LOGIN"Nina!"
Shanina yang hendak memasukkan obat perangsang ke dalam gelas Kaysen, berhenti. Ia buru-buru memasukkan botol obat itu ke dalam sakunya. Tangannya gemetaran. Ia berbalik, berusaha memasang senyum naturalnya. "Hai, Gua! Eh, kenapa kau kemari? Di mana Ron?" "Dia sedang bersama teman-temannya. Ayo kita ke sana!" Gia menunjuk ke arah perkumpulan para gadis. Shanina mengangguk. Gia segera menariknya ke sudut area food stall. Mereka langsung menyambut Gia dan Shanina. "Shanina kau cantik sekali!" "Iya! Aku tahu kau memang cantik, tapi aku tidak pernah melihatmu memakai riasan sebelumnya! Kau terlihat seperti tuan putri!" Shanina tersenyum pada pujian semua orang. "Terima kasih, tidak perlu berlebihan." "Eh, tapi benar, 'kan? Shanina memang sangat cantik malam ini. Gaunmu juga cantik sekali, aku belum pernah melihat model yang seperti ini di manapun." Gadis itu menyentuh gaun Shanina dan terkagum. Semuanya mengangguk setuju. Shanina senang gaun buatannya dipuji, sejenak pikiran cemasnya hilang. Shanina tersenyum tulus. "Aku sendiri yang membuat gaun ini, butuh waktu tiga bulan untuk merancang dan menyelesaikannya." Semua orang kaget, terkagum dengan pernyataan Shanina. "Itu bakat! Kenapa kau tidak pernah ikut ekstrakulikuler TAF, Shanina? Aku bisa merekomendasikanmu untuk menjadi duta dari sekolah kita." Gia menyenggol lengan Fleur mantan anggota TAF tahun lalu secara diam-diam. Shanina melihatnya, ia tersenyum sebagai respons. "Terima kasih." Sedetik setelahnya pujian datang, "Kau bahkan berdansa dengan Kaysen,'kan? Kau pasti sangat senang!" "Ya, meski itu sedikit sulit karena kakiku, Kaysen membimbingku dengan murah hati," balas Shanina. Membimbing apanya, Kaysen terus mengumpat sepanjang dansa. Pria itu sudah berjanji pada ibunya untuk berdansa setidaknya sekali dengannya. Kaki kanannya masih terasa sakit sampai sekarang, hari ini ia terlalu berlebihan menggunakan kakinya. Shanina tidak melunturkan senyumnya sedikit pun. Tangannya tak lagi gemetar, tapi telapaknya berkeringat karena gugup. Ia sedikit heran gadis-gadis itu mau berbicara dengannya. Mereka memang bukan fans Kaysen yang pernah merundungnya, tapi tetap saja mereka amat jarang berbicara dengannya selama masa sekolah. Melihat Shanina yang pendiam, yang lain saling pandang. Kemudian salah satu gadis bernama Bonny, mengambil kedua tangan Shanina. Shanina tersentak kecil. "Shanina, maafkan kami, kau pasti kesal dengan kami yang sok akrab denganmu. Kami tidak pernah berani melawan Kaysen, dia mengancam kami untuk tidak berteman denganmu. Itu memberatkan kami, kami tidak pernah senang menjauhiku." Shanina tersenyum kecil. Ia tidak lupa, saat baju olahraganya hilang dicuri antek-antek perundungnya, Bonny diam-diam membawakan baju olahraga lain yang sepertinya di ambil dari koperasi, tapi setelahnya berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Yang lainnya juga baik padanya meski harus secara diam-diam. "Aku tahu, tidak apa-apa. Aku tahu kalian semua pernah membantuku. Terima kasih." Di saat-saat terakhir seperti malam prom ini, mereka semua berdamai dan akhirnya bisa bercengkrama bersama. Sedikit ironis. Saat acara selesai, Shanina belum juga menjalankan misinya. Kaysen dan dia pulang ke rumah seperti biasa. Amela memelototinya diam-diam karena ia tidak berhasil bermalam di hotel atau di mana pun itu bersama Kaysen. Ia pikir pipinya akan ditampar, tapi paman dan bibinya diam saja. Itu aneh, Shanina justru curiga. "Pergi ke kamar, Nina, kau pasti lelah. Besok kita akan bicara lagi," ujar Amela. Sejenak, remasan Amela di bahunya membuatnya takut. Shanina bergegas