Beranda / Urban / Tukang Pijat Tampan / Janjian Bertemu Vera

Share

Janjian Bertemu Vera

Penulis: Black Jack
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-16 23:12:50

Sore harinya, meski dokter Siska melarang, namun Adit bersikeras ingin pergi. Pikirannya sama sekali tidak tenang setelah mendapatkan telefon dari Vera.

“Dit, kamu belum sembuh loh!”

“Udah sehat kak… lihat nih. Aku udah bisa push up!”

“Astaga, nggak-nggak, besok aja! Malam ini kamu masih di sini…”

“Waduh, nggak bisa kak. Ada banyak kerjaan. Repot kalau sampai aku nggak ada di sana. Banyak masalah! Lagian aku sudah sehat kok! Aman nih. Coba periksa lagi! Lebam-lebamnya aja udah nggak ada!” Adit
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Tukang Pijat Tampan   Bakat Menembak

    Dengan sangat yakin Adit menarik pelatuk pistol itu, perlahan, seperti instruksi Vera. Dan hasilnya…DOOORRRPistol meledak di tangannya dengan hentakan balik, mendorong tangannya ke atas cukup kuat. Adit sedikit terkejut dengan kekuatan hentakan itu. Dia tak mengira akan seperti itu.“Anjirr… kaget aku… kok bisa ya…”“Ya bisa aja… Kamu kaget sama hentakannya kan? Itu wajar. Kamu belum tahu soalnya. Kalau sudah tahu sekali gini, tubuhmu merekam. Nanti akan punya kira-kira sendiri…”Dan mereka melihat hasilnya; Peluru meleset, mengenai tanah sekitar satu meter di sebelah kiri pohon."Tapi menurutku, cukup bagus sih untuk tembakan pertama!" kata Vera dengan senyum. " Coba lagi. Kali ini siap dengan hentakannya, tapi jangan terlalu berlebihan. Biarkan tangan kamu menangani secara alami."Adit mengangguk, lalu mengambil posisi lagi.Dia membidik pohon yang sama, kali ini lebih fokus, lebih santai. Lebih menikmati prosesnya. Dan sedikit banyak ia tahu juga, meski dari film, jika gravitasi

  • Tukang Pijat Tampan   Mencari Tempat Latihan

    Adit berbaring di kamarnya dengan mata terpejam, tapi pikirannya tidak bisa berhenti bekerja.‘Jika rumahku sudah diketahui...’ Pikiran itu terus berputar di kepalanya seperti roda yang tidak bisa berhenti. ‘Maka mobilku juga sudah terpantau. Kegiatanku juga. Mereka mungkin sudah mengikutiku sejak lama.’Dia membuka mata, menatap langit-langit kamar yang gelap.‘Itu artinya... aku harus kembali selalu waspada. Seperti dulu. Seperti waktu kasus Jenderal Guntur masih berlangsung...sial…’Pikiran-pikiran itu membuatnya sulit tidur. Tapi akhirnya, karena kelelahan fisik dan mental, matanya perlahan menutup dan dia tertidur dengan tidur yang tidak nyenyak, penuh mimpi yang tidak jelas.***Keesokan Paginya - Pukul 04:30Alarm berbunyi keras dan membangunkan Adit dari tidur yang tidak pulas. Dia bangun dengan mata yang masih berat, tapi langsung bergegas mandi dan bersiap.Turun ke bawah, Vera sudah siap, mengenakan celana jeans hitam, kaos lengan panjang abu-abu, dan jaket denim. Rambutnya

  • Tukang Pijat Tampan   Dua Pucuk Pistol Baru

    Adit menoleh ke arah Vera yang sedari tadi menyimak.“Mereka mau ke sini?”“Iya. Udah aku kasih ancer-ancer… tapi sebaiknya aku sharelock juga aja…”“Lebih baik gitu…” kata Vera.Sekitar tiga puluh lima menit kemudian, terdengar suara motor berhenti di depan rumah. Adit mengecek dari jendela, memastikan itu memang Bayu dan Joko.Ternyata benar. Adit bergegas ke depan, membuka gerbang.Bayu dan Joko turun dari motor, keduanya mengenakan jaket hitam dan membawa tas ransel kecil. Mereka berjalan masuk dengan langkah cepat."Di sini kamu tinggal?” kata Bayu."Iya, Bang. Makasih udah datang cepat."Joko juga menyapa dengan ramah. "Adit, rumah baru kamu ini bagus. Enak. Tenang… sepi…”Adit tersenyum kecil. "Makasih, Mas. Tapi tolong jangan cerita ke siapapun soal rumah ini. Aku mau cari ketenangan di sini…”"Tenang, Dit. Kami tidak akan cerita," jawab Bayu serius.Mereka masuk ke ruang tengah. Vera sudah duduk di sofa dengan wajah yang serius.Adit memperkenalkan. "Ini Vera, manajer aku. Ve

  • Tukang Pijat Tampan   Butuh Senjata?

