Chapter: Bab 17 - Tugas yang SulitEdward berdiri beberapa detik di depan pintu ruang kerja Tuan Bald. Dia menarik napas panjang, berusaha menenangkan debaran jantungnya.Tok ...Tok ...Tok ..."Masuk." Suara berat Tuan Bald terdengar dari dalam.Edward segera membuka pintu sambil membawa dua paper bag dan beberapa gelas kopi. "Permisi, Tuan. Kopi dan pastry yang Tuan pesan sudah saya bawakan.""Taruh saja di meja.""Baik, Tuan."Edward meletakkan semua pesanan dengan hati-hati. Setelah selesai, dia berdiri tegak beberapa langkah di depan meja kerja. "Tadi kata salah satu pegawai, Tuan ingin bertemu saya?"Tuan Bald mengangguk pelan. "Iya."Pria paruh baya itu mengambil amplop cokelat yang sejak tadi tergeletak di atas meja. "Aku baru menerima laporan dari bagian administrasi rumah sakit."Edward mengernyit. "Laporan?""Ibumu ... maksudku, ibunya Faela."Edward langsung menegakkan tubuh.."Bagaimana, Tuan?""Katanya kondisinya memang cukup serius hingga harus dirawat di ICU."Edward menundukkan kepala.."Iya, Tuan."Tua
Last Updated: 2026-08-06
Chapter: Bab 16 - Terkejut"Permisi, Pak ... Permisi!" seru salah seorang petugas di cafe tersebut karena Edward sudah dipanggil beberapa kali, tetapi tidak memberikan respon padahal pesanan tersebut sudah selesai dibuat.Edward tersentak. "Eh ... maaf." Dia terkejut karena bahunya ditepuk oleh salah satu petugas. Edward buru-buru berdiri dari kursinya. "Ya, ada apa?""Pesanan yang tadi diorder sudah selesai dibuat. silakan diambil ke meja pengambilan pesanan, Pak," jelas pegawai itu."Baik. Terima kasih banyak atas informasinya." Edward langsung berjalan menuju ke meja pengambilan pesanan.EdwardPetugas kafe tersenyum ramah sambil menyerahkan beberapa cup kopi dan dua paper bag besar berisi beberapa pastry. "Pesanan atas nama Tuan Bald sudah lengkap.""Iya, terima kasih." Edward menerima semua pesanan itu dengan kedua tangan. Dia menghela napas pelan setelah membayar, lalu berjalan menuju mobil yang terparkir di halaman kafe.Begitu duduk di balik kemudi, dia tidak langsung menyalakan mesin. Tatapannya justr
Last Updated: 2026-08-06
Chapter: Bab 15 - Lamunan HotEdward saat ini sudah berada di sebuah cafe yang sangat mahal yang biasanya didatangi oleh para pejabat maupun orang-orang penting karena nilai secangkir kopi di sini bisa untuk makan seminggu. "Huh, sungguh takdir yang benar-benar kejam. Meski wajahku ini tampan, tapi dompetku selalu kosong. Disuruh-suruh seperti ini sama Tuan Bald membuatku jadi sadar kalau aku ini tidak lebih dari sekedar sampah di sini," gumam Edward meratapi nasibnya yang masih berada di bawah meski sudah berusaha bekerja keras setiap hari. Saat itu antrian cukup panjang sehingga Edward harus menunggu terlebih dahulu dan duduk di salah satu kursi sudut cafe karena merasa canggung melihat orang kaya yang berlalu-lalang di sana. Menunggu membuat Edward jadi melamun dan teringat tentang kejadian tadi malam. Kejadian yang benar-benar mendebarkan karena seumur hidupnya selalu menjunjung tinggi ikatan pernikahan dan juga janji setia. Namun, semua hal yang dia junjung serta harga diri yang tersisa runtuh seketika dal
Last Updated: 2026-08-05
