MasukElara dan Freddy adalah gambaran sempurna sepasang suami istri yang masih begitu romantis meski sudah diusia setengah abad. Selain itu, mereka berdua memiliki paras yang rupawan.
Sehingga tidak heran jika Martin mewarasi ketampanan yang berasal dari gabungan orang tuanya.
Serena duduk di hadapan Elara dan Freddy, sementara Martin berada di sampingnya. Namun rasanya hanya dirinya saja yang berhadapan dengan orang tua Martin itu.
Elara menatap Serena lama seolah sedang menyelidiki sesuatu. Namun Serena tetap tenang. Serena tahu bahwa sikap Elara wajar bagi seorang ibu yang baru pertama kali bertemu calon istri putranya.
“Siapa namamu?” tanya Elara.
Serena tersenyum. “Perkenalkan saya Serena. Saya kekasih Martin.”
“Calon istri Martin.” Imbuh Martin. Menunjukkan jari mereka yang sudah terpasang cincin.
Sebuah cincin cantik berwarna silver. Sangat indah meski hanya digunakan sebagai properti sandiwara mereka berdua dan sangat pas tersemat di jari manis Serena.
“Ehem!” Freddy berdehem pelan. “Kamu bukan perempuan yang baru ditemui oleh Martin ‘kan?”
Menatap Serena dengan curiga.
“Kami,” lirih Serena. Pelan dan ragu, karena Serena sedikit tercekat.
Bukan hanya mendapat tatapan curiga dari ibu Martin, sekarang ayah Martin juga. “Kami adalah teman semasa sekolah. Kami memang baru bertemu beberapa bulan. Tapi ternyata kami saling menyukai dan kami akhirnya bersama,” jelas Serena.
“Kalau Dad ragu. Dad bisa menyelidiki kami. Kami bukan orang asing. Dulu Serena satu sekolah denganku saat SMA. Kalau Mom dan Dad ingat, ada perempuan yang selalu menyalip rankingku. Itu Serena.” Imbuh Martin, memandang Serena penuh perhatian.
Mengangguk pelan dan saling melempar senyum.
“Benarkah?” Freddy tidak terlalu mengingat. Tetapi, ia mengingat kalau dahulu putranya sering juara satu. Namun, Martin tidak lama menjadi juara bertahan karena seseorang, yaitu Serena yang sering menyalip juara bertahan Martin.
Elara menyipitkan mata. “Mom tidak bisa langsung percaya.”
Ada kandidat wanita yang sudah dia pilih untuk putranya, tetapi Martin datang dan membawa wanita lain. Sehingga membuat Elara kecewa.
Elara bersindekap. “Tidak tahu kenapa. kalian mencurigakan.” Lagi-lagi Elara secara tidak langsung menentang hubungan mereka.
“Sekian lama Martin tidak pernah mengenalkan perempuan pada kalian dan akhirnya sekarang membawa perempuan yang paling Martin cintai.”
Serena mengangguk. Lagi-lagi hanya bisa tersenyum.
Freddy dan Elara saling memandang. Kemudian, Elara menggeleng sedangkan Freddy sudah mengangguk. Kini jelas mereka tidak satu pendapat.
“Mom tidak yakin pada kalian!” Elara menunjuk Martin dan Serena bergantian.
“Apa yang membuat Mom tidak yakin?” tanya Martin.
Sorot matanya datar, namun tajam. Raut Martin tidak terbaca, tetap ada sorot kecil kemarahan yang tidak langsung diperlihatkan. Karena Martin memilih untuk menahan diri.
“Kamu masih tanya? Kamu selalu menolak perjodohan. Kamu menolak semua kandidat wanita yang Mom pilih. Lalu tiba-tiba kamu membawa wanita ke hadapan kami.”
“Baiklah kalau Mom tidak setuju. Tapi Martin tetap akan menikah dengan Serena. Karena Martin—” ucap Martin dengan sudut bibir yang sedikit terangkat.
Pria itu tiba-tiba berdiri, Serena mengerjap. Mau tidak mau ikut berdiri karena tangan mereka tergandeng seolah terikat oleh rantai sehingga tidak bisa terputus.
Lalu Serena menunggu dengan apa yang akan dilakukan oleh Martin.
“Martin cinta mati pada Serena!” Martin setengah berteriak.
Kedua orang tua Martin hampir ikut berteriak juga karena terkejut suara Martin. Apalagi Elara yang langsung melompat memeluk suaminya
Serena menutup matanya kemudian mengusap keningnya. Dan berusaha menutupi wajahnya dengan tangan.
Satu kata yaitu malu! Padahal bukan dirinya yang memalukan.
Selain malu, Serena lebih terkejut lagi karena Martin yang biasanya tenang menjadi beringas dalam sekejap untuk mendapatkan restu.
Martin menoleh pada Serena kemudian mereka saling memandang.
