Compartir

Ke Rumah Sakit

Autor: Black Jack
last update Fecha de publicación: 2025-11-26 23:56:00

Keputusan untuk membawa Vera ke rumah sakit diambil sekitar pukul sepuluh malam, setelah kondisinya membaik sedikit namun rasa sakit di rusuknya tidak berkurang. Pak Liam sendiri yang memerintahkan, tidak mau mengambil risiko dengan petarung andalannya.

Adit membantu memindahkan Vera yang masih setengah sadar ke kursi roda yang dipinjam dari ruang medis arena. Samson dan dua anak buah lain ikut, membawa tas Vera dan perlengkapannya. Mereka keluar lewat pintu belakang untuk menghindari kerumunan
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Tukang Pijat Tampan   Berdebat Dengan Dokter

    Perjalanan menegangkan dan menyiksa menuju Rumah Sakit Umum Daerah itu memakan waktu tiga puluh menit. Sepanjang jalan di atas mobil pikap tua milik Pak Hermawan, Adit hanya terdiam menatap keluar jendela, sementara sang Kepala Desa menyetir dengan tangan gemetar dan rapalan doa yang tak putus-putus.Begitu sampai, mereka bergegas berlari melewati koridor rumah sakit yang berbau menyengat antiseptik, menuju ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD).Suasana di depan ruang IGD tampak kacau. Sepasang suami istri paruh baya, yang Adit yakini sebagai orang tua Desi, sedang menangis lemas di depan pintu. Di hadapan mereka, seorang dokter muda berkacamata dengan jas putih, didampingi dua orang perawat, sedang menjelaskan sesuatu dengan lembaran dokumen di papan klip."Tapi kenapa tidak bisa sekarang, Dok? Anak saya sekarat!" ratap sang ayah, suaranya serak karena panik.Dokter itu menghela napas berat, wajahnya tampak lelah sekaligus bersalah. "Saya paham pak, bu. Namun cedera di kepala pasien sa

  • Tukang Pijat Tampan   Keponakan Pak Kades Kecelakaan

    Dua minggu yang berlalu di di desa itu bagaikan sapuan angin laut yang membawa ketenangan bagi Adit.Kini Adit tidak lagi menumpang di rumah Pak Hermawan. Berkat uang kiriman dari Larasati dan tabungan hasil keringatnya sendiri, ia berhasil menyewa sebuah rumah panggung kayu yang cukup lapang di tepi desa. Rumah itu sederhana, namun memiliki halaman luas yang langsung menghadap ke arah matahari terbenam.Adit sengaja tidak membuka bengkel resmi atau memasang papan nama di depan rumahnya. Baginya, itu hanya akan mengundang kerepotan birokrasi dan rutinitas yang mengikat. Ia lebih menikmati statusnya saat ini: seorang montir panggilan yang misterius namun selalu bisa diandalkan. Ia hanya akan datang jika diundang, bergerak dari satu rumah ke rumah lain, menyelesaikan masalah mekanis dengan cepat dan pasti yang tak pernah mengecewakan mereka yang mengundangnya.Hidup seperti itu ternyata terasa begitu mewah bagi Adit. Sungguh santai, tanpa tekanan pasar, Tanpa teriakan ribuan penggemar,

  • Tukang Pijat Tampan   Kegiatan Di Desa Nelayan

    Hari-hari berikutnya di Pulau Kakap berjalan dengan ritme yang tak pernah Adit duga sebelumnya. Statusnya sebagai "Mekanik Ajaib" pasca-memperbaiki mesin kapal nelayan tempo hari menyebar seperti api menyiram bensin.Warga desa menganggap Adit sebagai pemuda serba bisa yang dikirim laut untuk membantu kesulitan mereka. Akibatnya, setiap pagi, pintu rumah Pak Kades selalu diketuk oleh warga yang meminta bantuan Adit."Mas Adit, tolong... sekring listrik di rumah saya putus, baunya gosong.""Nak Adit, ini mesin cuci istri saya mendadak macet, dinamonya tidak berputar.""Mas, motor bebek saya mogok dari kemarin, mekanik pasar bilang harus turun mesin, apa Mas Adit bisa cek dulu?"Bagi Adit, yang otaknya memiliki basis data pengetahuan mekanik dan kelistrikan tingkat tinggi, semua masalah itu tidak lebih sulit daripada membalikkan telapak tangan. Ia datang dari satu rumah ke rumah lain. Memperbaiki kabel instalasi listrik yang korslet, menyetel ulang karburator motor yang kotor, hingga me