Chapter: Bab 14 - Keringat DinginTuan Bald melangkah keluar dari ruang makan lebih dulu. Jas hitamnya telah dikenakan rapi, sementara tas kerja kulit berada di tangan kirinya."Ayo, Edward," panggilnya."Siap, Tuan." Edward segera berjalan mendahului menuju garasi. Begitu sedan hitam mewah itu keluar dari tempat parkir, dia turun lebih dulu untuk membukakan pintu belakang."Silakan, Tuan.""Terima kasih." Bald mengangguk tipis sebelum masuk dan duduk di kursi belakang. Edward menutup pintu dengan hati-hati, lalu kembali ke kursi pengemudi.Mesin mobil dinyalakan. Perlahan kendaraan itu meninggalkan halaman rumah yang megah.Di sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil cukup sunyi. Hanya suara pendingin udara dan alunan musik instrumental yang terdengar pelan.Beberapa menit kemudian, Bald memecah keheningan.."Edward.""Iya, Tuan?""Bagaimana kondisi ibu Faela sekarang?"Edward melirik kaca spion sesaat. "Alhamdulillah, semalam sudah berhasil dibawa ke rumah sakit swasta yang cukup bagus, Tuan.""Syukurlah.""Terim
Last Updated: 2026-08-04
Chapter: Bab 13 - InstingCahaya matahari pagi perlahan menembus celah tirai kamar utama. Laura masih terlelap di atas ranjang king size. Wajahnya tampak begitu lelah, bahkan napasnya terdengar lebih berat daripada biasanya.Bald yang sudah selesai mandi melirik jam dinding. "Pukul tujuh?"Keningnya berkerut. Biasanya, Laura sudah bangun lebih dulu untuk bersiap menemaninya sarapan. Namun pagi itu istrinya masih meringkuk di balik selimut.Bald menghampiri ranjang. "Laura ...."Tidak ada jawaban.Dia kembali memanggil dengan nada lebih pelan. "Sayang, bangun."Laura hanya mengerang kecil sambil menarik selimut hingga menutupi bahunya. "Hmm ... sebentar lagi."Bald tersenyum tipis. "Kalau sebentar lagi, nanti kita telat sarapan."Laura membuka matanya perlahan. Kelopak matanya terasa berat. "Aku ... capek sekali."Bald duduk di tepi ranjang. "Capek?""Iya.""Kemarin kamu juga tidak banyak aktivitas."Laura langsung tersadar. Dia hampir saja salah menjawab. "Oh ... mungkin karena semalam aku susah tidur."Bald m
Last Updated: 2026-08-04
Chapter: Bab 12 - MencurigakanMalam itu sudah lewat tengah malam. Udara rasa semakin dingin. Tiba-tiba saja Bald terbangun dari tidurnya, padahal biasanya lelaki paruh baya itu tertidur lelap hingga pagi tiba. Bald memegang sisi sebelah ranjangnya. Kosong. Biasanya Laura juga tertidur lelap di sana, tetapi kali ini tidak ada. "Loh, di mana Laura?" Bald terkejut karena istrinya tidak berada di sampingnya lagi. Begitu melihat jam dinding yang terpampang di dalam kamar, ternyata sudah menunjukkan jam dua dini hari. "Kenapa Laura tidak berada di dalam kamar jam segini? Bukankah biasanya dia itu tidur malam sampai pagi sepertiku?"Bald menguap. Rasa kantuk menyergap membuat dirinya merasa malas untuk menyelidiki Apa yang terjadi. "Huh, dingin sekali dan tubuhku terasa begitu lelah. Mau mencari Di mana keberadaan Laura, tapi tak mungkin dia pergi ke mana-mana, kan? Mungkin Dia sedang mengambil minum karena haus atau apalah."Bald mencoba untuk berpikir positif. Hanya saja, tak bisa dipakai perasaannya sedikit tak t
Last Updated: 2026-08-03
