saat makan bersama Ava dan Miko.“Bu Serena coba ini,” ucap Ava lalu menyuapi Serena dengan kue.Serena menerimanya kemudian mengunyahnya perlahan. “Hm…” lalu memberikan jempolnya sebagai tanda enak.Serena terdiam melihat seorang wanita hamil yang ditemani oleh suami.Mereka nampak serasi saat memasuki kafe, si wanita nampak begitu manja dan si pria dengan senang hati menerimanya.Lalu tanpa sadar ia mengusap perutnya sendiri.Kehadiran anak di atas semua masalah tidak membuat Serena terbebani, ia senang ada satu nyawa yang berada di dalam tubuhnya.Tetapi, ia juga berpikir bagaimana nasib anaknya ke depannya.“Bu Serena,” panggil Ava lagi karena melihat Serena melamun.“Ya?” jawab Serena kemudian mengambil minum.“Perut Bu Serena sakit? Kenapa sedari tadi memegang perut?” tanya Ava kebingungan.“Oh—” Serena kelabakan sebentar. “Aku—”“Perut Bu Serena kembung?” tanya Miko dengan mata yang melebar.“Jangan-jangan kebanyakan makan ku
Martin masuk ke ruangan paling horor di dalam kantor.Tangannya menarik kursi ke belakang. kemudian tubuhnya hampir mendarat di bantalan kursi yang empuk.“Jangan duduk, kamu tidak pantas duduk,” ucap Freddy yang akhirnya membuat Martin tidak jadi duduk.Padahal pantatnya hampir saja menyentuh bantalan kursi.Martin kembali berdiri dengan wajah dan penampilan yang berantakan.“Kenapa ingin bercerai?” tanya Freddy pada Martin.Koneksi yang dimiliki Freddy begitu luas.Dan Martin yakin ada satu orang kenalan dari orang pemerintahan yang memberitahu.Freddy melihat putranya yang kemudian membuatnya mengeluh. “Kamu jelek.”Martin memutar bola matanya malas, kemudian menunduk dan menatap dirinya sendiri.“Sekarang penampilanku bukan hal yang penting,” balas Martin.“Kalau begitu jelaskan alasannya kenapa kalian ingin bercerai?” tanya Freddy mendesak putranya.Dari wajahnya yang mulai keriput itu jelas sedang mengintrogasi putranya.Martin menghela napas pelan, dari semua hari kenapa juga D
Setelah menekan tombol kirim. Serena kemudian mengusap pipinya sendiri.Ia mendongak dan berusaha meredakan air mata yang terus keluar dari matanya.Martin menyuruhnya untuk mengirim gugatan cerai. Dan bukankah hal itu yang ia harapkan?Namun justru hal tersebutlah yang paling menyakiti hatinya.Serena menunduk, menutup wajahnya dan mulai terisak pelan.Air matanya terus berlinang sementara dadanya mulai sesak. Sulit untuk mengontrol suara tangisannya sendiri, meski Serena ingin.Serena melepaskannya dan tidak lagi mengontrol tangisannya. Ia membiarkan bibirnya meraung dan air matanya berjatuhan semakin banyak.Di sisi lain, tidak jauh berbeda. Martin baru saja meletakkan ponselnya di atas meja.Bukannya tidak bisa mengirim surat gugatan cerai, tetapi Martin sendiri tidak sanggup.Ia berdiri dari duduknya kemudian memilih berbaring di atas sofa.Lalu satu tangannya berada di atas dahi. Martin memejamkan mata, sekarang tidak ada lagi yang tersisa di antara hubungan mereka.Sebentar lag
Martin masuk ke ruangan paling horor di dalam kantor.Tangannya menarik kursi ke belakang. kemudian tubuhnya hampir mendarat di bantalan kursi yang empuk.“Jangan duduk, kamu tidak pantas duduk,” ucap Freddy yang akhirnya membuat Martin tidak jadi duduk.Padahal pantatnya hampir saja menyentuh bantalan kursi.Martin kembali berdiri dengan wajah dan penampilan yang berantakan.“Kenapa ingin bercerai?” tanya Freddy pada Martin.Koneksi yang dimiliki Freddy begitu luas.Dan Martin yakin ada satu orang kenalan dari orang pemerintahan yang memberitahu.Freddy melihat putranya yang kemudian membuatnya mengeluh. “Kamu jelek.”Martin memutar bola matanya malas, kemudian menunduk dan menatap dirinya sendiri.“Sekarang penampilanku bukan hal yang penting,” balas Martin.“Kalau begitu jelaskan alasannya kenapa kalian ingin bercerai?” tanya Freddy mendesak putranya.Dari wajahnya yang mulai keriput itu jelas sedang mengintrogasi putranya.Martin menghela napas pelan, dari semua hari kenapa juga D
