Masuk"Saat kecil, kamu yang membuat Herlina hilang. Membuatnya menjalani kehidupan yang lebih buruk daripada mati selama enam belas tahun. Kamu yang menghancurkan hidup yang seharusnya menjadi miliknya! Dia sudah susah payah kembali, tapi kamu malah masih memperlakukannya seperti ini!" kata Mama.Tante berjongkok di lantai sambil terus menangis tersedu-sedu.Papa terduduk jatuh di atas tempat tidur dengan ekspresi datar.Seluruh tubuh Aslan seperti habis diguyur air, air mata dan keringat bercampur menjadi satu sampai tidak bisa dibedakan lagi. Dia tiba-tiba berlari keluar seperti orang gila, tetapi tidak ada seorang pun yang mencoba untuk menghentikannya."Kamu juga pergi saja ... kamu sudah dewasa. Selama ini kamu juga sudah mengumpul banyak uang sakumu, cukup untuk biaya hidupmu," kata Mama tiba-tiba.Mata Sanny langsung membelalak. Dia menangis sambil berlutut di lantai. "Mama, aku salah, jangan usir aku .... Aku mohon, jangan buang aku ya?"Mama langsung memalingkan wajahnya, tidak men
Papa memejamkan mata sejenak, lalu mengangkat tangan dan menutupi wajahnya.[ 25 April 2023. Aku masih nggak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata, adegan-adegan menakutkan itu yang selalu muncul. Tapi, sekarang aku sudah nggak takut lagi, karena Kakak kasih aku boneka kelinci. Selama memeluknya, aku nggak takut apa pun lagi. Hanya saja ... Kak Sanny sepertinya nggak begitu menyukaiku. ][ Saat Kak Aslan memberiku boneka kelinci, Kak Sanny juga mengetuk pintu kamarku. Aku membuka pintu dengan gembira, bahkan ingin mengajaknya tidur bersama. Tapi, dia bilang aku ini serangga busuk dari selokan. Tubuhku akan bau busuk selamanya, dia nggak mau tidur bersamaku .... Dia tuang susu yang mendidih ke tanganku dan melarangku beri tahu Papa, Mama, dan Kakak. ][ Dia bilang meskipun aku bilang, mereka juga nggak akan percaya. Kak Sanny bilang, "Aku akan beri tahu mereka kalau aku baik hati membawakan susu hangat untukmu, tapi kamu malah menumpahkannya dan memakiku." ][ Aku menatapnya. Aku sebe
Aku yang melayang di belakang Aslan hampir saja tidak bisa mengejarnya. Aku melihat dia berlari masuk ke kamarku, lalu langsung terpaku di tempat.Dekorasi kamarku sangat sederhana. Selain tempat tidur dan lemari pakaian, hanya ada sebuah meja yang biasa.Aslan mulai mencari ke seluruh kamarku seperti sudah gila. Seolah-olah melihat sesuatu, seluruh tubuhnya tiba-tiba mulai bergetar dengan dahsyat.Aku memejamkan mataku.Di atas kotak putih besar itu tertulis isinya adalah hadiah tahun baru dari Herlina untuk keluarga. Aslan pun membuka kotak itu dengan tangan gemetar.[ Hadiah untuk Papa: Papa sudah kerja keras! Jadi, aku pilih alat pijat ini khusus untuk Papa. Aku sudah membaca banyak ulasan dan mencobanya berkali-kali di toko. Ini pasti nyaman! ][ Hadiah untuk Mama: Aku sendiri yang jahit semua sulaman di dompet ini. Aku belajar lama sekali, tapi hasilnya mungkin nggak begitu bagus. Apa Mama akan suka? ][ Hadiah untuk Tante: Tante paling cantik! Kalung ini paling cocok dipakai Tan