    Adit menatap Vera, mempertimbangkan kata-katanya dengan serius.Tapi lalu dia menggeleng lagi. "Tidak usah, Ver."Vera terlihat frustasi. "Kenapa?""Aku tidak mau ketenangan di rumah ini terganggu dengan datangnya orang media. Wartawan akan datang. Kamera akan nongkrong di depan rumah. Tetangga akan ribut. Aku... aku capek dengan semua itu."Adit menghela napas panjang, terlihat lelah."Dulu pas kasus Jenderal Guntur viral, ibaratnya, aku selalu dikerubungin wartawan setiap hari. Aku tidak bisa keluar dengan tenang. Setiap gerak-gerik dipantau. Aku tidak mau mengalami itu lagi. Sekarang sama saja sih. Tapi setidaknya, di rumah ini, rasanya tenang…"Vera terdiam, paham perasaan Adit. Memang benar. Viral membawa perlindungan, tapi juga membawa gangguan.Lalu Vera mencoba pendekatan lain. "Oke, kalau begitu... bagaimana kalau kamu kasih tahu Renata? Minta dia kirim beberapa orang untuk ngawalin kamu?"Adit langsung menggeleng keras. "Tidak. Aku tidak mau melibatkan Renata lagi. Dia baru

  • Tukang Pijat Tampan   Apa Solusinya?

    Adit segera mengambil ponselnya. Lalu dia menelpon Vera.Sambungan tersambung setelah dua nada tunggu."Halo, Dit? Ada apa telpon jam segini? Kamu udah di rumah? Udah makan?" Sahut Vera menjawab telefon."Ver, kamu bisa ke rumah sekarang? Ada... kejadian," kata Adit dengan nada yang berusaha tenang."Kejadian apa? Kamu aman?""Aku aman. Tapi... ada yang ngirim ancaman. Kepala babi sama surat ancaman mati. Di lempar ke halaman rumah."Hening sejenak di ujung sana."APA?!" suara Vera meninggi. "Oke, aku langsung kesana. Tunggu aku. Jangan kemana-mana. Kunci pintu!""Oke, Ver."Sambungan terputus.Adit menatap kardus berisi kepala babi itu dengan perasaan jijik dan marah. Dia tidak mau menyentuhnya lagi, jadi dia membiarkan kardus itu terbuka di lantai ruang tengah.Lalu dia teringat, CCTV.Adit langsung pergi ke ruang kecil di samping dapur di mana monitor CCTV terpasang. Dia memutar rekaman dari sekitar satu jam yang lalu, saat dia belum pulang.Layar menampilkan gambar hitam putih dar

  • Tukang Pijat Tampan   Ancaman Misterius

    Malam sudah larut, pukul delapan lewat, tapi Raymond masih berada di kantornya yang luas dan mewah di lantai dua puluh lima gedung Semesta Group. Ruangan itu didekorasi dengan furniture modern yang mahal, jendela kaca besar yang menghadap ke pemandangan kota Jakarta yang berkelap-kelip, dan meja kerja besar dari kayu jati solid.Raymond duduk di kursi direktur dengan postur santai, mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku, dasi yang sudah dilonggarkan, dan segelas whisky di tangan kanannya.Di depan mejanya, berdiri seorang pria bertubuh tegap dengan jas hitam, bernama Hendra, salah satu kepala keamanan pribadi Raymond yang juga berfungsi sebagai... investigator tidak resmi untuk urusan-urusan yang lebih sensitif."Jadi?" tanya Raymond sambil menyeruput whisky-nya dengan santai. "Apa yang kamu dapat hari ini?"Hendra membuka tablet di tangannya, lalu mulai melaporkan dengan nada yang profesional."Hari ini Nona Clara syuting dari pagi hingga sore, sekitar pukul

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status