Chapter: BAB 24 - Tante Almara Diculik! (18+++)Jantung Leo berdetak semakin keras. Tangannya masih menggenggam ponsel milik Tante Almara yang berisi pesan terakhir wanita itu."Maafkan Tante. Apa pun yang terjadi nanti, jangan tinggalkan panggung. Selamatkan konser ini."Bagaimana mungkin dia tetap berdiri di atas panggung ketika wanita yang dicintainya sedang berada dalam bahaya?"Leo!" Suara manajer membuatnya menoleh."Kamu di sini? Semua orang mencari kamu! Lima menit lagi pembukaan!"Leo menggertakkan rahangnya. "Bu Almara hilang."Manajer mengernyit. "Apa maksudmu?""Seseorang membawanya pergi."Belum sempat manajer bertanya lebih jauh, Rama datang berlari sambil membawa tablet di tangannya. "Leo!""Ada kabar?"Rama mengangguk cepat. "Aku berhasil menemukan rekaman CCTV yang sempat hilang.""Lihat."Leo menatap layar tablet. Rekaman itu hanya berlangsung beberapa detik. Terlihat Tante Almara berjalan seorang diri menuju lorong servis di bawah tribun stadion. Wajahnya tenang, tetapi langkahnya terlihat tergesa-gesa, seolah se
Last Updated: 2026-07-17
Chapter: BAB 23 - Membawa Kabur Tante AlmaraPagi hari yang seharusnya menjadi awal paling membahagiakan bagi Almara Entertainment justru dipenuhi kecemasan. Sejak pukul enam, kawasan sekitar stadion sudah dipadati para penggemar. Ribuan lightstick berwarna biru muda memenuhi pelataran. Spanduk raksasa bergambar Leo dan anggota boyband lainnya terbentang di berbagai sudut.Namun, di balik kemeriahan itu, suasana di ruang kontrol keamanan jauh dari kata tenang. "Semua akses belakang sudah diperiksa?""Sudah, Pak.""Tim keamanan VIP?""Lengkap.""Petugas backstage?""Stand by."Rama berdiri di depan monitor CCTV bersama kepala keamanan. Puluhan layar menampilkan setiap sudut stadion. Tetapi perasaannya justru semakin tidak nyaman."Tambah personel di pintu barat," perintah Rama."Kenapa?""Perasaanku nggak enak."Di ruang ganti artis, Leo sedang mengenakan kostum panggung. Hari itu seharusnya menjadi hari yang selama bertahun-tahun dia impikan. Tur nasional pertama. Puluhan ribu penonton. Siaran langsung ke berbagai platform digit
Last Updated: 2026-07-14
Chapter: BAB 22 – Skandal yang MeledakSuasana di depan gedung Almara Entertainment berubah kacau. Puluhan wartawan berdesakan di depan pintu utama. Kilatan kamera menyala tanpa henti. Beberapa reporter bahkan melakukan siaran langsung. "Benarkah CEO Almara Entertainment memiliki hubungan spesial dengan salah satu artisnya?" "Apakah berita yang beredar di media sosial itu benar?" "Siapa idol yang dimaksud?" Pertanyaan demi pertanyaan terus bermunculan. Petugas keamanan berusaha menahan mereka agar tidak memasuki area lobi. Di lantai dua puluh, Tante Almara berdiri memandangi kerumunan itu dari balik kaca. Tangannya perlahan mengepal. "Dia berhasil..." Leo berdiri tidak jauh darinya. Tatapannya sama dinginnya. "Belum." Tante Almara menoleh. "Ini baru permulaan." Di ruang rapat darurat, seluruh jajaran direksi sudah berkumpul. Ekspresi mereka tampak tegang. "Bu Almara, harga saham perusahaan mulai bergerak turun setelah rumor itu menyebar." "Kami juga mendapat telepon dari dua sponsor utama." "Mere
Last Updated: 2026-07-13
