Se connecter"Ngapain lo ke sini? Ini toilet khusus karyawan," desis Tia dengan suara tertahan. "Gue tahu. Gue cuma mau liat keadaan kaki lo aja. Silvia emang anjing banget!" Tony memaki kasar. "Udah, gue nggak apa-apa. Sana, lo balik ke depan."Tony menatapnya lekat-lekat."Iya, ntar gue ke depan. Tapi lo jawab dulu pertanyaan gue. Lo tinggal di mana sekarang?"Tia bungkam. Ia tidak mau mengharap belas kasihan Tony. Apalagi ia tidak mempunyai perasaan khusus padanya. Ia tidak mau memanfaatkan orang."Nomor lo juga udah nggak aktif. Sejak bokap lo meninggal dan lo pindah rumah, gue nyari-nyari lo. Tapi nggak pernah ketemu.""Gue... baik-baik aja," jawab Tia singkat.Tony menggeleng."Bukan itu jawaban dari pertanyaan gue."Tia berdecak pelan. "Gue lagi kerja sekarang, Ton. Lo ke depan aja. Tolong, jangan membuat gue kena masalah lagi."Melihat Tia yang berbicara serius dan ringisan kesakitan di wajahnya, Tony mengalah. "Gue pergi. Kalo lo butuh apa pun itu, telepon aja gue. Nomornya masih sama
Waktu telah menunjukkan pukul tiga sore. Seluruh staf banquet kembali berkumpul di ruang briefing.Di depan mereka, Bu Amel berdiri sambil memegang event order."Setelah ini kita akan menangani acara farewell party. Jumlah tamunya sekitar lima puluh orang," jelasnya. "Yang mengadakan acara akan kuliah ke luar negeri. Tamu-tamunya adalah anak SMA. Jangan anggap enteng. Biasanya tamu seusia mereka lebih heboh, banyak permintaan mendadak, dan suka memanggil waiter berkali-kali. Jadi kalian harus sigap.""Siap, Bu," jawab seluruh tim hampir bersamaan.Tia dan Mbak Lita ikut mengangguk. Tak lama kemudian, dekorasi ruangan selesai. Balon-balon berwarna pastel, rangkaian bunga segar, dan sebuah layar besar bertuliskan Bon Voyage, Silvia Maharani! menghiasi ballroom kecil Restoran Kenanga.Saat melihat nama itu, langkah Tia seketika terhenti. Jantungnya berdebar kencang.Silvia Maharani.Seperti nama teman sekelasnya sekaligus musuhnya selama tiga tahun di SMA. Silvia ini selalu ingin men
Tia tiba di Hotel Mulia tepat pukul sepuluh lewat sepuluh menit. Tanpa membuang waktu, ia langsung menuju ruang ganti karyawan. Dua puluh menit lagi briefing akan dimulai.Ia membuka loker kecilnya, lalu buru-buru mengenakan seragam. Kemeja yang ia pakai berukuran L yang kelonggaran. Namun berkat celemek hitam yang diikat kencang, ia terlihat cukup rapi.Sebagai pekerja part-time ia memang tidak mendapatkan kemewahan seragam yang diukur pas badan. Dia harus puas dengan apa pun yang tersisa di ruang binatu hotel.Baru saja Tia merapikan kerah kemejanya, seorang perempuan berusia akhir dua puluh-an masuk sambil mengikat rambutnya."Hallo, Tia."Tia menoleh."Eh, Mbak Lita. Baru datang, Mbak?""Iya. Anakku lagi sakit. Jadi agak rewel. Aku nunggu dia tidur dulu baru bisa kerja."Mbak Lita adalah sesama part-time waiter, tetapi sudah bekerja hampir dua tahun di hotel itu. Hampir semua karyawan baru belajar banyak darinya."Hari ini kita kerjanya harus ekstra hati-hati, lo Ti." Mbak Lita
"Nasi uduk saya paket polos tujuh bungkus ya! Paket gorengan tiga! Paket lengkap dua saja!" seru Bu Rini, Bu Novi, dan Bu Ida hampir bersamaan.Minggu pagi itu, warung kecil di depan rumah kontrakan Tia ramai sejak matahari baru terbit.Tia sibuk membungkus nasi uduk satu per satu. Walau tangannya masih kaku, Tia berupaya memasukkan nasi, lauk, sambal, lalu mengikat bungkusan dengan karet gelang. "Kak Tia, kembaliannya Bu Rini empat puluh sembilan ribu, kan? Tujuh ribu kali tujuh," tanya Rima sambil memegang pouch berisi uang kembalian."Iya. Pinter kamu, Rim."Tia tersenyum tanpa menghentikan pekerjaannya."Terus punya Bu Novi ini berapa?" tanya Tia lagi sambil menyerahkan tiga bungkus nasi kepada Bu Novi.Rima berpikir beberapa detik."Paket gorengan sepuluh ribu kali tiga...""...berarti tiga puluh ribu.""Benar, Kak?"Tia langsung mengacungkan jempol."Wuih, pinter banget."Rima terkikik geli.Sudah seminggu terakhir, pagi-pagi mereka selalu sesibuk ini. Di luar dugaan, nasi uduk
Baru saja turun dari ojek online, langkah Tia terhenti. Jantungnya berdebar kencang saat melihat sebuah mobil SUV hitam yang sangat dikenalnya terparkir di depan rumah kontrakan.Mobil Riffat."Apa yang dia lakukan di sini?" Tia menggeram kesal.Setelah mengucapkan terima kasih pada driver, Tia berlari masuk ke dalam rumah.Pintu dalam keadaan terbuka. Darahnya langsung mendidih melihat pemandangan di depannya.Riffat duduk santai di lantai yang dilapisi karpet bersama dengan Rima. Keduanya tertawa-tawa sambil menggigiti coklat batang."Rima!"Suara Tia menggema. Rima yang sedang duduk di lantai langsung menoleh."Kak Tia!"Rima tersenyum gembira melihat kakaknya pulang. Namun senyumnya lenyap saat melihat sang kakak tampak marah.Kamu lagi ngapain?" Tia menarik Rima hingga berdiri dari lantai."Lagi nonton sambil makan coklat, Kak. Cobain deh coklatnya. Enak banget." Rima menyodorkan coklat yang baru ia makan separuh.Pandangan Tia tertuju pada sekotak coklat import dan jajanan maha
Keesokan paginya, Tia bangun jauh lebih awal dari biasanya.Ia mengenakan kemeja putih polos yang masih tersisa di lemarinya, dipadukan dengan celana bahan hitam.Rambut panjangnya diikat rapi menjadi ekor kuda. Penampilannya sederhana, jauh berbeda dengan Tia yang dulu selalu mengenakan pakaian seksi dan bermerek.Sebelum berangkat, ia berpamitan kepada ibunya dan Rima."Doain ya, Bu, Dek. Semoga aku diterima kerja.""Harus diterima. Kamu harus berusaha keras untuk mendapat pekerjaan ini. Ingat, kita semua harus makan dan kamu masih punya utang." Bu Astri kembali mengingatkan tanggung jawab putri sulungnya."Kita semua punya utang, Bu. Bukan utangku saja," tegas Tia.Ibunya menggerutu lalu masuk ke dalam kamar. Akhir-akhir ini ibunya memang kerap menggerutu dan marah-marah sendiri."Kakak pasti diterima, karena Kakak cantik!" Rima membuat pose imut ala-ala girlband Korea.Tia tersenyum kecil, lalu memesan ojek online menuju Hotel Mulia.Begitu memasuki lobi hotel, Tia tertegun sejen







