เข้าสู่ระบบSeorang pria duduk di kursi kebesarannya dengan santai.
Tersenyum. Senyum gembira yang berusaha disembunyikan.
“Sebentar lagi dia pasti ke sini.”
Sekretarsinya pun bingung. Apa yang sedang dipikirkan oleh bosnya.
Dariel menggeleng tidak yakin. Tapi ia segera pergi setelah mendapatkan telepon.
Setelah itu kembali lagi menemui Martin.
“Sir, ada yang ingin bertemu namanya—”
Bahkan Dariel belum selesai berbicara, Martin sudah berbicara lebih dulu. “Biarkan dia masuk. Hari ini aku kosong.”
Dariel semakin terheran. Akhirnya ia mengkoordinasi agar wanita yang ingin bertemu dengan Martin bisa naik ke lantai 20.
Martin menunggu dengan sabar.
Tangan yang berada di atas meja saling bertaut. Sikapnya tenang namun menunjukkan profesionalitas.
Sampai akhirnya pintu terbuka.
Benar saja, seorang wanita berada di hadapannya.
‘Apa-apaan ini. Kenapa dia terlihat tampan? Tidak adil sama sekali.’
Memasuki ruang kantor yang rapi dan bersih. Semuanya tertata dengan rapi.
Benar-benar tidak adil. Gambaran dari pria tampan dengan hidup yang serba ada.
“Kau terlihat senang?” Serena berjalan mendekat.
Serena menatap Martin dan perlahan bayangan tentang malam itu mulai berputar di kepalanya.
Bagaimana bibirnya dan bibir Martin saling menempel dan bagaimana dirinya memohon pada pria itu.
“Ah... Martin... Jangan…” Suara Serena terdengar memohon, tercekat di tenggorokan saat tubuhnya ditekan ke kasur. Jemarinya mencengkeram seprai, berusaha mencari pegangan di tengah sensasi nikmat yang mendera.
"Lepaskan aku..."
Namun, tubuh di atasnya tidak bergerak. Sebaliknya, pria itu justru menekan lebih dekat, membuat panas tubuh mereka semakin terasa membara.
Dengan tangan kiri menahan dua pergelangan Serena. Tangan kanan pria tersebut bergerilya, menelusuri setiap lekuk tubuh Serena sembari sesekali meremas pelan.
Sampai akhirnya, jari pria itu menerobos masuk satu tempat terlarang.
“Hnng!”Desahan tertahan itu lolos begitu saja bersamaan dengan tubuh Serena yang menegang.
Berkali-kali pria itu menyerang, sampai akhirnya tubuh Serena mengejang, lalu berujung melemas dalam pelukan.Di saat itu, tawa rendah penuh kemenangan terdengar, diiringi dengan bisikan dalam yang menggoda.
“Mulutmu terus menolak, tapi… tubuhmu berkata sebaliknya, Serena….”“Hah!” Serena mundur dengan menutup bibirnya karena akhirnya mengingiat kejadian itu. Meski hanya samar-samar, tetapi jelas kalau suara dan tubuh pria malam itu memang Martin.
“Kenapa?” tanya Martin. “Kau sakit?” lanjutnya bertanya dengan khawatir.
Bahkan langsung berdiri dari singgasananya. Lalu berjalan mendekati Serena dengan cepat.
Serena menggeleng keras dan bulu kuduknya berdiri semua.
Martin lebih memperhatikan Serena.
“Bulu tanganmu berdiri!” Martin menunjuk tangan Serena.
Serena menatap tangannya. “Aku merinding!” memeluk lengannya sendiri.
‘Aku merinding karena mengingat ciuman kita! Seharusnya Serena bisa berkata seperti itu.’
Tapi tidak, itu akan menambah runyam situasi.
“Apa?” tanya Martin. “Kau menganggapku hantu, Serena Jane?” setengah duduk di meja.
Dengan tangan yang berpegang pada meja. Menampilkan lengannya yang kekar meski terbalut dengan kemeja putih.
Serena mengerjap. “Tidak mungkin aku menganggapmu hantu.” Mengadahkan tangannya menunjuk Martin.
“Kau se—” Serena menyipitkan mata. “Kau setam—sebagus ini!” akhirnya memiliki kata yang pas untuk memuji Martin.
Martin terkekeh pelan. “Aku yakin kau ingin bilang aku tampan.”
Menggeleng. “Ti-tidak..” mendadak terbata.
Serena mengernyit. “Kau bagus menggunakan setelan pakaian kantor. Kau bagus saat duduk di kursimu. Kau bagus saat berada di ruanganmu.”
Serena tersenyum. “Kau sama sekali tidak membuatku merinding. Aku hanya merinding tanpa alasan. Lupakan saja.” Mengibaskan tangannya.
