Share

bab 6

Author: Tiga djati
last update Last Updated: 2025-11-26 09:07:37

Pria itu terus meracau.

Shanina berdeham. "Tuan, ini tehmu. Minumlah selagi hangat."

Pria itu tidak menggubrisnya.

Jakun pria itu naik turun, dari garis leher hingga turun ke dada bidangnya yang terbuka akibat kancing yang terlepas, mampu mendistraksi pikiran Shanina.

"Tuan, minumlah ini agar kau lekas pulih. Um, kalau begitu aku pergi dulu."

Shanina belum mengambil langkah. Ia ragu. Bagaimana jika perkataan Kaysen benar?

Jika orang ini mati, yang jadi tersangka pertama adalah aku.

Tapi... apa betul Theo akan mati secepat itu hanya karena hal remeh tersebut?

Shanina menggelengkan kepalanya. Semakin cepat selesai, semakin baik. Ia berjalan menghampiri Theo, mengguncang pelan bahunya.

"Permisi, tolong minum ini sebentar."

"Hngh."

"Ya Tuhan," keluh Shanina, berdecak pelan.

"Aku lagi? yang harus melakukan semua ini?" gumamnya.

Shanina menepuk-nepuk pipi Theo, agak kencang.

Mata pria itu perlahan terbuka.

"Hayley?"

"Maaf." Shanina dengan kejam mendekatkan cangkir ke mulut Theo dan memaksa pria itu menelan semuanya.

"Nah, sudah, 'kan?"

Shanina menatap datar air teh yang membasahi dada pria itu dan yang menetes keluar dari hidung bangirnya.

Theo masih terbatuk-batuk.

Shanina hendak kabur dari sana. Ia telah melakukan kesalahan dengan bertindak kasar terhadap tuannya, meski teh pereda pengar tersebut akhirnya tertelan sebagian besar.

Ia harus menyembunyikan diri.

Theo menatap seluset Shanina yang hendak pergi, lalu tiba-tiba menarik tangan gadis itu dengar keras hingga Shanina terseret mundur dan jatuh ke pangkuannya.

"Lepas! Aw!"

Shanina meringis kesakitan ketika Theo mendekap tubuhnya terlalu erat, membuat perutnya tertekan dan sesak.

"Hayley... aku sangat merindukanmu. Tolong jangan pergi."

"Andai aku Hayley. Tapi aku bukan dia! Lepaskan aku!"

"Jangan tinggalkan aku."

Shanina meronta-ronta. Tenaga Theo sangatlah kuat meski tubuhnya masih setengah sadar karena alkohol. Shanina tidak bisa menjangkau apa pun atau bergerak dari cengkraman Theo.

"Aku bukan Hayley, Tuan! Tolong sadarlah!"

Shanina melihat Amela lewat di depan kamar.

"Bibi! Tolong aku!"

Tapi bibinya hanya kembali untuk menutup pintu kamar, menoleh sambil tersenyum puas, lalu pergi meninggalkannya.

"Tidak! Bibi! Apa yang kau lakukan?! Tolong aku!"

Shanina memang sudah menduga ada sesuatu yang tidak beres, tapi ia percaya diri bisa kabur dari rencana bibinya. Nyatanya, semuanya terbalik. Ia terjebak di dalam situasi yang menyesakkan.

Tubuh Theo limbung ke samping, otomatis Shanina juga terseret.

"Ah!" Shanina memekik ketakutan.

"Lepaskan aku, kumohon biarkan aku pergi." Air matanya mulai jatuh deras, suaranya pecah. Cekalan Theo semakin kuat hingga ia kesakitan dan hampir tak bisa bernapas. Krisis itu membuatnya ketakutan setengah mati

Theo menundukkan wajahnya, menempelkan hidungnya di tengkuk Shanina, menarik napas panjang. Gadis itu merinding hebat, merasa terancam hingga tubuhnya kaku. Theo mencengkeram lebih erat, seakan menolak kenyataan bahwa gadis itu bukan orang yang ia cari.

"Hayley ... aku sangat merindukanmu." Suaranya parau, seperti orang yang kehilangan kewarasan.

Shanina berusaha menjerit, tapi suaranya tenggelam di ruang besar yang sepi. Mansion itu sunyi, terlalu luas, dan tidak ada pelayan yang berjaga di malam hari.

Theo mencengkeram pinggang Shanina, menindih tubuhnya dengan paksa. Shanina terperangkap. Tubuhnya gemetar hebat. Ia hanya bisa menangis ketika bibir Theo merampas bibirnya, kasar dan tak terkendali.

"Hmmp!" Shanina melotot, matanya membesar ketakuta . Ia berusaha menolak, namun seluruh kekuatannya kalah di bandingkan tenaga Theo.

Theo membenamkan dirinya semakin dalam, mengabaikan tangisan Shanina. Gagasan bahwa ia bisa "Memiliki" gadis ini membuat pikirannya gelap, hampir gila.

