Beranda / Urban / Tukang Pijat Tampan / Para Fans Menggila

Share

Para Fans Menggila

Penulis: Black Jack
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-30 11:36:34

Hari itu Adit mulai merasakan efek tidak nyaman dari menjadi terkenal; efek yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, yang tidak tertulis di kontrak, yang tidak bisa diantisipasi meski sudah diperingatkan.

Pagi itu, seperti biasa, ia keluar dari unit apartemennya dengan pakaian olahraga, kaus tanpa lengan hitam, celana training, dan sepatu lari, berniat menuju ruang gym untuk sesi latihan pagi yang sudah menjadi rutinitas hariannya.

Tapi begitu pintu lift terbuka di lantai lima dan ia melangkah keluar menuju koridor gym, ia langsung menyadari ada yang salah.

Ada kerumunan.

Sekitar sepuluh wanita, usia bervariasi dari remaja hingga awal tiga puluhan, berdiri di dekat pintu masuk gym. Mereka berbisik-bisik sambil sesekali menoleh ke arah lift, seolah sedang menunggu sesuatu. Dan ketika mereka melihat Adit keluar, mata mereka langsung berbinar.

"ADIT!" teriak salah satu dari mereka; gadis muda dengan rambut dikuncir tinggi dan ponsel sudah terangkat siap memotret.

Dan seperti bendungan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Tukang Pijat Tampan   Godaan Kelas Berat

    Adit tidak bisa menolak. Atau lebih tepatnya, ia tidak tahu bagaimana menolak dengan cara yang tidak menyinggung wanita yang baru saja ia tolong dan yang sedang berdiri di depan kamarnya dengan gaun tidur yang sangat menggoda itu. Ia mengizinkan Seina masuk dengan gerakan canggung; mundur sedikit, membuka pintu lebih lebar, memberi ruang bagi wanita itu untuk melangkah masuk.Seina masuk dengan langkah pelan dan anggun, aroma parfumnya semakin kuat di ruangan tertutup itu. Ia menutup pintu di belakangnya, tidak mengunci, hanya menutup, lalu berjalan menuju tempat tidur dan duduk di tepinya dengan postur yang sangat sadar akan daya tariknya sendiri.Adit berdiri canggung di tengah ruangan, tidak tahu harus duduk di mana. Akhirnya ia memilih duduk di tepi tempat tidur juga, tapi menjaga jarak yang cukup jauh, setidaknya satu meter, dari Seina. Suasana di antara mereka sangat canggung, dipenuhi dengan ketegangan yang tidak terucap."Kok kamu belum tidur?" tanya Seina dengan suara yang le

  • Tukang Pijat Tampan   Dua Anak Seina

    Sepuluh menit kemudian, seperti yang Seina janjikan, mereka sampai di sebuah kawasan elite; komplek dengan gerbang utama yang dijaga ketat oleh security berseragam, jalan yang bersih dan lebar dengan pohon-pohon tinggi di kedua sisi, dan rumah-rumah mewah yang berdiri megah dengan arsitektur modern minimalis.Mobil mewah putih Seina berhenti di depan sebuah rumah dua lantai dengan fasad kaca dan beton yang elegan, halaman depan yang luas dengan taman yang terawat sempurna, dan pagar otomatis yang terbuka begitu mobil mendekat; sistem sensor yang canggih. Adit parkir motornya di samping mobil Seina, di garasi terbuka yang bisa muat untuk lima mobil.Rumah itu bukan hanya besar. Rumah itu mewah dengan cara yang subtle; tidak mencolok atau berlebihan, tapi setiap detail menunjukkan kelas dan harga yang tidak murah."Ini rumahmu?" tanya Adit sambil melepas helm, tidak bisa menyembunyikan sedikit kekaguman di suaranya."Iya. Sederhana saja," jawab Seina dengan nada santai. Bagi wanita seka

