INICIAR SESIÓN“Sayang kamu kenapa sibuk sekali?” Martin memeluk pinggang Serena dari belakang. menatap layar ponsel Serena yang masih menyala.“Apa? Kamu chat dengan Isaac?” Mata Martin langsung melotot melihat aplilkasi pesan teks di ponsel Serena.Tertulis jelas di sana nama ISAAC!“Apa yang kalian bicarakan.” Martin langsung menunduk dan melihat lebih dekat apa yang dibicarakan mereka berdua.“Aku hanya menyuruhnya menjemput Ava,” jawab Serena menunjukkan isi pesannya dengan Isaac.“Kenapa?” tanya Martin mengambil ponsel Serena, kemudian membacanya sampai akhirnya.“Ava menjenguk pria itu,” lirih Martin akhirnya mengerti.“Aku menyuruh Miko, tapi Miko tidak bisa jadi orang terakhir yang bisa aku mintai bantuan hanyalah Isaac,” lanjut Serena kemudian mengambil ponselnya kembali.“Tapi bukankah seharusnya itu bagus? Ava dan Isaac bisa bersama.” Marti menganggukan kepalanya dengan santai.“Tidak seperti bayangan kamu. Hubungan mereka rumit dan aku terpaksa meminta bantuan Isaac,” jelas Serena.“Tid
“Kau ingin memberiku uang?” tanya Gunawan yang berada di balik kaca.Sedangkan di hadapannya adalah putrinya yang ia telantarkan. Mereka dipisahkan oleh tembok kaca yang begitu kokoh dan tebal.Dan mereka hanya bisa berhadapan dan saling berbicara tanpa bisa menyentuh.“Berapa?” tanya Ava berusaha tenang.Gunawan tertawa pelan. “Kalau kau ingin berbakti padaku berikan yang banya, karena kau aku bangkrut dan berada di sini.”“Kau pantas mendapatkannya,” ucap Ava. “Aku ke sini hanya ingin melihatmu menderita.”“Dasar kurang ajar!” umpat Gunawan terlihat marah dengan garis wajah yang sudah tua itu menegas.“Beri aku uang!” teriaknya mulai hilang kendali.Ava tertawa pelan. “Andai aku bisa memilih, aku lebih baik tidak punya ayah daripada punya ayah sepertimu. Dan jika aku bisa memilih aku lebih memilih tidak pernah bertemu denganmu.”“Kau benar-benar kurang ajar,” desis Gunawan mulai tidak terkendali mendengar ucapan Ava.“Aku sangat senang kau bangkrut dan dipenjara. Aku berharap kau me
“Halo,” sapa Serena ketika masuk ke dalam kantornya.“Bu Serena!” Ava mendekat dan memeluk Serena dengan ceria.Sedangkan Liana, pengacara yang menggantikannya segera berdiri. “Selamat datang dan kembali ke kantormu.”Liana merupakan kenalan Martin.Karir Liana cemerlang di luar negeri dan kembali ke negeri ini ingin mendirikan kantor hukum sendiri. Tapi Martin segera menariknya untuk menggantikan Serena sementara.Dan rencananya ketika Serena sudah benar-benar sembuh, mereka akan mendirikan firma hukum sendiri.Liana memeluk Serena. “Maaf belum bisa menjengukmu sampai kau di sini,” ucapnya.Serena menggeleng. “Tidak masalah. Aku baik-baik saja sekarang.”“Ada yang ingin aku bicarakan, rencananya aku akan cuti bulan depan selama seminggu karena aku ingin mengantar anakku sekolah di sana,” ucap Liana.“Ya,” balas Serena mengangguk. “Kak Liana bisa pergi. Dia sudah kuliah?”“No, dia dapat beasiswa highschool di sana. Jadi aku dan suamiku ingin mengantarnya dan memastikan lingkungannya d
2 bulan berlalu.Serena memutuskan untuk pergi ke kantor setelah sekian lama, tujuannya bukan untuk sepenuhnya kembali bekerja.Ia ingin melihat perkembangan kantornya secara langsung. Dan minggu depan mereka akan pindah ke gedung baru.Omset kantornya melesat, perkembang jauh lebih baik dan merekrut lebih banyak pengacara.Serena mengernyit pelan melihat beberapa orang berjaga di depan kantornya.“Bu Serena,” panggil Miko yang akhirnya mendekat. Dengan cengirannya yang khas ia tersenyum.“Ada apa ini? kenapa banyak orang yang berjaga di depan seperti ini?” tanya Serena menatap tiga orang yang berjaga di depan kantornya.“Martin tidak bilang apa-apa,” lirih Serena. “Seharusnya jika penjagaan dari Martin, mereka akan konfirmasi dulu padaku.”Senyum Miko luntur kemudian pandangan mereka beralih pada mobil yang baru saja berhenti.Keluarlah seorang pria paruh baya dengan tubuh yang tegap. Memakai setelan kemeja yang rapi.“Miko,” panggil bapak itu.“Iya, pa.” Miko mendekat, kemudian mena
