Berondong Kesayangan Tante Muda
Tante Almara cantik dan belum pernah menikah, dikenal sebagai direktur agensi hiburan ternama. Hidupnya selalu dipenuhi pekerjaan sampai kehadiran Edo, pemuda yang mendaftar sebagai anggota boyband di agensinya, mulai mengusik ketenangan hati.
Menggunakan nama panggung Leo, Edo memiliki pesona yang sulit diabaikan. Di hadapan orang lain, dia adalah trainee yang sopan dan penuh ambisi. Namun, di hadapan Tante Almara, dia justru berani menunjukkan sisi manja sekaligus menggoda.
“Kalau Leo debut nanti, Tante masih mau dekat denganku?”
Tante Almara tertawa kecil, menganggapnya candaan. Sampai suatu malam, Edo menatapnya serius dan berkata, “Aku daftar agensi ini bukan cuma untuk debut, Tante. Aku datang karena ingin mendapatkan hati Tante!”
Read
Chapter: Bab 35 — Selamanya, Berondong Kesayangan Tante“Leo, kalau kamu terus menggendongku seperti ini, bagaimana kita bisa sampai ke ruang makan? Ibumu sudah menunggu sejak tadi, dan Tante yakin beliau akan mengira kita sengaja menghindari sarapan bersama.”Almara tertawa ketika Leo menurunkannya perlahan di depan pintu kamar. Lelaki itu masih mengenakan kaus santai, sementara Almara sudah bersiap dengan gaun rumah sederhana yang membuatnya terlihat jauh lebih muda daripada biasanya.“Tidak apa-apa, sayang. Ibu pasti mengerti kalau pengantin baru membutuhkan waktu untuk menikmati pagi mereka.”Almara langsung menepuk lengannya.“Leo, jangan bicara sembarangan. Kita baru menikah kemarin, tetapi kamu sudah mulai menggunakan alasan pengantin baru untuk menghindari sarapan.”Leo tersenyum jahil, kemudian menggenggam tangan istrinya.“Kalau begitu, aku akan menemani Tante sarapan sekarang. Tetapi setelah itu, kita harus membicarakan rencana liburan pertama kita sebagai pasangan suami istri.”Almara mengangkat alis.“Rencana liburan? Kamu bah
Last Updated: 2026-10-21
Chapter: Bab 34 — Pernikahan“Leo, kamu yakin ingin menikah sesederhana ini? Tante bahkan belum sempat memesan gaun yang benar-benar sesuai dengan keinginanku.”Almara berdiri di depan cermin ruang rias, mengenakan gaun pengantin putih dengan potongan elegan dan sederhana. Rambut panjangnya ditata rapi, sementara sebuah buket bunga putih berada di tangannya. Ia terlihat cantik, tetapi kegugupan membuatnya terus memperhatikan detail kecil pada penampilannya.Di belakangnya, ibu Leo tersenyum sambil membetulkan ujung veil yang sedikit miring.“Almara, kamu sudah terlihat sangat cantik. Jangan terlalu memikirkan hal-hal kecil, karena Leo pasti lebih memperhatikan wajahmu daripada gaun yang kamu kenakan.”Almara tertawa pelan.“Bu, justru itu yang membuat saya semakin gugup. Leo selalu mengatakan hal-hal manis ketika saya sedang tidak siap.”Tiba-tiba pintu ruang rias terbuka, dan Leo muncul dengan setelan jas hitam yang membuat penampilannya terlihat jauh lebih dewasa. Ia berhenti beberapa langkah dari Almara, menat
Last Updated: 2026-10-21