  • Tukang Pijat Tampan   Tak Bisa Menolak Tawaran Seina

    Salah satu dari delapan pria itu, yang paling dekat dengan Adit, segera merespon dengan ucapan."Eh, ada yang mau jadi pahlawan nih," katanya sambil menepuk tongkat baseball di tangannya ke telapak tangan kiri, menciptakan bunyi puk-puk yang mengancam. "Lo tahu nggak sih siapa yang lo hadapin, Bos?"Adit tidak menjawab. Ia terus melangkah sampai berdiri tepat di antara Seina dan kedelapan pria itu, membentuk penghalang hidup. Baru kemudian ia berbicara, dengan nada yang sopan tapi tegas; suara yang terdengar tenang meski situasi sangat tidak tenang."Selamat malam, Ibu. Butuh bantuan?" katanya sambil menoleh sedikit ke arah Seina tanpa melepaskan pandangan waspada dari para lelaki di depannya.Seina yang sejak tadi berusaha tetap tenang dengan wajah datar meski jantung berdebar kencang, merasakan gelombang lega yang luar biasa. Wajahnya yang sempurna, hasil perawatan mahal dan gaya hidup sehat, menunjukkan sedikit senyum tipis."Syukurlah kamu datang," katanya dengan suara yang sediki

  • Tukang Pijat Tampan   Pindah Rumah

    Lima hari lamanya Adit praktis terkurung di apartemennya. Ia tidak bisa keluar tanpa dikerubuti, tidak bisa ke gym tanpa jadi tontonan, tidak bisa sekadar beli makan tanpa dimintai foto puluhan kali. Bahkan ketika ia pesan makanan lewat aplikasi, beberapa driver yang mengantar langsung mengenalinya dan minta foto, membuat Adit harus memberi tip lebih besar supaya mereka tidak menyebarkan alamatnya.Tapi dalam lima hari penyekapan diri itu, Vera ditemani Laras bekerja dengan efisiensi luar biasa. Ia mengunjungi puluhan properti, bernegosiasi dengan agen, mengecek dokumen legal, dan akhirnya menemukan satu rumah yang sempurna: rumah tingkat dua di kawasan yang nyaman, lingkungan yang tenang dan jauh dari hiruk-pikuk pusat kota tapi masih dalam jarak tempuh yang reasonable untuk urusan pekerjaan.Harga: dua koma tujuh miliar, sudah termasuk full furnished dengan furniture lama yang masih layak pakai. Vera langsung closing deal, membayar lunas dengan transfer bank dari rekening Adit. Dan

  • Tukang Pijat Tampan   Para Fans Menggila

    Hari itu Adit mulai merasakan efek tidak nyaman dari menjadi terkenal; efek yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, yang tidak tertulis di kontrak, yang tidak bisa diantisipasi meski sudah diperingatkan.Pagi itu, seperti biasa, ia keluar dari unit apartemennya dengan pakaian olahraga, kaus tanpa lengan hitam, celana training, dan sepatu lari, berniat menuju ruang gym untuk sesi latihan pagi yang sudah menjadi rutinitas hariannya.Tapi begitu pintu lift terbuka di lantai lima dan ia melangkah keluar menuju koridor gym, ia langsung menyadari ada yang salah.Ada kerumunan.Sekitar sepuluh wanita, usia bervariasi dari remaja hingga awal tiga puluhan, berdiri di dekat pintu masuk gym. Mereka berbisik-bisik sambil sesekali menoleh ke arah lift, seolah sedang menunggu sesuatu. Dan ketika mereka melihat Adit keluar, mata mereka langsung berbinar."ADIT!" teriak salah satu dari mereka; gadis muda dengan rambut dikuncir tinggi dan ponsel sudah terangkat siap memotret.Dan seperti bendungan

  • Tukang Pijat Tampan   Adit Kembali Viral

    Mobil mereka melaju cepat melewati jalanan. Larasati agak tegang menyetir, terkesan buru-buru; khawatir mereka mengikuti meski sepertinya tidak mungkin.Baru setelah mereka melewati tiga lampu merah (yang kebetulan mereka dapat hijau) dan yakin tidak ada pengejaran, ketiganya menghela napas panjang hampir bersamaan; napas lega yang ditahan sejak tadi."Syukurlah kamu menang. Busyet, wanita itu ngeri!" kata Larasati dengan suara yang masih sedikit gemetar, adrenalin belum sepenuhnya reda."Memang sangat mengerikan…" sahut Adit sambil meregangkan bahu yang pegal setelah pertarungan. "Vera aja hampir dia bunuh waktu itu. Kalau bukan karena Laras yang punya kemampuan penyembuhan, Vera mungkin udah…"Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Tidak perlu. Mereka semua tahu apa yang hampir terjadi."Itu orang gila," gumam Vera dengan nada getir. "Lihat aja tadi, dia nafsu banget berkelahi. Nggak peduli tempat, nggak peduli siapa yang nonton. Dia kayak… kayak bertarung adalah satu-satunya hal yang dia

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status