ログインLantai puncak Menara Hitam tidak terlihat dari bawah.Bukan karena ketinggiannya, meski gedung itu memang salah satu yang tertinggi di kota ini. Tapi karena tidak ada yang tahu lantai itu ada. Denah resmi gedung mencatat dua puluh tujuh lantai. Yang sesungguhnya, ada dua puluh delapan. Satu lantai yang tidak pernah muncul di dokumen mana pun, tidak terdaftar di kantor pertanahan, tidak tercantum dalam izin bangunan, dan tidak pernah dijangkau oleh lift yang tersedia untuk umum.Malam itu, ruangan di lantai itu menyala.Bukan dengan cahaya yang mencolok. Justru sebaliknya; lampu-lampu dinding dengan nyala yang rendah dan kemerahan, seperti bara yang belum sepenuhnya padam. Meja bundar besar di tengah ruangan dikelilingi oleh kursi-kursi yang hampir semuanya terisi. Dua puluh orang. Tidak lebih, tidak kurang; karena memang begitulah aturannya, dan aturan di tempat ini tidak pernah dilanggar dua kali oleh orang yang sama.Dari luar, jika ada yang bisa melihat, mereka akan mengira ini ada
Restoran itu tutup untuk umum malam itu.Bukan karena sepi, bukan karena ada acara keluarga, dan bukan pula karena renovasi seperti yang tertulis di papan kecil yang digantung di pintu kaca bagian depan. Alasannya jauh lebih sederhana dan jauh lebih rumit dari itu: ada orang-orang yang perlu bicara tanpa saksi yang tidak berkepentingan.Meja panjang di ruang privat lantai dua sudah disiapkan sejak sore. Delapan kursi. Lampu gantung yang redup dan hangat. Tidak ada musik. Tidak ada pelayan yang berlalu-lalang. Hanya sebotol air mineral di tengah meja dan asbak yang belum disentuh.Mereka datang tidak serentak. Itu sudah menjadi kebiasaan lama; tidak ada yang mau terlihat terlalu bersemangat, tidak ada yang mau tiba pertama seperti orang yang sedang menunggu belas kasihan. Satu per satu mereka masuk, menarik kursi, meletakkan tangan di atas meja atau di pangkuan, dan menunggu dengan sabar yang sebenarnya bukan sabar, melainkan kalkulasi.Hadir dari Serigala Timur: Ragil Santoso, lelaki
Dua hari berlalu seperti air yang mengalir di atas batu; tenang di permukaan, tapi menyimpan arus di bawahnya.Juanda Tan masih ada di ruang paling belakang rumah Renata. Dijaga bergantian oleh dua orang setiap saat, pintu dikunci dari luar, jendela dipasang terali tambahan. Mereka tidak memperlakukannya dengan kasar; tidak ada gunanya merusak barang yang nilainya bergantung pada kondisinya.Makanan diberikan tiga kali sehari. Seorang dokter langganan Renata sudah datang di hari pertama, memeriksa kondisi matanya yang masih meradang, memberikan obat tetes dan salep, memastikan tidak ada cedera serius yang tersembunyi. Juanda makan, tidur, dan diam. Ia tidak banyak bicara sejak malam pertama itu. Mungkin ia sedang berpikir. Mungkin ia sudah terlalu lelah untuk melakukan apa pun selain menunggu.Di luar tembok rumah itu, dunia seolah menahan napas.Tidak ada telepon dari pimpinan kelompok mana pun. Tidak ada utusan yang datang. Tidak ada pernyataan resmi, tidak ada ancaman terbuka, tida
Jarum jam belum menyentuh angka empat. Lampu utama di rumah mewah itu masih menyala, yang artinya, tak ada istirahat malam di rumah itu.Renata duduk di sofa di sudut ruang tamu dengan secangkir teh yang sudah lama dingin di atas meja di sampingnya. Ia tidak menyentuhnya lagi sejak sejam yang lalu. Vera berbaring di sofa dengan sebelah lengan menutup matanya; bukan tidur, hanya beristirahat dengan tubuh yang tidak sepenuhnya menyerah. Sesekali ia menggeser posisi, atau mengeluarkan bunyi kecil yang tidak jelas artinya.Tak ada yang menyuruh mereka terjaga. Tapi jelas, mereka tak akan bisa tidur. Tak akan tidur. Dan lebih baik memang menunggu meski rasanya cemas juga.Ketika suara mesin mobil terdengar dari luar, langsung bangkit duduk. Renata sudah berdiri bahkan sebelum suara ban berderak di atas permukaan jalan masuk.Mereka berjalan ke teras.Mobil pertama berhenti. Pintu terbuka. Arman turun, lalu Bimo, Steven, dan dari pintu belakang. Semua tampak lelah tapi berdiri tegak, tidak
