MasukSeorang pria duduk di kursi kebesarannya dengan santai.
Tersenyum. Senyum gembira yang berusaha disembunyikan.
“Sebentar lagi dia pasti ke sini.”
Sekretarsinya pun bingung. Apa yang sedang dipikirkan oleh bosnya.
Dariel menggeleng tidak yakin. Tapi ia segera pergi setelah mendapatkan telepon.
Setelah itu kembali lagi menemui Martin.
“Sir, ada yang ingin bertemu namanya—”
Bahkan Dariel belum selesai berbicara, Martin sudah berbicara lebih dulu. “Biarkan dia masuk. Hari ini aku kosong.”
Dariel semakin terheran. Akhirnya ia mengkoordinasi agar wanita yang ingin bertemu dengan Martin bisa naik ke lantai 20.
Martin menunggu dengan sabar.
Tangan yang berada di atas meja saling bertaut. Sikapnya tenang namun menunjukkan profesionalitas.
Sampai akhirnya pintu terbuka.
Benar saja, seorang wanita berada di hadapannya.
‘Apa-apaan ini. Kenapa dia terlihat tampan? Tidak adil sama sekali.’
Memasuki ruang kantor yang rapi dan bersih. Semuanya tertata dengan rapi.
Benar-benar tidak adil. Gambaran dari pria tampan dengan hidup yang serba ada.
“Kau terlihat senang?” Serena berjalan mendekat.
Serena menatap Martin.
Perlahan bayangan tentang malam itu mulai berputar di kepalanya.
Bagaimana bibirnya dan bibir Martin saling menempel.
“Hah!” Serena mundur dengan menutup bibirnya.
“Kenapa?” tanya Martin. “Kau sakit?” lanjutnya bertanya dengan khawatir.
Bahkan langsung berdiri dari singgasananya. Berjalan mendekati Serena dengan cepat.
Serena menggeleng keras.
Bulu kuduknya berdiri semua.
Martin lebih memperhatikan Serena.
“Bulu tanganmu berdiri!” Martin menunjuk tangan Serena.
Serena menatap tangannya. “Aku merinding!” memeluk lengannya sendiri.
‘Aku merinding karena mengingat ciuman kita! Seharusnya Serena bisa berkata seperti itu.’
Tapi tidak, itu akan menambah runyam situasi.
“Apa?” tanya Martin. “Kau menganggapku hantu, Serena Jane?” setengah duduk di meja.
Dengan tangan yang berpegang pada meja. Menampilkan lengannya yang kekar meski terbalut dengan kemeja putih.
Serena mengerjap. “Tidak mungkin aku menganggapmu hantu.” Mengadahkan tangannya menunjuk Martin.
“Kau se—” Serena menyipitkan mata. “Kau setam—sebagus ini!” akhirnya memiliki kata yang pas untuk memuji Martin.
Martin terkekeh pelan. “Aku yakin kau ingin bilang aku tampan.”
Menggeleng. “Ti-tidak..” mendadak terbata.
Serena mengernyit. “Kau bagus menggunakan setelan pakaian kantor. Kau bagus saat duduk di kursimu. Kau bagus saat berada di ruanganmu.”
Serena tersenyum. “Kau sama sekali tidak membuatku merinding. Aku hanya merinding tanpa alasan. Lupakan saja.” Mengibaskan tangannya.
Martin menarik kursi di hadapannya.
Menunjuk kursi itu dengan dagu, sembari menatap Serena.
Menyuruh Serena duduk di sana meski tanpa kata.
Serena patuh.
Martin mencondongkan tubuhnya. “Jadi kenapa kau ke sini?”
Serena mendongak. “Aku bersedia menikah denganmu.”
Kalimat itu membuat sudut bibir Martin tertarik ke atas.
“Oke. Kita akan menikah.”
“Tapi.” Serena telah memikirkan banyak hal sebelum datang ke sini. “Pasti ada aturannya bukan? Tentang pernikahan kita nanti.”