pergi ke kamarnya. Ia berusaha melupakan hal buruk yang terjadi pada malam ini, ia lelah, kaki kanannya masih sakit. Setelah mandi dan berganti pakaian ke piyama tidur, Shanina merebahkan diri di kasur dan menarik selimut, bersiap untuk tidur, tapi ketukan di pintunya membuatnya membuka mata. Shanina membuka pintu. "Bibi?" "Bisa tolong kau antarkan ini ke kamar Kaysen? Barusan dia muntah-muntah karenaabuk, Nyonya Helena menyuruh siapa saja untuk membawakannya ini." Shanina mengernyit, menatap nampan berisi air teh beraroma madu dan herbal tersebut dengan curiga. "Kaysen tidak mabuk, Bi. Dia bahkan menyetir pulang bersamaku." "Dia habis minum bersama Tuan David setelah mengobrol bersama. Cepat, bersiap dan bawakan ini ke kamarnya." Shanina tidak bergerak, ia menatap bibinya masih dengan tatapan curiga. "Kenapa harus aku?" "Karena yang lain sudah tidur, aku lelah membersihkan kekacauan yang di buat Tuan Theo." "Tuan Theo?" Kekacauan apa yang bisa di buat oleh orang pendiam dan anggun seperti Tuan Theo? Amela berdecak. "Dia mengamuk karena Nona Hayley berselingkuh dan mendadak membatalkan pernikahan." Itu mengejutkan. "Sudah! Bawakan ini cepat!" Shanina buru-buru menerima nampan tersebut dengan tergopoh saat bibinya menyerahkannya paksa secara tiba-tiba. "Bibi!" Amela lebih dulu pergi, wanita itu menaruh telunjuk di bibir ketika Shanina memanggilnya dengan suara keras, mengisyaratkan untuk diam. Shanina menghela napas. Terpaksa ia mengantarnya seperti suruhan bibinya. Setelah memakai outher dari setelan piyamanya, ia menutup pintu dan mulai melangkah dari area mes pelayan menuju rumah utama. Menurutnya, ada yang aneh dari cerita bibinya, Theo mengamuk, tapi Kaysen dan ayahnya justru mengobrol sambil minum-minum santai? Shanina hanya khawatir bertemu Theo selaku orang yang ia tahu jarang marah, tapi ternyata sekalinya marah menghancurkan barang-barang. Pria itu mungkin ada di kamarnya, kelelahan setelah mengamuk. Ia tidak pernah bertemu dengannya lagi semenjak di paviliun waktu itu karena dirinya selalu bekerja di bagian dapur atau area yang jarang di kunjungi pemilik rumah. Ia membawa nampan kecil tersebut dengan satu tangan, dan mengangkat tangan yang lain untuk mengetuk pintu kamar Kaysen. "Permisi, aku membawakan teh hangat!" Shanina mengetuk pintu lagi hanya untuk di balas dengan keheningan. "Tidak beres," gumamnya. Ia menoleh ke kanan dan kiri, memerhatikan tidak ada siapa-siapa di sekitarnya. Sepi. "Kaysen, aku membawakan teh hangat madu untukmu!" Tiba-tiba suara pintu terbuka terdengar dari ujung koridor, bukan dari kamar Kaysen di depannya. Shanina sontak menoleh. "Kemari, bawakan tehnya." "Kaysen?" Shanina bingung, alih-alih beristirahat di kamarnya, Kaysen justru ada di kamar Theo di ujung sana tempat yang pantang Shanina lewati semenjak kepulangan Theo, ia selalu teringat tatapan Theo yang membuatnya merasakan iferioritas waktu itu. Shanina berjalan menghampirinya. "Ini, teh madu untukmu." "Berikan saja pada kakakku." "Tapi katanya_" Shanina menghentikan ucapannya. "Baiklah." Tidak ingin berlama-lama. Ia menyodorkan nampan tersebut. "Taruh sendiri di sana." Kaysen menunjuk ke dalam kamar Theo. "Tapi_" Suara dering ponsel Kaysen memotong ucapannya. Shanina memutar bola mata saat Kaysen berpaling. "Halo?" "Jadi ke tempat biasa? Kenapa belum sampai?" "Ah ya. I'm on my way. Tunggu sebentar lagi." Kaysen kembali memandang Shanina, anehnya lelaki itu segera memalingkan wajah. Pria itu meneguk salivanya susah payah. "Kau berikan saja pada Theo, aku mau pergi." Kaysen hendak melangkah, tapi berhenti saat melihat leher putih gadis itu, dan