INICIAR SESIÓNJubah ku sudah berubah sempurna. Ku genggam pedang yang masih bertengger di samping. Ku fokuskan pandanganku pada sekeliling. Tak ada satupun dari kami yang tidak waspada.
Angina yang semula berhembus bagaikan penghantar badai, mendadak berhenti. Sunyi namun jauh dari kata tenang. Seolah seluruh udara di sekitar SMA Sanin diam-diam di telan oleh sesuatu yang tak kasatmata. Daun-daun yang semula bergoyang, kini membeku di udara untuk beberapa saat, kemudian jatuh satu per satu, dengan sangat perlahan. “Ini bukan Aliester.” Gumam Yuzi pelan. “Dia tidak akan mau repot-repot datang menemui kita.” Kalau memang ini bukan Aliester, lalu apa? Siapa? Mengapa energinya terasa mencekam. Kalau energi sebesar ini bukan energi Aliester, lalu sebesar apa energi dia yang sebenarnya? Tengkukku semakin dingin. Genggaman ku di ujung pedang yang semula kuat, perlahan melemah akibat getaran yang sulit ku kendalikan.<Di sana, Haruka dan Livo sudah mulai bertarung. Mode penyebaran Pedang Sakura mulai menyala. Dentuman dan teriakan mereka menggema. Kilatan dari mode pernapasan Livo juga sudah menghantam tubuh virmort dan juga pepohonan yang ada di sekelilling mereka. Bukan hanya mereka berdua, tapi Yuzi dan Arvas juga sudah mulai mengeluarkan serangan-serangan mereka. Sedangkan aku, masih saja ada di bawah pelukan Yuzi. Dia bertarung dengan menggunakan sebelah tangan saja. Karena saru tangannya membopongku layaknya sebuah karung beras. Void merah menyebar. Menjadi satu dengan void perak milik Arvas. Dentuman demi dentuman saling bersahutan, seolah tidak membiarkan situasi senyap barang sekejap. “Sekarang Caesar! Keluarkan sekarang!” bisikan Naga hitam kembali terdengar. “Jangan!” pekik Yuzi di tengan pertarungannya. “Jangan pernah di ambil alih oleh Naga Hitam. Jangan pernah memakainya ketika dia yang meminta.” Walau samar oleh su
Jubah ku sudah berubah sempurna. Ku genggam pedang yang masih bertengger di samping. Ku fokuskan pandanganku pada sekeliling. Tak ada satupun dari kami yang tidak waspada. Angina yang semula berhembus bagaikan penghantar badai, mendadak berhenti. Sunyi namun jauh dari kata tenang. Seolah seluruh udara di sekitar SMA Sanin diam-diam di telan oleh sesuatu yang tak kasatmata. Daun-daun yang semula bergoyang, kini membeku di udara untuk beberapa saat, kemudian jatuh satu per satu, dengan sangat perlahan. “Ini bukan Aliester.” Gumam Yuzi pelan. “Dia tidak akan mau repot-repot datang menemui kita.” Kalau memang ini bukan Aliester, lalu apa? Siapa? Mengapa energinya terasa mencekam. Kalau energi sebesar ini bukan energi Aliester, lalu sebesar apa energi dia yang sebenarnya? Tengkukku semakin dingin. Genggaman ku di ujung pedang yang semula kuat, perlahan melemah akibat getaran yang sulit ku kendalikan.