Lantai bawah bisa dipastikan telah berakhir. Kemungkinan besar demikian. Adit mengingatkan kepada teman-temannya agar selalu berada di tempat yang terlindung, bukan tempat terbuka, sebab musuh di lantai atas pasti banyak yang menodongkan senjata ke bawah.“Perlu kita matikan listrik?” tanya Bima.“Matikan saja! Tapi mungkin mereka sudah belajar dari apa yang terjadi di markas Pancasona. Mungkin di atas sudah ada lampu darurat. Tetap ada cahaya…” kata Adit.“Lebih baik dicoba saja. Oke, kita matikan listriknya!” Bima segera bergegas ke kotak panel, lalu mematikan listrik. Dan benar saja, meski listri mati, di beberapa titik, masih ada lampu yang menyala.“Aku naik duluan. Kalian tunggu ya…”Adit pun naik. Tangga itu berakhir di sebuah pintu yang sudah tertutup rapat.Adit mendorongnya.Serangkaian tembakan langsung menyambut; dentuman keras yang membelah kayu pintu dan menghantam dinding di belakangnya. Adit sudah menarik diri ke sisi tembok sebelum peluru pertama menembus papan pintu.
Adit turun dari mobil lebih dulu.Ia tidak berlari. Tidak tergesa. Ia berjalan mendekati tembok belakang markas itu dengan langkah yang hampir tidak menimbulkan suara; seperti seseorang yang sedang berjalan-jalan di malam hari, bukan seseorang yang hendak menerobos masuk ke sarang musuh.Arman, Bimo, dan Steven menunggu di tempat gelap dekat mobil, mata mereka mengikuti siluet Adit yang semakin mendekati tembok setinggi tiga meter itu.Adit berhenti tepat di bawahnya. Ia mendongak sebentar, menilai, mengukur, lalu tanpa ancang-ancang yang berlebihan, ia melompat.Satu gerakan. Satu hentakan kaki dari tanah. Tubuhnya terangkat seperti gravitasi hanya berlaku setengahnya untuk dia, dan tangan kanannya mencengkeram bibir tembok dengan tepat. Tidak ada suara keras. Tidak ada goresan. Dalam hitungan detik ia sudah bertengger di atasnya, tubuh merendah, matanya langsung menyapu area di bawah sana.Di sisi dalam tembok, seorang penjaga berdiri membelakanginya, rokok di tangan, pandangan meng
Adit menoleh ke arah Vera yang sedari tadi menyimak.“Mereka mau ke sini?”“Iya. Udah aku kasih ancer-ancer… tapi sebaiknya aku sharelock juga aja…”“Lebih baik gitu…” kata Vera.Sekitar tiga puluh lima menit kemudian, terdengar suara motor berhenti di depan rumah. Adit mengecek dari jendela, memas
Mobil Vera melaju dengan kecepatan tinggi memasuki area parkir Rumah Sakit Harapan Kita. Dia memarkirkan mobil dengan tergesa-gesa, bahkan tidak terlalu rapi, lalu langsung turun bersama Laras.Laras sudah mengenakan masker hitam yang menutupi hidung dan mulutnya, mata merah dari menangis sepanjang
Begitu masuk mobil, Renata langsung menatap Bayu yang duduk di kursi pengemudi."Bayu, atur tim. Tangkap ketiga orang itu. Bawa ke markas."Bayu mengangguk sambil menyalakan mesin mobil. "Siap, Boss…”Joko yang duduk di samping Bayu menatap spion, menatap Renata lewat pantulan. "Boss, berapa orang
Renata tersenyum melihat Adit sedang berpikir, lalu melanjutkan."Dulu aku tidak bisa terang-terangan memberikan hadiah-hadiah menarik untukmu. Aku takut ketahuan suamiku. Tapi kini aku bebas. Aku bisa memberimu posisi bagus sebagai wakilku. Tidak usah bekerja keras. Hanya tinggal menyuruh dan meng







