Share

37. Belajar Ikhlas.

Penulis: Suzy Wiryanty
last update Tanggal publikasi: 2026-07-25 14:06:54

"Nasi uduk saya paket polos tujuh bungkus ya! Paket gorengan tiga! Paket lengkap dua saja!" seru Bu Rini, Bu Novi, dan Bu Ida hampir bersamaan.

Minggu pagi itu, warung kecil di depan rumah kontrakan Tia ramai sejak matahari baru terbit.

Tia sibuk membungkus nasi uduk satu per satu. Walau tangannya masih kaku, Tia berupaya memasukkan nasi, lauk, sambal, lalu mengikat bungkusan dengan karet gelang.

"Kak Tia, kembaliannya Bu Rini empat puluh sembilan ribu, kan? Tujuh ribu kali tujuh," tanya Rima
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   38. Musuh Terselubung.

    Tia tiba di Hotel Mulia tepat pukul sepuluh lewat sepuluh menit. Tanpa membuang waktu, ia langsung menuju ruang ganti karyawan. Dua puluh menit lagi briefing akan dimulai.Ia membuka loker kecilnya, lalu buru-buru mengenakan seragam. Kemeja yang ia pakai berukuran L yang kelonggaran. Namun berkat celemek hitam yang diikat kencang, ia terlihat cukup rapi.Sebagai pekerja part-time ia memang tidak mendapatkan kemewahan seragam yang diukur pas badan. Dia harus puas dengan apa pun yang tersisa di ruang binatu hotel.Baru saja Tia merapikan kerah kemejanya, seorang perempuan berusia akhir dua puluh-an masuk sambil mengikat rambutnya."Hallo, Tia."Tia menoleh."Eh, Mbak Lita. Baru datang, Mbak?""Iya. Anakku lagi sakit. Jadi agak rewel. Aku nunggu dia tidur dulu baru bisa kerja."Mbak Lita adalah sesama part-time waiter, tetapi sudah bekerja hampir dua tahun di hotel itu. Hampir semua karyawan baru belajar banyak darinya."Hari ini kita kerjanya harus ekstra hati-hati, lo Ti." Mbak Lita

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   37. Belajar Ikhlas.

    "Nasi uduk saya paket polos tujuh bungkus ya! Paket gorengan tiga! Paket lengkap dua saja!" seru Bu Rini, Bu Novi, dan Bu Ida hampir bersamaan.Minggu pagi itu, warung kecil di depan rumah kontrakan Tia ramai sejak matahari baru terbit.Tia sibuk membungkus nasi uduk satu per satu. Walau tangannya masih kaku, Tia berupaya memasukkan nasi, lauk, sambal, lalu mengikat bungkusan dengan karet gelang. "Kak Tia, kembaliannya Bu Rini empat puluh sembilan ribu, kan? Tujuh ribu kali tujuh," tanya Rima sambil memegang pouch berisi uang kembalian."Iya. Pinter kamu, Rim."Tia tersenyum tanpa menghentikan pekerjaannya."Terus punya Bu Novi ini berapa?" tanya Tia lagi sambil menyerahkan tiga bungkus nasi kepada Bu Novi.Rima berpikir beberapa detik."Paket gorengan sepuluh ribu kali tiga...""...berarti tiga puluh ribu.""Benar, Kak?"Tia langsung mengacungkan jempol."Wuih, pinter banget."Rima terkikik geli.Sudah seminggu terakhir, pagi-pagi mereka selalu sesibuk ini. Di luar dugaan, nasi uduk

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   36. Tamu Tak Diundang.

    Baru saja turun dari ojek online, langkah Tia terhenti. Jantungnya berdebar kencang saat melihat sebuah mobil SUV hitam yang sangat dikenalnya terparkir di depan rumah kontrakan.Mobil Riffat."Apa yang dia lakukan di sini?" Tia menggeram kesal.Setelah mengucapkan terima kasih pada driver, Tia berlari masuk ke dalam rumah.Pintu dalam keadaan terbuka. Darahnya langsung mendidih melihat pemandangan di depannya.Riffat duduk santai di lantai yang dilapisi karpet bersama dengan Rima. Keduanya tertawa-tawa sambil menggigiti coklat batang."Rima!"Suara Tia menggema. Rima yang sedang duduk di lantai langsung menoleh."Kak Tia!"Rima tersenyum gembira melihat kakaknya pulang. Namun senyumnya lenyap saat melihat sang kakak tampak marah.Kamu lagi ngapain?" Tia menarik Rima hingga berdiri dari lantai."Lagi nonton sambil makan coklat, Kak. Cobain deh coklatnya. Enak banget." Rima menyodorkan coklat yang baru ia makan separuh.Pandangan Tia tertuju pada sekotak coklat import dan jajanan maha

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   35. Mencoba Bertahan.

