เข้าสู่ระบบAmbulans tiba di UGD Rumah Sakit Harapan Bangsa, salah satu rumah sakit besar di kota itu. Adit langsung dibawa ke ruang trauma dengan tim medis yang sudah standby.Dokter jaga malam, seorang pria muda bernama dr. Rizky, langsung memeriksa kondisi Adit dengan cepat tapi teliti."Trauma kepala berat. Gegar otak kemungkinan besar. Luka robek di dahi dan pelipis. Tulang rusuk mungkin retak, harus rontgen. Tekanan darah rendah. Detak jantung lemah. Status: kritis."Perawat di sampingnya mencatat semua dengan cepat sambil memasang monitor jantung dan oksigen pada Adit."Kita bawa ke ruang ICU. Sekarang. Siapkan CT scan kepala dan rontgen dada," perintah dr. Rizky dengan tegas."Siap, Dok."Adit dibawa ke ruang ICU; ruangan steril dengan berbagai mesin medis yang berdering dan berkedip. Dia dibaringkan di ranjang ICU dengan berbagai kabel dan selang terpasang di tubuhnya.Kondisinya sangat kritis. Nyawanya tergantung pada benang tipis.***Sekitar pukul satu dini hari, rumah sakit dan polis
Tiga orang turun dari truk dengan gerakan yang cepat tapi hati-hati. Mereka semua mengenakan masker hitam yang menutupi hidung dan mulut, topi baseball yang ditarik rendah menutupi dahi, dan jaket berwarna gelap. Wajah terlindung sempurna. Identitas tersamar tanpa celah.Mereka berjalan mendekat ke mobil Adit yang ringsek terjepit di pembatas jalan, body mobil hancur, kaca depan pecah berantakan, asap mengepul dari kap mesin yang penyok.Salah satu dari mereka, pria bertubuh besar, mengintip ke dalam mobil melalui jendela yang pecah. Dia melihat Adit tergeletak di kursi pengemudi dengan kepala bersandar, wajah penuh darah, mata tertutup, tubuh tidak bergerak."Dia sudah mati harusnya," katanya dengan nada datar.Pria kedua, bertubuh lebih kurus, ikut mengintip. "Iya. Lihat tuh... udah tidak gerak. Tidak usah diapa-apain lagi."Pria ketiga yang berdiri sedikit di belakang menatap sekeliling dengan gelisah. "Sekarang bagaimana?""Ayo kita pergi saja," jawab pria pertama sambil berbalik
Perjalanan kembali ke kota memakan waktu yang sama; sekitar dua jam. Mereka tiba di pinggiran kota sekitar pukul sebelas siang, dan perut keduanya sudah mulai keroncongan."Ver, mampir makan dulu yuk. Aku lapar," kata Adit sambil mengelus perutnya.Vera mengangguk. "Oke. Ada rumah makan di depan yang lumayan enak. Kita beli buat dibawa pulang aja ya.""Boleh."Vera memarkirkan mobilnya di parkiran rumah makan yang cukup ramai. Sebelum turun, mereka berdua saling berpandangan, lalu dengan kompak mengambil perlengkapan penyamaran.Adit mengenakan topi baseball hitam, masker hitam yang menutupi hidung dan mulut, dan kacamata hitam. Vera juga melakukan hal yang sama—topi, masker, kacamata."Kita kayak mau merampok bank aja," gumam Adit sambil tertawa kecil.Vera tersenyum di balik maskernya. "Daripada diserbu orang orang terus malah ribet. Kamu kan sekarang artis terkenal."Mereka turun dari mobil dan berjalan masuk ke rumah makan dengan langkah santai, berusaha tidak terlihat mencurigaka
Dengan sangat yakin Adit menarik pelatuk pistol itu, perlahan, seperti instruksi Vera. Dan hasilnya…DOOORRRPistol meledak di tangannya dengan hentakan balik, mendorong tangannya ke atas cukup kuat. Adit sedikit terkejut dengan kekuatan hentakan itu. Dia tak mengira akan seperti itu.“Anjirr… kaget aku… kok bisa ya…”“Ya bisa aja… Kamu kaget sama hentakannya kan? Itu wajar. Kamu belum tahu soalnya. Kalau sudah tahu sekali gini, tubuhmu merekam. Nanti akan punya kira-kira sendiri…”Dan mereka melihat hasilnya; Peluru meleset, mengenai tanah sekitar satu meter di sebelah kiri pohon."Tapi menurutku, cukup bagus sih untuk tembakan pertama!" kata Vera dengan senyum. " Coba lagi. Kali ini siap dengan hentakannya, tapi jangan terlalu berlebihan. Biarkan tangan kamu menangani secara alami."Adit mengangguk, lalu mengambil posisi lagi.Dia membidik pohon yang sama, kali ini lebih fokus, lebih santai. Lebih menikmati prosesnya. Dan sedikit banyak ia tahu juga, meski dari film, jika gravitasi
Adit berbaring di kamarnya dengan mata terpejam, tapi pikirannya tidak bisa berhenti bekerja.‘Jika rumahku sudah diketahui...’ Pikiran itu terus berputar di kepalanya seperti roda yang tidak bisa berhenti. ‘Maka mobilku juga sudah terpantau. Kegiatanku juga. Mereka mungkin sudah mengikutiku sejak lama.’Dia membuka mata, menatap langit-langit kamar yang gelap.‘Itu artinya... aku harus kembali selalu waspada. Seperti dulu. Seperti waktu kasus Jenderal Guntur masih berlangsung...sial…’Pikiran-pikiran itu membuatnya sulit tidur. Tapi akhirnya, karena kelelahan fisik dan mental, matanya perlahan menutup dan dia tertidur dengan tidur yang tidak nyenyak, penuh mimpi yang tidak jelas.***Keesokan Paginya - Pukul 04:30Alarm berbunyi keras dan membangunkan Adit dari tidur yang tidak pulas. Dia bangun dengan mata yang masih berat, tapi langsung bergegas mandi dan bersiap.Turun ke bawah, Vera sudah siap, mengenakan celana jeans hitam, kaos lengan panjang abu-abu, dan jaket denim. Rambutnya
Adit menoleh ke arah Vera yang sedari tadi menyimak.“Mereka mau ke sini?”“Iya. Udah aku kasih ancer-ancer… tapi sebaiknya aku sharelock juga aja…”“Lebih baik gitu…” kata Vera.Sekitar tiga puluh lima menit kemudian, terdengar suara motor berhenti di depan rumah. Adit mengecek dari jendela, memastikan itu memang Bayu dan Joko.Ternyata benar. Adit bergegas ke depan, membuka gerbang.Bayu dan Joko turun dari motor, keduanya mengenakan jaket hitam dan membawa tas ransel kecil. Mereka berjalan masuk dengan langkah cepat."Di sini kamu tinggal?” kata Bayu."Iya, Bang. Makasih udah datang cepat."Joko juga menyapa dengan ramah. "Adit, rumah baru kamu ini bagus. Enak. Tenang… sepi…”Adit tersenyum kecil. "Makasih, Mas. Tapi tolong jangan cerita ke siapapun soal rumah ini. Aku mau cari ketenangan di sini…”"Tenang, Dit. Kami tidak akan cerita," jawab Bayu serius.Mereka masuk ke ruang tengah. Vera sudah duduk di sofa dengan wajah yang serius.Adit memperkenalkan. "Ini Vera, manajer aku. Ve







