LOGINSelena Barker acaba de recuperar su libertad. Tras una década soportando el maltrato silencioso del doctor Enzo Visconti —un hombre más preocupado por su estatus que por su esposa—, ella decide que ya fue suficiente. Se acabó la Selena sumisa que agachaba la cabeza; ahora es el turno de la mujer que no teme mostrar sus curvas en un vestido rojo ajustado ni detonar la tarjeta de crédito de su ex antes de firmar el divorcio. Pero el destino tiene un sentido del humor retorcido. En su primera noche de celebración, Selena termina bailando sobre una barra, desafiando a su exmarido y siendo rescatada por un extraño oscuro y peligroso que parece sacado de una fantasía italiana. ¿El problema? Ese hombre no es otro que Alessandro Di Doménico, su nuevo jefe. Alessandro es un magnate de perfil bajo, tan poderoso como enigmático, que no busca una secretaria... busca a alguien en quien confiar en un mundo lleno de mujeres interesadas. Y Selena, con su sinceridad atroz, su inteligencia, su belleza "XL" y su valentía recién estrenada, es la mayor amenaza que su autocontrol ha enfrentado jamás. En una oficina donde la estética es ley, Selena demostrará que una verdadera diva no se define por su talla, sino por su capacidad de poner de rodillas al hombre más temido del país. ¿Podrá Selena mantener el profesionalismo frente al hombre que la vio en su momento más salvaje? ¿O caerá ante la tentación de su ángel de la guarda con sonrisa de demonio?
View More"Anak nggak berguna! Pasti kamu nggak becus kerja, kan?! Makanya kamu dipecat!” hardik Bu Arum dengan emosi di ujung tanduk.
Tanpa belas kasihan, wanita paruh baya itu melayangkan gesper kulit ke tubuh Selina. "Ibu, ampun! Sakit, Bu!" jerit Selina. Selina meringkuk di lantai dan berusaha melindungi kepalanya sambil menahan panas dan perih yang menjalar di kulitnya. "Rasakan! Biar kamu kapok!" Bu Arum terus mencambuk tanpa belas kasih, melampiaskan amarahnya yang sudah membumbung tinggi. "Bu... tolong… hentikan..." lirih Selina. Dengan suara yang mulai melemah, diselingi isakan tangis, Selina terus meminta ampun pada sang ibu. Napas Bu Arum terengah-engah. Ia akhirnya melempar gesper itu sembarangan, lalu menatap putrinya dengan pandangan murka. "Nggak usah drama! Pergi kamu dari sini! Jangan berani menampakkan muka sebelum dapat kerjaan baru!" perintah bu Arum emosi. "Bu, tapi ini udah malam... Biarin Selina istirahat dulu, tolong..." mohon Selina sambil menatap ibunya dengan penuh harapan. "Nggak ada istirahat! Keluar sekarang!" tolak bu Arum mentah-mentah. BRAK! Pintu langsung ditutup keras oleh bu arum tepat di hadapan muka Selina. Hening malam mendadak mencekam, meninggalkan gadis itu sendirian di teras. Dengan tubuh bergetar dan sendi-sendi yang lemas akibat rasa lapar karena sejak pagi belum makan, Selina perlahan bangkit walau sedikit sempoyongan. Kaki lemasnya dipaksa terus melangkah menyusuri jalanan. Setiap hembusan angin yang menerpa punggungnya membuat luka di bekas cambukan terasa perih. "Bu... kenapa aku selalu dibedakan?" bisik Selina lirih. Tangan Selina mengepal erat ketika mengingat fakta bahwa dirinya selalu dipaksa bekerja keras layaknya sapi perah, sementara adiknya dimanjakan bagai ratu. Langkahnya melambat, matanya menyapu sekeliling. Sempat terlintas harapan akan hadirnya keajaiban, namun realita segera menamparnya. Di dunia nyata, keajaiban tidak pernah datang cuma-cuma. "Ke mana lagi aku harus cari kerja?" gumamnya pasrah. Langkah Selina terhenti di depan sebuah bangunan yang memantulkan cahaya neon. Musik berdentum hingga keluar jalan, dengan riuh tawa pengunjung yang keluar masuk. Pandangannya seketika terpaku pada beberapa wanita berpakaian minim yang bergelayut manja di lengan pria-pria tua. "Tempat ini..." bisik Selina, menelan ludah. "Kayaknya ini satu-satunya cara