Martin mengangguk. “Kau ingin aturan seperti apa?” malah bertanya.
“Terserah padamu! Kau yang memberiku uang!”
Sepertinya ucapan Serena sangat salah.
Martin tersenyum miring. “Benarkah terserah padaku? Kau yakin?”
“Ma-maksudku..” Serena memejamkan mata sebentar. “Kita harus membahas beberapa hal untuk kehidupan pernikahan kita. Kita harus mendiskusikannya. Kemauanmu dan kemauanku. Batas toleransi diantara kita juga harus jelas.”
Martin menegakkan tubuhnya. Berdiri dengan santai. Memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.
Bahkan gerakan sederhana seperti itu terlihat sangat mempesona.
Serena menghela napas. Tapi entah kenapa ingatan dirinya dan Martin berciuman membuatnya enggan tapi juga…
Ah entahlah! Sulit dijelaskan.
“Kita akan tinggal bersama. Pernikahan akan berakhir sesuai kemauanku.” Martin memiringkan kepala. “Seperti katamu, karena aku yang membayarmu.”
Sialan! Serena benar-benar salah bicara.
“Batas toleransi…” lirih Martin. “Maksudmu seberapa jauh kau bisa menyentuhku?”
“Mana ada!” Serena langsung ngamuk. “Kau pria. Pria selalu mencari kesempatan disegala situasi. Kenapa jadi aku.”
Martin terkekeh. “Kau tidak ingat kemarin malam?”
“Itu kesalahan!” Serena tidak terima dengan menghentakkan kakinya ke lantai. “Itu terjadi karena aku minum alkohol. Kalau waras seperti ini tidak mungkin menyerangmu lebih dulu.”
“Benarkah?” tanya Martin dengan smirk.
Gerakan pria itu tiba-tiba.
Menarik kursi Serena. Mencondongkan tubuhnya sembari kedua tangannya terulur menyentuh sandaran tangan kursi. Secara tidak langsung sedang memperangkap Serena.
“Kau berpikir aku bisa menyerangmu kapanpun?”
Jarak mereka sangat dekat.
Cukup untuk menyadari bahwa kehadiran mereka sama-sama ada. Parfum yang menyeruak dari tubuh Martin.
Beraroma maksulin, perpaduan sandalwold khas kayu-kayuan. Tentunya menyeruak di hidung Serena dengan mudah.
“Mungkin?”
“Jadi kau menuduhku Serena Jane?” tanya Martin dengan suara yang rendah.
“Tidak menuduhmu. Masalahnya adalah kau bisa saja melakukan hal itu!”
Bau parfum Martin membuatnya tidak bisa konsentrasi.
Aroma dominasi namun menyegarkan.
“Kalau kau bisa berpikir demikian, berarti kau percaya diri bukan?” menatap Serena.
Dari wajah kemudian turun…
Serena melebarkan matanya. Tatapan Martin jelas mengarah pada tubuhnya.
“Hah!” mendorong dada Martin menjauh. “Jauh-jauh dariku.”
Martin terpaksa menjauh dengan smirk yang tersembunyi. Meski dorongan Serena tidak keras, tapi cukup mampu membuatnya bergerak mundur.
Serena berdiri, merapikan blouse murahan yang biasa digunakan menunggu kliennya.
Meski murahan setidaknya tidak mengurangi kecantikannya!
“Kau tahu, masalah toleransi seperti itu tidak bisa dibuat mutlak. Bagaimana kalau situasinya mengharuskanmu menyentuhku? Seperti kemarin malam?” tanya Martin.
“Kalau begitu…” Serena butuh berpikir.
“Harus ada hukumannya. Bagaimana kalau yang menyentuh duluan harus membayar 20 juta?” lanjut Martin karena Serena tidak kunjung menjawab.
Serena langsung terbelalak.
Bajingan! Pria ini menggunakan uang untuk menaklukannya.
