分享

7. Masa Lalu.

作者: Suzy Wiryanty
last update publish date: 2026-07-09 10:40:06

Baru saja melangkahkan kaki ke dalam rumah, Tia sudah disambut oleh teriakan ibunya.

"Kamu ini kenapa membuat masalah terus sih, Tia!"

Tia tidak menanggapi omelan ibunya. Kepalanya masih terasa pusing. Setelah membuka sepatu, ia menghempaskan tubuhnya ke atas sofa.

"Coba lihat ini!" Ibunya terus mengejar, menyodorkan layar tablet ke depan wajahnya.

Ogah-ogahan, Tia melirik. Di sana terpampang beberapa foto yang membuatnya mengernyit.

Foto dirinya di Club Sky Light. Ada foto saat ia sedang menari. Foto ketika berjalan sempoyongan. Dan yang paling parah, foto ketika tubuhnya yang setengah sadar tampak bersandar pada seorang pria asing yang membawanya keluar dari klub.

Berarti inilah pria yang dikatakan ayahnya tadi.

Setelah memperhatikan lebih saksama, Tia yakin pria inilah yang berbicara dengan Airin dan Amira di klub. Sialan memang dua sahabatnya itu.

"Sekarang jelaskan!" bentak ibunya kesal. "Siapa pria ini, Tia?" 

Tia mengangkat bahu lalu menguap lebar.

"Tia nggak kenal, Bu," sahutnya pendek. Bu Astri membelalak.

"Nggak kenal, kamu bilang? Kalian berdua masuk ke hotel, tapi kamu bilang tidak kenal?"

Bu Astri menoyor kepala putrinya geram.

Tia diam saja. Tidak ada gunanya ia menyebut soal jebakan Airin dan Amira. Memang dirinya yang bodoh. Lagi pula ada hikmah besar dari kejadian ini.

Kedua orang tuanya jadi lebih memperhatikannya. Ini yang paling penting. Strateginya berhasil.

"Kenapa diam saja, hah? Punya mulut, kan? Jawab!"

Bungkamnya Tia membuat Bu Astri makin emosi.

"Dasar—"

Bu Astri menghentikan kalimatnya. Ponselnya berbunyi. Ia mendesis kesal saat melihat nama yang muncul di layar.

"Lihat ini! Semua teman-teman Ibu menelepon menanyakan kebenaran keonaran yang kamu buat. Apa yang harus Ibu katakan?" amuk Bu Astri lagi.

"Katakan saja kebenarannya. Biar Ibu nggak capek bohong terus," sahut Tia kalem.

Ia sengaja membuat ibunya makin marah.

"Dasar..."

Bu Astri memegangi dahinya frustrasi. Putrinya ini sudah tidak bisa dinasihati.

Sementara itu, Pak Aminuddin yang baru saja selesai berbicara di telepon ikut duduk di samping Tia. 

"Kali ini kamu benar-benar membuat masalah besar, Tia."

Tia menghadap ayahnya. Ia siap dimaki-maki, asal ayahnya ada untuknya.

"Anak remaja main ke klub dan hampir saja menjadi korban laki-laki bejat. Untung saja pemilik Hotel Paramount mengetahui kejadian ini dari CCTV hotel dan meminta stafnya menghubungi Ayah. Kalau tidak..." Pak Aminuddin menggeleng. "Entah apa yang akan terjadi padamu."

Tia mengernyit.

"Pemilik hotel? Kurang kerjaan banget dia ngurusin hal remeh-temeh begini. Aneh."

"Aneh apanya?" bentak Pak Aminuddin.

"Ya aneh dong, Yah. Ngapain coba seorang owner tengah malam mantengin CCTV? Kayak dia udah tahu aja bakal ada kejadian ini aja."

"Kamu ini sudah ditolong malah mencurigai orang."

Pak Aminuddin melotot.

"Riffat Herlambang ini orang baik. Buktinya ini." Pak Aminuddin menunjuk ponselnya. 

"Dia baru menghubungi Ayah dan bilang kalau laki-laki yang mempedayamu ada dua orang."

