Home / Urban / Tukang Pijat Tampan / Enak Tapi Menyesal

Share

Enak Tapi Menyesal

Author: Black Jack
last update publish date: 2026-01-19 11:01:04

Renata tidak berhenti. Irama gerakannya terjaga dengan presisi yang hampir seperti sebuah ritual; dalam, penuh teknik, dan tanpa ampun. Ia bisa merasakan otot-otot paha Adit yang mulai berkedut di bawah kendalinya. Ketika ketegangan itu memuncak dan benih pertama akhirnya tumpah, Renata menerimanya tanpa ragu, menelannya seolah cairan itu adalah tanda kemenangan yang mutlak ia miliki dan harus masuk ke dalam tubuhnya.

Adit terhempas jiwanya dalam napas yang kacau, paru-parunya seolah lupa cara
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tukang Pijat Tampan   Butuh Sejenak Rileks

    Akhirnya Renata memutuskan sesuatu. Ia tak mau rumahnya riuh dan ramai. Maka ia memberi perintah baru; memindahkan orang-orang Pancasona dan Kobra hitam itu ke tempat lain dan proses penebusan akan terjadi di sana.Dengan sigap, Bayu dan Joko mengkoordinasi semuanya. Markas selatan di pilih karena di sana ada banyak gudang, tempatnya luas dan bisa menampung banyak orang dengan nyaman.Satu jam kemudian, truk-truk besar mulai masuk ke halaman. Para tawanan digiring berdiri, tangan masih terikat, lalu dinaikkan ke bak terbuka satu per satu dengan pengawalan ketat. Tidak ada yang berani protes. Wajah-wajah itu sudah cukup tahu bahwa malam ini bukan malam untuk mencoba keberuntungan.Bayu mengawasi proses evakuasi dari pinggir halaman, sesekali berbicara lewat radio genggam. Joko berjalan hilir mudik, matanya awas, goloknya masih tergantung di pinggang.Kurang dari dua jam, halaman sudah kosong. Bahkan motor-motor anak buah Pancasona dan Kobra Hitam itu juga sudah dievakuasi. Terserah mau

  • Tukang Pijat Tampan   Negosiasi Gagal; Mereka Menolak Bayar

    Bayu menarik napas panjang, lalu menoleh ke arah pemuda yang masih gemetar di tanah."Nomor siapa yang bisa dihubungi? Bos kalian. Yang paling atas."Pemuda itu mengangkat kepala dengan susah payah. Matanya merah dan bengkak. "S-saya cuma punya nomor koordinator lapangan. Namanya Hendra. Dia yang tugasin kami malam ini.""Sudah cukup," kata Bayu. "Nomor."Dengan tangan terikat ke depan, pemuda itu menyebutkan deretan angka pelan-pelan. Bayu mengetiknya di ponselnya tanpa terburu-buru. Ia lalu mulai melakukan panggilanNada tunggu berbunyi empat kali sebelum tersambung."Halo? Siapa ini?" Suara di seberang terdengar waspada. Bising motor dan percakapan samar di latar belakang."Kamu Hendra?"Hening sejenak. Lalu, "...Iya. Kamu siapa?”"Bagus. Hendra, saya mau kasih tahu bahwa orang yang kamu kirim malam ini sekarang sedang duduk di halaman kami. Terikat. Dalam kondisi hidup, tapi tidak terlalu nyaman. Kamu mengerti situasinya?"Tidak ada jawaban langsung. Bayu bisa mendengar suara lang

  • Tukang Pijat Tampan   Tebusan 100 Juta Per Kepala

    Halaman itu sungguh terlihat kacau dan berantakan. Banyak pot berisi bonsai mahal yang terjatuh. Renata pasti akan sangat kesal melihat semua kekacauan itu.Semua yang masih bisa berdiri sudah lari. Semua yang tidak bisa berdiri tergeletak di atas lantai atau di atas rumput taman dalam posisi yang bermacam-macam; sebagian meringkuk, sebagian telentang datar, sebagian saling menimpa satu sama lain seperti tumpukan karung yang dijatuhkan tanpa perencanaan.Sekitar seratus lima puluh orang, lebih atau kurang. Adit tidak menghitungnya dengan saksama, tapi matanya sudah terlatih untuk membaca kepadatan dan ia tahu angkanya tidak jauh dari itu.Bayu mengeluarkan teleponnya, menghubungi seseorang, dan berbicara dengan nada rendah yang tidak terdengar dari mana Adit berdiri. Joko sudah bergerak, berjalan di antara tubuh-tubuh yang tergeletak, memeriksa satu per satu, memastikan tidak ada yang dalam kondisi yang memerlukan penanganan segera, bukan karena kasihan, tapi karena orang yang mati ak