    Keesokan paginya, Tia bangun jauh lebih awal dari biasanya.Ia mengenakan kemeja putih polos yang masih tersisa di lemarinya, dipadukan dengan celana bahan hitam.Rambut panjangnya diikat rapi menjadi ekor kuda. Penampilannya sederhana, jauh berbeda dengan Tia yang dulu selalu mengenakan pakaian seksi dan bermerek.Sebelum berangkat, ia berpamitan kepada ibunya dan Rima."Doain ya, Bu, Dek. Semoga aku diterima kerja.""Harus diterima. Kamu harus berusaha keras untuk mendapat pekerjaan ini. Ingat, kita semua harus makan dan kamu masih punya utang." Bu Astri kembali mengingatkan tanggung jawab putri sulungnya."Kita semua punya utang, Bu. Bukan utangku saja," tegas Tia.Ibunya menggerutu lalu masuk ke dalam kamar. Akhir-akhir ini ibunya memang kerap menggerutu dan marah-marah sendiri."Kakak pasti diterima, karena Kakak cantik!" Rima membuat pose imut ala-ala girlband Korea.Tia tersenyum kecil, lalu memesan ojek online menuju Hotel Mulia.Begitu memasuki lobi hotel, Tia tertegun sejen

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   34. Asa Yang Lain.

    Mereka bertiga ditambah Rima mulai kembali memasak. Kali ini, Tia mengikuti setiap arahan mereka. Cara mencuci beras, menakar santan sampai tehnik menggoreng kacang dan kerupuk."Kita skip masak bihun gorengnya karena lama. Harus direndam sampai benar-benar lembut dulu," kata Clara.Hampir satu jam kemudian,nasi uduk baru berikut lauk pauknya matang. Kecuali bihun goreng.Tia mencicipi masakannya sendiri dan matanya langsung membesar."Enak!"Rima ikut mencoba."Kali ini enak banget, Kak!" Rima mengacungkan jempolnya.Desy tertawa puas."Apa gue bilang, semua orang bisa masak kok. Asal tau trik dan takaran bumbunya pas."Tia memandang Clara dan Desy dengan mata berkaca-kaca."Gue... terima kasih banget sama lo bedua." Suara Tia tersendat."Karena lo bedua ada, saat semua orang menjauhi gue.""Sama-sama, Ti. Kami berdua cuma ingin membalas budi baik lo," ujar Clara."Budi baik? Budi baik apa? Perasaan gue nggak pernah nolongin lo."Clara dan Desy tersenyum lalu saling memandang."Mung

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   33. Hasil Tak Akan Menghianati Usaha.

    "Bagaimana Rim, enak nggak masakan Kakak?" Tia menatap Rima penuh harap. Sejak subuh ia sudah sibuk di dapur. Berbekal video YouTube ia belajar memasak nasi uduk komplit untuk pertama kalinya. Di meja ada sepanci nasi uduk, bihun goreng, tempe orek, sambal kacang, dan kerupuk.Rencananya, jika masakannya berhasil, ia akan mulai berjualan nasi uduk setiap pagi.Rima mengambil beberapa suap. Mengunyah pelan lalu wajahnya berubah aneh. "Gimana, Dek? Enak nggak?" tanya Tia semakin penasaran. Rima menelan makanannya lebih dulu."Nggak, Kak," jawabnya polos.Tia tertawa miris."Masa sih, Dek? Padahal Kakak udah ngikutin semua resepnya, lho.""Kalau gitu coba Kakak cicipi sendiri. Siapa tahu lidah Rima yang salah," usul Rima. "Oke. Kakak coba."Tia mengambil piring, lalu menyendok nasi dan lauk. Baru mencoba beberapa suap, ia langsung meringis."Gimana, Kak?"Rima menatap kakaknya penuh rasa bersalah.Tia menghela napas panjang."Emang nggak enak, Dek. Lidahmu nggak salah."Tia mengad

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status