Home / Urban / Tukang Pijat Tampan / Butuh Senjata?

Share

Butuh Senjata?

Author: Black Jack
last update publish date: 2026-03-07 13:27:23

Adit menatap Vera, mempertimbangkan kata-katanya dengan serius.

Tapi lalu dia menggeleng lagi. "Tidak usah, Ver."

Vera terlihat frustasi. "Kenapa?"

"Aku tidak mau ketenangan di rumah ini terganggu dengan datangnya orang media. Wartawan akan datang. Kamera akan nongkrong di depan rumah. Tetangga akan ribut. Aku... aku capek dengan semua itu."

Adit menghela napas panjang, terlihat lelah.

"Dulu pas kasus Jenderal Guntur viral, ibaratnya, aku selalu dikerubungin wartawan setiap hari. Aku tidak bisa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tukang Pijat Tampan   Keponakan Pak Kades Kecelakaan

    Dua minggu yang berlalu di di desa itu bagaikan sapuan angin laut yang membawa ketenangan bagi Adit.Kini Adit tidak lagi menumpang di rumah Pak Hermawan. Berkat uang kiriman dari Larasati dan tabungan hasil keringatnya sendiri, ia berhasil menyewa sebuah rumah panggung kayu yang cukup lapang di tepi desa. Rumah itu sederhana, namun memiliki halaman luas yang langsung menghadap ke arah matahari terbenam.Adit sengaja tidak membuka bengkel resmi atau memasang papan nama di depan rumahnya. Baginya, itu hanya akan mengundang kerepotan birokrasi dan rutinitas yang mengikat. Ia lebih menikmati statusnya saat ini: seorang montir panggilan yang misterius namun selalu bisa diandalkan. Ia hanya akan datang jika diundang, bergerak dari satu rumah ke rumah lain, menyelesaikan masalah mekanis dengan cepat dan pasti yang tak pernah mengecewakan mereka yang mengundangnya.Hidup seperti itu ternyata terasa begitu mewah bagi Adit. Sungguh santai, tanpa tekanan pasar, Tanpa teriakan ribuan penggemar,

  • Tukang Pijat Tampan   Kegiatan Di Desa Nelayan

    Hari-hari berikutnya di Pulau Kakap berjalan dengan ritme yang tak pernah Adit duga sebelumnya. Statusnya sebagai "Mekanik Ajaib" pasca-memperbaiki mesin kapal nelayan tempo hari menyebar seperti api menyiram bensin.Warga desa menganggap Adit sebagai pemuda serba bisa yang dikirim laut untuk membantu kesulitan mereka. Akibatnya, setiap pagi, pintu rumah Pak Kades selalu diketuk oleh warga yang meminta bantuan Adit."Mas Adit, tolong... sekring listrik di rumah saya putus, baunya gosong.""Nak Adit, ini mesin cuci istri saya mendadak macet, dinamonya tidak berputar.""Mas, motor bebek saya mogok dari kemarin, mekanik pasar bilang harus turun mesin, apa Mas Adit bisa cek dulu?"Bagi Adit, yang otaknya memiliki basis data pengetahuan mekanik dan kelistrikan tingkat tinggi, semua masalah itu tidak lebih sulit daripada membalikkan telapak tangan. Ia datang dari satu rumah ke rumah lain. Memperbaiki kabel instalasi listrik yang korslet, menyetel ulang karburator motor yang kotor, hingga me

  • Tukang Pijat Tampan   Mengobrol Bersama Laras

    Malam jatuh begdalam suasana cerah di desa itu. Di dalam kamar tamu rumah Pak Hermawan yang sederhana namun bersih, Adit berbaring telentang di atas ranjang kapuk. Suara deburan ombak di kejauhan terdengar konstan, menjadi lagu pengantar tidur bagi warga desa, namun tidak bagi pikiran Adit yang terus berputar.Ia memejamkan mata, mengatur napasnya hingga berada di frekuensi yang sangat rendah. Adit mulai memfokuskan sisa energi murninya, mengetuk sebuah gerbang tak kasat mata di dalam kesadarannya. Ia berharap malam ini Larasati membuka pintu dimensi alternatif yang diciptakan Laras untuk pertemuan rahasia mereka.Detik berikutnya, sensasi dingin ranjang kapuk lenyap. Berganti dengan hamparan padang rumput replika yang diselimuti kabut tipis nan hangat."Adit sayang...!"Sebuah suara yang sangat ia rindukan memecah kesunyian. Belum sempat Adit berdiri tegak, sesosok gadis berambut panjang dengan gaun putih pudar sudah berhambur ke pelukannya. Larasati mendekapnya erat, seolah takut pr