Martin menarik kursi di hadapannya.
Menunjuk kursi itu dengan dagu, sembari menatap Serena.
Menyuruh Serena duduk di sana meski tanpa kata.
Serena patuh.
Martin mencondongkan tubuhnya. “Jadi kenapa kau ke sini?”
Serena mendongak. “Aku bersedia menikah denganmu.”
Kalimat itu membuat sudut bibir Martin tertarik ke atas.
“Oke. Kita akan menikah.”
“Tapi.” Serena telah memikirkan banyak hal sebelum datang ke sini. “Pasti ada aturannya bukan? Tentang pernikahan kita nanti.”
Martin mengangguk. “Kau ingin aturan seperti apa?” malah bertanya.
“Terserah padamu! Kau yang memberiku uang!”
Sepertinya ucapan Serena sangat salah.
Martin tersenyum miring. “Benarkah terserah padaku? Kau yakin?”
“Ma-maksudku..” Serena memejamkan mata sebentar. “Kita harus membahas beberapa hal untuk kehidupan pernikahan kita. Kita harus mendiskusikannya. Kemauanmu dan kemauanku. Batas toleransi diantara kita juga harus jelas.”
Martin menegakkan tubuhnya. Berdiri dengan santai. Memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.
Bahkan gerakan sederhana seperti itu terlihat sangat mempesona.
Serena menghela napas. Tapi entah kenapa ingatan dirinya dan Martin berciuman membuatnya enggan tapi juga…
Ah entahlah! Sulit dijelaskan.
“Kita akan tinggal bersama. Pernikahan akan berakhir sesuai kemauanku.” Martin memiringkan kepala. “Seperti katamu, karena aku yang membayarmu.”
Sialan! Serena benar-benar salah bicara.
“Batas toleransi…” lirih Martin. “Maksudmu seberapa jauh kau bisa menyentuhku?”
“Mana ada!” Serena langsung ngamuk. “Kau pria. Pria selalu mencari kesempatan disegala situasi. Kenapa jadi aku.”
Martin terkekeh. “Kau tidak ingat kemarin malam?”
“Itu kesalahan!” Serena tidak terima dengan menghentakkan kakinya ke lantai. “Itu terjadi karena aku minum alkohol. Kalau waras seperti ini tidak mungkin menyerangmu lebih dulu.”
“Benarkah?” tanya Martin dengan smirk.
Gerakan pria itu tiba-tiba.
Menarik kursi Serena. Mencondongkan tubuhnya sembari kedua tangannya terulur menyentuh sandaran tangan kursi. Secara tidak langsung sedang memperangkap Serena.
“Kau berpikir aku bisa menyerangmu kapanpun?”
Jarak mereka sangat dekat.
Cukup untuk menyadari bahwa kehadiran mereka sama-sama ada. Parfum yang menyeruak dari tubuh Martin.
Beraroma maksulin, perpaduan sandalwold khas kayu-kayuan. Tentunya menyeruak di hidung Serena dengan mudah.
“Mungkin?”
“Jadi kau menuduhku Serena Jane?” tanya Martin dengan suara yang rendah.
“Tidak menuduhmu. Masalahnya adalah kau bisa saja melakukan hal itu!”
Bau parfum Martin membuatnya tidak bisa konsentrasi.
Aroma dominasi namun menyegarkan.
“Kalau kau bisa berpikir demikian, berarti kau percaya diri bukan?” menatap Serena.
Dari wajah kemudian turun…
Serena melebarkan matanya. Tatapan Martin jelas mengarah pada tubuhnya.
“Hah!” mendorong dada Martin menjauh. “Jauh-jauh dariku.”
Martin terpaksa menjauh dengan smirk yang tersembunyi. Meski dorongan Serena tidak keras, tapi cukup mampu membuatnya bergerak mundur.
Serena berdiri, merapikan blouse murahan yang biasa digunakan menunggu kliennya.
Meski murahan setidaknya tidak mengurangi kecantikannya!
“Kau tahu, masalah toleransi seperti itu tidak bisa dibuat mutlak. Bagaimana kalau situasinya mengharuskanmu menyentuhku? Seperti kemarin malam?” tanya Martin.
“Kalau begitu…” Serena butuh berpikir.
“Harus ada hukumannya. Bagaimana kalau yang menyentuh duluan harus membayar 20 juta?” lanjut Martin karena Serena tidak kunjung menjawab.
Serena langsung terbelalak.
Bajingan! Pria ini menggunakan uang untuk menaklukannya.
Martin mendekat. Menundukkan tubuhnya agar bisa sejajar dengan Serena. “Batas toleransi harus dibuat secara fleksibel.”
