로그인Kesunyian kamar nomor 13 menjadi sekutu terbaik Adit malam itu. Di atas ranjang sederhana, ia melipat kakinya, mengambil posisi teratai, dan mulai menarik napas dalam-dalam. Ia bermeditasi. Di tempat yang asing dan dipenuhi tekanan atmosfer yang gila ini, memulihkan kondisi fisik adalah prioritas utamanya.Perlahan, aliran energi hangat yang samar mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Kemampuan penyembuhan alami dalam darahnya bekerja dengan efisiensi yang luar biasa. Rasa perih yang membakar di pipinya perlahan memudar; sel-sel kulitnya merapat kembali, menghapus jalur merah kehitaman yang ditinggalkan oleh pisau bedah Zhavia. Sisa-sisa rasa linu dan memar kebiruan di rusuk dan perutnya, hadiah dari pukulan brutal Bastito sebelumnya, kini menguap tanpa bekas. Secara fisik, Adit telah pulih sepenuhnya.Namun, ketenangan fisiknya tidak sejalan dengan isi kepalanya yang terus berputar. Adit membuka mata, menatap langit-langit kamar yang kedap suara. Ia mulai menyusun kepingan-kepingan pet
Jantung Adit berdetak sangat kencang di dalam dadanya seperti sebutir peluru yang memantul-mantul dalam ruang hampa. Di bawah tatapan dingin dua puluh pasang mata berjubah hitam, hawa ruangan itu terasa makin membekukan. Kilatan pisau bedah di atas nampan perak yang dibawa Zhavia seolah memantulkan bayangan kematiannya sendiri. Adit terdesak di ujung tanduk, namun di sela-sela kepanikan yang nyaris melumpuhkan itu, isi kepalanya justru berputar dengan kecepatan yang ekstrem.Ia menganalisis posisinya saat ini. Di mata orang-orang ini, nyawanya seolah tak berharga. Ia bisa saja disembelih di atas altar malam ini juga, dijadikan tumbal, atau energinya dihisap sampai kering hingga menjadi mayat keriput. Namun, jika keberadaannya benar-benar tidak penting, untuk apa Harmono, sang pemimpin tertinggi yang auranya sedalam jurang maut, repot-repot memberikan opsi kedua? Untuk apa mereka menawarkan kesempatan hidup kepada seorang tawanan?Jawabannya seketika benderang di kepala Adit: Mereka bu
Adit mencoba mengumpulkan kesadarannya, mengolah napasnya dengan ritme yang teratur. Ia sengaja tidak langsung menegakkan tubuh. Memanfaatkan sisa waktu yang ada, ia membiarkan kemampuan penyembuhan alami dalam tubuhnya bekerja menyembuhkan sisa-sisa nyeri di kepalanya.Sembari memejamkan mata, indranya bergerak liar, memetakan situasi. Bau apak dan karat yang tadi ia rasakan ternyata bercampur dengan sirkulasi udara buatan yang dingin dan tipis. Ketika ia membuka mata sedikit, ia sadar tebakannya tentang ruang bawah tanah keliru. Dari celah ventilasi kecil di langit-langit, tidak ada bau tanah, melainkan sayup-sayup suara angin luar yang menderu kencang di ketinggian.Adit menatap sekeliling dengan saksama. Dinding, langit-langit, hingga lantai ruangan ini bukan terbuat dari batu tua, melainkan lapisan baja hitam tebal yang kokoh tanpa sambungan. Ruangan itu adalah adalah salah satu sel isolasi khusus di puncak Menara Hitam; gedung pencakar langit elit di tengah kota yang fasadnya di
Aroma sisa-sisa wewangian maskulin Adit yang khas langsung menyambut Larasati begitu ia melangkah masuk ke dalam kamar itu; wangi yang ia rindukan, wangi yang membuatnya merasa nyaman dan sangat ingin memeluk Adit.Kamar itu sunyi, menyisakan jejak energi yang samar namun terasa familier di kulitnya. Larasati menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan debar jantungnya yang sedari tadi berkejaran dengan ketakutan. Ia takut kehilangan Adit. Dan ia sangat sadar, pura-pura tidak pacaran dengan Adit bukanlah hal yang menyenangkan.Ia berjalan menuju ke tengah ruangan, lalu mengambil posisi duduk bersila di atas karpet. Kedua matanya terpejam perlahan. Larasati mulai mengatur ritme napasnya, menariknya dalam-dalam lalu mengembuskannya dengan perlahan. Ia membuang jauh-jauh suara apapun yang ada di lantai bawah. Fokusnya kini hanya satu: Adit.Larasati memusatkan seluruh energi spiritual murni di dalam dadanya, membiarkan kesadarannya merosot jatuh melewati batas alam sadar. Perlahan, k
Suasana di dalam ruang tamu markas terasa begitu pekat oleh kecemasan. Bunyi dengung kipas laptop berpadu dengan ketukan jemari Bayu yang gelisah di atas meja kaca. Di layar monitor, rekaman CCTV halaman depan rumah Renata diputar ulang untuk kesekian kalinya. Siluet hitam Bastito yang bergerak secepat kilat dan distorsi energi gelap yang mematikan terekam jelas di sana, membuat bulu kuduk siapa pun yang melihatnya meremang.Joko memajukan tubuhnya, menunjuk layar dengan dahi berkerut dalam.“Aku yakin dia adalah orang dari Kelompok Naga Timur," ujar Joko, suaranya berat dan penuh kepastian. "Dia jarang muncul. Tapi dulu, saat aku masih bersama almarhum Pak Darmawan, aku pernah melihat orang itu ada di arena judi bawah tanah...”Bayu menoleh cepat, tampak terkejut. “Naga Timur itu sangat jarang terlihat... Jadi, bajingan yang mengacaukan rumah Bu Renata itu benar-benar orang dari kelompok mereka?”“Kata Pak Darmawan waktu itu, dia bukan sekadar anggota biasa," Joko menggelengkan kepal
Halaman rumah mewah itu kini tak lebih dari medan perang yang luluh lantak. Sisa-sisa pertempuran masih menyisakan bau hangus udara yang terdistorsi oleh energi hitam Bastito. Di tengah kekacauan itu, Renata berdiri dengan tubuh gemetar hebat. Rambutnya yang biasa tertata rapi kini kusut, dan sepasang matanya menyiratkan ketakutan sekaligus amarah yang meledak-ledak. Ia sangat kalut, panik hingga ke sumsum tulangnya.Dengan tangan yang masih menggenggam pistol berlaras dingin, ia memarahi semua anak buahnya yang kini sedang berkumpul di halaman. Sebagian dari mereka merintih memegangi tulang rusuk yang patah, sementara yang lain hanya bisa menunduk pasrah, tak berani menatap mata sang nyonya."Kalian ini berguna untuk apa?!" jerit Renata, suaranya melengking memecah keheningan malam, sarat dengan keputusasaan. "Aku membayar kalian mahal bukan untuk melihat kalian tumbang seperti lalat dalam hitungan detik! Satu orang! Hanya satu orang dan dia membawa pergi Adit tepat di depan hidung k