menghasilkan uang dengan cepat." Persetan dengan harga dirinya sekarang, Selina sudah tidak peduli. Yang penting malam ini dia harus membawa uang agar bisa pulang ke rumah. Toh walaupun terjadi sesuatu padanya, ibunya juga tidak akan peduli. Selina nekat masuk ke klub malam itu dengan pakaian lusuh dan kotor. Kulitnya yang kusam, membuat beberapa pengunjung melirik jijik ke arahnya. Bau menyengat rokok dan alkohol membuat Selina terbatuk-batuk, tetapi dia terus melangkah ke dalam. Seorang wanita berambut sebahu yang tengah mengisap rokok mengernyitkan kening saat melihat wanita lusuh yang melangkah masuk. Ia beranjak mendekat dengan tatapan curiga. "Siapa kamu? Pengemis?!" tanyanya sambil mengamati Selina dari ujung kaki hingga kepala. Wanita itu merogoh saku celananya, lalu mengulurkan lembaran uang lima ribu ke arah Selina. Selina menatap wanita itu dengan wajahnya yang tegas membuat Selina ciut. "Saya... Saya bukan pengemis." "Terus apa? Penampilanmu kotor begini. Siapa yang tidak mengira kamu pengemis?" sahut wanita itu sinis. Tangan Selina mengepal. Ia merasa semua orang, bahkan orang tuanya sendiri, memandangnya rendah. Jika bukan karena sangat butuh uang, ia tidak akan pernah menginjakkan kaki di tempat ini. "Saya butuh pekerjaan!" tegas Selina, mencoba memberanikan diri. Wanita itu justru tertawa geli, lalu menatap penampilan Selina dari ujung kepala sampai kaki. "Dengan penampilan lusuh begini?" tanyanya remeh. Selina menahan emosinya. Ia tahu, sedikit saja salah bersikap, kesempatannya akan hilang. "Tapi, aku bisa mempertimbangkannya. Asalkan kamu masih perawan,” kata wanita itu santai. “Saya Merry, panggil saja Mommy atau Mom Merry. Saya menaungi banyak wanita yang juga menyerahkan seluruh tubuh dan harga dirinya pada saya sama seperti yang kamu lakukan saat ini,” jelas wanita itu. Mata Selina membelalak. Tenggorokannya merasa tercekat, bahkan ia sulit menelan ludahnya sendiri. Namun, ia sadar di mana ia berada sekarang. Di tempat seperti ini, hal itu sudah menjadi komoditas biasa. "Saya masih perawan," jawab Selina pelan sambil menunduk. Senyum puas terukir di wajah Merry. Ia memberi isyarat tangan kepada dua wanita yang duduk di sofa tak jauh dari mereka. "Kalau mau kerja di sini, kamu harus siap dengan konsekuensinya. Tugasmu membuat pelanggan puas, dan uang yang kamu dapat bakal sangat banyak. Kebetulan malam ini ada pengusaha kaya yang minta dicarikan gadis," jelas Merry. Merry mencolek dagu Selina, lalu memaksa gadis itu menatapnya. "Bagaimana? Kamu setuju, Sayang?" Selina semakin tercekat. Bayangan pengusaha kaya berkulit keriput yang akan merenggut kesuciannya malam ini membuat ia ingin kabur sekarang juga dari tempat ini. "Gimana? Aku tidak punya banyak waktu untuk menunggu jawabanmu!" tekan Merry. Refleks, Selina menganggukkan kepalanya. "Bagus!" ucap wanita itu dengan seringai tipis. Merry melirik ke arah dua wanita yang berada di sampingnya. "Kalian, rias dia secantik mungkin. Ingat, dandanannya harus totalitas karena yang dia layani malam ini pengusaha kaya raya. Dia pasti rela membayar miliaran rupiah!” perintah Merry mutlak. "Siap, Mom. Tenang saja," sahut salah satu dari mereka. Keduanya langsung menarik lengan Selina dan membawanya masuk ke ruang ganti. Setelah berdandan selama satu jam lebih, Selina disulap mengenakan gaun panjang tali spageti berwarna merah maroon dengan belahan paha tinggi. Riasan tebal menempel di wajahnya, sementara rambutnya yang semula kusut kini ditata bergelombang berhasil membuat Merry sampai menatapnya tanpa kedip. "Sayang, kamu benar-benar cantik! Mommy yakin kalau pengusaha kaya itu pasti suka sama kamu!” puji Merry antusias. Selina justru sibuk menyilangkan tangan di dada, merasa risih karena belahan dada gaunnya terlalu rendah. "Mom… tapi aku risih pakai baju begini…" bisik