แชร์

Chapter 7

ผู้เขียน: Iamyourhappy
last update วันที่เผยแพร่: 2026-02-09 17:04:05

Berhenti di sebuah toko pakaian.

Serena tahu pasti Martin ingin mendandaninya sebelum dibawa ke orang tua pria itu.

Masuk mengikuti Martin yang berada di hadapannya.

“Kau Sekretarisku?” tanya Martin berhenti.

Serena terdiam karena kebingungan.

“Berjalan disampingku, Serena Jane.” Martin mengulurkan tangannya. “Kau ingin gandengan manis dariku?”

Serena menepis tangan Martin. “Tidak perlu.”

Martin terkekeh pelan. Akhirnya kembali berjalan bersama Serena yang berada di sampingnya.

Toko yang tidak terlalu besar. Namun, hanya menjual pakaian bermerek.

Serena hanya sesekali lewat dan melihat toko ini, tanpa berani mendambakan barang-barang yang dijual di toko ini.

Satu pegawai yang menyambut Martin.

Mengarahkan Martin untuk duduk di sebuah ruang khusus tamu.

Ruang privat yang hanya digunakan pelanggan dengan jumlah belanjaan diatas rata-rata.

Dijamu layaknya raja.

Serena ikut duduk di samping Martin. Duduk yang canggung untuk sekelas calon istri pengusaha.

Mengedarkan pandangannya. Sampai pegawai di sana mengeluarkan camilan ringan dan teh.

Martin melirik Serena sebentar, kemudian tersenyum tipis dan mencondongkan tubuhnya pada Srena, lalu mendekatkan bibirnya di samping telinga Serena.

“Jangan tegang,” lirihnya pelan sembari tersenyum.

Serena menegang di tempat, namun cepat-cepat ia mengendalikan ekspresinya. “Aku tidak tegang. Lebih tegang menghadapi sidang.”

“Kalau begitu minumlah dulu.” Martin mengangkat the dan meminumnya dengan gerakan pelan.

Serena memperhatikan Martin. Bagaimana pria itu minum dengan tenang seperti pangeran.

Setiap kali selesai melakukan sesuatu, Serena merasa Martin memperhatikannya.

Seperti saat ini, setelah minum teh, Martin berakhir menatapnya dan tersenyum.

Tidak mau berpikir terlalu jauh, Serena mencoba mengikuti pria itu. Tapi tangannya terlalu sering menggenggam cup teh murahan daripada cangkir mahal seperti ini.

Martin merasa diperhatikan dan ia menoleh, benar saja Serena sedang memperhatikannya. “Mau aku bantu minum? Tapi aku punya cara lain untuk menyuapimu.”

“Tidak!” Serena buru-buru menyeruput teh setelah mendengar ucapan Martin.

“Akh!” lidahnya yang langsung bersentuhan dengan teh.

“Hati-hati.” Martin menatap Serena dengan khawatir. “Kau baik-baik saja?”

Mengangguk pelan. Mengambil camilan, memakannya perlahan.

“Hm.” Serena mengernyit karena rasanya enak. Jauh dari ekspektasinya.

“Siapa ini?” tanya seorang wanita datang. “Anda tidak mengenalkan pada kami?”

“Calon istri saya.”

“Uhuk-uhuk-uhuk!” Serena yang asik makan terkejut dengan jawaban Martin yang begitu tiba-tiba.

“Pelan-pelan,” ucap Martin lembut. Gerakannya juga terlihat natural dengan mengusap bahu Serena.

Dan Serena semakin tidak bisa berpikir dengan jernih.

Sikap Martin memang manis, tetapi hanya sebuah sandiwara.

“Kalian sangat serasi.” Ucap wanita itu. Yang mana seorang manajer Toko.

Serena mengusap bibirnya pelan setelah minum.

Menghela napas berkali-kali untuk menenangkan dirinya sendiri.

“Kami sudah menyiapkan pakaian tercantik edisi terbatas dari beberapa brand. Anda bisa melihatnya.” Manajer itu berjalan ke samping.

Sedangkan pegawai lain membawa rak gantung yang berisi pakaian.

Satu persatu pegawai itu menunjukkan pakaian kemudian Martin akan memilahnya.

