Share

Bab 103 - Altar Putih

Author: SamL9
last update publish date: 2026-10-24 10:18:45

Bau tajam klorin dan antiseptik menguar pekat di udara, namun tak mampu menyamarkan aroma besi dari sisa darah yang masih melekat di kulit Edward.

Di bawah cahaya lampu operasi yang menyilaukan mata, ruangan medis bawah tanah berstandar militer itu terasa sedingin lemari es. Dokter bedah pribadi keluarga Bald baru saja menyelesaikan tugasnya lima menit yang lalu, dan kini pria tua berjas putih itu berdiri gemetar di sudut ruangan, tak berani menatap monster yang tengah berjaga di sisi ranjang o
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 130 - Tengah Gurun

    Udara malam di atas perairan internasional Mediterania terasa membekukan, namun di dalam kabin jet supersonik yang melesat membelah awan menuju Timur Tengah, suhu terasa mendidih.Laura duduk bersandar di kursi kulit Nappa, membiarkan Edward membalutkan kembali perban baru di perutnya yang masih menyisakan nyeri tumpul. Sang algojo melakukan tugasnya dengan kehati-hatian seorang pemuja, jemarinya yang kapalan menyentuh kulit pucat sang Nyonya Besar seringan bulu."Timur Tengah bukanlah arena bermain seperti Eropa atau Amerika, Laura," suara Edward mengalun berat, memecah kesunyian kabin yang hanya diisi dengung pelan mesin jet. Matanya tak lepas dari luka Laura, namun pikirannya membedah setiap ancaman yang menanti mereka. "Di sana, uang dan ancaman politik tidak selalu berarti. Faksi-faksi ini digerakkan oleh fanatisme dan darah. Mereka tidak peduli jika kau memegang Interpol di tanganmu."Laura tersenyum miring, senyum sosiopat yang selalu berhasil memabukkan akal sehat Edward. Ia m

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 129 - Lima Menit Saja

    Hanya butuh waktu enam puluh lima menit bagi Edward untuk melintasi langit malam dari Washington D.C. kembali ke Manhattan menggunakan jet tempur siluman berkecepatan supersonik yang dulu menjadi mainan rahasia Dewan Eropa. Di bawah sana, dunia sedang terbakar oleh kepanikan massal. Berita kematian Senator Sterling menyiarkan teror tanpa henti, memicu kejatuhan pasar saham global dan status siaga militer tingkat tertinggi.Namun di lantai sembilan puluh sembilan Bald Tower, kesunyian yang mencekik hanya dipecahkan oleh suara desisan pelan pintu lift pribadi.Edward melangkah keluar dari kabin lift. Setelan jas hitamnya yang mewah kini kusut, kemeja putihnya ternoda oleh percikan darah Sterling yang telah mengering, dan aroma mesiu serta besi menguar pekat dari pori-porinya. Sang algojo berjalan melewati pilar-pilar marmer dengan langkah berat nan beringas, matanya yang kelam menyapu kegelapan penthouse mencari tuhan satu-satunya.Laura masih berada di atas sofa kulit Nappa, jubah sutr

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 128 - Mimbar Kehormatan

    Lampu sorot berkekuatan ribuan watt menyapu kemegahan aula National Building Museum di Washington D.C. Ribuan pasang mata, kamera televisi dari seluruh jaringan media nasional, dan riuh rendah tepuk tangan menyambut langkah tegap Senator Robert Sterling menuju mimbar. Spanduk merah, putih, dan biru raksasa membentang di belakangnya, menggemakan slogan kampanye kepresidenan yang menjanjikan era baru tanpa korupsi dan bayang-bayang masa lalu.Sterling tersenyum lebar, melambaikan tangannya kepada para pendukungnya. Di balik senyum karismatik itu, dada sang senator bergemuruh oleh kelegaan yang luar biasa. Ia telah mendengar rumor dari Eropa dan New York. Silas Bald telah mati. Tujuh penguasa Ordo Bayangan telah menjadi abu. Rantai tak kasatmata yang mencekik lehernya selama satu dekade terakhir kini telah hancur. Ia merasa tak tersentuh. Ia merasa menjadi tuhan atas nasibnya sendiri.Tiga ratus enam puluh mil dari sana, di dalam kemewahan penthouse lantai sembilan puluh sembilan Bald To

