Share

Bab 2

Penulis: Serauto
Hari kedua saat aku dikurung di ruang bawah tanah, Mama akhirnya teringat padaku. "Aslan, sudah cukup. Herlina pasti sudah tahu kesalahannya. Lepaskan dia. Kalau terlalu lama, aku takut dia akan dendam sama Sanny."

Aslan mengernyitkan alisnya. "Untuk kali ini, baiklah. Bagaimanapun juga, aku ini kakak kandungnya. Nanti aku akan pelan-pelan ajari dia lagi."

Papa juga ikut menganggukkan kepala dari samping. "Memangnya kenapa? Kalau dia ribut, tinggal belikan saja dia sesuatu sebagai kompensasi."

Sanny tiba-tiba tersenyum pelan dan berkata, "Oh ya, ngomong-ngomong soal kompensasi. Semalam Kakak sudah janji mau temani aku belanja. Nggak boleh ingkar janji ya."

Mendengar itu, Aslan menepuk kening Sanny dengan lembut. "Mana mungkin Kakak lupa? Kakak temani sekarang ya?"

Mama menatap Sanny dengan penuh kasih. "Mama juga ikut temani kamu. Bukannya kamu bilang kamu suka kalung khusus kayak punya Mama? Mama juga sudah pesankan satu untukmu. Hari ini biar Papa yang jadi sopir pribadi kita, sekalian bawakan tas untuk istri dan anak perempuannya."

Papa menatap ibu dan anak itu sambil tersenyum, lalu berdiri terlebih dulu.

Sekeluarga yang tadinya mengatakan ingin membebaskanku, langsung kembali melupakanku dan pergi ke mal dengan gembira. Rohku mengikuti mereka dari belakang di sepanjang jalan.

Sanny terus memilih dan membeli barang, sedangkan Aslan dan Papa membayar sambil tersenyum. Sementara itu, Mama yang berdiri di samping merapikan pakaian yang dikenakannya dengan teliti. Sekeluarga itu terlihat begitu harmonis dan bahagia.

Saat melewati sebuah toko boneka, langkah Aslan refleks berhenti.

Melihat reaksi itu, Sanny buru-buru merangkul lengan Aslan dan berkata dengan suara manja, "Kak, kenapa? Kenapa berhenti?"

Aslan terdiam sejenak, lalu menjawab dengan pelan, "Nggak apa-apa. Aku cuma teringat dulu aku pernah janji sama Herlina mau beliin dia boneka kelinci."

Ekspresi Sanny berubah, lalu cemberut. "Sudah kuduga. Di hatimu ini, kamu lebih suka sama Herlina sebagai adikmu. Huh!"

Sanny pura-pura marah saat berkata demikian, lalu membalikkan badannya.

Aslan langsung mulai membujuk Sanny. "Mana mungkin. Sanny adalah satu-satunya putri kecil di hatiku ...."

Ponsel tiba-tiba berdering dan memotong ucapan Aslan. Saat dia mengangkat telepon, terdengar suara pembantu yang cemas dari seberang telepon.

"Tuan Aslan, dari kemarin sampai hari ini, Nona Herlina sama sekali nggak ada gerakan. Aku khawatir dia ...."

Aslan mengernyitkan alisnya dengan kesal. "Apa yang perlu dikhawatirkan? Cuma minum sedikit jus mangga, memangnya bisa mati?"

Pembantu itu berkata, "Tapi ... aku hanya takut Nona Herlina sudah meningga .... Kalau nggak, kenapa dia nggak ada suara sama sekali."

Aslan merasa makin kesal. "Jangan pedulikan dia. Dia itu sengaja, mau cari simpati saja. Bi Lili, ini sudah yang keberapa kalinya? Kamu masih saja tertipu."

Usai bicara, Aslan langsung menutup teleponnya. Sebelum pergi, dia kembali melirik boneka kelinci di dalam toko itu.