Tia menyipitkan mata. Ia jadi penasaran dengan sosok yang ayahnya deskripsikan.

"Dia memanggil dokter untuk memeriksa keadaanmu. Lalu melapor ke polisi hingga dua laki-laki itu akhirnya ditangkap."

Tia menyimak tanpa membantah sepatah kata pun.

"Dua orang staf hotel yang membantu juga ikut diamankan."

Pak Aminuddin tiba-tiba menjentikkan jari.

"Dan bukan itu saja. Manajer hotel juga dia pecat karena dianggap lalai mengawasi anak buahnya."

Tia menatap lantai sesaat. Meski tidak mau mengakuinya, ada sedikit rasa lega di dadanya.

Setidaknya orang-orang itu tidak bisa berkeliaran bebas lagi.

Pak Aminuddin mengembuskan napas panjang.

"Ayah terkesan dengan Riffat Herlambang ini."

Tia menoleh. Tumben ayahnya memuji orang.

"Riffat ini masih berusia dua puluh lima tahun. Masih muda, tapi mampu bertindak cepat dan tegas. Kalau dia memilih tutup mata, reputasi hotelnya mungkin aman. Tapi dia memilih untuk menolongmu."

Bu Astri ikut menyetujui.

"Benar. Dia bisa saja menghindari masalah, tapi malah memilih membantu. Dengan begitu nama baik kita tidak terlalu rusak karena kesannya Tia adalah korban."

Tia tidak mengatakan apa-apa.

Entah kenapa ia jadi penasaran.

Siapa sebenarnya pemilik hotel itu? Dan mengapa pria asing ini repot-repot menolongnya?

"Karena kebaikannya, tadi di telepon Ayah mengundangnya ke rumah kita Sabtu besok. Kamu harus mengucapkan terima kasih secara langsung," titah Pak Aminuddin.

"Baik, Yah."

Tia mengangguk cepat. Ia sangat gembira karena itu artinya hari Sabtu nanti ayah dan ibunya ada di rumah. Ia bahagia karena itu, bukan karena ingin menyambut si Riffat-Riffat itu.

"Dan mulai hari ini kamu tidak boleh keluar rumah kecuali ke sekolah," perintah Pak Aminuddin lagi.

Tia kembali mengangguk patuh.

"Iya. Asal Ayah dan Ibu juga segera pulang ke rumah setelah selesai kerja supaya kita punya waktu untuk makan malam bersama. Rima pasti akan sangat senang."

Hening.

Pak Aminuddin dan Bu Astri saling pandang sebelum sama-sama membuang muka.

Apa yang diminta Tia jelas tidak bisa mereka kabulkan.

"Jangan mengatur-atur orang tua. Lagi pula, kamu mau makan apa kalau kami tidak bekerja?" tukas Pak Aminuddin gusar.

"Sana, tidur. Ayah mau bekerja lagi."

Pak Aminuddin bersiap keluar rumah.

"Kerja apa jam empat pagi begini, Mas?" Bu Astri tiba-tiba menyeletuk. "Mengerjai simpanan barumu?"

Pak Aminuddin berbalik.

Ia menatap Bu Astri lama sebelum tersenyum datar.

"Kita sudah membuat kesepakatan sejak lama. Jangan mulai mendrama," tandasnya dingin.

Ia lalu berbalik menuju pintu dan keluar.

Meninggalkan Bu Astri yang menatap hampa ke arah pintu.

"Memangnya ada kesepakatan apa antara Ibu dan Ayah dulu?" tanya Tia penasaran.

Bu Astri mengibaskan kepala setelah terpaku sejenak.

"Bukan urusanmu. Anak-anak mau tahu saja urusan orang tua. Sana istirahat."

Bu Astri berjalan menuju kamarnya. Di dunia ini semua orang punya masalah masing-masing. Ia hanya perlu tetap berpikir logis. Maka semuanya akan baik-baik saja. 

