เข้าสู่ระบบBeberapa menit yang lalu. Ava datang bersama Arjuna yang merupakan seorang polisi. Mereka bertemu di universitas karena ternyata Arjuna juga sedang kuliah jurusan hukum.Tidak sengaja bertemu saat mengurus administrasi dan akhirnya mengobrol dan Ava tidak menolak saat Arjuna menawarkan tumpangan.Karena ia pikir harus cepat sampai di kantor barunya.Lalu ia tidak menyangka kalau Isaac sudah berada di sana.Hubungannya dengan Isaac serasa biasa saja, karena ia lumayan menghindar.Semenjak kejadian di mana Isaac menjemputnya, Ava menjadi semakin menjaga jarak.“Terima kasih,” ucap Ava mengembalikan helm pada Arjuna.Sayang sekali mereka sering bertemu, ia kira hanya sekali saja dan tidak akan pernah bertemu.Tapi tidak buruk karena Arjuna lumayan baik.“Kau bekerja di sini?” tanya Arjuna menatap bangunan tinggi di hadapannya.“Iya, kami baru saja pindah.” Ava tersenyum. “Sampai jumpa karena aku harus segera ke dalam. Sepertinya sudah banyak orang yang datang karena hari ini adalah pembu
“Oh Shit,” lirih Bela menggandeng suaminya, Jason. “Sepertinya akan ada pertengkaran.”Jason mengusap tangan istrinya pelan. “Baru kali ini aku melihat mata Isaac seperti mata singa yang lapar.”Bela menyipitkan mata. “Bahkan saat dia melepaskanku untukmu tidak seseram itu ya? Aku jadi iri.”“Apa kamu bilang?” tanya Jason mencium pipi istrinya langsung tanpa basa-basi.“Iya-iya.” Bela terkekeh pelan. Ternyata begitu seru menggoda suaminya. “Aku sudah punya suami yang begitu tampan.” Mengusap lengan Jason pelan.Serena menggeleng pelan melihat Jason dan Bela. Ia sendiri juga tidak mau kalah dengan memeluk lengan Martin.“Kita di sini hanya untuk menonton mereka?” tanya Martin dengan mata yang hanya fokus menatap tiga orang yang ada di sana, Isaac, Ava dan satu lagi seorang pria dengan seragam aparat.“Kalau begitu kamu kembalilah ke kantor,” ucap Serena. “Kalian juga!” menatap Bela dan Jason.“Kalian harus bekerja, kenapa masih di sini dan menonton mereka?”Bela berdecak pelan. “Terlal
Serena menggunting tali pita yang terbentang ke sisi kanan dan kiri. Tujuannya sebagai perayaan pembukaan gedung baru yang akan digunakan sebagai kantor barunya.Dan sekarang bukan kantor, tapi firma hukumnya yang ia dirikan bersama Liana.Tentu saja ada bapak Martin yang terhormat sebagai investor utama firma hukum ini.“Terima kasih semua,” ucap Serena tersenyum, tangannya meraih lengan suaminya yang berada di sampingnya. memeluknya dengan bangga.Serena tidak pernah bermimpi di titik saat ini.Dua tahun lalu ia masih sibuk berlari dari kejaran rentenir, menghindari teman-teman sekolahnya dan meratapi nasibnya yang ditinggali banyak hutang.Tapi sekarang, ia berdiri dengan percaya diri di depan firma hukumnya dan memiliki banyak pegawai.Serena tahu semua yang ia raih saat ini tidak terlepas dari kerja keras suaminya.Martin, suaminya yang telah melindungi dan membelanya mati-matian dari orang-orang yang berusaha mencelakainya.“Terima kasih,” ucap Serena suaminya.Martin menunduk d
“Ada apa?” Serena mendongak, di atas tubuh suaminya yang telanjang, ia bertopang dagu.“Cassie tidak jelas, tiba-tiba menelepon dan ingin membatalkan kerja sama dengan perusahaan kekasihnya. Padahal aku sudah meninjau proposalnya,” jelas Martin. lalu tangannya mengusap dagu istrinya pelan.Setelah percintaan hebat mereka, teleponnya berbunyi dan ternyata dari kakaknya.Sebenarnya Martin ingin menolak panggilan dari kakaknya itu. karena sekarang adalah waktunya bermesraan dengan istrinya, tapi kakaknya itu mengganggunya.Namun karena ia mengingat jasa kakaknya yang menyatukannya dengan Serena, akhirnya ia mengangkat panggilan telepon di waktu hampir tengah malam ini.“Ada masalah?” tanya Serena. “Apa mereka bertengkar dan putus sampai kak Cassie memutuskan untuk membatalkan kerja sama saja?”Serena berguling ke samping, kemudian memeluk lengan suaminya.“Mungkin.” Martin mengernyit pelan. “Tadi saat aku tanya apa dia baik-baik saja? Dia bilang dia baik-baik saja dan,”“Dan?” ulang Sere