Martin mendekat. Menundukkan tubuhnya agar bisa sejajar dengan Serena. “Batas toleransi harus dibuat secara fleksibel.”
“Baiklah!” Serena setuju.
Tidak mau berdebat lagi, takut menjadi boomerang untuknya.
“Pengacaraku akan membuat perjanjian kita. Aku akan mengirimnya setelah selesai. Kita bisa mendiskusikannya kembali sebelum benar-benar tandatangan. Sekarang…”
Martin menatap Serena.
Serena mengernyit bingung.
“Ayo bertemu dengan orang tuaku.”
Serena kira pakaian atau dress yang cantik, tetapi bukan. Cassie memberinya sebuah dress yang terbuat dari jaring-jaring transparan dan tertutup pada bagian tubuh tertentu.“Lingerie!” Serena terpaku sejenak.Ia bukan ingin menunjukkan pada Martin, tetapi pria itu lebih dulu keluar dari toilet dan melihat lingerie itu.“Kau ingin menggodaku dengan itu, Serena Jane?” tanya Martin yang saat ini berada di ambang pintu toilet.Martin tidak kuasa menahan senyumnya sembari bersandar di dinding, kemudian mulai menyadari Serena yang salah tingkah.Gerakan Serena cepat karena ingin segera memasukkan kembali pakaian seksi itu ke dalam paper bag. Dan lebih lucunya lagi, Serena begitu gugup sampai pakaian itu terjatuh ke lantai.“Santai saja,” ucap Martin akhirnya mendekat kemudian memungut pakaian itu. “Kalau kau sangat ingin menggunakannya aku akan senang hati melihatmu.”“Tidak mungkin!” Serena segera merebut pakaian itu dan memasukkannya kembali ke dalam paper bag.Ingin mengumpat tapi yang d
After wedding.“Katanya privat dan tidak mengundang banyak orang. Tapi, aku hitung ada banyak orang dan kayaknya 200 orang!” keluh Serena menyeret gaun pernikahan.Martin hanya mendengarkan omelan Serena dengan tenang. Namun reaksi Martin tidak membuat Serena ikut tenang juga. Justru Serena menjadi kesal karena Martin terkesan tidak memedulikannya.Acara pernikahan baru saja usai dan saat ini mereka menuju kamar hotel di mana mereka menginap. Lorong hotel ini terasa begitu panjang dan Serena hanya bertelanjang kaki sembari menyeret gaunnya yang panjang.“Martin!” keluh Serena.“Kenapa? mau aku gendong?” tawar Martin berbaik hati dan sebenarnya sudah menawarkan untuk menggendong Serena sejak mereka keluar dari ruang acara pernikahan tetapi Serena menolaknya.“Tidak mau ‘kan? Kau ingin aku apa?” lanjut Martin.Serena mengerucutkan bibirnya dan dalam hatinya kini bertanya apa Martin marah?“Kau marah?”“Tidak.” Martin melangkah lebih dekat dan hal itu membuat Serena terkesiap.Serena ber
Serena tidak mengindahkan ajakan gila Martin meskipun ia juga tidak begitu nyaman tinggal di apartemennya yang sekarang. Kemarin malam, Serena sampai harus mengusir pria itu agar pergi.Tetapi Martin tidak langsung pergi melainkan mengantarnya sampai ke Apartemen. Dan pria itu memastikan bahwa pintu apartemennya tidak bisa dibuka sembarangan dari luar.Perhatian yang perlu karena Serena mengerti Martin harus memastikannya baik-baik saja sebelum pernikahan berlangsung.Hari ini adalah fitting gaun untuk pernikahan mereka dan Serena kira ia akan pergi sendiri. Tetapi ternyata bersama Martin.“Kau luang?” tanya Serena.Martin keluar dari mobil. “Seperti yang kau lihat.”Serena menurunkan pandangannya kemudian mengamati penampilan Martin dari bawah sampai atas. “Rapi sekali, setelah ini pasti kau akan pergi rapat.”“Ti—”“HAYOO!”Serena memejamkan mata, lalu menggigit bibir bawahnya karena lelah. Seseorang yang datang tanpa diundang adalah Lia, tetangganya kemarin malam yang mabuk dan mem