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
評論 (1)
goodnovel comment avatar
Iin Iin
kasihan bgt Tia,ortu ny pada sibuk sama urusan ny masing"..
查看全部評論

最新章節

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   42. Lara Hatiku.

    Suasana mendadak sunyi."Anak saya menghabiskan masa mudanya bersama laki-laki yang usianya dua kali lipat darinya. Kalau almarhum memberi mobil atau uang, itu adalah kompensasi yang mereka berdua sepakati. Ibu boleh membenci anak saya, tapi Ibu tidak punya hak mengambil barang yang secara hukum sudah menjadi miliknya."Setiap kalimat yang diucapkan Bu Melda memang getir. Namun apa yang ia katakan benar. Tanpa berkata apa-apa lagi, Tia menggenggam lengan ibunya."Ayo pulang, Bu.""Ibu nggak mau! Mobil itu milik ayahmu Tia!"Tia menarik napas panjang."Bu... cukup. Jangan membuat kita semua malu. Sudah ya, Bu."Suara Tia bergetar menahan tangis. Ia sungguh merasa lelah lahir dan batin. Bu Melda mengembuskan napas panjang. Amarah di wajahnya mulai mereda. Apalagi saat ia melihat Tia yang berjalan tertatih-tatih sambil menahan tubuh ibunya yang terus meronta. "Sebenarnya saya juga sudah menelepon Pak Usman," katanya pelan. "Saya kenal beliau karena dulu pernah beberapa kali datang k

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   41. Tidak Terima Kenyataan.

    Di dalam mobil pikap suasana terasa hening. Suara mesin mobil tua meraung pelan. Aroma amis telur yang masih tersisa memenuhi kabin.Karena mobil tidak memiliki pendingin udara, membuat Tia berkeringat. Ia menyeka pelipisnya diam-diam. Pasti wajahnya sekarang sudah kusam dan berminyak.Azzam melirik sekilas, lalu membuka kaca jendela."Maaf. Mobilnya nggak ada AC." "Nggak apa-apa."Jawaban Tia singkat.Angin sore menerpa wajah mereka, dalam suasana canggung. Beberapa menit berlalu tanpa ada yang berbicara sepatah kata pun.Tia akhirnya berdeham pelan."Jadi lo nanti jadi kuliah di mana?""BINUS.""Oh.""Gue dapet The Widya Scholarship."Tia menoleh sekilas."Yang beasiswa itu?""Iya." Azzam mengangguk. Kuliah gue ditanggung seratus persen. Dapet uang saku juga dari program CSR perusahaan mitra kampus."Tia mengangguk kecil."Pantes. Lo emang pinter kok."Azzam melirik Tia sekilas."Kalo lo, kuliah di mana?""Gue cuti dulu. Mau ngumpulin duit," jawabannya datar."Nanti kalau udah te

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   40. Pertemuan Tak Terduga.

    "Ngapain lo ke sini? Ini toilet khusus karyawan," desis Tia dengan suara tertahan. "Gue tahu. Gue cuma mau liat keadaan kaki lo aja. Silvia emang anjing banget!" Tony memaki kasar. "Udah, gue nggak apa-apa. Sana, lo balik ke depan."Tony menatapnya lekat-lekat."Iya, ntar gue ke depan. Tapi lo jawab dulu pertanyaan gue. Lo tinggal di mana sekarang?"Tia bungkam. Ia tidak mau mengharap belas kasihan Tony. Apalagi ia tidak mempunyai perasaan khusus padanya. Ia tidak mau memanfaatkan orang."Nomor lo juga udah nggak aktif. Sejak bokap lo meninggal dan lo pindah rumah, gue nyari-nyari lo. Tapi nggak pernah ketemu.""Gue... baik-baik aja," jawab Tia singkat.Tony menggeleng."Bukan itu jawaban dari pertanyaan gue."Tia berdecak pelan. "Gue lagi kerja sekarang, Ton. Lo ke depan aja. Tolong, jangan membuat gue kena masalah lagi."Melihat Tia yang berbicara serius dan ringisan kesakitan di wajahnya, Tony mengalah. "Gue pergi. Kalo lo butuh apa pun itu, telepon aja gue. Nomornya masih sama

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   39. Bertemu Teman Lama.