Saat baru dijemput kembali ke Keluarga Suskanto, aku merasa agak linglung karena vila Keluarga Suskanto mewah dan hangat. Tempat tidur yang disiapkan Mama untukku juga sangat nyaman, tetapi aku tetap bolak-balik karena tidak bisa tidur. Saat memejamkan mata, wajah ayah angkatku yang ganas dan menakutkan itu terus muncul.

Setelah Aslan tahu, dia menyerahkan sebuah boneka kelinci ke tanganku. "Herlina, masih ingat ini? Waktu masih kecil, ini hadiah dari Kakak untukmu. Dulu, kamu harus memeluknya setiap malam agar bisa tidur. Kalau kamu nggak bisa tidur, coba peluk ini."

Mataku langsung dipenuhi air mata, lalu memeluk boneka itu erat-erat dengan penuh rasa sayang. Setelah itu, Sanny sendiri yang memotong boneka kelinciku hingga hancur. Karena marah, aku berlari mencari Sanny untuk menanyainya.

Namun, Sanny malah menangis dengan ekspresi sedih. "Ini semua salahku. Tapi ... itu juga karena Herlina bilang ... aku merebut lukisannya untuk ikut lomba, lalu merobek sertifikat penghargaanku. Jelas-jelas aku yang menggambar lukisan itu. Karena terlalu marah, makanya aku potong bonekamu untuk melampiaskan amarahku. Maaf, semua ini salahku ...."

Melihat kejadian itu, Aslan memeluk Sanny dengan kasihan.

Papa dan Mama juga mengelilingi Sanny dan menghiburnya.

Saat aku berlari keluar rumah sambil menangis, Aslan mengejarku. "Herlina, bisa nggak kamu jangan kekanak-kanakan begini? Sanny sudah sangat memaklumimu."

Melihat ekspresi Aslan makin muram, semua kata-kata yang ingin aku ucapkan langsung tercekat di tenggorokan. "Kalau ... kalau begitu, Kakak belikan aku boneka kelinci lagi. Boleh?"

Ekspresi Aslan mulai melunak. Dia mengangkat tangan seolah-olah ingin mengusap kepalaku, tetapi dia akhirnya tidak melakukan apa-apa.

Saat itu, aku sempat berpikir aku juga bisa sesekali bersikap manja dan mengandalkan kasih sayang keluarga. Setelah itu, aku baru sadar ternyata aku yang sudah berharap terlalu tinggi.

....

Setelah menerima kalung khusus itu, Mama memakaikannya ke leher Sanny dengan lembut.

Seolah-olah teringat sesuatu, Papa tiba-tiba berkata, "Belikan satu juga untuk Herlina, anggap saja untuk membujuknya."

Aslan mengernyitkan alisnya. "Semua perhiasan di sini custom. Kalau nggak dipesan dulu, mau gimana beliin buat dia?"

Papa berkata dengan santai, "Tadi aku lihat ada toko emas di pintu masuk mal, belikan dia satu kalung emas saja."

Mendengar ucapannya, Aslan tertawa pelan. "Baiklah. Lagian, Herlina itu matre. Emas itu termasuk mata uang universal, dia pasti suka."

Saat itu, Sanny berkata dengan ekspresi ragu, "Kak, sepertinya kurang bagus, deh. Waktu di sekolah, Herlina selalu mata duitan. Kalau masih beliin dia kalung semahal ini, bukankah dia bakal jadi gadis yang lebih matre lagi?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tubuhku Hidup, Jiwaku Telah Mati   Bab 9

    "Saat kecil, kamu yang membuat Herlina hilang. Membuatnya menjalani kehidupan yang lebih buruk daripada mati selama enam belas tahun. Kamu yang menghancurkan hidup yang seharusnya menjadi miliknya! Dia sudah susah payah kembali, tapi kamu malah masih memperlakukannya seperti ini!" kata Mama.Tante berjongkok di lantai sambil terus menangis tersedu-sedu.Papa terduduk jatuh di atas tempat tidur dengan ekspresi datar.Seluruh tubuh Aslan seperti habis diguyur air, air mata dan keringat bercampur menjadi satu sampai tidak bisa dibedakan lagi. Dia tiba-tiba berlari keluar seperti orang gila, tetapi tidak ada seorang pun yang mencoba untuk menghentikannya."Kamu juga pergi saja ... kamu sudah dewasa. Selama ini kamu juga sudah mengumpul banyak uang sakumu, cukup untuk biaya hidupmu," kata Mama tiba-tiba.Mata Sanny langsung membelalak. Dia menangis sambil berlutut di lantai. "Mama, aku salah, jangan usir aku .... Aku mohon, jangan buang aku ya?"Mama langsung memalingkan wajahnya, tidak men

