Share

Unperfect Husband
Unperfect Husband
Penulis: Ramdani Abdul

1. Unperfect Husband

“Kami sudah menemukan pria yang Anda cari, Nona,” ucap seorang wanita berkacamata yang baru saja memasuki sebuah ruangan. Derap langkahnya memercik suara hingga membuat wanita yang duduk di sofa mengalihkan perhatian dari majalah yang tengah ia baca.

Mendengar hal itu, wanita cantik yang tubuhnya dibalut dress merah tua itu seketika berdiri. Warnanya amat kontras dengan kulitnya yang putih cerah. Balutan busana itu kian mengukuhkan bila seorang Caraline Emilia Wattson adalah sosok yang benar-benar mendekati sempurna.

“Jadi bisakah kita berangkat sekarang?” tanya Caraline yang sudah bersiap dengan tas kecil merahnya. CEO Mimiline Group itu kemudian berjalan menuju luar ruangan dengan langkah lebar.

Helen mengikuti pergerakan Caraline. “Tentu, Nona. Aku sudah menyiapkan semua kebutuhan yang diperlukan. Jadi kita bisa berangkat kapan saja.”

Helen membuka pintu dan membiarkan Caraline keluar lebih dahulu. “Sepertinya, identitas pria itu sengaja dihilangkan, Nona. Hal itulah yang menyebabkan kita kesulitan menemukan keberadaannya selama ini,” jelasnya kemudian.

Pintu elevator terbuka. Caraline dan Helen bergegas masuk.

Saat tujuan telah ditentukan dan pintu tertutup, Helen kembali berbicara, “Menurut informasi terakurat yang kita miliki, pria itu sekarang tinggal di kota Springtown bersama keluarga Aberald.”

“Aberald?” tanya Caraline.

Helen mangangguk, lalu melanjutkan ucapan, “Masih menurut informasi yang bisa dipercaya, perusahaan keluarga mereka yang bergerak di bidang tekstil dan kuliner sedang berada dalam jurang kebangkrutan.”

Caraline bergegas keluar dari elevator begitu pintu terbuka. Para karyawan yang berada di lobi perusahaan seketika membungkuk begitu dirinya melumat jalan. Caraline tak terlalu acuh dengan penghormatan yang diberikan. Saat ini, ia berusaha menenangkan debar jantung yang tiba-tiba berdegup kencang. Bukan karena rindu, tetapi murni karena penasaran, ditambah sedikit bumbu ketegangan.  

Sudah hampir lima tahun CEO perusahaan fashion dan kosmetik itu mencari keberadaan pria itu, dan baru hari ini, Caraline mendapat informasi di mana pria itu tinggal. Realita berkata, meski ia memiliki kekuasaan dan relasi yang luas, tetapi tidak serta-merta membuat pencarian itu menjadi mudah.

Saat Caraline keluar dari gedung kantor, para awak media seketika mengerumuninya dengan bersenjatakan bidikan kamera dan sodoran mikrofon. Syukurlah, para petugas keamanan dapat mengantisipasi dengan baik hingga memudahkan dirinya dan Helen memasuki kendaraan.

Caraline memutar bola mata ketika para jurnalis itu merengek agar diberikan akses jalan agar bisa bertanya padanya mengenai sebuah isu yang menjadi buah bibir saat ini. Baru saja Caraline akan menyandarkan punggung ke kursi, jendela mobilnya tiba-tiba saja diketuk keras dari luar.  

“Nona Caraline, apa benar kabar kalau Nona dan Diego Fulhert sedang menjalin hubungan asmara?” tanya salah satu jurnalis yang berhasil lolos dari penjagaan.

“Jalan!” perintah Caraline pada sopir. Jujur saja, ia malas membahas sosok pria bernama Diego itu untuk sekarang. Masalahnya, secara sepihak, Diego mengatakan pada salah satu media bila dirinya dan pria itu dalam tahap pendekatan. Sontak saja, hal itu mengundang atensi dari masyarakat. Berbagai artikel mengenai kedekatan mereka pun beredar, dan tak sedikit yang isinya jauh dari kenyataan.

