LOGINPukul enam sore, Mercedes-Benz hitam milik Renata membelah senja yang mulai temaram, bannya menggilas kerikil pelataran rumah dengan suara yang mantap. Begitu mesin mati, Renata turun dengan keanggunan seorang pemangsa. Tidak ada sisa kelelahan di wajahnya setelah pertemuan bisnis dengan beberapa orang; yang ada hanyalah aura dominasi yang kental.Ia melangkah masuk ke dalam rumah, melewati ruang tengah, meninggalkan aroma parfum oud yang kuat dan mahal yang tertinggal di udara saat ia menaiki tangga menuju kamarnya di lantai atas.Di dalam kamarnya yang luas, Renata melepas pakaian formalnya satu per satu. Ia berdiri di depan cermin besar, menatap tubuhnya yang masih tampak kencang dan penuh kuasa. Pikirannya melayang kembali ke ruang spa tadi siang. Senyum tipis tersungging di bibirnya saat membayangkan betapa gemetarnya Vera saat melihatnya menikmati sentuhan para terapis.Baginya, melihat Vera kehilangan kendali diri adalah sebuah hiburan yang jauh lebih menarik daripada sekadar k
Keheningan di kamar itu terasa menekan, seolah oksigen mendadak menipis. Keduanya saling menatap dengan isi kepala yang saling bertolak belakang. Di mata Adit, Vera tampak seperti teka-teki yang baru saja diacak-acak; ada kegelisahan yang tidak biasa di balik sorot matanya. Sedangkan bagi Vera, dunia seolah sedang berputar miring. Pikirannya terdistorsi oleh sisa-sisa hal tabu yang baru saja ia lakukan, yang kini melekat di kepalanya seperti kabut tebal yang enggan menyingkir.“Kamu benar-benar sehat, Ver?” Adit kembali bertanya, suaranya merendah, penuh selidik yang lembut.Vera menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. “E-iya... sehat.”“Oh… ya sudah kalau begitu. Tapi kenapa wajahmu merah sekali?” Adit berdiri dari pinggir ranjang, melangkah satu tapak lebih dekat. “Dan tadi… aku dengar… kamu… maksudku, kamu baik-baik saja kan di dalam?”Pertanyaan itu menghantam Vera lebih keras daripada bogem mentah di ring. Rasa malu merayap naik, membakar telinganya. Sungguh ironis. Di dunia
Mobil mewah itu berhenti di pelataran rumah megah milik Renata sekitar pukul tiga sore. Matahari masih terik, namun di dalam kepala Vera, semuanya terasa mendung dan kalut."Aku harus pergi lagi, Ver. Ada urusan bisnis mendadak yang harus kuselesaikan dengan Bayu," ujar Renata sambil memeriksa ponselnya. Dan dia tidak menunjukkan keletihan sedikit pun setelah sesi panas tadi siang. "Istirahatlah. Dan saranku, karena statusmu adalah pacar Adit, coba kau lakukan sesuatu dengannya…” ucap Renata.Vera tahu ucapan itu memiliki pengertian yang tersirat. Dengan kata lain; tadi ia tak mau dipuaskan oleh terapis di spa. Jadi kini, ada Adit yang bisa ia mintai bantuan.Tapi vera mengusir pemikiran itu jauh-jauh. Ia tak mau. Ia terlalu malu untuk mengatakan hal semacam itu.“Aku pergi dulu kalau begitu…” kata Renata.Vera mengangguk kaku, lalu turun dari mobil. Suara deru mesin mobil Renata yang menjauh meninggalkan halaman rumah itu.Dengan langkah ragu, Vera melangkah masuk ke ruang tengah yan
Kini, Vera benar-benar menjadi penonton.Ia meringkuk di atas ranjangnya, memeluk handuknya erat-erat seolah itu adalah satu-satunya hal yang menjaganya agar tidak jatuh ke dalam kegilaan. Dari jarak sedekat itu, ia bisa melihat bagaimana kulit Renata yang berkilau karena minyak tertimpa cahaya lilin yang bergoyang.Pemandangan itu tidak lagi terlihat seperti pijat kesehatan. Empat tangan pria itu bergerak dengan ritme yang begitu lincah dan mahir; satu di bahu, satu di pinggang, dan yang lainnya mengeksplorasi area sensitif di kaki, di perut dan juga bagian aset penting Renata. Vera bisa mendengar suara plok-plok kecil dari minyak yang ditepuk ke kulit, suara napas Andi dan Rafi yang mulai memburu karena kerja fisik yang intens, dan yang paling menghantui: suara Renata."Mmm... ya, di situ... jangan berhenti," rintih Renata. Matanya terpejam rapat, wajahnya mendongak ke atas dengan ekspresi yang sangat jujur antara rasa sakit yang nikmat dan kelegaan yang seolah memang sungguh sangat