Tubuhku terbaring di lantai.Sementara itu, Tante berlutut di sampingku sambil terus mengusap kepalaku dan bergumam, "Anak baik, pergilah dengan tenang. Orang-orang ini nggak layak untuk kamu rindukan, nggak layak untuk kamu benci juga .... Karena mereka nggak pantas. Di kehidupan berikutnya, lahirlah di keluarga yang baik. Punya orang tua yang menyayangimu dan rumah tangga yang bahagia.""Herlina, di kehidupan selanjutnya, aku harap kamu bisa terus tersenyum. Harus terus tersenyum ya, karena kamu sudah terlalu banyak menangis di kehidupan ini ...."Suara Tante terdengar begitu serak, seolah-olah kata-kata itu sudah diulang berkali-kali. Begitu semua orang terpaku di tempat, dia menghentikan kata-katanya dan suasananya langsung menjadi sunyi. Dia menoleh ke arah mereka. "Kalian akhirnya datang juga. Sayang sekali, sudah terlambat. Herlina sudah mati."Begitu mendengar kalimat itu, Aslan menjadi orang pertama yang bereaksi. "Nggak mungkin ... nggak mungkin! Kenapa dia bisa mati?""Kenap
Sesampainya di vila Keluarga Suskanto, kepala pelayan tua berdiri di depan pintu dengan ekspresi panik. Dia berlari mendekat dan menyambut sekeluarga itu. "Nyonya, kalian ... kenapa baru pulang sekarang? Aku sudah telepon kalian, kenapa nggak ada satu pun yang angkat?"Mendengar ucapan kepala pelayan, beberapa orang itu langsung mematung.Karena kepala pelayan dan Tante terus menelepon Mama dan Aslan, Sanny sempat mengambek. "Bukannya kalian ini datang untuk temani aku belanja? Kenapa satu per satu malah sibuk angkat telepon?"Setelah berkata demikian, Sanny cemberut dan ekspresinya terlihat kesal.Saat itu, Papa menjadi orang pertama yang langsung mematikan ponselnya. "Sanny jangan marah. Lihat, Papa sudah matiin ponsel. Nggak ada urusan apa pun yang boleh mengganggu Papa menemani putri kesayangan.""Mana Herlina?" tanya Aslan.Ekspresi kepala pelayan menjadi makin muram dan matanya memerah. "Tuan Aslan, cepat pergi lihat .... Nona Herlina ... dia sudah meninggal.""Cukup!"Aslan memo
Mama terlihat agak ragu. "Gimana kalau Mama pulang dulu untuk lihat keadaannya?"Mendengar ucapannya, Sanny terlihat agak tidak senang. "Mama juga tahu Tante memang paling dekat sama Herlina. Dia pasti cuma membesar-besarkan. Kakak cuma mengurungnya di ruang bawah tanah. Nggak pukul atau memarahinya, mana mungkin dia meninggal."Setelah berkata demikian, suara Sanny mulai tercekat. "Tante suka Herlina, nggak suka aku dan Kakak. Jangan-jangan Mama juga nggak suka sama aku lagi ya?""Mana mungkin. Kamu ini putri kesayangan Mama. Jangan menangis lagi," kata Mama sambil segera menarik Sanny ke dalam pelukan, lalu menepuk punggung Sanny dengan lembut.Aslan mengibaskan tangannya dengan kesal. "Herlina tahunya cuma bikin orang kesal. Kita pergi makan saja dulu, jangan sampai suasana hati rusak karena dia."Aku melihat rasa kesal dan jijik yang terpancar di tatapan Aslan, lalu perlahan-lahan memejamkan mata. Aku masih ingat jelas saat aku berusia lima tahun dan belum diculik, Aslan sebenarnya
"Sanny benar. Kebiasaan seperti itu memang nggak boleh dibiarkan."Mama langsung menyahut dari samping, lalu bertanya pada Sanny, "Kalau begitu, menurutmu kita harus belikan apa untuk adikmu?""Bukannya Herlina suka kelinci? Belikan saja penjepit rambut kelinci. Waktu lewat toko kebutuhan sehari-har
Kakak perempuanku memakan setengah piring mangga yang aku tinggalkan di atas meja, lalu seluruh tubuhnya alergi dan dipenuhi ruam merah.Karena marah, kakak laki-lakiku membuka mulutku dengan paksa dan terus menuangkan jus mangga ke dalam mulutku. "Bukannya kamu suka makan mangga? Hari ini kubuat ka