  • Tukang Pijat Tampan   Mengobrol Bersama Laras

    Malam jatuh begdalam suasana cerah di desa itu. Di dalam kamar tamu rumah Pak Hermawan yang sederhana namun bersih, Adit berbaring telentang di atas ranjang kapuk. Suara deburan ombak di kejauhan terdengar konstan, menjadi lagu pengantar tidur bagi warga desa, namun tidak bagi pikiran Adit yang terus berputar.Ia memejamkan mata, mengatur napasnya hingga berada di frekuensi yang sangat rendah. Adit mulai memfokuskan sisa energi murninya, mengetuk sebuah gerbang tak kasat mata di dalam kesadarannya. Ia berharap malam ini Larasati membuka pintu dimensi alternatif yang diciptakan Laras untuk pertemuan rahasia mereka.Detik berikutnya, sensasi dingin ranjang kapuk lenyap. Berganti dengan hamparan padang rumput replika yang diselimuti kabut tipis nan hangat."Adit sayang...!"Sebuah suara yang sangat ia rindukan memecah kesunyian. Belum sempat Adit berdiri tegak, sesosok gadis berambut panjang dengan gaun putih pudar sudah berhambur ke pelukannya. Larasati mendekapnya erat, seolah takut pr

  • Tukang Pijat Tampan   Kesempatan Untuk Diterima

    Setelah piring terakhir dikosongkan, Bu Sarah dengan sigap menyuguhkan segelas teh hangat manis yang mengepulkan aroma wangi melati. Pak Hermawan menyandarkan punggungnya di kursi, menatap Adit dengan tatapan kebapakan yang penuh rasa ingin tahu."Maaf ya nak Adit, masakannya hanya sederhana. Hehehe. Semoga berkenan…" tanya Pak Hermawan ramah."Wah ini sangat istimewa, Pak. Masakan ibu luar biasa. Saya makan sampai kayak orang tidak pernah makan seenak ini. Terima kasih banyak atas kebaikan Bapak dan Ibu," jawab Adit sopan, sembari meletakkan gelas tehnya. Di dalam kepalanya, otak Adit telah selesai bekerja menyusun ratusan opsi latar belakang palsu, memilih opsi yang paling dramatis namun sulit dilacak agar memicu empati maksimal.Bu Sarah ikut duduk di samping suaminya. "Nak Adit, kalau boleh Ibu tahu, kota asalmu di mana? Dan bagaimana ceritanya anak muda sepertimu bisa terombang-ambing begitu jauh?"Adit menunduk sejenak, memasang raut wajah yang tampak getir dan sarat akan beban

  • Tukang Pijat Tampan   Di Rumah Pak Kades Yang Baik Hati

    Adit menarik kembali tangannya dengan tenang, menyembunyikan sisa kehangatan energi murni ke balik saku celana taktisnya yang robek. Ia berdiri, membantu Pak Kades bangkit berdiri disusul sorak lega dari warga sekitar yang mengerubungi mereka."Hanya pertolongan pertama, Pak. Kebetulan saya sedikit paham tentang pijat stimulasi jantung," jawab Adit bohong. Suaranya terdengar datar namun berwibawa, membuat orang-orang di sekitarnya seolah enggan membantah.Pak Kades membersihkan debu di kain batiknya, lalu mengulurkan tangan dengan senyum tulus yang amat lebar. "Nama saya Hermawan. Saya Kepala Desa di sini. Waduh, saya benar-benar berterima kasih, Nak...?""Adit," jawab Adit singkat, menyambut jabat tangan hangat pria itu.Mata Pak Hermawan beralih menatap penampilan Adit dari atas ke bawah. Seragam taktis hitam yang compang-camping, kerak garam laut yang mengering di kulitnya, dan kaki telanjang tanpa alas. Jelas sekali anak muda di hadapannya ini baru saja melewati sesuatu yang tidak

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status