Ada 5 pakaian yang dipilih Martin. Dan Serena harus mencobanya.

Berada di dalam ruang ganti. Serena selesai, ia membuka tirainya sendikit.

Tapi tatapannya berhenti pada seseorang jauh di depan toko. Seorang wanita yang baru saja masuk.

Martin yang berada di depan Serena mengernyit bingung.

“Martin!” Serena mengibaskan tangannya. Memberi kode agar Martin mendekat.

“Kenapa?” tanya Martin bingung.

“Cepat ke sini!” Serena lagi-lagi. Kali ini kibasan tangannya semakin cepat.

Martin bingung namun tetap berdiri dan menatap ke Serena dan ke arah lain dengan bingung.

“Martin!” panggil Serena lagi.

Akhirnya Martin mendekat berada di depan kamar ganti.

Serena semakin panik saat melihat Bela berjalan mendekati ruangannya.

Ruangan yang hanya terpisah oleh sekat kayu.

“Kena—”

Ucapan Martin belum selesai karena Serena menarik kerah lehernya dan membawanya masuk ke dalam bilik ganti.

Serena mendongak. “Maaf. Tapi di luar ada Bela!”

Martin mengerjap. Dalam beberapa detik otaknya seolah lumpuh karena perbuatan Serena yang begitu tiba-tiba.

“Bela?”

“Iya.” Serena menarik Martin lagi dan mengajak pria itu mengintip keadaan di luar sana.

“Tuh lihat!”

Ternyata benar karena sekarang Bela sedang berbicara dengan manajer toko.

Serena menggigit kuku jarinya sendiri. “Aku lupa, Bela sering membeli barang branded. Dia pasti juga langganan di sini.”

Serena menatap Martin yang sedari tadi diam. “Lakukan sesuatu. Jangan hanya diam menatapku.”

Martin tertawa pelan. Mengedikkan bahu, dengan bibir yang masih diam.

Bilik ganti yang memuat tubuh mereka tidaklah luas. Kecil dan sesak.

Tubuh mereka saling bersentuhan tanpa diinginkan.

Serena berdehem pelan setelah menyadari posisi mereka yang begitu dekat.

Martin masih terdiam. Tatapannya seolah sedang mengintai Serena yang menggunakan dress pilihannya. Lalu kedua tangannya bersandar pada dinding belakang Serena.

Seolah sedang memerangkap Serena dan bahkan napasnya mungkin mengenai ubun-ubun Serena.

“Kyak! Martin jangan dekat-dekat,” ucap Serena berusaha sepelan mungkin agar tidak menimbulkan kegaduhan dari luar.

“Aku tidak bisa karena bilik ini sangat sempit.” Dan pandangan Martin tertuju pada belahan dada Serena yang terbuka, tidak terlalu terbuka.

Tetapi posisi Martin berada di atas Serena, sehingga ia bisa melihat belahan dada Serena lebih jelas dari siapapun.

Serena mendongak, kemudian bertatapan dengan Martin yang sedang menatapnya. “Apa yang terjadi?”

Tangan Serena terulur menyentuh wajah Martin yang memerah. Ternyata hangat.

“Kau sakit?”

Martin menggeleng. “Sepertinya kau harus berganti pakaian lagi.”

“Kenapa—”

Ucapan Serena terhenti karena Martin tiba-tiba memeluknya. Lalu Serena melebarkan mata karena sesuatu yang terasa menusuk perut bawahnya.

“Martin kau berdiri?”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 278

    Anniversary yang diinginkan Serena adalah makan dengan teman terdekat. Dan hari ini Martin mewujudkannya, memberikan nuansa hangat sebagai perayaan ulang tahun pernikahan mereka. Halaman taman belakang disulap dengan begitu cantik. Meja panjang dilapisi oleh taplak berwarna putih. Lalu sisi kanan dan kirinya terdapat kursi yang digunakan untuk duduk pada tamu. “Cheers untuk Serena dan Martin!” teriak Bela mengangkat gelas yang berisi anggur. Semua orang tertawa dan akhirnya mengangkat gelasnya. Lalu disusul oleh bunyi gelas yang berdenting. Bela menoleh ketika suaminya mengusap pinggangnya pelan. “Kamu bersemangat karena ingin minum bukan?” “Tentu saja.” Bela mengangguk. “Meski Serena bilang hanya makan-makan, tapi sesungguhnya ini pesta.” Menatap sahabatnya sebentar. Sedangkan Serena hanya menggeleng pelan. “Kamu yang menjaga anak-anak,” ucap Bela. “Jangan minum alkohol setetes pun.” Jason meneguk ludahnya mendengar larangan dari istrinya. Tapi ia mengangguk setuju. Bagaimana