“Nona Caraline, tolong  ... komentar Anda,” teriak jurnalis tadi seraya berlari menyusul pergerakan mobil. “Nona Caraline. Tolong ....”

Caraline sedikit simpati pada jurnalis laki-laki itu yang kini jatuh terjerembab. Para penjaga pribadinya langsung menahan pria itu dan membawanya menjauh. Wanita itu akhirnya bisa mendaratkan punggungnya ke kursi dengan tenang. “Kosongkan jadwalku untuk besok, Helen,” ujarnya tanpa menoleh sedikit pun pada asistennya.

Wanita berusia 28 tahun itu terdiam sesaat. Ia kemudian mengecek jadwal Caraline melalui ponsel, menggulir layar benda pipih itu beberapa kali, lalu mulai menggigit bibirnya pelan. “Nona,” panggilnya ragu.

 “Kau boleh mengatakan alasan apa pun selama itu masuk akal untuk didengar,” kata Caraline lagi. Ia membuka gawasi, lantas menutupnya kembali saat melihat nama Diego terpampang di layar ponsel.

“Ba-baik, Nona.” Helen dengan terpaksa menjawab. Sekarang, ia punya pekerjaan rumah untuk mengatur jadwal ulang Caraline dari awal.

            Pukul sepuluh pagi, mobil Caraline menepi di depan sebuah rumah bergaya Victoria. Wanita itu bergegas keluar, lalu melahap jalan dengan langkah cepat. “Helen, kau tunggu di sini. Aku akan menyelesaikan masalahku sendiri.”

Caraline merasa tak perlu melihat bagaimana rekasi Helen. Saat berada di depan pintu rumah, ia segera memijat bel beberapa kali. Saat benda itu terbuka dan menampilkan seorang maid, ia langsung berkata, “Aku Caraline Emelia Wattson ingin bertemu dengan seseorang di rumah ini. Antar aku dan jangan buang waktuku lebih lama.”

“Mo-mohon maaf, Nona. Tapi aku diperintahkan untuk tidak membiarkan seorang tamu pun masuk. Tuan Jeremy dan yang lain tengah mendiskusikan sesuatu yang penting di dalam.”

Caraline mencebik. “Kau bisa bekerja di tempatku kalau tuanmu memecatmu nanti.”

Maid itu sontak menganga, lalu tak lama kemudian mengangguk. “Mari ... ikuti aku, Nona.”

Di dalam ruangan keluarga Aberald, tiga orang pria tengah duduk saling berhadapan. Di atas meja, terdapat beberapa tumpukan map dalam keadaan berserakan.

“Kalau dalam waktu satu minggu kita belum juga mendapat sepuluh juta dolar, sudah dipastikan kalau kita akan tamat,” ujar Jeremy, anak tertua dari keluarga Aberald. Helaan napasnya terdengar putus asa.

“Bagaimana dengan meminjam pada bank?” Jonathan  memberi saran.

“Itu bukan ide yang bagus, Jonathan.” Jeremy menolak. Beberapa kali pria itu menarik rambut, kemudian menyisirnya dengan jari.

“Aku pikir kita bisa meminjam pada rekan bisnis kita,” ujar James, pria termuda di antara mereka bertiga. Berbeda dengan saudaranya yang terlihat bingung, pria berambut cokelat itu tampak tenang dengan sesekali memainkan ponsel.

“James, bisakah kau lebih serius?” Jeremy geram. “Ini menyangkut hidup dan mati keluarga kita. Simpan ponselmu sekarang atau aku buang ke tempat sampah!”