  • Tubuhku Hidup, Jiwaku Telah Mati   Bab 8

    Papa memejamkan mata sejenak, lalu mengangkat tangan dan menutupi wajahnya.[ 25 April 2023. Aku masih nggak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata, adegan-adegan menakutkan itu yang selalu muncul. Tapi, sekarang aku sudah nggak takut lagi, karena Kakak kasih aku boneka kelinci. Selama memeluknya, aku nggak takut apa pun lagi. Hanya saja ... Kak Sanny sepertinya nggak begitu menyukaiku. ][ Saat Kak Aslan memberiku boneka kelinci, Kak Sanny juga mengetuk pintu kamarku. Aku membuka pintu dengan gembira, bahkan ingin mengajaknya tidur bersama. Tapi, dia bilang aku ini serangga busuk dari selokan. Tubuhku akan bau busuk selamanya, dia nggak mau tidur bersamaku .... Dia tuang susu yang mendidih ke tanganku dan melarangku beri tahu Papa, Mama, dan Kakak. ][ Dia bilang meskipun aku bilang, mereka juga nggak akan percaya. Kak Sanny bilang, "Aku akan beri tahu mereka kalau aku baik hati membawakan susu hangat untukmu, tapi kamu malah menumpahkannya dan memakiku." ][ Aku menatapnya. Aku sebe

  • Tubuhku Hidup, Jiwaku Telah Mati   Bab 7

    Aku yang melayang di belakang Aslan hampir saja tidak bisa mengejarnya. Aku melihat dia berlari masuk ke kamarku, lalu langsung terpaku di tempat.Dekorasi kamarku sangat sederhana. Selain tempat tidur dan lemari pakaian, hanya ada sebuah meja yang biasa.Aslan mulai mencari ke seluruh kamarku seperti sudah gila. Seolah-olah melihat sesuatu, seluruh tubuhnya tiba-tiba mulai bergetar dengan dahsyat.Aku memejamkan mataku.Di atas kotak putih besar itu tertulis isinya adalah hadiah tahun baru dari Herlina untuk keluarga. Aslan pun membuka kotak itu dengan tangan gemetar.[ Hadiah untuk Papa: Papa sudah kerja keras! Jadi, aku pilih alat pijat ini khusus untuk Papa. Aku sudah membaca banyak ulasan dan mencobanya berkali-kali di toko. Ini pasti nyaman! ][ Hadiah untuk Mama: Aku sendiri yang jahit semua sulaman di dompet ini. Aku belajar lama sekali, tapi hasilnya mungkin nggak begitu bagus. Apa Mama akan suka? ][ Hadiah untuk Tante: Tante paling cantik! Kalung ini paling cocok dipakai Tan

  • Tubuhku Hidup, Jiwaku Telah Mati   Bab 6

    Tubuhku terbaring di lantai.Sementara itu, Tante berlutut di sampingku sambil terus mengusap kepalaku dan bergumam, "Anak baik, pergilah dengan tenang. Orang-orang ini nggak layak untuk kamu rindukan, nggak layak untuk kamu benci juga .... Karena mereka nggak pantas. Di kehidupan berikutnya, lahirlah di keluarga yang baik. Punya orang tua yang menyayangimu dan rumah tangga yang bahagia.""Herlina, di kehidupan selanjutnya, aku harap kamu bisa terus tersenyum. Harus terus tersenyum ya, karena kamu sudah terlalu banyak menangis di kehidupan ini ...."Suara Tante terdengar begitu serak, seolah-olah kata-kata itu sudah diulang berkali-kali. Begitu semua orang terpaku di tempat, dia menghentikan kata-katanya dan suasananya langsung menjadi sunyi. Dia menoleh ke arah mereka. "Kalian akhirnya datang juga. Sayang sekali, sudah terlambat. Herlina sudah mati."Begitu mendengar kalimat itu, Aslan menjadi orang pertama yang bereaksi. "Nggak mungkin ... nggak mungkin! Kenapa dia bisa mati?""Kenap