Selina jujur. Merry tersenyum santai. "Itu cuma karena kamu belum terbiasa, Sayang. Percayalah, begitu melihat uang melimpah nanti, kamu pasti bakal percaya diri,” jawab Merry santai, lalu menghidupkan rokoknya dengan tenang. "Reno, antar gadis Mommy ini ke Hotel Mustika. Pastikan dia sampai dengan aman,” perintah Merry pada seorang pria berbadan kekar. "Baik, Mom," jawab pria itu patuh. Selina pun masuk ke dalam mobil. Perasaannya campur aduk antara takut dan cemas. Selama perjalanan, tangannya terus menyilang erat di dada, khawatir Reno akan berbuat macam-macam padanya. "Kamu anak baru, ya?" tanya Reno saat menyadari raut gugup Selina dari kaca spion. "I-iya," jawab Selina singkat. Reno terkekeh pelan. "Pantas saja, kamu masih kelihatan lugu. Tapi, sayang sekali kamu memilih jalan ini. Uang cepat dari tempat seperti ini biasanya cuma bikin hidupmu semakin rumit nantinya." Selina makin meremas gaunnya, mencoba meneguhkan keputusannya. "Kalau aku punya pilihan lain, aku juga tidak akan pernah berada di sini. Tapi dunia terlalu kejam buat orang miskin," sahut Selina datar. "Aku bukan berniat menghinamu. Aku cuma mengingatkan," ujar Reno menimpali. "Aku sudah tahu konsekuensinya…" balas Selina lirih. "Tapi, orang sepertiku rasanya tidak pernah diberi pilihan untuk memilih." Perjalanan terasa singkat hingga mobil akhirnya berhenti di pelataran Hotel Mustika, sesuai petunjuk Merry. Reno bergegas turun dan membukakan pintu. Pandangannya tertuju pada Selina yang masih tampak tegang dan ketakutan. "Masuklah ke kamar 205, klien mu sudah menunggu di dalam," kata Reno memberi petunjuk. "Ingat, tetap percaya diri. Kalau sampai membuat klien kecewa, Mami Meri yang akan menghukummu." Selina mengangguk pelan. "Iya, terima kasih. Aku masuk dulu," ucapnya serak. Dengan langkah yang berat, Selina perlahan menyeret kakinya. Reno hanya berdiri memperhatikan punggung gadis itu yang makin menjauh, lalu menghembuskan napas panjang. Selina langsung berjalan menuju meja resepsionis untuk menanyakan kamar tujuan. "Ada di lantai dua, Nona. Kamar VIP," jawab resepsionis ramah, yang dibalas anggukan pelan oleh Selina. Gadis itu melangkah menuju lift. Begitu pintu lift terbuka di lantai dua, pandangannya menyusuri jajaran nomor di sepanjang koridor. Langkahnya terhenti tepat di depan kamar bernomor 205. Tangannya mendadak bergetar hebat dan jantungnya berdegup kencang, terlebih saat melihat dua penjaga bertubuh tegap berdiri di depan pintu tersebut. "Selina... kamu pasti bisa. Ini satu-satunya jalan untuk dapat uang," bisiknya menenangkan diri, berharap rasa takut itu perlahan memudar. Selina memejamkan mata sejenak, mengatur napas untuk meredakan gelisah. Setelah merasa agak tenang, ia melangkah mantap menghampiri dua penjaga itu. "Permisi, saya wanita yang dipesan untuk kamar ini," ucap Selina. Kedua penjaga mengangguk singkat. "Silakan masuk." Belum sempat Selina menekan bel, pintu kayu tebal di hadapannya mendadak terbuka. Berdiri disana seorang pria muda bertubuh tegap dengan tatapan mata tajam. Pandangan mereka beradu, yang seketika membuat dunia Selina seakan terhenti. Matanya membelalak tak percaya ketika melihat wajah yang tak asing baginya. "Ka-kamu..." gumam Selina terbata. Pria itu menyipitkan mata, meneliti paras wanita di depannya. "Selina?!" Pikiran Selina mendadak kalut. Dia mengenal sosok di hadapannya, ia panik setengah mati dan langsung berbalik mengambil langkah seribu. "Hei! Mau ke mana kamu?!" teriak pria itu keras. Ia lalu menoleh tajam ke penjaganya. "Kalian tunggu apa lagi? Kejar dia sekarang!"NarradorGina, que observaba desde el centro del salón mientras conversaba distraída con un grupo de invitados, detectó de inmediato el cambio de atmósfera. Conocía demasiado bien las expresiones de esa familia: la rigidez en la mandíbula de Alessandro, las miradas fulminantes entre James y Henry, y el ritmo tenso con el que caminaban de un lado a otro.Se disculpó rápidamente y avanzó a pasos firmes hacia la base de la escalera principal, interceptándolos justo cuando Alessandro dejaba escapar su exclamación de rabia.