“Baiklah!” Serena setuju.
Tidak mau berdebat lagi, takut menjadi boomerang untuknya.
“Pengacaraku akan membuat perjanjian kita. Aku akan mengirimnya setelah selesai. Kita bisa mendiskusikannya kembali sebelum benar-benar tandatangan. Sekarang…”
Martin menatap Serena.
Serena mengernyit bingung.
“Ayo bertemu dengan orang tuaku.”
Anniversary yang diinginkan Serena adalah makan dengan teman terdekat. Dan hari ini Martin mewujudkannya, memberikan nuansa hangat sebagai perayaan ulang tahun pernikahan mereka. Halaman taman belakang disulap dengan begitu cantik. Meja panjang dilapisi oleh taplak berwarna putih. Lalu sisi kanan dan kirinya terdapat kursi yang digunakan untuk duduk pada tamu. “Cheers untuk Serena dan Martin!” teriak Bela mengangkat gelas yang berisi anggur. Semua orang tertawa dan akhirnya mengangkat gelasnya. Lalu disusul oleh bunyi gelas yang berdenting. Bela menoleh ketika suaminya mengusap pinggangnya pelan. “Kamu bersemangat karena ingin minum bukan?” “Tentu saja.” Bela mengangguk. “Meski Serena bilang hanya makan-makan, tapi sesungguhnya ini pesta.” Menatap sahabatnya sebentar. Sedangkan Serena hanya menggeleng pelan. “Kamu yang menjaga anak-anak,” ucap Bela. “Jangan minum alkohol setetes pun.” Jason meneguk ludahnya mendengar larangan dari istrinya. Tapi ia mengangguk setuju. Bagaimana
“Isaac,” lirih Ava menatap seorang pria yang berada di hadapannya sedang mengulurkan tangan.Isaac tersenyum tipis dengan tangan yang masih terulur ingin membantu Ava.Tidak sengaja lewat dan melihat seseorang yang menjadi pusat perhatian. Dan anehnya meski tidak pernah bertemu, ia masih mengingat dengan jelas bagaimana wajah perempuan yang membuatnya berantakan 5 tahun yang lalu.Isaac menunduk. “Ayo aku bantu.”Ava mengusap pipinya kemudian menerima uluran tangan Isaac. “Aku bisa pulang sendiri.”“Terima kasih.” Ava baru saja ingin berjalan, tapi langkahnya hampir tersandung lagi.Untungnya ada Isaac yang menangkapnya dengan cepat. Isaac merengkuh pinggang Ava untuk membantu. “Hati-hati.”“Aku akan mengantarmu.” Isaac akhirnya membantu Ava untuk masuk ke dalam mobil.Dan ketika berada di dalam mobil, kecanggungan pun terjadi.Ava membuang wajah ke samping, lalu kedua tangannya bersindekap. Sesekali menghembuskan napas kasar.Isaac menoleh ke samping, kemudian menghela napas pelan. “
Seorang perempuan tengah mengusap rambutnya kasar keluar dari sebuah rumah besar.Berjalan sendiri dan terburu-buru, namun ada satu pria yang mengejarnya.“Ava tunggu!” Arjuna berlari lalu menangkap tangan Ava. “Tunggu, sebentar.”Ava melepaskan tangan Arjuna. “Aku sudah berusaha membuat orang tuamu senang, tapi mereka tetap tidak merestui kita. Aku tahu aku bukan dari keluarga baik-baik seperti yang orang tuamu inginkan, tapi mereka tidak berhak menghina ibuku yang sedang berjuang di rumah sakit.”“Maafkan aku. Kita nikah lari saja oke?” Arjuna menyentuh kedua bahu kekasihnya.Satu tahun mereka menjalin hubungan asmara. Tetapi, selama setahun itu pula hubungan mereka ditentang oleh keluarga Arjuna.Ava tahu backround keluarganya yang membuat orang tua Arjuna enggan memberi restu.Tapi, ia berusaha memenangkan hati orang tua Arjuna dengan membelikan beberapa barang untuk ibu Arjuna setiap kali dirinya gajian, membawa banyak makanan setiap kali datang ke rumah orang tua Arjuna dan diri