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 277

    “Isaac,” lirih Ava menatap seorang pria yang berada di hadapannya sedang mengulurkan tangan.Isaac tersenyum tipis dengan tangan yang masih terulur ingin membantu Ava.Tidak sengaja lewat dan melihat seseorang yang menjadi pusat perhatian. Dan anehnya meski tidak pernah bertemu, ia masih mengingat dengan jelas bagaimana wajah perempuan yang membuatnya berantakan 5 tahun yang lalu.Isaac menunduk. “Ayo aku bantu.”Ava mengusap pipinya kemudian menerima uluran tangan Isaac. “Aku bisa pulang sendiri.”“Terima kasih.” Ava baru saja ingin berjalan, tapi langkahnya hampir tersandung lagi.Untungnya ada Isaac yang menangkapnya dengan cepat. Isaac merengkuh pinggang Ava untuk membantu. “Hati-hati.”“Aku akan mengantarmu.” Isaac akhirnya membantu Ava untuk masuk ke dalam mobil.Dan ketika berada di dalam mobil, kecanggungan pun terjadi.Ava membuang wajah ke samping, lalu kedua tangannya bersindekap. Sesekali menghembuskan napas kasar.Isaac menoleh ke samping, kemudian menghela napas pelan. “

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 276

    Seorang perempuan tengah mengusap rambutnya kasar keluar dari sebuah rumah besar.Berjalan sendiri dan terburu-buru, namun ada satu pria yang mengejarnya.“Ava tunggu!” Arjuna berlari lalu menangkap tangan Ava. “Tunggu, sebentar.”Ava melepaskan tangan Arjuna. “Aku sudah berusaha membuat orang tuamu senang, tapi mereka tetap tidak merestui kita. Aku tahu aku bukan dari keluarga baik-baik seperti yang orang tuamu inginkan, tapi mereka tidak berhak menghina ibuku yang sedang berjuang di rumah sakit.”“Maafkan aku. Kita nikah lari saja oke?” Arjuna menyentuh kedua bahu kekasihnya.Satu tahun mereka menjalin hubungan asmara. Tetapi, selama setahun itu pula hubungan mereka ditentang oleh keluarga Arjuna.Ava tahu backround keluarganya yang membuat orang tua Arjuna enggan memberi restu.Tapi, ia berusaha memenangkan hati orang tua Arjuna dengan membelikan beberapa barang untuk ibu Arjuna setiap kali dirinya gajian, membawa banyak makanan setiap kali datang ke rumah orang tua Arjuna dan diri

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 275

    Dua anak yang sedang kejar-kejaran itu membuat kedua orang tuanya pusing.Anak kembar yang sedang berlarian itu sedang berebut mainan, tidak ada yang mau mengalah meski mereka saudara. Dan meski masing-masing mereka sudah mendapatkan mainan yang sama.Bela berkacak pinggang. “Berhenti!” ucapnya seperti seorang komando barisan di upara bendera.Dua anak itu akhirnya berhenti, lalu berbaris seperti layaknya barisan.“Jangan bertengkar, mainan kalian sama,” ucap Bela begitu lelah. Kemudian berkacak pinggang dan mengambil sapu panjang yang berada di sampingnya.“Mau ini?” tanyanya.“Tidak,” balas mereka serempak.Tapi itu hanya terjdi beberapa menit setelahnya, mereka sempat kembali bermain dengan tertib tapi setelah itu kembali bertengkar lagi.Bela menggigit bibir bawahnya, kemudian ikut berlari mengejar anaknya sembari membawa sapu panjang.“Mana yang nakal? Sini Mama cambuk!” Bela menggila. Ikut berlarian mengejar dua anaknya yang kini ketakutan dengan sapu panjang.“AAAA MAMA!”“MAMA