James mendengkus kesal. Tanpa banyak bicara, ia menyimpan gawainya ke saku. “Apa ideku tidak bisa dipertimbangkan, Kak Jeremy? Aku pikir di antara rekan bisnis kita pasti ada yang bersedia membantu. Bukankah hubungan kita dengan mereka terjalin dengan baik.”

“Aku dan Kak Jeremy sudah mencobanya, James,” sahut Jonathan, “tapi tak ada siapa pun yang bersedia membantu.”

 “Kau harus tahu James, kalau bisnis itu sama kotornya dengan politik. Segala sesuatu yang berhubungan dengan uang dan kekuasaan tak akan bisa diraih hanya bermodalkan kebaikan dan kejujuran.” Jeremy menimpali. “Tak ada teman dan musuh abadi dalam politik, begitupun dalam bisnis, yang ada hanya kerja sama untuk saling meraih keuntungan. Jika  orang lain tak ingin membantu kita, sama saja mereka melihat kalau kita tak bisa lagi mendatangkan keuntungan untuk mereka.”

“Menyebalkan sekali,” ujar James.

Setiap kali memikirkan kondisi perusahaan, Jeremy serasa akan meledak menjadi kepingan kecil. Sebulan ke belakang, ia seringkali begadang untuk menganalisis laporan. Namun, semua usahanya tidak membuahkan hasil. Saat Jeremy merasa kalau dirinya gagal, ia melihat seorang maid mendekat ke tempat diskusi. Amarahnya langsung saja tersulut.

“Apa kau gila?” murka Jeremy, “bukankah kau sudah kusuruh untuk tidak mendekat ke ruangan ini sebelum kuperintah?”

Jonathan dan James ikut menatap tak suka. Saat keduanya akan mengusir, maid itu malah lebih dahulu berbicara.

“Ma-maaf, Tuan,” jawab maid itu, “ada Nona Caraline yang ingin bertemu dengan Tuan.”

“Caraline?” Kening Jeremy berkerut. Seingatnya, ia tak punya janji dengan seseorang yang bernama Caraline. Memiliki teman yang bernama Caraline pun tidak. Apa maid itu bodoh? Atau malah sedang menguji kesabarannya?

Jeremy menoleh pada dua adiknya, sedikit banyaknya berharap mereka memberi sebuah jawaban. Namun, hingga beberapa detik berlalu, mulut Jonathan dan James masih terkatup.

Tunggu. Jeremy mengingat seseorang yang bernama Caraline. Akan tetapi, apa mungkin yang orang yang mengunjunginya sama dengan sosok yang ada di kepalanya? Ini sangat tidak masuk akal.

“Biarkan aku membantumu mengingatnya.” Caraline tiba-tiba muncul. “Aku Caraline Emilia Wattson, CEO Mimiline Group.”

Saat melihat wanita menawan di depannya, barulah Jeremy, Jonathan dan James tahu siapa yang dimaksud. Untuk beberapa detik, kakak-beradik itu hanya bisa saling berpandangan.

“Nona Caraline,” ujar Jeremy seraya bangkit dari kursi. “Ini sebuah kehormatan bagi keluarga Aberald bisa bertemu dengan Anda secara langsung. Silakan duduk.”

Saat Caraline mendaratkan tubuhnya di kursi yang berhadap-hadapan langsung dengan Jeremy, maid itu segera membersihkan kekacauan di sekitar meja, lalu pergi setelahnya.

“Maafkan ketidaksopanan kami, Nona. Kami tidak tahu kalau Nona akan berkunjung.” Jeremy menambahkan. “Apa kami membuat Anda tersinggung?”

“Aku tidak ingin berbasa-basi.” Caraline mengabaikan sopan santun Jeremy. “Siapa di antara kalian yang bernama Jacob Aberald?” tanya Caraline langsung ke inti. “Aku ingin dia menikahiku besok.”

Komen (2)
goodnovel comment avatar
Ramdani Abdul
Bang Jeje gitu loh
goodnovel comment avatar
angeelintang
ucapan si jeremy boleh jugaaa
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status