Bibirnya menekan tanpa henti, seolah ingin menghancurkan pertahanan Shanina. Sementara itu, gadis itu terus menangis, suaranya seperti rengekan yang menyayat hati, tapi justru membuat Theo semakin hilang kendali.

Matanya sayu, kabur oleh alkohol dan hawa panas yang mendominasi tubuhnya. Ia meraih kain Shanina, merobeknya dengan kasar. Shanina berteriak panik, kedua tangannya digenggam erat hingga tak bisa bergerak.

"Tolong... jangan lakukan ini!" Shanina meratap, suara seraknya pecah di antara tangisan.

Theo mendekatkan wajahnya ke leher Shanina, menciumnya dengan napas terengah. "Kau milikku malam ini," ucapnya parau, penuh hasrat yang membutakan.

Shanina menjerit, tubuhnya menggeliat, berusaha kabur, tapi sia-sia. Theo membanting tubuhnya kembali ke ranjang, menindihnya sepenuhnya. Mata pria itu gelap, seperti binatang buas yang berhasil mengurung mangsanya.

"Tuan'? Apa kau sedang mendongak," desisnya, dingin tapi liar.

Shanina menggigil ketakutan, matanya kosong, pikirannya hancur. "Tidak, kumohon hentikan."

Shanina merasakan tekanan yang membuatnya kesakitan. Tubuhnya gemetar hebat, matanya berlinang air mata. Ia sudah tidak bisa lagi berpikir jernih.

Kamar itu di penuhi suara tangisan Shanina bercampur desahan berat Theo yang kehilangan kendali. Malam itu menjadi saksi dari keputusasaan seorang gadis yang terjebak dan tidak bisa melawan.

Waktu terasa begitu panjang. Shanina hanya bisa menatap kosong ke langit-langit kamar, membiarkan tubuhnya kaku, tanpa daya. Hingga akhirnya, setelah segalanya reda, Theo terjatuh di sisinya, terlelap, tidak sadar dengan apa yang telah ia lakukan.

Shanina masih terbaring kaku, tubuhnya gemetar, matanya kosong. Air matanya terus mengalir. Ia menatap lurus tanpa jiwa, seakan sebagian dirinya sudah hancur malam itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tuan Theo, Tolong Lepaskan Aku   bab 41

    Setelah seharian penuh memulihkan diri, Shanina akhirnya bisa beranjak dari kasur. Badannya sudah lebih enteng. Kemarin, Theo mengantarnya pulang lantaran pria itu hendak melakukan perjalan bisnis keluar negeri entah sampai kapan. Dan dua hari berlalu semenjak ia sembuh. Seperti baiasa, rumah besar kediaman Carter terasa membosankan baginya. "Bukankah ini sangat membosankan? Kurasa aku belum menyentuh pekerjaanku semenjak pulang dari kantor Theo." Shanina bergumam sendiri di dalam kamarnya. Ia mengambil peralatan kerja miliknya, hanya untuk mendapati bahwa barang-barang miliknya telah hilang. Ekspresi keterkejutan nampak jelas di wajahnya. "Theo!" Shanina menggeram marah, menyapu barang-barang di atas meja dalam sekali sentakan, membuat bunyi gaduh akibat barang-barang yang berjatuhan. Shanina berteriak menjambak rambutnya sendiri. Kemarahannya menghilang secepat itu datang tiba-tiba. Napasnya masih terengah, tapi emosinya sudah kembali terkontrol. Dia jatuh terduduk

  • Tuan Theo, Tolong Lepaskan Aku   bab 40

    Disisi lain, Largo sedang menjalankan tusah khususnya. Setelah membuat Shanina dikeluarkan paksa dari pekerjaannya yang sekarang, dia juga mengambil laptop, alat desain, dan barang-barang yang dipakai untuk bekerja, untuk diserahkan kepada Theo. Setelah mengamati beberapa waktu, dia tahu apa yang terjadi di dalam rumah tangga majikannya. Dahulu, dia adalah anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan kota terpencil, yang hidup di bawa kekejian rumah pemasok human-traficking berkedok panti asuhan. Dia adalah satu-satunya anak yang menyadari kebenaran tersebut, lalu melarikan diri dengan penuh ketakutan yang mengakar kuat. Dia tidak ingin menjadi seperti temannya yang berakhir termutilasi di dalam drum bersama organ-organ manusia milik entah siapa. Selama tiga tahun, ia luntang-lantung di jalanan, mengais makanan dari tempat sampah atau menerima belas kasihan para dermawan. Berbagai kejahatan paling keji telah dia saksikan, berbagai penyiksaan yang menguras mental dan kewarasannya

