分享

6. Awal Bencana.

作者: Suzy Wiryanty
last update publish date: 2026-06-21 19:09:34

Sementara itu di ujung koridor lantai atas. Seseorang berdiri memperhatikan lift yang baru saja turun.

Riffat Herlambang.

Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana. Tatapannya tetap dingin dan tenang.

Tidak menunjukkan emosi apa pun. Namun ketika angka pada layar lift terus bergerak turun menuju lantai dasar,

sudut bibirnya perlahan terangkat. Ia ternyum tipis namun cukup untuk menunjukkan kepuasan.

Akhirnya setelah lima belas tahun berlalu ia bisa melihat wajah Aminuddin lagi. 

Wajah jahat dan dingin yang tega memfitnah kedua orang tuanya hingga menemui ajal dengan cara yang sangat tragis. 

Tidak satu hari pun sejak kejadian itu, ia bisa melupakan wajah kedua orang tuanya saat ajal menjemput.

Takdir kini memberinya kesempatan untuk membalas semuanya. Ia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan itu.

Ponselnya bergetar. Salah seorang anak buahnya mengirim beberapa foto. 

Foto Aminuddin yang menyeret Tia keluar kamar hotel. Foto wartawan yang mengerubungi mereka. Foto Tia yang masih terlihat linglung dan tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

Riffat melihat satu per satu foto itu. Lalu mengunci layar ponselnya. Ini adalah awal kehancuran keluarga Aminuddin Rahmadsyah.

Apa yang terjadi malam ini hanyalah retakan pertama.

Bukan kehancuran. Namun retakan kecil selalu menjadi awal dari runtuhnya sebuah bangunan bukan?

Dan dia adalah orang yang akan memastikan retakan itu terus membesar. Sampai semuanya runtuh dan tidak ada yang tersisa.

Riffat menatap ke arah jendela besar di ujung koridor. Lampu-lampu kota berkilauan di tengah malam. Indah namun dingin. Sama dinginnya dengan tatapannya saat ini.

"Ini baru permulaan, Pak Aminuddin," gumamnya pelan. 

"Aku sudah menunggu terlalu lama untuk malam ini."

***

Lima belas tahun yang lalu.

Hujan akan segera turun. Langit sore berwarna kelabu saat sebuah keluarga kecil berjalan tergesa di pinggir jalan.

Seorang pria kurus memanggul karung goni besar di punggungnya. Di sampingnya berjalan sang istri, sementara seorang bocah laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun membawa kantong berisi botol-botol plastik bekas hasil memulung seharian.

Mereka lelah dan lapar. Namun wajah mereka tetap menyimpan harapan.

"Sebentar lagi kita sampai rumah," hibur sang ayah.

"Nanti kita makan mie rebus ya, Bu?" tanya bocah itu penuh harap.

Sang ibu tersenyum. "Iya. Hari ini hasilnya lumayan. Jadi kita bisa makan mi rebus dengan telur."

Mendengar itu, langkah bocah kecil tersebut semakin ringan.

Namun saat mereka melewati area parkir pusat perbelanjaan, sang ayah tanpa sengaja menyenggol seorang pria berjas mahal.

"Aduh, maaf, Pak. Saya tidak sengaja." Ayahnya langsung meminta maaf.

Pria berjas itu langsung memelototinya. "Matamu ke mana, hah?!"

"Saya benar-benar minta maaf." Ayahnya membungkuk sedikit.

"Dasar pemulung sialan," maki si pria geram.

Sang istri pria kaya itu buru-buru menarik lengan suaminya. "Sudahlah, Mas. Kita pulang saja. Sudah mau hujan."

Mereka pun berlalu menuju mobil.

Keluarga pemulung itu kembali melanjutkan perjalanan.

Namun belum sampai beberapa meter-

"Copet!"

Teriakan keras menggema. Mereka menoleh kaget. Pria berjas mahal tadi sedang berlari ke arah mereka.

"Copet! Orang itu mencuri dompet saya!"

Warga sekitar langsung menoleh.

"Yang mana, Pak?"