Chapter: Bab 33 — Lamaran untuk Tante Almara“Leo, Tante sudah bilang kamu tidak perlu membawa banyak orang ke rumahku, tetapi kenapa sekarang ibumu, Rama, dan hampir seluruh anggota boyband ikut datang?”Almara berdiri di depan pintu rumahnya dengan wajah terkejut, sementara Leo yang berada di barisan paling depan justru tersenyum lebar. Di belakangnya, seorang perempuan paruh baya membawa buket bunga, disusul beberapa anggota boyband yang berusaha menahan tawa karena melihat Almara kebingungan.“Maaf, Tante, tetapi aku tidak mungkin meminta izin menikah tanpa memperkenalkan perempuan yang selama ini membuatku bahagia kepada ibuku.”Almara menatap perempuan paruh baya itu, lalu segera merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.“Ya ampun, kenapa tidak memberi kabar lebih dulu? Rumahku bahkan belum siap menerima tamu sebanyak ini.”Ibu Leo tertawa lembut, kemudian mengulurkan tangan untuk menyapa Almara.“Tidak apa-apa, Nak. Kami datang bukan untuk menilai rumahmu, tetapi untuk mengenal perempuan yang sangat berarti bagi anakku
Last Updated: 2026-10-21
Chapter: Bab 32 — Kencan“Tante, kalau hari ini aku mengajakmu berkencan, jangan membawa laptop, jangan membicarakan kontrak, dan jangan menerima telepon dari siapa pun selama dua jam.”Almara menatap Leo yang berdiri di depan pintu ruang kerjanya sambil membawa sebuah kotak kecil berwarna putih. Sejak pagi, lelaki itu sudah tiga kali mengingatkan tentang janji mereka, sampai Almara merasa dirinya sedang menghadapi artis paling manja di seluruh agensi.“Leo, Tante masih punya rapat dengan tim produksi pukul empat sore, jadi jangan membuat rencana yang terlalu jauh.”Leo menghela napas panjang, kemudian meletakkan kotak kecil itu di meja.“Makanya aku mengajak Tante pergi sekarang, supaya kita punya waktu sebelum rapat itu dimulai. Aku bahkan sudah meminta Rama memastikan tidak ada jadwal latihan yang mengganggu.”Almara mengangkat alis.“Kamu meminta Rama mengatur jadwalku juga?”“Tidak, aku hanya meminta dia memastikan Tante tidak membatalkan kencan kita dengan alasan pekerjaan.”Almara tertawa kecil, lalu m
Last Updated: 2026-10-21
Chapter: Bab 31 — Berondong Kesayangan“Kalau Tante terus memandangku seperti itu, aku bisa lupa kalau kita sedang berada di kantor dan semua orang sedang menunggu keputusanmu.”Almara yang berdiri di dekat jendela langsung memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan senyum kecil yang sejak tadi muncul tanpa izin. Leo memang selalu punya cara untuk membuatnya kehilangan ketegasan, bahkan ketika perempuan itu sedang menghadapi masalah yang seharusnya membuat kepalanya pusing.“Leo, kamu bisa tidak berhenti menggodaku sebentar saja? Tante sedang mencoba menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk sejak kemarin.”“Bisa, tetapi Tante juga harus berhenti memanggilku berondong kesayangan hanya ketika sedang membutuhkan bantuan.”Almara menoleh dengan mata membulat.“Siapa yang memanggilmu begitu? Jangan sembarangan membuat cerita, nanti orang-orang kantor mengira Tante benar-benar tidak bisa menjaga jarak dengan artisnya sendiri.”Leo tertawa kecil, kemudian berjalan mendekat sambil membawa dua gelas kopi yang baru dibelinya dari kafe
Last Updated: 2026-10-21
Chapter: Bab 30 — Rahasia yang Dibawa Maya“Almara, jangan bilang kau sudah menemukan dia!” "Maksudnya? A-aku tak paham." Suara Almara terdengar gemetar ketika panggilan telepon itu masih tersambung.Adrian Mahendra tersenyum tipis, seolah baru saja menemukan celah yang selama ini disembunyikan perempuan itu. Sementara Leo berdiri di samping Almara, berusaha memahami mengapa nama Maya mampu membuat wajah perempuan yang biasanya begitu tegar mendadak pucat.“Siapa Maya, Tante?” tanya Leo pelan, tetapi Almara tidak segera menjawab.Dari pengeras suara, terdengar suara perempuan yang cukup tenang meskipun ada kesedihan tertahan di dalamnya.“Almara, aku sudah berada di Jakarta, dan aku membawa sesuatu yang seharusnya sudah sampai kepadamu sejak bertahun-tahun lalu.”Adrian mengulurkan tangan hendak mengambil ponsel itu, tetapi Almara langsung menjauhkan perangkatnya.“Jangan sentuh ponselku, Adrian, karena kali ini aku tidak akan membiarkanmu mengatur hidupku lagi!”“Kenapa kau begitu takut mendengar kabar dari Maya?” Adrian men