—¿Qué está pasando aquí? —preguntó Gina, cruzando los brazos y clavando los ojos en Alessandro—. Llevan bastante tiempo susurrando entre ustedes y dando vueltas como si la casa estuviera ardiendo. ¡¿Qué sucede?! ¿Dónde está Selena?El silencio que siguió fue denso. Alessandro apretó las manos en puños, incapaz por un segundo de articular palabra. Fue Henry quien dio un paso al frente, bajando la voz al mínimo.—Gina... Selena no aparece.Gina parpadeó, descolocada. La s
POV AlessandroDespués del revuelo con el griego, he decidido que ha llegado el momento que hemos esperado durante toda la noche: presentar formalmente a Selena como mi prometida ante toda la sociedad y anunciar la fecha de nuestra boda.Y sí, hay que encerrar a la paloma antes de que suceda algo y decida escaparse. Esto último lo digo en broma, no vayan a tomar todo literalmente. Pero bueno, viendo que esta mujer se me viene escapando hace más de veinte años, mi impaciencia es entendible, ¿no?¡Dios, qué mujer más hermosa! La miro mientras habla con los presentes y no puedo creer tener tanta suerte en mi vida. Estoy llegando a pensar que un ser humano no puede ser tan feliz.La voz de mi reina me despierta.—Deja de mirarme de esa manera, me pones nerviosa —musita Selena, dándome un suave codazo en las costillas.La miro con dulzura y le acaricio la mejilla.—No puedo evitarlo, mi dulce cicciottella —le respondo en un susurro al oído, tomándola suavemente por la cintura para pegarla
POV AlessandroMe quedo parado sin hacer absolutamente nada, observando la escena. En todos los años que me he enfrentado a Damon, creo que nunca lo he visto tan desconcertado como ahora; ni siquiera las veces que mi cicciottella lo ha rechazado.Quisiera advertirle que, si pretende de alguna manera acercarse a Gina, mejor se olvide, porque es una causa perdida. Pero la verdad me divierte ver cómo estas dos mujeres trapean el piso con él.Si mi novia es una mujer dura de roer, imagínense lo que puede llegar a ser Gina, quien prácticamente se terminó de criar a su lado.Ya saben cómo es mi reina: se convierte en una leona impiadosa cuando de los suyos se trata. Y esa chica es mucho más que una empleada para Selena; si hubiese podido, la habría adoptado. Pero como no pudo hacerlo, procuró darle absolutamente todo lo que estaba a su alcance para salir adelante.Juro que pienso en todas las cosas buenas que hace mi reina por los demás y no puedo evitar enamorarme más de ella. Siempre busc
NarradorEl magnate griego frunció el ceño, afilando su mirada sobre la joven.—No es para nada justo lo que está haciendo conmigo, señorita —replicó él, con una galantería teñida de seriedad—. Usted sabe bien quién soy yo, pero en cambio, yo no sé quién es usted. Creo que estamos en gran desventaja, ¿no?Gina sonrió, ladeando la cabeza.«Vaya», pensó, divertida, «todos los hombres utilizan las mismas técnicas estúpidas al momento de la conquista, no importa la edad ni el dinero que tengan».—Y ahora la situación empeora —agregó Damon, dando un medio paso casi imperceptible que la obligó a levantar la barbilla—. Tampoco puedo saber qué está pensando de mí.La joven suspiró con cansancio y se encogió de hombros con una frialdad impecable.—Bueno, supongo que es una habilidad que tendrá que desarrollar. Como sea, tampoco me interesa que lo sepa. En cuanto a la desventaja que usted dice tener, créame, no es ninguna. En este mundo en el que usted parece ser el centro, yo no soy nadie. Y a






Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.
reviewsMore