"Itu. Satu keluarga pemulung!" Pria itu menunjuk mereka.

Dalam hitungan detik kerumunan mulai terbentuk.

"Ampun, Pak. Saya tidak mencuri." Ayahnya merangkapkan tangan di dada.

Namun tidak ada yang mau mendengar.

Bogem pertama menghantam wajah sang ayah. Disusul tendangan, pukulan dan makian.

"Mana dompet saya?!" Pria berjas itu berteriak marah.

"Saya tidak mengambilnya!" Ayahnya menggeleng kebingungan.

"Pembohong!"

Pria itu terus menghajar ayahnya. Sementara massa ikut tersulut emosi.

Bocah kecil itu berusaha menarik tubuh ayahnya.

"Jangan pukul Ayah saya! Ayah saya bukan pencuri!"

Namun seseorang mendorongnya hingga jatuh ke aspal.

Sang ibu langsung memeluk suami dan anaknya.

"Tolong! Kami bukan mencuri!" Ibunya berteriak keras. Namun teriakannya tenggelam oleh amukan massa.

Di sisi lain, wanita kaya itu sedang berusaha menenangkan putri kecilnya yang berusia dua tahun.

"Diam dulu ya, Tia." Namun anak kecil itu justru mengoceh sambil menarik sesuatu dari tas ibunya.

"Bu... Bu.. ini..."

Wanita itu menoleh. Lalu membeku. Di tangan putrinya terdapat sebuah dompet kulit hitam. Dompet milik suaminya.

Darah di wajahnya langsung lenyap. Ia ingat tadi suaminya menitipkan dompet padanya.

Berarti keluarga pemulung itu tidak bersalah. Mereka tidak mencuri apa pun. Suaminya salah menuduh orang.

Wanita itu menoleh ke arah kerumunan. Melihat keluarga pemulung yang sudah bersimbah darah, ketakutan menyergapnya. Kalau suaminya ketahuan memfitnah orang, suaminya bisa balik dipukuli. Nama baik mereka juga pasti hancur.

Dengan tangan gemetar, ia mengambil dompet itu dari tangan putrinya. Lalu diam-diam menyelipkannya ke dalam salah satu karung goni milik keluarga pemulung. Sesaat kemudian ia berteriak.

"Ini dompet suami saya. Ada dikarung mereka!"

Semua orang menoleh.

"Dompetnya ada di sini!"

Ia mengangkat dompet tersebut tinggi-tinggi.

"Barusan saya menemukannya di dalam karung mereka!"

Massa langsung meledak.

"Dasar pencuri tidak mau mengaku. Kita habisi saja mereka. Biar jangan kebiasaan mencopet!"

Pukulan dan tendangan kembali menghujani keluarga kecil itu.

Lebih brutal dan lebih kejam.

Sampai akhirnya ketiganya terkapar tidak bergerak.

Bocah laki-laki itu terbaring di samping ayah dan ibunya.

Wajahnya penuh darah. Namun matanya tetap terbuka. Menatap pasangan kaya yang berdiri tidak jauh darinya.

Menatap pria yang memfitnah keluarganya. Menatap wanita yang berbohong di depan semua orang. Menatap bocah kecil yang tidak mengerti apa pun.

Dan untuk pertama kalinya kebencian tumbuh di dalam hatinya. Kebencian yang tidak pernah hilang hingga lima belas tahun kemudian.

"Pak Riffat?"

Suara seseorang membuyarkan lamunannya.

Riffat Herlambang mengangkat kepala perlahan. Kenangan itu memudar. Digantikan lobi hotel mewah yang terang benderang. Namun rasa sakitnya tetap sama. Seolah kejadian itu baru terjadi kemarin. 

"Ya, ada apa?"

"Pak Kahlid menunggu di ruangan. Mau bertemu dengan Bapak katanya," ucap sang staf sopan. 