Last Updated: 2026-10-21
Chapter: Bab 130 - Tengah GurunUdara malam di atas perairan internasional Mediterania terasa membekukan, namun di dalam kabin jet supersonik yang melesat membelah awan menuju Timur Tengah, suhu terasa mendidih.Laura duduk bersandar di kursi kulit Nappa, membiarkan Edward membalutkan kembali perban baru di perutnya yang masih menyisakan nyeri tumpul. Sang algojo melakukan tugasnya dengan kehati-hatian seorang pemuja, jemarinya yang kapalan menyentuh kulit pucat sang Nyonya Besar seringan bulu."Timur Tengah bukanlah arena bermain seperti Eropa atau Amerika, Laura," suara Edward mengalun berat, memecah kesunyian kabin yang hanya diisi dengung pelan mesin jet. Matanya tak lepas dari luka Laura, namun pikirannya membedah setiap ancaman yang menanti mereka. "Di sana, uang dan ancaman politik tidak selalu berarti. Faksi-faksi ini digerakkan oleh fanatisme dan darah. Mereka tidak peduli jika kau memegang Interpol di tanganmu."Laura tersenyum miring, senyum sosiopat yang selalu berhasil memabukkan akal sehat Edward. Ia m
Last Updated: 2026-11-05
Chapter: Bab 129 - Lima Menit SajaHanya butuh waktu enam puluh lima menit bagi Edward untuk melintasi langit malam dari Washington D.C. kembali ke Manhattan menggunakan jet tempur siluman berkecepatan supersonik yang dulu menjadi mainan rahasia Dewan Eropa. Di bawah sana, dunia sedang terbakar oleh kepanikan massal. Berita kematian Senator Sterling menyiarkan teror tanpa henti, memicu kejatuhan pasar saham global dan status siaga militer tingkat tertinggi.Namun di lantai sembilan puluh sembilan Bald Tower, kesunyian yang mencekik hanya dipecahkan oleh suara desisan pelan pintu lift pribadi.Edward melangkah keluar dari kabin lift. Setelan jas hitamnya yang mewah kini kusut, kemeja putihnya ternoda oleh percikan darah Sterling yang telah mengering, dan aroma mesiu serta besi menguar pekat dari pori-porinya. Sang algojo berjalan melewati pilar-pilar marmer dengan langkah berat nan beringas, matanya yang kelam menyapu kegelapan penthouse mencari tuhan satu-satunya.Laura masih berada di atas sofa kulit Nappa, jubah sutr
Last Updated: 2026-11-05
Chapter: Bab 128 - Mimbar KehormatanLampu sorot berkekuatan ribuan watt menyapu kemegahan aula National Building Museum di Washington D.C. Ribuan pasang mata, kamera televisi dari seluruh jaringan media nasional, dan riuh rendah tepuk tangan menyambut langkah tegap Senator Robert Sterling menuju mimbar. Spanduk merah, putih, dan biru raksasa membentang di belakangnya, menggemakan slogan kampanye kepresidenan yang menjanjikan era baru tanpa korupsi dan bayang-bayang masa lalu.Sterling tersenyum lebar, melambaikan tangannya kepada para pendukungnya. Di balik senyum karismatik itu, dada sang senator bergemuruh oleh kelegaan yang luar biasa. Ia telah mendengar rumor dari Eropa dan New York. Silas Bald telah mati. Tujuh penguasa Ordo Bayangan telah menjadi abu. Rantai tak kasatmata yang mencekik lehernya selama satu dekade terakhir kini telah hancur. Ia merasa tak tersentuh. Ia merasa menjadi tuhan atas nasibnya sendiri.Tiga ratus enam puluh mil dari sana, di dalam kemewahan penthouse lantai sembilan puluh sembilan Bald To