Ciiit! Mobil langsung berdecit karena Alvin menginjak pedal rem dengan keras. Tidak ada mobil atau kucing yang harus dihindari, karena kejadian itu murni karena perbuatan Alvin yang terkejut. “Alvin!” Cassie setengah berteriak. “Kau gila?” Alvin mengerjap pelan, kemudian menghadap Cassie. “Maaf, kak. Aku terkejut jadi..” “Kau terkejut hanya karena aku tanya kau sudah memiliki kekasih?” tanya Cassie tidak percaya. Alvin mengangguk pelan. “Aku hanya terkejut jadi aku sangat bodoh dan—” “Karena kau menyukaiku?” tanya Cassie langsung to the point. Cassie bukan orang yang memendam dan lebih suka berterus terang daripada bingung sendiri. “Kau menyukaiku ‘kan?” Alvin menghela napas kemudian meremas stir mobilnya. “Ya, tapi seharusnya bukan seperti ini.” “Sebenarnya,” lirih Alvin. Kemudian melepaskan sabuk pengamannya dan menghadap Cassie. “Aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu di acara perusahaan. Aku tidak berani mendekat karena kak Cassie adalah kakak sahabatk
Seorang pria tengah minum sendiri di sebuah bar. Tidak ada yang bersamanya karena teman-temannya kini sudah sibuk dengan dunia masing-masing.Alvin memandang gelasnya yang sudah kosong. “Isaac, bocah kecil itu sudah memikirkan perempuan sampai diajak minum tidak mau.”“Alvin,” panggil seseorang.Alvin menoleh kemudian mengernyit dan setelah tahu langsung memasang senyumnya.“Halo, kak.” Alvin tersenyum pada Cassie yang berada di hadapannya.“Kenapa kau di sini sendiri?” tanya Cassie menatap sekitar. “Kau patah hati?” guraunya.Alvin berdiri kemudian menggeleng. “Tidak, aku hanya bosan dan tidak memiliki teman untuk aku ajak minum.”“Kak Cassie sendiri?” tanya Alvin.“Aku habis bertemu dengan temanku,” ucap Cassie, kemudian menatap Alvin karena menurutnya menyedihkan.“Kau sudah makan? Mau makan bersamaku?” tanya Cassie.Alvin mengangguk. “Hm, aku juga lapar. Mau ke bawah? Di sana ada restoran.”Cassie mengeleng. “Tidak, aku punya tempat rekomendasi untuk makan. Ayo ikut denganku.”Alv
Beberapa menit yang lalu. Bela terpaksa berdiri di tepi jalan karena mobilnya mogok. Bela bersandar di mobilnya sembari menunggu bantuan datang. Namun tidak lama Ia mengangkat tangannya ketika melihat temannya yang keluar dari mobil dan masuk ke dalam sebuah rumah sakit. Bibir Bela sudah terbuka
“Laba bulan ini menunjukkan penurunan,” ujar Martin yang duduk di tengah meja panjang. Di sisi kanan dan kiri diisi oleh kepala Divisi. “Ada beberapa hal yang harus diperbaiki. Saya tidak ingin bulan depan terjadi seperti ini lagi. Perhitungan angkanya juga banyak yang salah.” Martin membolak-bal
“Aku seperti minum alkohol, tahu?” ucap Martin ketika pangutan mereka terlepas.Serena mendengus pelan kemudian tangannya bergerak di dada Martin dan mendorongnya.Tetapi entah kenapa tubuh Martin menjelma menjadi batu. Susah dan sangat keras, sehingga usahanya mendorong tidak membuahkan hasil.“Kru
Jarak Martin dengan Serena cukup jauh, namun Martin masih bisa menangkap suara Serena yang begitu cempreng. Martin menghentikkan langkahnya, kemudian memutar tubuhnya dan melihat Serena yang masih berada di luar Mansion.“Kenapa lagi?” Martin menyipitkan mata kemudian berjalan mendekat.Serena kemud