terus memandangnya sampai ke bawah. "Kancing kan outer-mu sampai atas." "Hah?" Shanina menatap pakaiannya bingung. "Pastikan dia meminum ini untuk meredakan mabuknya atau dia akan tidur telentang dan mati karena saluran napasnya yang tertutup muntahannya sendiri!" Kaysen tahu kakaknya. Theo sangat sulit sadar ketika mabuk, ia akan tidur telentang dan kehilangan napasnya sendiri karena tertutup muntahan yang tersedak di leher, itu pernah terjadi dulu, dan ialah yang segera memiringkan posisi tidur lelaki itu, akhirnya muntahan keluar dari mulut Theo, Theo pun selamat. Sekarang karena ia sedang terburu-buru ini malam terakhir masa remajanya, maka Shanina lah yang harus mengawasi Theo. "Eh, apa? tunggu!" Shanina sekali lagi menghela napas lelah. Ia akan menaruhnya di atas meja, lalu langsung pergi. Ia buru-buru melangkah ke dalam. Matanya melirik Theo yang duduk bersandar di sofa dengan kepala terkulai ke belakang. Shanina terpakau memandangnya. Hidung pria itu tinggi dan proposional, rahangnya yang tegas sekaligus tajam nampak seksi ketika mendongak seperti itu sambil memejamkan mata dengan bibir yang sedikit terbuka. Shanina yakin ia akan sulit melihat mahakarya seperti itu lagi ke depannya, tidak ada yang bisa mengimbangi wajah rupawan Theo.Setelah seharian penuh memulihkan diri, Shanina akhirnya bisa beranjak dari kasur. Badannya sudah lebih enteng. Kemarin, Theo mengantarnya pulang lantaran pria itu hendak melakukan perjalan bisnis keluar negeri entah sampai kapan. Dan dua hari berlalu semenjak ia sembuh. Seperti baiasa, rumah besar kediaman Carter terasa membosankan baginya. "Bukankah ini sangat membosankan? Kurasa aku belum menyentuh pekerjaanku semenjak pulang dari kantor Theo." Shanina bergumam sendiri di dalam kamarnya. Ia mengambil peralatan kerja miliknya, hanya untuk mendapati bahwa barang-barang miliknya telah hilang. Ekspresi keterkejutan nampak jelas di wajahnya. "Theo!" Shanina menggeram marah, menyapu barang-barang di atas meja dalam sekali sentakan, membuat bunyi gaduh akibat barang-barang yang berjatuhan. Shanina berteriak menjambak rambutnya sendiri. Kemarahannya menghilang secepat itu datang tiba-tiba. Napasnya masih terengah, tapi emosinya sudah kembali terkontrol. Dia jatuh terduduk
Disisi lain, Largo sedang menjalankan tusah khususnya. Setelah membuat Shanina dikeluarkan paksa dari pekerjaannya yang sekarang, dia juga mengambil laptop, alat desain, dan barang-barang yang dipakai untuk bekerja, untuk diserahkan kepada Theo. Setelah mengamati beberapa waktu, dia tahu apa yang terjadi di dalam rumah tangga majikannya. Dahulu, dia adalah anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan kota terpencil, yang hidup di bawa kekejian rumah pemasok human-traficking berkedok panti asuhan. Dia adalah satu-satunya anak yang menyadari kebenaran tersebut, lalu melarikan diri dengan penuh ketakutan yang mengakar kuat. Dia tidak ingin menjadi seperti temannya yang berakhir termutilasi di dalam drum bersama organ-organ manusia milik entah siapa. Selama tiga tahun, ia luntang-lantung di jalanan, mengais makanan dari tempat sampah atau menerima belas kasihan para dermawan. Berbagai kejahatan paling keji telah dia saksikan, berbagai penyiksaan yang menguras mental dan kewarasannya
