Inicio / Romansa / UNTAMED (Tak Tertaklukkan) / 90. Cinta Tanpa Syarat.

Compartir

90. Cinta Tanpa Syarat.

last update Fecha de publicación: 2026-10-12 09:39:48

Beberapa lelaki bersenjata menyerbu masuk dari berbagai pintu. Sebagian muncul dari lorong menuju dapur, sementara yang lain memenuhi akses masuk ke ruang makan. Dalam hitungan detik, mereka mengepung meja tempat mereka makan.

Rima tersentak dan langsung meraih lengan Tia.

Pak Khalid bangkit dari kursinya. Riffat melakukan hal yang sama. Keduanya segera berdiri di depan Tia dan Rima, membentuk barisan untuk melindungi kedua perempuan itu.

Sayangnya, mereka tidak membawa senjata. Dalam keadaan t
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado
Comentarios (4)
goodnovel comment avatar
Arsyianti Nur
Syediihhhh,, kaak,, ceritanya
goodnovel comment avatar
Yanti Aching
duh,, pengorbanan ayah utk anak yg baru disadarinya. berakhir dgn menyedihkan
goodnovel comment avatar
titaluvn
haduh ga sabar kelanjutannya... smoga cuma pingsan ya pak khalid.. mkasih Thor... ditunggu upnya lg
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   98. Mengalir Seperti Air.

    Pagi ini langit masih berwarna biru gelap dan matahari belum menampakkan wajahnya. Namunhalaman kampus sudah dipenuhi ratusan mahasiswa baru. Suara peluit, teriakan panitia, dan derap langkah kaki bercampur menjadi satu, menciptakan suasana riuh yang membuat siapa pun ikut semangat.Tia termasuk salah satu mahasiswa baru yang berdiri di antara kerumunan itu.Peluit panjang terdengar."Seluruh mahasiswa baru, segera berbaris sesuai kelompok! Jangan ada yang salah masuk kelompok!"Tia memindai tulisan di dadanya. Kelompok empat. Ia segera berdiri di kelompoknya.Kegiatan dimulai dengan apel pagi. Mahasiswa baru diminta berdiri tegak, menyanyikan lagu Indonesia Raya, mengikuti pembacaan janji mahasiswa, dan mendengarkan sambutan dari pihak kampus. Setelah itu, mereka dibagi menjadi beberapa kelompok lagi untuk mengikuti rangkaian kegiatan pengenalan lingkungan kampus.Mereka diajak berkeliling mengenali gedung perkuliahan, perpustakaan, laboratorium, ruang administrasi, hingga fasilitas

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   97. Memetik Bahagia.

    Tia memandangi pantulan dirinya di cermin dengan wajah semringah. Sesekali ia memiringkan kepala ke kanan dan kiri, mengamati penampilannya yang benar-benar mirip ondel-ondel.Setelah hampir setahun absen dari bangku kuliah karena berbagai persoalan hidup yang bertubi-tubi, akhirnya tahun ini ia bisa kembali melanjutkan pendidikannya. Dan pagi ini, ia akan mengikuti OSPEK alias orientasi mahasiswa baru.Rambutnya dikuncir menjadi dua belas bagian, masing-masing diikat dengan pita warna-warni. Lehernya dikalungi papan nama dari kardus yang digantung menggunakan tali rafia. Di atasnya tertulis nama yang membuatnya ingin tertawa setiap kali membacanya.Upik Babu. Alias plesetan dari Upik Abu.Pintu kamar terbuka. Bu Ambar masuk sambil membawa pakaian yang sudah disetrika. Namun, begitu melihat penampilan Tia, perempuan itu langsung berhenti melangkah."Astaga, Non! Kenapa dandanan Non Tia jadi begini?"Tia menoleh, lalu tertawa lepas melihat ekspresi terkejut ART kesayangannya itu."Kena

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   96. Jatuh Cinta Berjuta Rasanya.