“KYAAAK!”Teriakan itu membuat Serena mendorong Martin. Kali ini Serena berhasil melepaskan diri dari Martin, tetapi sepertinya Martin enggan melepaskannya.“KALIAN BERHENTILAH PACARAN DI TAMAN!” suara Cassie menggelegar sehingga terdengar marah.Cassie bukannya marah, tetapi kesal pada mereka berdua. Bisa-bisanya masih meneruskan pacaran setelah dirinya dan Mommy jatuh setelah mengintai mereka.Cassie merasa tidak adil sama sekali karena dirinya tidak ada kekasih untuk diajak bermain dan berlarian di taman seperti Martin dan Serena!Serena terkekeh pelan dan menyingkirkan tangan Martin yang berusaha menyentuh pinggangnya kembali.Plak!Suara renyah itu berasal dari tangan Serena yang berhasil menampol tangan Martin. Bukannya marah, Martin meringis pelan sembari tersenyum.Setelah kejadian memalukan itu, Serena dan Martin memutuskan untuk pergi. Dan Martin mengantarkan Serena pulang.Serena mengalami berbagai kejadian dalam hitungan sehari sehingga benar-benar kelelahan dan berakhir t
Bruk! Brak!Akh!Suara teriakan itu membuat Serena membuka mata dan tersadar dengan apa yang terjadi dengannya. Sedangkan Martin masih saja menikmati bibirnya tanpa sadar bahwa terjadi sesuatu.Serena menangkap dua orang di ujung sana yaitu jendela. Kemudian matanya melebar saat mengenali Cassie dan Elara.Plak!Serena mendorong Martin sekuat tenaga.“Ka-kau tidak mendengar?” Serena berdiri dengan wajahnya yang merah dan bibir yang basah. Mencoba baik-baik saja di hadapan Martin, meskipun jantungnya berdetak dengan kencang karena gugup.Martin menoleh ke samping, tepatnya pada kedua orang yang sedari tadi mengintipnya dan Serena.“Aku tahu,” ucap Martin santai dan mengedikkan bahu.“Kau tahu?” tanya Serena.Martin berdiri dan menghadap Serena. Lalu menundukkan tubuhnya yang jangkung itu untuk menyamakan tingginya dengan Serena.“Aku menciummu karena aku tahu mereka di sana,” ucap Martin.Akhirnya Serena tahu dibalik alasan Martin menciumnya adalah untuk meyakinkan kakak dan ibu pria i
Serena baru saja keluar dari kamar Cassie, kakak Martin, karena sebuah insiden memalukan yang membuatnya harus berganti pakaian. Namun untungnya, Cassie berbaik hati menawarkan dress.“Ikut denganku.” Martin langsung menggandeng tangan Serena, membuat perempuan itu terserentak kecil kemudian mengangguk ringan.Tidak ada kata di antara mereka, hanya sebuah keheningan. Karena kemewahan mansion benar-benar diluar bayangan Serena. Mansion tampak megah namun tetap memancarkan kehangatan dengan kesan klasik. Serena merasa diajak berkeliling di sebuah istana mewah.Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya sampai di sebuah pintu besar yang merupakan pintu keluar. Dan, di sanalah mereka berdua seolah berada di dunia yang berbeda.Taman yang dipenuhi bunga, ada pancuran air di tengah dan beberapa pohon besar yang mengelilingi taman.“Ini..” lirih Serena. “Seperti dalam dongeng.”Martin tersenyum kecil lalu menarik Serena lagi. Sampai mereka duduk di sebuah bangku.Serena menghela napas pelan. “