  • Tukang Pijat Tampan   Kesempatan Untuk Diterima

    Setelah piring terakhir dikosongkan, Bu Sarah dengan sigap menyuguhkan segelas teh hangat manis yang mengepulkan aroma wangi melati. Pak Hermawan menyandarkan punggungnya di kursi, menatap Adit dengan tatapan kebapakan yang penuh rasa ingin tahu."Maaf ya nak Adit, masakannya hanya sederhana. Hehehe. Semoga berkenan…" tanya Pak Hermawan ramah."Wah ini sangat istimewa, Pak. Masakan ibu luar biasa. Saya makan sampai kayak orang tidak pernah makan seenak ini. Terima kasih banyak atas kebaikan Bapak dan Ibu," jawab Adit sopan, sembari meletakkan gelas tehnya. Di dalam kepalanya, otak Adit telah selesai bekerja menyusun ratusan opsi latar belakang palsu, memilih opsi yang paling dramatis namun sulit dilacak agar memicu empati maksimal.Bu Sarah ikut duduk di samping suaminya. "Nak Adit, kalau boleh Ibu tahu, kota asalmu di mana? Dan bagaimana ceritanya anak muda sepertimu bisa terombang-ambing begitu jauh?"Adit menunduk sejenak, memasang raut wajah yang tampak getir dan sarat akan beban

  • Tukang Pijat Tampan   Di Rumah Pak Kades Yang Baik Hati

    Adit menarik kembali tangannya dengan tenang, menyembunyikan sisa kehangatan energi murni ke balik saku celana taktisnya yang robek. Ia berdiri, membantu Pak Kades bangkit berdiri disusul sorak lega dari warga sekitar yang mengerubungi mereka."Hanya pertolongan pertama, Pak. Kebetulan saya sedikit paham tentang pijat stimulasi jantung," jawab Adit bohong. Suaranya terdengar datar namun berwibawa, membuat orang-orang di sekitarnya seolah enggan membantah.Pak Kades membersihkan debu di kain batiknya, lalu mengulurkan tangan dengan senyum tulus yang amat lebar. "Nama saya Hermawan. Saya Kepala Desa di sini. Waduh, saya benar-benar berterima kasih, Nak...?""Adit," jawab Adit singkat, menyambut jabat tangan hangat pria itu.Mata Pak Hermawan beralih menatap penampilan Adit dari atas ke bawah. Seragam taktis hitam yang compang-camping, kerak garam laut yang mengering di kulitnya, dan kaki telanjang tanpa alas. Jelas sekali anak muda di hadapannya ini baru saja melewati sesuatu yang tidak

  • Tukang Pijat Tampan   Terdampar di Suatu Pulau

    Perahu darurat itu meluncur mulus ke atas permukaan air laut, memecah buih ombak pantai dengan suara riak yang halus. Adit berdiri tegak di atas dek kayu kecilnya, tangannya mencengkeram tali kendali layar terpal dengan erat. Begitu angin malam yang kencang menghantam bentangan terpal, perahu itu melesat maju, meninggalkan bayangan hitam tebing batu basal yang perlahan mengecil di belakangnya.Malam itu, samudra tampak seperti karpet hitam tanpa ujung. Tanpa kompas magnetik, tanpa GPS, dan tanpa alat navigasi modern apa pun, seorang pelaut biasa akan langsung tersesat di tengah hamparan air ini dalam hitungan jam. Namun, Adit bukanlah manusia biasa.Ia mendongak, menatap langit malam yang bersih. Matanya bergerak liar, memindai ribuan titik cahaya yang bertaburan di angkasa.Otaknya langsung memetakan rasi bintang menjadi kompas digital yang super presisi di dalam ruang kesadarannya. Setiap pembiasan cahaya bulan pada permukaan air laut ia kalkulasi untuk mendeteksi arah arus bawah la

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status