    Riffat tidak menjawab. Ia terus mengemudikan mobilnya.Tia mengerutkan kening. Beberapa detik kemudian, matanya menangkap deretan bangunan yang terasa begitu akrab. Jantungnya mendadak berdebar ketika menyadari ke mana arah mobil itu menuju."Mas …. " Suaranya tercekat."Bukannya ini jalan menuju rumah saya yang dulu?"Riffat tetap diam.Tia kembali menatap ke luar jendela. Benar saja. Tak lama kemudian, mobil mereka berhenti di depan sebuah rumah besar yang pernah menjadi tempatnya tinggal bersama almarhum ayahnya, Pak Aminuddin.Rumah yang sudah lama ia tinggalkan. Rumah yang akhirnya disita Riffat sebagai jaminan atas utang ayahnya.Tia menatap bangunan itu dengan dada sesak. Ia bahkan tidak berani bertanya lebih jauh ketika Riffat membelokkan mobil memasuki halaman. Pintu pagar yang biasanya tertutup rapat ternyata sudah terbuka.Dan saat mobil berhenti, seseorang muncul dari balik pintu gerbang.Tia membeku."Bu Ambar!"Perempuan paruh baya itu adalah Bu Ambar, mantan asisten rum

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   95. Terurai Satu Persatu.

    Palu hakim baru saja diketuk. Suaranya menggema di ruang sidang yang perlahan mulai lengang.Tia mengembuskan napas panjang. Sidang terakhir Bu Rini akhirnya selesai. Perempuan yang baru beberapa waktu lalu diketahuinya sebagai ibu kandungnya itu dijatuhi hukuman empat tahun penjara karena menembak suaminya sendiri, Pak Husein.Hukuman itu lebih ringan daripada tuntutan jaksa yang sebelumnya yaitu tujuh tahun penjara.Di samping Tia, Azzam mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Sejak awal persidangan, ia sangat tegang. Baru setelah mendengar putusan hakim, bahunya sedikit mengendur."Syukurlah," gumamnya. "Setidaknya, hukuman Ibu lebih ringan dari tuntutan jaksa."Tia mengangguk pelan. Walau tidak banyak bicara ia juga sangat lega Bu Rini tidak di penjara terlalu lama. "Kita tunggu Ibu di sana yuk?" Azzam menunjuk lorong pengadilan."Nanti Ibu pasti lewat sini." Azzam lebih dulu berjalan. Tia mengekor dari belakang.Banyaknya pewarta dan petugas yang berlalu lalang membuat m

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   94. Tanggung Jawab Baru.

    Malam mulai turun ketika kedua jenazah akhirnya diserahkan kepada keluarga.Hujan gerimis kembali membasahi halaman rumah sakit. Di bawah cahaya lampu yang pucat, petugas membawa kedua brankar menuju ambulans yang sudah menunggu.Tia berdiri di dekat kendaraan, menggenggam tangan Rima.Ketika jenazah Pak Khalid dimasukkan ke dalam ambulans, air mata Tia menetes. Ia baru saja mengenal ayahnya, dan kini harus kehilangannya dalam sekejab mata. Ada rasa bersalah melingkupinya. Karena Pak Khalid tewas demi melindunginya. Sementara ibu kandungnya yang juga baru ia ketahui, harus menjalani proses hukum. Juga karena ingin melindunginya. Keduanya rela berkorban untuknya.Tia menoleh ke samping. Ia melihat tangan Riffat terkepal erat. Walau tidak mengatakan apa pun, Tia tahu, hati Riffat tengah bergolak. Riffat terus menatap pintu ambulans yang perlahan ditutup.Ia tidak menangis keras seperti tadi. Namun, kesedihan yang tertahan di wajahnya jauh lebih dalam daripada yang sanggup ia ungkapkan.

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   93. Melewati Kesedihan.

    Gerimis belum juga berhenti ketika dua ambulans meninggalkan kediaman Pak Khalid.Di dalam ambulans pertama, jenazah Pak Khalid terbaring di atas brankar dengan tubuh tertutup kantong jenazah. Ambulans kedua membawa jenazah Bu Astri. Kendaraan polisi mengawal keduanya, sementara beberapa mobil milik orang-orang kepercayaan Pak Khalid mengikuti dari belakang.Tidak ada sirene yang meraung sepanjang perjalanan. Hanya lampu rotator yang sesekali memantul pada jalanan basah.Beberapa tetangga tampak mengintip dari balik tirai jendela. Ada yang berbisik-bisik di teras, mencoba menebak apa yang sebenarnya terjadi. Di dalam salah satu mobil pengawal, Tia duduk membisu di samping Rima. Gadis kecil itu terus menggenggam tangan kakaknya. Tragedi beruntun dalam sehari menggentarkannya. Riffat duduk di depan mereka. Lengannya masih dibalut perban dengan sejumlah luka terbuka. Namun ia tidak memedulikan rasa sakit itu. Pandangannya tertuju pada ambulans yang melaju di depan.Pak Khalid telah men

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status