Serena dan Martin turun bersama. Lalu Serena terdiam di tempat seperti memastikan sesuatu pada dua orang yang sekarang berada di hadapannya.Ava terkekeh pelan, kemudian mendekat dan memeluk Serena. “Good morning, bu Serena.”Serena menggeleng pelan. “Sudah terlalu siang, Ava.”Ava mundur sembari tertawa, kemudian meraih kantong belanjaan yang di bawa oleh Isaac.“Dari kami,” ucap Ava semakin menambah gelengan pada kepala Serena.“Kami?” ulang Serena memastikan.“Iya, kami, kak.” Isaac menjawab sembari tersenyum dengan sangat manis. “Kami datang berdua untuk menjenguk kalian.”Martin memandang Isaac, pemandangan yang aneh. Tapi ia segera merangkul bahu Isaac.“Ayo kalian pasti ingin bertemu dengan Mathias.” Martin mengajak mereka untuk pergi ke kamar Mathias.“Katakan apa yang terjadi?” tanya Serena mendesak Ava. “Kamu berkencan dengan Isaac?”Seperti kakak yang ingin tahu hubungan kencan adiknya. Serena terdengar khawatir namun juga protektif.“Belum sejauh itu,” balas Ava. “Karena s
1 minggu berlalu dan Serena akhirnya pulang.Menggendong Mathias yang berada di tangannya. “Kita pulang,” ucapnya pelan.Serena memandang anaknya yang begitu manis. “Bukankah hidungnya mirip kamu ya?”Martin tersenyum. “Sudah pasti. Lihat wajahnya, nanti pasti akan lebih mirip aku.”Serena mengerucutkan bibirnya. “Mommy tidak kebagian apa-apa ya?” tanyanya pada Mathias yang menggeliat kecil di dalam gendongannya.Martin tertawa pelan. “Nanti sifatnya akan sehangat dirimu.”“Ooo…” Serena menyandarkan tubuhnya pada bahu suaminya. “Jangan pendiam dan sok dingin seperti Dad ya?”“Aku pendiam? Aku sok dingin?” ulang Martin.Serena terkekeh pelan dan berjalan cepat sembari menggendong Mathias menjauh dari Martin.Menaiki tangga dengan cepat.“Sayang! Pelan-pelan! kamu baru sembuh!” teriak Martin melihat Serena yang tengah menaiki tangga dengan cepat.Serena mengedikkan bahu karena merasa tubuhnya ringan dan tidak perlu berjalan dengan lemah lembut.Martin mengejar istrinya, lalu masuk ke da
Sampai di sebuah gedung Penthouse yang merupakan tempat tinggal orang tua kekasih Lia. Serena menatap gedung Apartemen yang nampak begitu bagus.Lia tidak berbohong, dari tempat tinggalnya saja bisa dipastikan kalau keluarga pria itu memang kaya. Tapi Serena tidak bisa membenarkan meski kaya tidak
Serena memutuskan untuk menghindar. Keputusannya adalah untuk meminimalisir kejadian seperti tadi malam.Bertemu dengan Martin tidaklah memberikan akhir yang baik. Dan, kejadian semalam adalah contohnya.Serena masuk ke dalam ruangan berbahaya pria itu, namun ia berhasil kabur setelah ciuman yang pa
Air keluar begitu deras dari selang, dan membuat tubuh Serena langsung basah kuyup.Semprotan air itu bukan hanya melunturkan lumpur dari pakaiannya, tetapi juga lumpur di wajahnya. Serena memejamkan mata begitu dorongan air itu mengenai wajahnya.Setelah melihat itu, Martin buru-buru mematikan kra
“Sudah satu jam sejak aku pulang dan dia tidak kunjung pulang juga. Dia juga tidak mengabariku. Bahkan teleponku tidak diangkat.” Martin mengomel pelan namun membawa atmosfer ketegangan.Karena Martin mengumpulkan security yang berjumlah lima untuk ia perintahkan mencari Serena. Security yang berada