Dengan berat hati Serena…
“Serena juga cinta mati pada Martin. Tolong ijinkan kami menikah!” Serena mengatakannya dengan lantang tetapi sembari menunduk.
Freddy tertawa karena sikap mereka berdua benar-benar menghibur dirinya yang sudah tua.
“Kalian lucu,” ucap Freddy sembari tertawa.
Namun langsung diam karena mendapatkan senggolan dari istrinya.
Berbeda dengan Freddy, Elara masih saja curiga dan belum juga merestui mereka berdua karena belum yakin dengan Serena.
Takutnya Serena adalah wanita tidak jelas yang mengincar harta Benson Family saja.
“Serena…” lirih Elara sembari berdiri menghadap mereka berdua. “Apa yang membuatmu menyukai Martin?”
Serena terkejut bukan main dengan pertanyaan itu. ‘Sebenarnya tidak ada, Tante!’
Serena gila jika mengatakan isi hatinya untuk itu, ia akan mengarang bebas saja.
“Karena kami sudah lama mengenal. Sejujurnya saya tidak pernah menyangka kami akan berakhir bersama. Ternyata Martin orang yang hangat. Dia menjaga saja dan memastikan saya baik-baik saja.”
Setiap Serena selesai berbicara, Martin akan memberikan apresiasi yaitu tersenyum bangga. Sehingga sandiwara Martin benar-benar terlihat real! No fake!
“Ijinkan saya menjadi istri Martin, Tante!” Serena menunduk lagi sembari memejamkan mata.
Menunduk lebih dalam agar permintaannya semakin terlihat tulus.
Namun belum juga mendapat jawaban dari orang tua Martin…
KREEK!
Serena melotot dan segera menegakkan dirinya karena bagian punggung dressnya sobek.
Kegugupannya bukan tentang restu orang tua Martin saja, melainkan dressnya yang sobek.
Tentu saja suara sobekan itu membuat kedua orang tua Martin mengerutkan kening dengan bingung.
Martin segera memeluk Serena dari samping. “Sebenarnya jas belakang Martin sobek.”
“Apa?”
Martin mengusap punggung belakangnya. “Sepertinya kain jasnya berkualitas buruk.”
“Hahaha….” Tawa kecanggungan.
Serena mendongak lalu menatap Martin dengan penuh kekaguman.
Pria itu melindunginya!
Baru kali ini Serena merasa Martin benar-benar terlihat tampan dan seperti pahlawan.
Tapi suara lain mengejutkan semua orang.
“Punggungmu sobek! Apa yang terjadi?”
Martin mendengus. Cassie, kakak Martin, datang-datang membuat onar dengan menunjuk punggung Serena.
Serena kira pakaian atau dress yang cantik, tetapi bukan. Cassie memberinya sebuah dress yang terbuat dari jaring-jaring transparan dan tertutup pada bagian tubuh tertentu.“Lingerie!” Serena terpaku sejenak.Ia bukan ingin menunjukkan pada Martin, tetapi pria itu lebih dulu keluar dari toilet dan melihat lingerie itu.“Kau ingin menggodaku dengan itu, Serena Jane?” tanya Martin yang saat ini berada di ambang pintu toilet.Martin tidak kuasa menahan senyumnya sembari bersandar di dinding, kemudian mulai menyadari Serena yang salah tingkah.Gerakan Serena cepat karena ingin segera memasukkan kembali pakaian seksi itu ke dalam paper bag. Dan lebih lucunya lagi, Serena begitu gugup sampai pakaian itu terjatuh ke lantai.“Santai saja,” ucap Martin akhirnya mendekat kemudian memungut pakaian itu. “Kalau kau sangat ingin menggunakannya aku akan senang hati melihatmu.”“Tidak mungkin!” Serena segera merebut pakaian itu dan memasukkannya kembali ke dalam paper bag.Ingin mengumpat tapi yang d
After wedding.“Katanya privat dan tidak mengundang banyak orang. Tapi, aku hitung ada banyak orang dan kayaknya 200 orang!” keluh Serena menyeret gaun pernikahan.Martin hanya mendengarkan omelan Serena dengan tenang. Namun reaksi Martin tidak membuat Serena ikut tenang juga. Justru Serena menjadi kesal karena Martin terkesan tidak memedulikannya.Acara pernikahan baru saja usai dan saat ini mereka menuju kamar hotel di mana mereka menginap. Lorong hotel ini terasa begitu panjang dan Serena hanya bertelanjang kaki sembari menyeret gaunnya yang panjang.“Martin!” keluh Serena.“Kenapa? mau aku gendong?” tawar Martin berbaik hati dan sebenarnya sudah menawarkan untuk menggendong Serena sejak mereka keluar dari ruang acara pernikahan tetapi Serena menolaknya.“Tidak mau ‘kan? Kau ingin aku apa?” lanjut Martin.Serena mengerucutkan bibirnya dan dalam hatinya kini bertanya apa Martin marah?“Kau marah?”“Tidak.” Martin melangkah lebih dekat dan hal itu membuat Serena terkesiap.Serena ber