Last Updated: 2026-11-04
Chapter: Bab 127 - Takhta Baru, Mainan BaruMatahari siang Manhattan menembus kaca antipeluru penthouse di lantai sembilan puluh sembilan, menyoroti kehancuran indah di atas ranjang king-size yang berantakan. Seprai sutra putih yang dulunya suci kini berhiaskan noda darah kering, sisa keringat, dan jejak-jejak pergumulan beringas yang mengoyak batas kewarasan.Laura membuka matanya perlahan. Tubuhnya terasa remuk, setiap otot dan sarafnya berdenyut protes akibat ritme penyatuan yang buas dan rentetan pembantaian tanpa jeda selama dua puluh empat jam terakhir. Luka tembak di perut kirinya menyumbangkan denyut nyeri yang tumpul. Namun, bagi sang Nyonya Besar, rasa sakit itu bukanlah kelemahan; itu adalah euforia. Itu adalah stempel fisik dari sebuah kemenangan absolut.Di sudut ruangan yang remang, duduk di atas kursi kulit tunggal, Edward terjaga.Sang algojo telah membersihkan diri. Ia hanya mengenakan celana bahan hitam yang longgar, membiarkan dada bidangnya yang dipenuhi bekas luka masa lalu terekspos udara. Di tangannya, ia
Last Updated: 2026-11-04
Chapter: Bab 126 - Ciuman BeringasCahaya keemasan fajar Manhattan menyapu fasad kaca Bald Tower, memantulkan kilau kemenangan absolut bagi dua iblis yang baru saja menaklukkan dunia bawah. Rolls-Royce Phantom hitam pekat itu meluncur mulus ke dalam garasi bawah tanah berkeamanan tingkat tinggi, mengisolasi mereka dari sisa-sisa peradaban manusia fana.Begitu pintu baja lift pribadi yang mengarah ke penthouse tertutup rapat, sisa-sisa kesopanan dan kewarasan yang menahan mereka selama perjalanan hancur lebur tak bersisa.Hawa panas yang mendidih di dalam kabin mobil tadi kini meledak. Edward tidak menunggu hingga lift tiba di lantai sembilan puluh sembilan. Dengan satu geraman rendah yang menggetarkan dada bidangnya, sang algojo menerjang Laura. Ia menekan punggung sang Nyonya Besar ke dinding kaca lift, melumat bibirnya dengan kebuasan monster yang nyaris gila oleh rasa lapar."Kau berjanji padaku, Laura," parau Edward di sela-sela ciuman beringas mereka, napasnya memburu menyapu wajah pucat wanita itu. Bau anyir dara
Last Updated: 2026-11-03
Chapter: Bab 125 - Ahh, Lebih Keras!"Mampus kau! Mati sana kalian, membusuk dan terbakar di neraka! Ckkk, pecundang."Tanpa keraguan sedetik pun, jari telunjuk Edward menarik pelatuk senapan SPAS-12 itu.BLAAARRR!Ledakan peluru buckshot jarak dekat dalam ruang bawah tanah yang kedap suara itu bergema memekakkan telinga. Kepala pria lumpuh yang menyebut dirinya Pengkhianat Ketujuh itu meledak layaknya buah semangka yang dihantam palu godam. Darah, serpihan tengkorak, dan materi otak menyembur deras, mewarnai layar-layar monitor yang menyala terang dengan warna merah pekat. Tubuh kurusnya yang tak bernyawa terlempar ke belakang oleh daya tolak tembakan, menghantam konsol server utama sebelum akhirnya merosot jatuh ke lantai beton, menyisakan mesin penyokong kehidupannya yang kini berbunyi nyaring menyiarkan garis datar kematian.Edward memompa senapannya kembali, membuang selongsong peluru kosong yang berasap ke lantai. Napas algojo itu memburu kasar, dada bidangnya bergemuruh dari balik kemeja putihnya yang basah oleh d
Last Updated: 2026-11-03