Dua anak yang sedang kejar-kejaran itu membuat kedua orang tuanya pusing.Anak kembar yang sedang berlarian itu sedang berebut mainan, tidak ada yang mau mengalah meski mereka saudara. Dan meski masing-masing mereka sudah mendapatkan mainan yang sama.Bela berkacak pinggang. “Berhenti!” ucapnya seperti seorang komando barisan di upara bendera.Dua anak itu akhirnya berhenti, lalu berbaris seperti layaknya barisan.“Jangan bertengkar, mainan kalian sama,” ucap Bela begitu lelah. Kemudian berkacak pinggang dan mengambil sapu panjang yang berada di sampingnya.“Mau ini?” tanyanya.“Tidak,” balas mereka serempak.Tapi itu hanya terjdi beberapa menit setelahnya, mereka sempat kembali bermain dengan tertib tapi setelah itu kembali bertengkar lagi.Bela menggigit bibir bawahnya, kemudian ikut berlari mengejar anaknya sembari membawa sapu panjang.“Mana yang nakal? Sini Mama cambuk!” Bela menggila. Ikut berlarian mengejar dua anaknya yang kini ketakutan dengan sapu panjang.“AAAA MAMA!”“MAMA
Mathias berpura-pura tidak mendengar pertanyaan orang tuanya. Ia sibuk memeluk bola dengan pipi yang sudah merah.Persis seperti Serena ketika tersipu.“Sepertinya aku tahu,” ucap Martin tersenyum sembari memandang istrinya.Lalu menatap putranya melalui spion kaca. “Anak baru ‘kan? Dia bilang kamu tampan.”Mathias mendongak dan menatap ayahnya melalui kacanya. Wajahnya tidak bisa berbohong jika ucapan ayahnya memang benar.“Ada murid baru?” tanya Serena menoleh ke belakang. “Sungguh? Seperti apa dia?”Mathias menatap Serena dengan ragu. Kemudian tersenyum. “Dia cantik,” ucapnya sangat pelan, seperti seseorang yang begitu gengsi untuk memuji lawan jenis.Serena tertawa, kemudian menatap lurus ke depan.Martin melirik istrinya lalu menyenggol lengan istrinya pelan.Mereka sama-sama terkejut karena sudah ditahap putra mereka tahu mana yang cantik.“Bertemanlah dengan dia,” ucap Serena menahan senyumnya.Mathias mengangguk pelan, kemudian melompat turun dan mendekati bangku orang tuanya.
5 tahun berlalu.“Hai boy!” Martin menyambut putranya yang baru saja keluar dari sekolah.Mathias berlari kecil ke arah ayahnya yang menjemputnya. Dengan senyum sumringah dan tubuh yang begitu ringan, Mathias langsung melompat masuk ke dalam mobil.Martin menatap bola yang dilempar Mathias ke belakang. “Habis main bola?”“Iya,” jawab Mathias kemudian mengulurkan tangannya dan menunjukkan lima jarinya.“Tos!” Martin bertos ria dengan putranya.Ia tidak tahu kenapa Mathias begitu suka dengan sepak bola. Setiap hari selalu membawa bola sendiri ke sekolah. Lalu di bawa pulang dan keesokan harinya di bawa lagi.Saat ditanya kenapa tidak ditinggal di sekolah saja, katanya tidak mau takut bolanya hilang.Yasudah, Martin tidak masalah selagi putranya bisa sekolah dengan baik dan semangat.“Kita jemput Mommy dulu,” ucap Martin menyetir dengan pelan. tidak seperti biasanya, karena sekarang ia menyetir sendiri.“Bagaimana dengan sekolahmu tadi? Ada yang menyenangkan?” tanya Martin.Mathias duduk
“Selamat atas pernikahanmu dengan pemilik Benson,” ucap seseorang mengulurkan tangannya.Serena menatapnya dalam diam. Kemudian akhirnya menjabat tangan di hadapannya itu.Serena hanya tersenyum tipis kemudian bersindekap. “Tidak ada tujuan mengajakku bertemu setelah sekian lama?”Wanita itu tersen
“Sayang,” panggil Martin di dalam mobil.Mereka sedang perjalanan pulang, tadi siang Serena menyuruhnya pergi namun Serena juga ingin dijemput Martin.Itulah kenapa mereka pulang bersama.“Maaf aku tidak bercerita,” ucap Serena kemudian.“Aku hanya tidak ingin menyeret kamu ke dalam masalahku. Kare
Jason pikir perasaannya pada Bela akan segera berlalu setelah mereka kencan selama satu hari.Ternyata tidak, perasaannya kian dalam.Ciuman mereka di rooftop memenuhi pikirannya, seakan terkunci dan tidak ingin keluar dari otaknya.Lalu, berputar, terus berputar dan menghantuinya.Membuatnya kehil
Hari ini adalah pembahasan pertama mengenai rencana renovasi sebuah gedung apartemen yang sudah tua.Bela tidak menyangka, seorang Jason yang merupakan pewaris perusahaan tamban dan katanya begitu sibuk, bisa berada di sini.Anehnya lagi nampak begitu santai dan begitu sengaja.“Oke, kita mulai sek