Setelah menekan tombol kirim. Serena kemudian mengusap pipinya sendiri.Ia mendongak dan berusaha meredakan air mata yang terus keluar dari matanya.Martin menyuruhnya untuk mengirim gugatan cerai. Dan bukankah hal itu yang ia harapkan?Namun justru hal tersebutlah yang paling menyakiti hatinya.Serena menunduk, menutup wajahnya dan mulai terisak pelan.Air matanya terus berlinang sementara dadanya mulai sesak. Sulit untuk mengontrol suara tangisannya sendiri, meski Serena ingin.Serena melepaskannya dan tidak lagi mengontrol tangisannya. Ia membiarkan bibirnya meraung dan air matanya berjatuhan semakin banyak.Di sisi lain, tidak jauh berbeda. Martin baru saja meletakkan ponselnya di atas meja.Bukannya tidak bisa mengirim surat gugatan cerai, tetapi Martin sendiri tidak sanggup.Ia berdiri dari duduknya kemudian memilih berbaring di atas sofa.Lalu satu tangannya berada di atas dahi. Martin memejamkan mata, sekarang tidak ada lagi yang tersisa di antara hubungan mereka.Sebentar lag
Keadaan Serena lebih baik setelah meminum obat dari dokter. Ia juga bisa beraktivitas seperti biasa.“Terima kasih,” ucap Bela bertepuk tangan karena Serena menyiapkan sarapan.“Tadi malam kau dari mana saja?” tanya Serena pelan sembari makan.“Ehm, aku bertemu dengan teman kantorku. Katanya ada hal yang perlu dibahas.” Bela menatap Serena sekilas, karena takut kebohongannya terbongkar.“Tapi kau bau alkohol, kalian minum?”Bela berdecak pelan. “Minum atau tidak, aku sudah dewasa. Jangan bersikap seperti orang tuaku.”Serena menggeleng. “Aku memang pengganti orang tuamu.”“Pengganti apanya,” cibir Bela. “Kau tidak pernah menemui mereka lagi, mereka sempat menanyakanmu dan menyuruhmu cepat menikah.”“Jika mereka tahu kau akan bercerai mereka bisa pingsan,” lanjut Bela.Serena tertawa pelan. “Sampaikan salamku pada mereka, nanti kalau ada waktu kita berkunjung ke rumah orang tuamu.”“Aku sibuk,” balas Bela. “Kau saja sendiri ke sana.”“Bilang saja kau tidak ingin ditagih cucu oleh merek
“Laba bulan ini menunjukkan penurunan,” ujar Martin yang duduk di tengah meja panjang. Di sisi kanan dan kiri diisi oleh kepala Divisi. “Ada beberapa hal yang harus diperbaiki. Saya tidak ingin bulan depan terjadi seperti ini lagi. Perhitungan angkanya juga banyak yang salah.” Martin membolak-bal
“Aku seperti minum alkohol, tahu?” ucap Martin ketika pangutan mereka terlepas.Serena mendengus pelan kemudian tangannya bergerak di dada Martin dan mendorongnya.Tetapi entah kenapa tubuh Martin menjelma menjadi batu. Susah dan sangat keras, sehingga usahanya mendorong tidak membuahkan hasil.“Kru
Jarak Martin dengan Serena cukup jauh, namun Martin masih bisa menangkap suara Serena yang begitu cempreng. Martin menghentikkan langkahnya, kemudian memutar tubuhnya dan melihat Serena yang masih berada di luar Mansion.“Kenapa lagi?” Martin menyipitkan mata kemudian berjalan mendekat.Serena kemud
“Kenapa kau terlihat begitu cantik?” Bela menyipitkan mata dengan kedua tangan yang mencubit pipi Serena. Kedua mata Bela hanya terbuka separuh karena sepenuhnya mabuk. Bela mendekat, lalu memeluk lengan Serena layaknya guling.“Akh!” Serena menepis tangan Bela dan berusaha bangkit, duduk di atas l