    Waktu telah menunjukkan pukul tiga sore. Seluruh staf banquet kembali berkumpul di ruang briefing.Di depan mereka, Bu Amel berdiri sambil memegang event order."Setelah ini kita akan menangani acara farewell party. Jumlah tamunya sekitar lima puluh orang," jelasnya. "Yang mengadakan acara akan kuliah ke luar negeri. Tamu-tamunya adalah anak SMA. Jangan anggap enteng. Biasanya tamu seusia mereka lebih heboh, banyak permintaan mendadak, dan suka memanggil waiter berkali-kali. Jadi kalian harus sigap.""Siap, Bu," jawab seluruh tim hampir bersamaan.Tia dan Mbak Lita ikut mengangguk. Tak lama kemudian, dekorasi ruangan selesai. Balon-balon berwarna pastel, rangkaian bunga segar, dan sebuah layar besar bertuliskan Bon Voyage, Silvia Maharani! menghiasi ballroom kecil Restoran Kenanga.Saat melihat nama itu, langkah Tia seketika terhenti. Jantungnya berdebar kencang.Silvia Maharani.Seperti nama teman sekelasnya sekaligus musuhnya selama tiga tahun di SMA. Silvia ini selalu ingin men

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   38. Musuh Terselubung.

    Tia tiba di Hotel Mulia tepat pukul sepuluh lewat sepuluh menit. Tanpa membuang waktu, ia langsung menuju ruang ganti karyawan. Dua puluh menit lagi briefing akan dimulai.Ia membuka loker kecilnya, lalu buru-buru mengenakan seragam. Kemeja yang ia pakai berukuran L yang kelonggaran. Namun berkat celemek hitam yang diikat kencang, ia terlihat cukup rapi.Sebagai pekerja part-time ia memang tidak mendapatkan kemewahan seragam yang diukur pas badan. Dia harus puas dengan apa pun yang tersisa di ruang binatu hotel.Baru saja Tia merapikan kerah kemejanya, seorang perempuan berusia akhir dua puluh-an masuk sambil mengikat rambutnya."Hallo, Tia."Tia menoleh."Eh, Mbak Lita. Baru datang, Mbak?""Iya. Anakku lagi sakit. Jadi agak rewel. Aku nunggu dia tidur dulu baru bisa kerja."Mbak Lita adalah sesama part-time waiter, tetapi sudah bekerja hampir dua tahun di hotel itu. Hampir semua karyawan baru belajar banyak darinya."Hari ini kita kerjanya harus ekstra hati-hati, lo Ti." Mbak Lita

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   37. Belajar Ikhlas.

    "Nasi uduk saya paket polos tujuh bungkus ya! Paket gorengan tiga! Paket lengkap dua saja!" seru Bu Rini, Bu Novi, dan Bu Ida hampir bersamaan.Minggu pagi itu, warung kecil di depan rumah kontrakan Tia ramai sejak matahari baru terbit.Tia sibuk membungkus nasi uduk satu per satu. Walau tangannya masih kaku, Tia berupaya memasukkan nasi, lauk, sambal, lalu mengikat bungkusan dengan karet gelang. "Kak Tia, kembaliannya Bu Rini empat puluh sembilan ribu, kan? Tujuh ribu kali tujuh," tanya Rima sambil memegang pouch berisi uang kembalian."Iya. Pinter kamu, Rim."Tia tersenyum tanpa menghentikan pekerjaannya."Terus punya Bu Novi ini berapa?" tanya Tia lagi sambil menyerahkan tiga bungkus nasi kepada Bu Novi.Rima berpikir beberapa detik."Paket gorengan sepuluh ribu kali tiga...""...berarti tiga puluh ribu.""Benar, Kak?"Tia langsung mengacungkan jempol."Wuih, pinter banget."Rima terkikik geli.Sudah seminggu terakhir, pagi-pagi mereka selalu sesibuk ini. Di luar dugaan, nasi uduk

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status