"Baik, saya ke sana." Riffat bergegas menemui ayah angkatnya. Ya, Pak Khalid sebenarnya adalah ayah angkatnya. Beliaulah yang menolongnya sejak berusia 10 tahun hingga sekarang.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
評論 (1)
goodnovel comment avatar
Iin Iin
pantas saja Riffat dendam sama keluarga ny Tia, rupa ny seperti itu akar masalah ny..
查看全部評論

最新章節

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   40. Pertemuan Tak Terduga.

    "Ngapain lo ke sini? Ini toilet khusus karyawan," desis Tia dengan suara tertahan. "Gue tahu. Gue cuma mau liat keadaan kaki lo aja. Silvia emang anjing banget!" Tony memaki kasar. "Udah, gue nggak apa-apa. Sana, lo balik ke depan."Tony menatapnya lekat-lekat."Iya, ntar gue ke depan. Tapi lo jawab dulu pertanyaan gue. Lo tinggal di mana sekarang?"Tia bungkam. Ia tidak mau mengharap belas kasihan Tony. Apalagi ia tidak mempunyai perasaan khusus padanya. Ia tidak mau memanfaatkan orang."Nomor lo juga udah nggak aktif. Sejak bokap lo meninggal dan lo pindah rumah, gue nyari-nyari lo. Tapi nggak pernah ketemu.""Gue... baik-baik aja," jawab Tia singkat.Tony menggeleng."Bukan itu jawaban dari pertanyaan gue."Tia berdecak pelan. "Gue lagi kerja sekarang, Ton. Lo ke depan aja. Tolong, jangan membuat gue kena masalah lagi."Melihat Tia yang berbicara serius dan ringisan kesakitan di wajahnya, Tony mengalah. "Gue pergi. Kalo lo butuh apa pun itu, telepon aja gue. Nomornya masih sama

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   39. Bertemu Teman Lama.

    Waktu telah menunjukkan pukul tiga sore. Seluruh staf banquet kembali berkumpul di ruang briefing.Di depan mereka, Bu Amel berdiri sambil memegang event order."Setelah ini kita akan menangani acara farewell party. Jumlah tamunya sekitar lima puluh orang," jelasnya. "Yang mengadakan acara akan kuliah ke luar negeri. Tamu-tamunya adalah anak SMA. Jangan anggap enteng. Biasanya tamu seusia mereka lebih heboh, banyak permintaan mendadak, dan suka memanggil waiter berkali-kali. Jadi kalian harus sigap.""Siap, Bu," jawab seluruh tim hampir bersamaan.Tia dan Mbak Lita ikut mengangguk. Tak lama kemudian, dekorasi ruangan selesai. Balon-balon berwarna pastel, rangkaian bunga segar, dan sebuah layar besar bertuliskan Bon Voyage, Silvia Maharani! menghiasi ballroom kecil Restoran Kenanga.Saat melihat nama itu, langkah Tia seketika terhenti. Jantungnya berdebar kencang.Silvia Maharani.Seperti nama teman sekelasnya sekaligus musuhnya selama tiga tahun di SMA. Silvia ini selalu ingin men

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   38. Musuh Terselubung.

    Tia tiba di Hotel Mulia tepat pukul sepuluh lewat sepuluh menit. Tanpa membuang waktu, ia langsung menuju ruang ganti karyawan. Dua puluh menit lagi briefing akan dimulai.Ia membuka loker kecilnya, lalu buru-buru mengenakan seragam. Kemeja yang ia pakai berukuran L yang kelonggaran. Namun berkat celemek hitam yang diikat kencang, ia terlihat cukup rapi.Sebagai pekerja part-time ia memang tidak mendapatkan kemewahan seragam yang diukur pas badan. Dia harus puas dengan apa pun yang tersisa di ruang binatu hotel.Baru saja Tia merapikan kerah kemejanya, seorang perempuan berusia akhir dua puluh-an masuk sambil mengikat rambutnya."Hallo, Tia."Tia menoleh."Eh, Mbak Lita. Baru datang, Mbak?""Iya. Anakku lagi sakit. Jadi agak rewel. Aku nunggu dia tidur dulu baru bisa kerja."Mbak Lita adalah sesama part-time waiter, tetapi sudah bekerja hampir dua tahun di hotel itu. Hampir semua karyawan baru belajar banyak darinya."Hari ini kita kerjanya harus ekstra hati-hati, lo Ti." Mbak Lita

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   37. Belajar Ikhlas.