  • Tuan Theo, Tolong Lepaskan Aku   bab 39

    Terlepas dari semua itu, Theo masih mengajaknya pergi ke mal. Hampir dua jam mereka berkeliling dan memilih pakaian untuk Shanina. Sudah beberapa toko dijarah Theo, semua keluaran yang paling cantik nan langka di beli dengan mudah. Membuat Shanina takjub dengan kekuatan uang dan reputasi yang dimiliki Theo. "Kita belum makan sejak siang," rengek Shanina yang menggelayut di lengan Theo, kini sandiwaranya sudah menjadi lebih natural. Theo membawanya ke salah satu restoran di dalam mal. Masih dengan uang Theo, Shanina bisa menikmati apapun yang dia inginkan, meski begitu dia tahu bahwa dirinya harus tetap tahu diri dan tidak menunjukkan kesan negatif. Theo orang yang sarkastik, sedikit saja berbuat salah dia akan disindir. Shanina mengeluarkan ponselnya, hendak memotret makanan tersebut. Theo yang hendak memulai makan kembali menarik tangannya. Memerhatikan Shanina yang tersenyum gembira hingga gadis itu selesai memotretnya. "Dasar norak," cercar Theo. Senyuman di bibir Sha

  • Tuan Theo, Tolong Lepaskan Aku   bab 38

    Theo seharusnya sedang bekerja, namun dia malah sedang sibuk mengamati postingan Instagram Shanina. Baru-baru ini, dia mendapat notifikasi bahwa Shanina telah menerima permintaan untuk mengikuti akunnya. Theo awalnya mencibir tentang akun Shanina yang di private meski pengikutnya hanya sedikit. Namun, kini dia mendukung keputusan itu, lebih baik di private dari pada membiarkan orang-orang asing menikmati wajah Shanina sembarangan. Postingan pertama memperlihatkan wajah muda Shanina, tersenyum manis dengan pose kalem. Itu adalah foto dari tiga tahun lalu, mungkin saat Shanina masih kelas satu. Jika saat itu dia ada di rumah, mungkin dia bisa melihat Shanina di masa-masa segarnya yang polos. Theo melamun memikirkannya sebelum kembali menggulir layar. Ada banyak foto wajah Shanina yang muncul setiap kali dia menggeser foto pemandangan di slide pertama postingannya.Meski tidak menggunakan riasan dan hanya berpose sederhana, anehnya, hal itu mampu membuat matanya terpaku

  • Tuan Theo, Tolong Lepaskan Aku   bab 37

    Sementara itu, Kaysen baru saja mandi dan hendak tidur. Namun sebelum itu, dia mengecek ponselnya terlebih dulu. Keningnya berkerut dalam saat melihat direct message dari Theo. Mereka tidak pernah berinteraksi di media sosial, tapi Theo tiba-tiba mengirim pesan, tentu saja hal itu membuat Kaysen penasaran. Isinya aneh. (Hapus yang ini.) Dan itu merujuk postingan yang terdapat wajah Shanina di dalamnya. Kaysen menurutinya, dia tidak ingin membuat masalah di hidupnya yang tenang—karena Theo adalah orang yang melakukan segalanya sesuka hati dan tidak akan dikritik atas perbuatannya meski dia berbuat kejam. "Oke," gumam Kaysen acuh. Semua postingannya yang menampilkan wajah Shanina telah dihapus. Sekarang pikirannya menjadi rumit. Selama beberapa saat, dia hanya melamun dan berpikir. Jika Theo menyukainya, Shanina mungkin akan berada dalam masalah. *** Pagi itu Shanina melakukan rutinitas yang sama, yakni menyapa Helena meski tidak di respons baik. Ketika sedang berkel

  • Tuan Theo, Tolong Lepaskan Aku   bab 36

    Shanina lupa waktu, ia terlena dalam keseruan bersama teman seangkatannya, yang kini masing-masing sedang mengejar tujuan hidup mereka. Awalnya, sebelas orang tersebut hanya berkumpul untuk makan bersama sambil berbincang hangat—tanpa sindiran atau ejekan, mereka semua positif dan anti toxic club'. Namun, pertemuan itu berlanjut ke ruang karaoke, dimana mereka mengadakan pesta kecil sebelum kembali menghadapi kenyataan esok hari. Shanina bahagia, dia bebas mengekspresikan diri tanpa harus memberitahu keadaan rumah tangganya yang sebenarnya. Semua temannya awalnya tidak biasa melihat keakraban antara dirinya dengan Kaysen, bahkan dulu Kaysen lah yang membuat mereka takut untuk berteman dengannya, tapi kini mereka ikut senang melihat semuanya baik-baik saja. Kaysen tidak lagi semenyebalkan dulu. Saat jam menunjukkan pukul sebelas malam, Shanina baru merasa panik, tapi tetap menyuruh Kaysen untuk berkendara dengan hati-hati. Dia tidak pernah keluar rumah di atas jam delapan malam, te

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status