  • Tukang Pijat Tampan   Tinggal Cari Tahu Siapa Mereka

    Penyerang lain datang dari kiri; pria bertubuh besar dengan rantai besi yang diputar di atas kepalanya, menimbulkan dengung yang memekakkan. Ia berlari dengan langkah berat, yakin bahwa momentum dan massa tubuhnya cukup untuk merobohkan apapun yang ada di depannya.Adit tidak bergerak. Tidak satu langkah pun. Ia hanya menatap, menghitung, menunggu. Tiga langkah. Dua. Satu.Tepat saat rantai itu terayun ke arah kepalanya, Adit melangkah miring setengah meter ke kanan, gerakan paling minimal yang mungkin dilakukan, dan rantai itu lewat begitu saja, membelah udara tepat di sisi kirinya. Sebelum lawan sempat menarik kembali ayunannya, Adit memutar tubuh, menghantamkan sikunya dengan presisi ke tulang rusuk penyerang itu.Krak.Suara yang tidak enak didengar.Pria besar itu terlipat ke depan, napasnya tercabut seketika. Adit menangkap kepalanya, membantingnya ke lantai dengan satu gerakan mulus.BAAAMMM!!Bisa dipastikan, dia tak akan bangun lagi dalam waktu lama.Tapi yang lainnya terus d

  • Tukang Pijat Tampan   Rumah Renata Diserang

    Perjalanan pulang adalah perjuangan yang tidak mudah. Area disekitaran Auditorium itu masih ramai meski sudah 30 menit acara tersebut selesai. Entah kenapa mereka tak mau pulang. Tapi memang ada hoax bahwa Adit akan menemui fans yang ada di luar. Jadilah mereka menunggu. Dan yang tadi ada di dalam Auditorium juga tak pula lekas pulang.Di dalam mobil SUV hitam yang kedap suara, Adit duduk di tengah, diapit oleh Vera yang terus memantau tabletnya dan Renata yang duduk diam menyesap aroma dari botol kecil essential oil.Seluruh kacanya gelap. Orang tidak tahu siapa yang ada di dalam. Namun demikian, entah mobil apapun yang keluar dalam kawalan ketat, pasti akan menimbulkan teriakan dari fans yang menggila itu.“Astaga…” Adit cukup syok melihatnya.“Sampai sebegitunya ya…” kata Vera.“Masuk ke dunia hiburan adalah kesalahan terbesar yang telah kalian lakukan…” Renata berkomentar. “Aku tidak memungkiri, kamu mendapatkan banyak pendukung, Dit. Mereka akan maju saat kamu ada masalah. Sepert

  • Tukang Pijat Tampan   Jumpa Fans

    Mobil itu berangkat pukul delapan pagi.Renata duduk di depan bersama sopirnya. Adit dan Vera di belakang, dengan jarak yang sudah menjadi jarak default mereka dalam perjalanan panjang.Vera sibuk dengan ponselnya yang sudah aktif sejak sejam sebelumnya, membalas pesan dari Bu Ria dan tim manajemen yang rupanya juga sudah tidak tidur sejak tadi malam.Sementara Adit dengan jaket gelap dan masker yang sudah ia pasang sejak keluar dari gerbang, memilih untuk menatap keluar jendela dengan ekspresi seseorang yang sedang mencoba meyakinkan dirinya bahwa hari ini tidak berbeda dari hari-hari lain.Adit diam-diam mencoba untuk tidak gugup. Tapi ia tidak berhasil."Kamu sarapan tadi nggak habis," kata Vera tanpa menoleh dari layarnya."Habis.""Apa iya? Kayaknya kamu nggak habis deh sarapannya..." Vera menggodai Adit.Adit tidak merespons. Jiwanya seolah tidak sedangh berada di tubuhnya. Melihat hal itu, Vera memilih untuk tidak melanjutkan.Renata di depan tidak berkomentar, tapi ada sesuatu

  • Tukang Pijat Tampan   Terlalu Sungguhan Sebagai Latihan

    Clara berdiri di tengah ruang tamu, membuka naskahnya ke halaman yang sudah ia tandai dengan sticky note merah. Matanya menyapu teks dengan cermat, lalu ia menatap Adit dengan senyum yang profesional, tapi ada sesuatu yang berkilat di matanya, sesuatu yang lebih dari sekadar niat latihan biasa."Ok

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • Tukang Pijat Tampan   Semakin Intens Bersama Melinda

    Adit yang sudah kehilangan semua pertahanannya, membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama.Tangannya bergerak memeluk pinggang Melinda, menarik tubuh wanita itu semakin dekat sampai mereka bersentuhan sepenuhnya; dada ke dada, pinggul ke pinggul.Melinda mengerang pelan di dalam ciuman, tanga

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • Tukang Pijat Tampan   Larasati Lemas

    Keesokan paginya, Adit terbangun dengan perasaan yang aneh; campuran antara bahagia dan gelisah. Pengalaman semalam masih terasa sangat nyata di ingatannya. Sensasi melayang, alam yang indah bersama Larasati. Adit seolah menemukan solusi bagaimana mereka pacaran dan melepas rindu tanpa ketahuan ora

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • Tukang Pijat Tampan   Tak Pernah Bisa Menolak Renata

    Renata tersenyum melihat Adit sedang berpikir, lalu melanjutkan."Dulu aku tidak bisa terang-terangan memberikan hadiah-hadiah menarik untukmu. Aku takut ketahuan suamiku. Tapi kini aku bebas. Aku bisa memberimu posisi bagus sebagai wakilku. Tidak usah bekerja keras. Hanya tinggal menyuruh dan meng

    last updateLast Updated : 2026-03-31
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status