    "Nasi uduk saya paket polos tujuh bungkus ya! Paket gorengan tiga! Paket lengkap dua saja!" seru Bu Rini, Bu Novi, dan Bu Ida hampir bersamaan.Minggu pagi itu, warung kecil di depan rumah kontrakan Tia ramai sejak matahari baru terbit.Tia sibuk membungkus nasi uduk satu per satu. Walau tangannya masih kaku, Tia berupaya memasukkan nasi, lauk, sambal, lalu mengikat bungkusan dengan karet gelang. "Kak Tia, kembaliannya Bu Rini empat puluh sembilan ribu, kan? Tujuh ribu kali tujuh," tanya Rima sambil memegang pouch berisi uang kembalian."Iya. Pinter kamu, Rim."Tia tersenyum tanpa menghentikan pekerjaannya."Terus punya Bu Novi ini berapa?" tanya Tia lagi sambil menyerahkan tiga bungkus nasi kepada Bu Novi.Rima berpikir beberapa detik."Paket gorengan sepuluh ribu kali tiga...""...berarti tiga puluh ribu.""Benar, Kak?"Tia langsung mengacungkan jempol."Wuih, pinter banget."Rima terkikik geli.Sudah seminggu terakhir, pagi-pagi mereka selalu sesibuk ini. Di luar dugaan, nasi uduk

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   36. Tamu Tak Diundang.

    Baru saja turun dari ojek online, langkah Tia terhenti. Jantungnya berdebar kencang saat melihat sebuah mobil SUV hitam yang sangat dikenalnya terparkir di depan rumah kontrakan.Mobil Riffat."Apa yang dia lakukan di sini?" Tia menggeram kesal.Setelah mengucapkan terima kasih pada driver, Tia berlari masuk ke dalam rumah.Pintu dalam keadaan terbuka. Darahnya langsung mendidih melihat pemandangan di depannya.Riffat duduk santai di lantai yang dilapisi karpet bersama dengan Rima. Keduanya tertawa-tawa sambil menggigiti coklat batang."Rima!"Suara Tia menggema. Rima yang sedang duduk di lantai langsung menoleh."Kak Tia!"Rima tersenyum gembira melihat kakaknya pulang. Namun senyumnya lenyap saat melihat sang kakak tampak marah.Kamu lagi ngapain?" Tia menarik Rima hingga berdiri dari lantai."Lagi nonton sambil makan coklat, Kak. Cobain deh coklatnya. Enak banget." Rima menyodorkan coklat yang baru ia makan separuh.Pandangan Tia tertuju pada sekotak coklat import dan jajanan maha

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   35. Mencoba Bertahan.

    Keesokan paginya, Tia bangun jauh lebih awal dari biasanya.Ia mengenakan kemeja putih polos yang masih tersisa di lemarinya, dipadukan dengan celana bahan hitam.Rambut panjangnya diikat rapi menjadi ekor kuda. Penampilannya sederhana, jauh berbeda dengan Tia yang dulu selalu mengenakan pakaian seksi dan bermerek.Sebelum berangkat, ia berpamitan kepada ibunya dan Rima."Doain ya, Bu, Dek. Semoga aku diterima kerja.""Harus diterima. Kamu harus berusaha keras untuk mendapat pekerjaan ini. Ingat, kita semua harus makan dan kamu masih punya utang." Bu Astri kembali mengingatkan tanggung jawab putri sulungnya."Kita semua punya utang, Bu. Bukan utangku saja," tegas Tia.Ibunya menggerutu lalu masuk ke dalam kamar. Akhir-akhir ini ibunya memang kerap menggerutu dan marah-marah sendiri."Kakak pasti diterima, karena Kakak cantik!" Rima membuat pose imut ala-ala girlband Korea.Tia tersenyum kecil, lalu memesan ojek online menuju Hotel Mulia.Begitu memasuki lobi hotel, Tia tertegun sejen

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status