Chapter: BAB 21 – Topeng yang Mulai TerbukaPagi itu suasana di kantor pusat Almara Entertainment jauh lebih sibuk daripada biasanya. Para staf berlalu-lalang membawa berkas. Tim promosi sibuk membahas jadwal tur nasional boyband yang dipimpin Leo, sementara divisi media terus menerima telepon dari berbagai pihak.Namun di balik kesibukan itu, Tante Almara sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Semalaman dia tidak tidur. Pesan terakhir Faizal terus menghantui pikirannya."Nikmati dua hari terakhir kalian sebelum semuanya berubah."Kalimat itu bukan lagi terdengar seperti ancaman. Melainkan sebuah rencana. Sebuah rencana yang sudah disusun dengan matang.--------Leo memasuki ruang direktur tanpa mengetuk. Wajahnya terlihat tegang. "Tante."Tante Almara langsung berdiri. "Ada apa?"Leo menyerahkan tablet yang dibawanya. "Coba lihat."Di layar terpampang sebuah akun media sosial anonim. Akun itu baru dibuat beberapa jam lalu. Namun unggahan pertamanya langsung menarik ribuan perhatian. Isinya hanyalah sebuah foto siluet seorang w
Last Updated: 2026-07-07
Chapter: Bab 20 - Situasi Genting dan TegangBAB 20Ruangan rapat di lantai paling atas gedung Almara Entertainment dipenuhi suasana tegang. Beberapa direktur, manajer artis, dan kepala divisi pemasaran sudah duduk mengelilingi meja oval besar. Di layar proyektor terpampang jadwal konser nasional yang akan dimulai dua bulan lagi."Kalau tidak ada perubahan, tiket akan mulai dijual minggu depan," ujar salah seorang manajer.Tante Almara mengangguk pelan. "Pastikan semua persiapan berjalan sesuai jadwal. Aku tidak ingin ada kesalahan sekecil apa pun."Semua mengiyakan. Namun di balik wajah tenangnya, pikirannya sama sekali tidak berada di ruang rapat itu.Pesan-pesan Faizal.Foto-foto yang diam-diam diambil.Ancaman yang semakin berani.Semua itu membuatnya sulit berkonsentrasi.Setelah rapat selesai, para peserta satu per satu meninggalkan ruangan. Baru saja Tante Almara hendak duduk kembali, sekretarisnya mengetuk pintu."Bu Almara.""Ya?""Ada wartawan hiburan yang menghubungi. Katanya ingin meminta konfirmasi mengenai rumor sa
Last Updated: 2026-06-26
Chapter: Bab 19 - Satu Ketukan MautBAB 19Leo tiba di kantor pusat Almara Entertainment tepat dua puluh menit setelah menerima telepon dari Tante Almara.Begitu pintu ruang direktur utama terbuka, Leo langsung melihat wanita itu berdiri di dekat jendela dengan wajah pucat. Di atas meja masih tergeletak kotak kiriman misterius beserta bingkai foto yang sudah dicoret tinta merah.Ruangan itu terasa sunyi. Terlalu sunyi. Seolah-olah ancaman Faizal masih menggantung di udara."Tante."Tante Almara menoleh. Begitu melihat Leo, ketegangan di wajahnya sedikit mengendur. Namun hanya sedikit.Leo menghampiri meja dan mengambil bingkai foto tersebut. Foto dirinya dan Tante Almara sedang keluar dari sebuah restoran. Foto yang jelas diambil diam-diam.Wajah Leo dicoret dengan tinta merah. Di bawahnya tertulis kalimat yang membuat darahnya mendidih."Dia akan pergi. Cepat atau lambat."Leo meletakkan foto itu perlahan. Sangat perlahan.Namun justru itu yang membuat Tante Almara tahu bahwa dia sedang marah. Sangat marah."Leo ...."
Last Updated: 2026-06-25