Terlepas dari semua itu, Theo masih mengajaknya pergi ke mal. Hampir dua jam mereka berkeliling dan memilih pakaian untuk Shanina. Sudah beberapa toko dijarah Theo, semua keluaran yang paling cantik nan langka di beli dengan mudah. Membuat Shanina takjub dengan kekuatan uang dan reputasi yang dimiliki Theo. "Kita belum makan sejak siang," rengek Shanina yang menggelayut di lengan Theo, kini sandiwaranya sudah menjadi lebih natural. Theo membawanya ke salah satu restoran di dalam mal. Masih dengan uang Theo, Shanina bisa menikmati apapun yang dia inginkan, meski begitu dia tahu bahwa dirinya harus tetap tahu diri dan tidak menunjukkan kesan negatif. Theo orang yang sarkastik, sedikit saja berbuat salah dia akan disindir. Shanina mengeluarkan ponselnya, hendak memotret makanan tersebut. Theo yang hendak memulai makan kembali menarik tangannya. Memerhatikan Shanina yang tersenyum gembira hingga gadis itu selesai memotretnya. "Dasar norak," cercar Theo. Senyuman di bibir Sha
Theo seharusnya sedang bekerja, namun dia malah sedang sibuk mengamati postingan Instagram Shanina. Baru-baru ini, dia mendapat notifikasi bahwa Shanina telah menerima permintaan untuk mengikuti akunnya. Theo awalnya mencibir tentang akun Shanina yang di private meski pengikutnya hanya sedikit. Namun, kini dia mendukung keputusan itu, lebih baik di private dari pada membiarkan orang-orang asing menikmati wajah Shanina sembarangan. Postingan pertama memperlihatkan wajah muda Shanina, tersenyum manis dengan pose kalem. Itu adalah foto dari tiga tahun lalu, mungkin saat Shanina masih kelas satu. Jika saat itu dia ada di rumah, mungkin dia bisa melihat Shanina di masa-masa segarnya yang polos. Theo melamun memikirkannya sebelum kembali menggulir layar. Ada banyak foto wajah Shanina yang muncul setiap kali dia menggeser foto pemandangan di slide pertama postingannya.Meski tidak menggunakan riasan dan hanya berpose sederhana, anehnya, hal itu mampu membuat matanya terpaku
Sementara itu, Kaysen baru saja mandi dan hendak tidur. Namun sebelum itu, dia mengecek ponselnya terlebih dulu. Keningnya berkerut dalam saat melihat direct message dari Theo. Mereka tidak pernah berinteraksi di media sosial, tapi Theo tiba-tiba mengirim pesan, tentu saja hal itu membuat Kaysen penasaran. Isinya aneh. (Hapus yang ini.) Dan itu merujuk postingan yang terdapat wajah Shanina di dalamnya. Kaysen menurutinya, dia tidak ingin membuat masalah di hidupnya yang tenang—karena Theo adalah orang yang melakukan segalanya sesuka hati dan tidak akan dikritik atas perbuatannya meski dia berbuat kejam. "Oke," gumam Kaysen acuh. Semua postingannya yang menampilkan wajah Shanina telah dihapus. Sekarang pikirannya menjadi rumit. Selama beberapa saat, dia hanya melamun dan berpikir. Jika Theo menyukainya, Shanina mungkin akan berada dalam masalah. *** Pagi itu Shanina melakukan rutinitas yang sama, yakni menyapa Helena meski tidak di respons baik. Ketika sedang berkel
Shanina lupa waktu, ia terlena dalam keseruan bersama teman seangkatannya, yang kini masing-masing sedang mengejar tujuan hidup mereka. Awalnya, sebelas orang tersebut hanya berkumpul untuk makan bersama sambil berbincang hangat—tanpa sindiran atau ejekan, mereka semua positif dan anti toxic club'. Namun, pertemuan itu berlanjut ke ruang karaoke, dimana mereka mengadakan pesta kecil sebelum kembali menghadapi kenyataan esok hari. Shanina bahagia, dia bebas mengekspresikan diri tanpa harus memberitahu keadaan rumah tangganya yang sebenarnya. Semua temannya awalnya tidak biasa melihat keakraban antara dirinya dengan Kaysen, bahkan dulu Kaysen lah yang membuat mereka takut untuk berteman dengannya, tapi kini mereka ikut senang melihat semuanya baik-baik saja. Kaysen tidak lagi semenyebalkan dulu. Saat jam menunjukkan pukul sebelas malam, Shanina baru merasa panik, tapi tetap menyuruh Kaysen untuk berkendara dengan hati-hati. Dia tidak pernah keluar rumah di atas jam delapan malam, te