Serena tidak mengindahkan ajakan gila Martin meskipun ia juga tidak begitu nyaman tinggal di apartemennya yang sekarang. Kemarin malam, Serena sampai harus mengusir pria itu agar pergi.Tetapi Martin tidak langsung pergi melainkan mengantarnya sampai ke Apartemen. Dan pria itu memastikan bahwa pintu apartemennya tidak bisa dibuka sembarangan dari luar.Perhatian yang perlu karena Serena mengerti Martin harus memastikannya baik-baik saja sebelum pernikahan berlangsung.Hari ini adalah fitting gaun untuk pernikahan mereka dan Serena kira ia akan pergi sendiri. Tetapi ternyata bersama Martin.“Kau luang?” tanya Serena.Martin keluar dari mobil. “Seperti yang kau lihat.”Serena menurunkan pandangannya kemudian mengamati penampilan Martin dari bawah sampai atas. “Rapi sekali, setelah ini pasti kau akan pergi rapat.”“Ti—”“HAYOO!”Serena memejamkan mata, lalu menggigit bibir bawahnya karena lelah. Seseorang yang datang tanpa diundang adalah Lia, tetangganya kemarin malam yang mabuk dan mem
“KYAAAK!”Teriakan itu membuat Serena mendorong Martin. Kali ini Serena berhasil melepaskan diri dari Martin, tetapi sepertinya Martin enggan melepaskannya.“KALIAN BERHENTILAH PACARAN DI TAMAN!” suara Cassie menggelegar sehingga terdengar marah.Cassie bukannya marah, tetapi kesal pada mereka berdua. Bisa-bisanya masih meneruskan pacaran setelah dirinya dan Mommy jatuh setelah mengintai mereka.Cassie merasa tidak adil sama sekali karena dirinya tidak ada kekasih untuk diajak bermain dan berlarian di taman seperti Martin dan Serena!Serena terkekeh pelan dan menyingkirkan tangan Martin yang berusaha menyentuh pinggangnya kembali.Plak!Suara renyah itu berasal dari tangan Serena yang berhasil menampol tangan Martin. Bukannya marah, Martin meringis pelan sembari tersenyum.Setelah kejadian memalukan itu, Serena dan Martin memutuskan untuk pergi. Dan Martin mengantarkan Serena pulang.Serena mengalami berbagai kejadian dalam hitungan sehari sehingga benar-benar kelelahan dan berakhir t
Bruk! Brak!Akh!Suara teriakan itu membuat Serena membuka mata dan tersadar dengan apa yang terjadi dengannya. Sedangkan Martin masih saja menikmati bibirnya tanpa sadar bahwa terjadi sesuatu.Serena menangkap dua orang di ujung sana yaitu jendela. Kemudian matanya melebar saat mengenali Cassie dan Elara.Plak!Serena mendorong Martin sekuat tenaga.“Ka-kau tidak mendengar?” Serena berdiri dengan wajahnya yang merah dan bibir yang basah. Mencoba baik-baik saja di hadapan Martin, meskipun jantungnya berdetak dengan kencang karena gugup.Martin menoleh ke samping, tepatnya pada kedua orang yang sedari tadi mengintipnya dan Serena.“Aku tahu,” ucap Martin santai dan mengedikkan bahu.“Kau tahu?” tanya Serena.Martin berdiri dan menghadap Serena. Lalu menundukkan tubuhnya yang jangkung itu untuk menyamakan tingginya dengan Serena.“Aku menciummu karena aku tahu mereka di sana,” ucap Martin.Akhirnya Serena tahu dibalik alasan Martin menciumnya adalah untuk meyakinkan kakak dan ibu pria i
Serena baru saja keluar dari kamar Cassie, kakak Martin, karena sebuah insiden memalukan yang membuatnya harus berganti pakaian. Namun untungnya, Cassie berbaik hati menawarkan dress.“Ikut denganku.” Martin langsung menggandeng tangan Serena, membuat perempuan itu terserentak kecil kemudian mengangguk ringan.Tidak ada kata di antara mereka, hanya sebuah keheningan. Karena kemewahan mansion benar-benar diluar bayangan Serena. Mansion tampak megah namun tetap memancarkan kehangatan dengan kesan klasik. Serena merasa diajak berkeliling di sebuah istana mewah.Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya sampai di sebuah pintu besar yang merupakan pintu keluar. Dan, di sanalah mereka berdua seolah berada di dunia yang berbeda.Taman yang dipenuhi bunga, ada pancuran air di tengah dan beberapa pohon besar yang mengelilingi taman.“Ini..” lirih Serena. “Seperti dalam dongeng.”Martin tersenyum kecil lalu menarik Serena lagi. Sampai mereka duduk di sebuah bangku.Serena menghela napas pelan. “