Aku mengerjapkan mata sebentar. Menarik napas yang sempat terlupakan beberapa detik yang lalu. Yuzi sekarang sudah membelakangiku. Dia mendongak menatap siluet gunung yang semakin tertutup awan hitam. “Kamu bukan hanya pemilik darah tegas murni. Kamu juga memiliki darah yang selalu dia incar.” Jelas Yuzi. Suaranya pelan. Namun cukup jelas di indera runguku. “Ayah berusaha menjauhkanmu dari dunia ini. Mengirim saya kesini untuk di jadikan umpan yang bisa mengalihkan perhatiannya. Tapi akhirnya, ayah dan ibu tetap mati di tangan bajingan itu.” "Jadi kematian mereka juga salah gue?" tanya ku dengan suara bergetar. "Bukankah kita sudah lelah mencari siapa yang benar dan siapa yang salah?" tanya Yuzi. "Bahkan saya sudah menerima, kalau selama ini saya di jadikan umpan dan di asingkan dari kalian. Saya sudah menganggap ini adalah jalan takdir yang harus saya jalani." Yuzi berbalik badan. Menat
Matahari sudah mulai tergelincir. Kegagahan sinarnya, kini sudah mulai memudar. Di gantikan oleh cahaya jingga yang temaram. Aku menatap langit dengan tubuh terlentang di lapangan yang tadi menjadi tempat terakhir Gio menghembuskan napas terakhirnya. Sisa energi sihir dari Gio, sudah hilang sepenuhnya. Aroma keberadaanya juga sudah tidak bisa di rasakan lagi. Aku juga dapat kabar, kalau setelah insiden tadi, Alexa sempat marah dan mengamuk pada para juri dan semua petinggi perihal kesepakatan mereka dengan Gio sebelum pertarungan berlangsung. Aku memejamkan mata, kala semilir angin datang menyapa. Menghirupnya dalam-dalam. Berusaha menghilangkan rasa sesak dari sisa kekecewaan yang tertanam. Tapi tetap tidak bisa. Rasa kecewaku tetap sama. Aku kecewa karena mereka yang sudah menyetujui keputusan gila Gio. Aku kecewa karena ujian pertarungan ini masih di pertahankan. “Cukup memikirkan hal yang tidak seharusnya kamu fikir
Benturan dua kekuatan itu menciptakan gelombang kejut yang berhasil memukul segel dari dalam dengan sangat keras. Lapisan pelindung retak, membuat semua orang yang ada di luar terhuyung kebelakang, termasuk aku. Kami hampir saja ikut terhempas, kalau saja tidak ada penahan di setiap belakang kursi. Dalam kekacauan ini, justru kami semua bungkam. Mata kami terus mencari kedua remaja yang ada di dalam segel itu. Mereka masih tertutup oleh asap. “Aku bisa merasakan napasnya.” Kata Yuzi. “Ini napas Alexa—” Tak lama, segel yang sempat melemah akibat mereka yang sibuk mencari tahu kondisi kedua murid itu, kini berhasil runtuh terkena terkena hempasan terakhir dari pedang sakura. Segel itu benar-benar hancur. Yuzi langsung melesat meraih tubuh Alexa yang hampir ambruk. Sedangkan Gio, remaja itu masih berdiri di tempatnya. Kami semua membeku ketika melihat kondisi Gio yang sangat berantakan. Tubuhnya su
Pertarungan Gio dan Alexa semakin lama semakin memanas. Keduanya sama-sama kuat, dan sama-sama tidak mau kalah. Walau mode pelepasan Pedang Sakura milik Alexa masih berlum sempurna dan membutuhkan energi sihir yang cukup banyak, tapi sampai saat ini Alexa masih bisa berdiri dan mengendalikannya dengan sangat baik. Ini adalah kemajuan yang cukup bagus. Para petinggi termasuk Haruka yang sempat waswas, kini sudah sedikit lega. Mereka sudah kembali duduk di kursi masing-masing, walau masih dengan wajah tegangnya. Haruka sesekali menggigit bibir bawahnya. “Dia sama sepertimu, Haruka.” Bisik Livo. Haruka menoleh sebentar, kemudian kembali fokus pada pertarungan. “Hemm, jiwa pejuangnya justru lebih besar dari ku.” jawab Haruka. “Anak-anak sekarang mudah emosional. Jadi mereka akan berusaha lebih kuat untuk bisa menjungjung harga diri dan egonya.” Arvas yang kini duduk di belakang mereka, terdengar mendengu







