แชร์

35. Mencoba Bertahan.

ผู้เขียน: Suzy Wiryanty
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-23 22:05:59

Keesokan paginya, Tia bangun jauh lebih awal dari biasanya.

Ia mengenakan kemeja putih polos yang masih tersisa di lemarinya, dipadukan dengan celana bahan hitam.

Rambut panjangnya diikat rapi menjadi ekor kuda. Penampilannya sederhana, jauh berbeda dengan Tia yang dulu selalu mengenakan pakaian seksi dan bermerek.

Sebelum berangkat, ia berpamitan kepada ibunya dan Rima.

"Doain ya, Bu, Dek. Semoga aku diterima kerja."

"Harus diterima. Kamu harus berusaha keras untuk mendapat pekerjaan ini. Inga
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (2)
goodnovel comment avatar
Iin Iin
semangat ya Tia, kamu pasti bisa..
goodnovel comment avatar
Yelloe Duassatu
semangat Tia kqmu pasti bisa....
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   54. Akhirnya Terungkap.

    Tia menarik napas panjang. Selalu begini. Dalam keadaan apa pun ibunya selalu mementingkan urusan panti. Entah apa yang membuat ibunya begitu terobsesi mengurus banyak sekali panti asuhan.Tia menatap piringnya.Tangannya menggenggam sendok erat-erat. Dengan mata yang masih basah, ia memaksa dirinya makan lagi. Karena besok pagi, ia tetap harus bangun sebelum subuh. Kembali mengais rezeki untuk hidup yang tak pasti. ***Dengan langkah tergesa, Bu Astri turun dari taksi online. Tatapannya langsung tertuju pada bangunan tua di hadapannya. Sebuah papan nama yang catnya mulai pudar tergantung di atas pintu masuk.Panti Asuhan Al Marhamah.Temboknya tampak kusam. Beberapa bagian bahkan sudah retak dan catnya mengelupas. Bangunan itu terlihat seperti telah melewati puluhan tahun yang berat.Bu Astri menarik napas panjang sebelum melangkah masuk.Di kantor depan, Bu Asih sudah menunggunya bersama seorang perempuan sepuh yang duduk di balik meja kayu. Rambutnya hampir seluruhnya memutih. Ke

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   53. Pilih Kasih.

    Saat ojek online yang ia tumpangi mendekati gang rumah, Tia melihat sebuah mobil yang sangat ia kenal. Mobil Paklik Usman. Itu artinya pakliknya sedang mengunjungi rumahnya. Akhir-akhir ini Paklik Usman memang sering menyambangi rumahnya.Baru turun dari ojek online, Tia melihat Rima tertawa lebar di halaman. Adiknya itu sedang berputar-putar mengendarai sebuah sepeda baru bersama Lisa.Di teras, Paklik Usman duduk sambil memperhatikan mereka bermain."Pelan-pelan, Rima. Jangan ngebut. Nanti jatuh."Tia memperlambat langkah.Sekilas saja melihat sepeda itu, ia sudah tahu siapa yang membelikannya. Pasti Paklik Usman.Tia berjalan mendekat dengan langkah lelah. Ia sangat lapar. Kedua tangannya mencengkeram erat kantong-kantong belanjaan dari pasar yang terasa semakin berat."Kak Tia!”Melihat kehadirannya, Rima langsung mengayuh sepedanya mendekat. "Kak, lihat sepeda baru Rima. Bagus nggak?" Rima memamerkan sepedanya dengan antusias.Tia memandang sepeda gunung anak-anak berwarna merah

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   52. Curiga.

    Seperti biasa, sepulang dari bekerja, Tia mampir ke pasar tradisional. Dan seperti biasa pula, kios telur Bu Rini menjadi tujuan terakhirnya."Eh, Tia!" Bu Rini langsung menyambutnya dengan senyum lebar. "Seperti biasa? Dua kilo?"Tia menggeleng"Hari ini tiga kilo, Bu."Bu Rini segera mengambil timbangan. Sambil menunggu, Tia memperhatikan Pak Husin yang sedang sibuk mengangkat beberapa peti telur ke belakang kios.Entah kenapa, pertanyaan yang beberapa hari ini mengganjal di kepalanya kembali muncul."Bu, saya boleh tanya sesuatu?""Tanya aja, Ti," kata Bu Rini sambil memasukkan telur ke kantongan."Kenapa profesi Pak Husin dan Dokter Agnes jauh banget, ya? Padahal mereka saudara kandung." Tia sangat penasaran. Namun ia segera sadar kalau pertanyaannya tidak sopan. "Maaf, saya tidak bermaksud merendahkan." Tia buru-buru meminta maaf.Bu Rini tersenyum kecil."Tidak usah meminta maaf. Bukan cuma kamu yang penasaran. Banyak juga orang-orang di pasar ini yang bertanya demikian," imbu

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   51. Siapa Dia?