Renata perlahan memiringkan kepalanya, berbisik pelan pada Andi yang berdiri di sisi ranjangnya. Suaranya rendah, namun di ruangan sesunyi itu, Vera bisa mendengar setiap intonasinya yang penuh perintah."Andi... Sekarang, aku mau pijatan yang lebih... menyenangkan," bisik Renata. Ia melirik Vera sekilas, memastikan gadis itu mendengarnya. "Sentuh area yang biasanya terlewatkan. Jangan ada yang tersisa."Andi, yang sudah sangat paham dengan kode dari pemilik spa ini, mengangguk patuh. Dengan gerakan perlahan namun pasti, ia membuka ikatan kimono spa yang dikenakan Renata, membiarkannya merosot hingga ke sisi ranjang. Kini, yang tersisa di tubuh Renata hanyalah pakaian dalam yang sangat minim, mengekspos lekuk tubuhnya yang matang di bawah cahaya remang.Vera, yang masih berbaring di bawah tangan Rafi, merasa jantungnya mencelos. Ia bisa mendengar suara botol minyak yang dibuka, lalu suara cairan kental yang dituangkan dalam jumlah banyak ke telapak tangan Andi.Srett...Suara telapak
Cukup lama Ayunda dan Adit sibuk membuat kue. Tak terasa, sudah hampir jam 12.Ayunda melirik jam dinding. "Sudah waktunya makan siang…”“Ya udah, pesan aja. Toko ditutup dulu. Ajak mereka berdua makan siang bareng…”“Oke… aku turun dulu deh. Ngecek masih ada pembeli nggak. Kita tunggu sampai kosong, baru buruan ditutup…”“Oke… aku bantuin deh. Besok pesenin baju karyawan buat aku dong… biar kita seragam…”“Hehehe. Beres. Besok aku pesenin seragam buat cowok…” kata Ayunda.Mereka berdua turun. Tak lupa Adit mengenakan maskernya; jaga-jaga siapa tahu masih ramai tokonya.Adit duduk menunggu. Pembeli terakhir sudah keluar. Buru-buru Sari memasang tulisan istirahat di pintu depan dan pesan sama tukang parkir. Ayunda juga mematikan lampu di dalam toko.Adit memberikan uang 200 ribu kepada Sari; meminta tolong dia beli makan siang apa saja buat berempat.Sari mengajak Tari membeli makan. Ayunda dan Adit menunggu. 20 menit kemudian, mereka datang membawa makan siang.Mereka bergegas ke meja
Sampailah Adit di apartemen Vera setelah seharian menghabiskan waktu di markas Pak Robert membahas banyak hal. Ia akan mengikuti saran Pak Robert; pindah ke markas itu untuk sementara waktu.Vera sudah datang sejak tadi sore. Dan ia segera membukakan pintu untuk Adit.“Gimana? Kamu aman?”“Aman. Ad
Hari demi hari berlalu. Beberapa persidangan telah dilakukan, didominasi oleh perdebatan sengit tentang Eksepsi dan putusan sela yang menolak argumen tim hukum Sandi; sebuah kemenangan kecil bagi faksi Pak Robert. Kini, tibalah saat yang paling ditunggu: agenda pemeriksaan saksi.Pagi itu, Adit mem
Mereka keluar dari area apartemen dengan mobil Vera. Perjalanan ke mall terdekat terasa normal, tetapi begitu mereka memarkirkan mobil di basement, Vera sudah tidak sabar.“Ingat ya, jangan pasang muka serius. Kamu itu sekarang seleb,” bisik Vera saat mereka berjalan menuju eskalator.“Aku cuma mau
Adit tahu ia melakukan kesalahan dan ia berusaha mengendalikan kekuatannya itu. Menghentikan aliran ajaib yang membuat Clara sempat merasakan sesuatu. Dan sebisa mungkin, Adit bersikap biasa saja. Seolah tak ada apa-apa.Dan memang di mata orang, semua itu tampak normal. Tak ada apa-apa. Clara pun,