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 127 - Takhta Baru, Mainan Baru

    Matahari siang Manhattan menembus kaca antipeluru penthouse di lantai sembilan puluh sembilan, menyoroti kehancuran indah di atas ranjang king-size yang berantakan. Seprai sutra putih yang dulunya suci kini berhiaskan noda darah kering, sisa keringat, dan jejak-jejak pergumulan beringas yang mengoyak batas kewarasan.Laura membuka matanya perlahan. Tubuhnya terasa remuk, setiap otot dan sarafnya berdenyut protes akibat ritme penyatuan yang buas dan rentetan pembantaian tanpa jeda selama dua puluh empat jam terakhir. Luka tembak di perut kirinya menyumbangkan denyut nyeri yang tumpul. Namun, bagi sang Nyonya Besar, rasa sakit itu bukanlah kelemahan; itu adalah euforia. Itu adalah stempel fisik dari sebuah kemenangan absolut.Di sudut ruangan yang remang, duduk di atas kursi kulit tunggal, Edward terjaga.Sang algojo telah membersihkan diri. Ia hanya mengenakan celana bahan hitam yang longgar, membiarkan dada bidangnya yang dipenuhi bekas luka masa lalu terekspos udara. Di tangannya, ia

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 126 - Ciuman Beringas

    Cahaya keemasan fajar Manhattan menyapu fasad kaca Bald Tower, memantulkan kilau kemenangan absolut bagi dua iblis yang baru saja menaklukkan dunia bawah. Rolls-Royce Phantom hitam pekat itu meluncur mulus ke dalam garasi bawah tanah berkeamanan tingkat tinggi, mengisolasi mereka dari sisa-sisa peradaban manusia fana.Begitu pintu baja lift pribadi yang mengarah ke penthouse tertutup rapat, sisa-sisa kesopanan dan kewarasan yang menahan mereka selama perjalanan hancur lebur tak bersisa.Hawa panas yang mendidih di dalam kabin mobil tadi kini meledak. Edward tidak menunggu hingga lift tiba di lantai sembilan puluh sembilan. Dengan satu geraman rendah yang menggetarkan dada bidangnya, sang algojo menerjang Laura. Ia menekan punggung sang Nyonya Besar ke dinding kaca lift, melumat bibirnya dengan kebuasan monster yang nyaris gila oleh rasa lapar."Kau berjanji padaku, Laura," parau Edward di sela-sela ciuman beringas mereka, napasnya memburu menyapu wajah pucat wanita itu. Bau anyir dara

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 125 - Ahh, Lebih Keras!

    "Mampus kau! Mati sana kalian, membusuk dan terbakar di neraka! Ckkk, pecundang."Tanpa keraguan sedetik pun, jari telunjuk Edward menarik pelatuk senapan SPAS-12 itu.BLAAARRR!Ledakan peluru buckshot jarak dekat dalam ruang bawah tanah yang kedap suara itu bergema memekakkan telinga. Kepala pria lumpuh yang menyebut dirinya Pengkhianat Ketujuh itu meledak layaknya buah semangka yang dihantam palu godam. Darah, serpihan tengkorak, dan materi otak menyembur deras, mewarnai layar-layar monitor yang menyala terang dengan warna merah pekat. Tubuh kurusnya yang tak bernyawa terlempar ke belakang oleh daya tolak tembakan, menghantam konsol server utama sebelum akhirnya merosot jatuh ke lantai beton, menyisakan mesin penyokong kehidupannya yang kini berbunyi nyaring menyiarkan garis datar kematian.Edward memompa senapannya kembali, membuang selongsong peluru kosong yang berasap ke lantai. Napas algojo itu memburu kasar, dada bidangnya bergemuruh dari balik kemeja putihnya yang basah oleh d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status