  • Tubuhku Hidup, Jiwaku Telah Mati   Bab 5

    Sesampainya di vila Keluarga Suskanto, kepala pelayan tua berdiri di depan pintu dengan ekspresi panik. Dia berlari mendekat dan menyambut sekeluarga itu. "Nyonya, kalian ... kenapa baru pulang sekarang? Aku sudah telepon kalian, kenapa nggak ada satu pun yang angkat?"Mendengar ucapan kepala pelayan, beberapa orang itu langsung mematung.Karena kepala pelayan dan Tante terus menelepon Mama dan Aslan, Sanny sempat mengambek. "Bukannya kalian ini datang untuk temani aku belanja? Kenapa satu per satu malah sibuk angkat telepon?"Setelah berkata demikian, Sanny cemberut dan ekspresinya terlihat kesal.Saat itu, Papa menjadi orang pertama yang langsung mematikan ponselnya. "Sanny jangan marah. Lihat, Papa sudah matiin ponsel. Nggak ada urusan apa pun yang boleh mengganggu Papa menemani putri kesayangan.""Mana Herlina?" tanya Aslan.Ekspresi kepala pelayan menjadi makin muram dan matanya memerah. "Tuan Aslan, cepat pergi lihat .... Nona Herlina ... dia sudah meninggal.""Cukup!"Aslan memo

  • Tubuhku Hidup, Jiwaku Telah Mati   Bab 4

    Mama terlihat agak ragu. "Gimana kalau Mama pulang dulu untuk lihat keadaannya?"Mendengar ucapannya, Sanny terlihat agak tidak senang. "Mama juga tahu Tante memang paling dekat sama Herlina. Dia pasti cuma membesar-besarkan. Kakak cuma mengurungnya di ruang bawah tanah. Nggak pukul atau memarahinya, mana mungkin dia meninggal."Setelah berkata demikian, suara Sanny mulai tercekat. "Tante suka Herlina, nggak suka aku dan Kakak. Jangan-jangan Mama juga nggak suka sama aku lagi ya?""Mana mungkin. Kamu ini putri kesayangan Mama. Jangan menangis lagi," kata Mama sambil segera menarik Sanny ke dalam pelukan, lalu menepuk punggung Sanny dengan lembut.Aslan mengibaskan tangannya dengan kesal. "Herlina tahunya cuma bikin orang kesal. Kita pergi makan saja dulu, jangan sampai suasana hati rusak karena dia."Aku melihat rasa kesal dan jijik yang terpancar di tatapan Aslan, lalu perlahan-lahan memejamkan mata. Aku masih ingat jelas saat aku berusia lima tahun dan belum diculik, Aslan sebenarnya

  • Tubuhku Hidup, Jiwaku Telah Mati   Bab 3

    "Sanny benar. Kebiasaan seperti itu memang nggak boleh dibiarkan."Mama langsung menyahut dari samping, lalu bertanya pada Sanny, "Kalau begitu, menurutmu kita harus belikan apa untuk adikmu?""Bukannya Herlina suka kelinci? Belikan saja penjepit rambut kelinci. Waktu lewat toko kebutuhan sehari-har

  • Tubuhku Hidup, Jiwaku Telah Mati   Bab 1

    Kakak perempuanku memakan setengah piring mangga yang aku tinggalkan di atas meja, lalu seluruh tubuhnya alergi dan dipenuhi ruam merah.Karena marah, kakak laki-lakiku membuka mulutku dengan paksa dan terus menuangkan jus mangga ke dalam mulutku. "Bukannya kamu suka makan mangga? Hari ini kubuat ka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status