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 274

    Mathias berpura-pura tidak mendengar pertanyaan orang tuanya. Ia sibuk memeluk bola dengan pipi yang sudah merah.Persis seperti Serena ketika tersipu.“Sepertinya aku tahu,” ucap Martin tersenyum sembari memandang istrinya.Lalu menatap putranya melalui spion kaca. “Anak baru ‘kan? Dia bilang kamu tampan.”Mathias mendongak dan menatap ayahnya melalui kacanya. Wajahnya tidak bisa berbohong jika ucapan ayahnya memang benar.“Ada murid baru?” tanya Serena menoleh ke belakang. “Sungguh? Seperti apa dia?”Mathias menatap Serena dengan ragu. Kemudian tersenyum. “Dia cantik,” ucapnya sangat pelan, seperti seseorang yang begitu gengsi untuk memuji lawan jenis.Serena tertawa, kemudian menatap lurus ke depan.Martin melirik istrinya lalu menyenggol lengan istrinya pelan.Mereka sama-sama terkejut karena sudah ditahap putra mereka tahu mana yang cantik.“Bertemanlah dengan dia,” ucap Serena menahan senyumnya.Mathias mengangguk pelan, kemudian melompat turun dan mendekati bangku orang tuanya.

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 273

    5 tahun berlalu.“Hai boy!” Martin menyambut putranya yang baru saja keluar dari sekolah.Mathias berlari kecil ke arah ayahnya yang menjemputnya. Dengan senyum sumringah dan tubuh yang begitu ringan, Mathias langsung melompat masuk ke dalam mobil.Martin menatap bola yang dilempar Mathias ke belakang. “Habis main bola?”“Iya,” jawab Mathias kemudian mengulurkan tangannya dan menunjukkan lima jarinya.“Tos!” Martin bertos ria dengan putranya.Ia tidak tahu kenapa Mathias begitu suka dengan sepak bola. Setiap hari selalu membawa bola sendiri ke sekolah. Lalu di bawa pulang dan keesokan harinya di bawa lagi.Saat ditanya kenapa tidak ditinggal di sekolah saja, katanya tidak mau takut bolanya hilang.Yasudah, Martin tidak masalah selagi putranya bisa sekolah dengan baik dan semangat.“Kita jemput Mommy dulu,” ucap Martin menyetir dengan pelan. tidak seperti biasanya, karena sekarang ia menyetir sendiri.“Bagaimana dengan sekolahmu tadi? Ada yang menyenangkan?” tanya Martin.Mathias duduk

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 120

    “Kau sudah sampai daritadi?” tanya Serena terkejut, karena kata Martin kemungkinan satu jam lagi sampai menjemputnya.Tetapi sekarang Martin sudah berada di hadapannya.“Baru,” balas Martin kemudian membukakan pintu mobil untuk Serena.“Tunggu!” Serena berlari ke dalam, lalu merapikan penampilannya

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 111

    Kemarahan Bela adalah bentuk kasih sayangnya pada Serena. Bagi Bela, Serena adalah sahabat sekaligus saudara perempuannya. Karena mereka berdua telah melalui banyak hal bersama. Bela hanya kecewa pada Serena kenapa tidak memberitahunya tentang hal sebesar itu. Dan apa yang membuat Serena harus men

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 106

    Martin terdiam memandang ayah Serena yang tertidur karena efek obat. Kedua tangannya berada di atas paha dan jika saja ayah Serena dalam keadaan sehat, ia bisa berbicara lebih banyak.Tetapi kata Serena, ayahnya mengidap dimensia yang parah. Maka Martin tidak mau mengatakan hal yang tidak berguna d

  • Tuan Martin, Berhenti Menggodaku   Chapter 104

    Serena berpikir, ia mengernyit karena otaknya sedang berpikir dengan keras jawabannya. Martin memang suka sekali memberi pertanyaan, tetapi Serena melupakan clue yang berasal dari wajah Martin. Serena menoleh dan memandang Martin yang saat ini sedang tersenyum. “Kau berpikir aneh kan?” mendorong M

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status