    Begitu shift-nya selesai, Tia segera menuju ruang ganti. Saat masih bekerja tadi Mbak Christine memang memintanya datang ke ruangannya setelah shift berakhir. Katanya, ada sesuatu yang ingin dibicarakan.Setelah mengganti seragam dengan pakaian biasa, Tia segera menuju ruangan atasannya itu.Selain penasaran dengan urusan pekerjaan, ada satu hal yang sejak tadi mengganjal pikirannya.Ia ingin menanyakan siapa sebenarnya yang memberinya libur selama tiga hari. Karena ternyata bukan Pak Khalid lah orangnya.Tia mengetuk pintu."Masuk."Tia melebarkan pintu dan melihat Mbak Christine sedang duduk di belakang meja."Duduk, Tia.""Baik, Mbak."Tia duduk di kursi di hadapan atasannya.Mbak Christine membuka sebuah berkas."Ada kabar baik untukmu. Mulai hari ini selain berstatus sebagai waitress F&B kamu juga dipromosikan ke tim banquet exclusive. Bukan tim banquet yang regular biasa."Pak khalid ternyata menepati janji. Bahwa ia akan dipromosikan."Jadi apabila hotel membutuhkan tambahan te

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   50. Senjata Makan Nona.

    "Rasakan akibatnya kalau Pak Khalid nanti ngamuk karena rasa jusnya berubah," gumamnya sinis.Tatapannya mengikuti punggung Tia yang semakin menjauh. "Nggak salah kamu membiarkan Tia yang membuat jus, Vi?" Elly staf bagian pantry minuman lainnya bertanya pada Vira."Ntar kalau rasanya nggak enak gimana? Bisa ngamuk Pak Khalid," tukas Elly cemas."Ya kita tinggal bilang kalau jus itu buatan Tia lah," jawab Vira santai. "Gila kamu, Vi. Membuat jus itu job desk kamu. Bukan tugas Tia." Elly menggeleng-gelengkan kepala.Vira tidak mempedulikan ucapan Elly. Ia menyilangkan kedua tangan di dada. Ia malah berharap kalau Tia, si anak emas itu mendapat masalah. Dirinya dan semua staf di Restoran Kenanga ini sebenarnya cemburu pada Tia.Mereka semua sudah bekerja rata-rata tiga sampai lima tahun di restoran ini. Namun status mereka tetap hanya karyawan outsourcing.Sementara Tia yang baru sebulan masuk, sudah menjadi pekerja tetap.Membayangkan Tia dimarahi langsung oleh Pak Khalid membuat sud

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   49. Siapa Dia?

    Setelah tiga hari libur, pagi ini Tia kembali bekerja. Suasananya masih sama. Rekan-rekan kerjanya masih kerap berbisik-bisik setiap kali ia lewat. Mirip seperti saat Pak Khalid memecat Bu Amel tiga hari lalu. Bedanya, kali ini mereka tidak berani menyindir atau mengonfrontasinya secara terang-terangan. Mereka hanya melirik sekilas, lalu buru-buru mengalihkan pandangan ketika ia menoleh.Tia sadar kalau rekan-rekannya terus bergosip di belakang punggungnya. Namun ia memilih pura-pura tidak tahu. Ia tidak bisa mengontrol mulut orang lain. Namun ia bisa menulikan telinganya. Ia memilih mengabaikan gosip-gosip yang tidak penting.Tepat pukul dua belas siang, Restoran Kenanga mulai dipenuhi pengunjung yang ingin makan siang. Sebagian besar pengunjung adalah para eksekutif muda dan pelancong yang menginap di Hotel Mulia.Suasana berubah sibuk. Piring-piring berdenting, aroma masakan memenuhi ruangan, sementara para waiter dan waitress hilir mudik membawa pesanan.Di tengah kesibukan itu,

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status