Share

Bab 9

Auteur: Putrisyamsu
last update Date de publication: 2026-02-28 11:18:50

"Dia... dia terlihat seperti Krael."

Kata-kata Lyra menggema di keheningan gua karang yang lembab, menembus kabut hitam Behemoth yang masih terbayang di pikiran Mala. Darah Mala membeku. Bukan lagi dinginnya Void-Fire, melainkan horor murni. Krael. Di sana. Terikat. Dan dieksekusi.

Tangannya mencengkeram Rencora dengan sekuat tenaga, hingga seluruh ototnyaengeras. Mata Mala, yang sebelumnya dipenuhi ketakutan akan kehancuran samudra, kini menyala dengan amarah yang lebih gelap dari jurang terdalam. Selama ini, dia memegang harapan tipis bahwa Krael mungkin bisa diselamatkan. Harapan itu kini dihancurkan oleh kekejaman Houtman.

"Dia tidak akan menyiksanya lagi," Mala berbisik, suaranya serak, nyaris tak terdengar. Namun resonansi di dalamnya cukup kuat untuk membuat Lyra dan para Wraith-Raiders yang berkerumun di sekitar peta hologram itu merasakan getaran kemarahan murni.

Lyra mendekat, wajahnya pucat pasi. "Ratu, itu mungkin tipuan. Sebuah ilusi untuk memancingmu. Kita tahu Houtman suka bermain-main dengan pikiran."

Mala mengangkat wajahnya, tatapannya dingin. "Apakah kau merasakan tipuan dalam dinginnya Void-Fire yang terpancar? Atau dalam tangisan jiwa-jiwa Aethelgard yang sekarat di sana? Tidak. Itu adalah Krael. Aku merasakannya. Dia ada di sana, dan dia menderita."

Dia menekan titik pusat The Behemoth pada peta holografik. Lingkaran energi dingin yang menyebar, inti kristal gelap yang menjadi sumber kekuatan Houtman. "Kita sudah mencoba gerilya. Kita telah mengalihkan perhatian mereka. Tetapi mereka terus membangun. Mereka akan membekukan seluruh samudra. Dan mereka akan membunuh Krael di depan mata kita."

Seorang komandan lapangan bernama Dara melangkah maju, keberaniannya sedikit goyah. "Ratu, dengan segala hormat, The Behemoth terlalu besar. Kita hanya sekelompok kecil. Serangan frontal ke monster itu sama saja dengan bunuh diri. Kita bahkan tidak bisa mendekati inti tanpa tertangkap atau terbunuh."

"Benar," kata Mala, suaranya datar. Dia menatap Dara, lalu ke seluruh wajah lelah para Wraith-Raiders yang menatapnya dengan campuran harapan dan ketakutan. "Itu akan menjadi misi bunuh diri. Tetapi itu adalah satu-satunya misi yang akan berarti."

Lyra maju ke depan, berdiri di samping Mala. "Ratu, misi kita adalah membalaskan dendam Aethelgard. Menyelamatkan Krael adalah tujuan pribadi. Kita tidak bisa mengorbankan setiap wanita yang telah bersumpah setia padamu untuk satu pria, bahkan jika dia adalah suamimu."

"Dulu aku berpikir begitu," jawab Mala, matanya menyipit, memancarkan cahaya biru yang menyakitkan. "Aku pernah berpikir bahwa aku bisa meninggalkan Krael di sana dan fokus pada tujuan yang lebih besar. Aku pernah berpikir bahwa kehancuran Houtman akan cukup. Tapi aku salah."

Dia menunjuk ke arah peta The Behemoth, ke inti kristal gelap yang berdenyut. "Houtman menggunakan Krael sebagai sumber energinya. Dia telah menjadi bagian dari mesin pembeku itu. Jika kita menyelamatkannya, kita hanya akan membebaskannya untuk disiksa lagi, atau lebih buruk, membiarkan mesin itu terus berjalan tanpa hambatan."

Mala menarik napas dalam-dalam, sebuah keputusan berat tergambar di wajahnya. "Misi penyelamatan Krael dibatalkan. Misi kita sekarang adalah menghancurkan inti The Behemoth. Hancurkan mesinnya, dan hancurkan Houtman, apa pun harganya."

Keheningan menyelimuti gua. Para Wraith-Raiders saling pandang, memahami implikasi mengerikan dari perubahan ini. Jika Krael adalah bagian dari inti, menghancurkan inti berarti...

"Itu berarti kematian Krael sudah pasti," Lyra menyelesaikan pikiran Mala, suaranya pecah. Air mata menggenang di matanya. "Ratu, kau... kau tidak bisa."

"Aku harus," Mala berkata, suaranya kini sekuat baja, meskipun ada getaran di dalamnya yang hanya bisa didengar Lyra. "Ini adalah pengorbanan yang tidak bisa dia lakukan untuk dirinya sendiri. Dia mencoba menyelamatkanku saat itu, Lyra. Sekarang, aku yang harus menyelamatkannya dari siksaan abadi ini. Untuk membebaskannya. Untuk membebaskan kita semua."

Dia berbalik, menatap setiap wanita yang telah mengikutinya dari jurang keputusasaan. "Kalian semua punya pilihan. Ikuti aku ke dalam api, atau tetap di sini dan saksikan dunia kita membeku. Aku tidak akan memaksa siapa pun."

Suasana tegang, udara terasa berat dengan ketidakpastian. Mereka telah bersumpah untuk membalas dendam, untuk menjadi hantu di laut. Tapi ini bukan lagi hantu. Ini adalah serangan terang-terangan terhadap neraka itu sendiri.

Dara adalah yang pertama. Dia berdiri tegak, memegang Rencora di tangannya. "Kami akan mengikutimu, Ratu. Jika ini adalah satu-satunya cara untuk membebaskan Aethelgard, maka kami akan mati di sampingmu."

Satu per satu, para Wraith-Raiders lainnya mengangguk, atau berlutut, atau hanya menatap Mala dengan tatapan yang kini mencerminkan tekad dingin yang sama dengan Ratu mereka. Ketakutan masih ada, tetapi kemarahan dan loyalitas mengalahkan segalanya.

Lyra menatap Mala, bibirnya bergetar. Dia tahu ini adalah batas dari jiwa Mala, sebuah pengorbanan yang tak terbayangkan. "Baiklah, Ratu," Lyra berkata, suaranya tegas. "Berapa banyak yang kita miliki?"

"Dua puluh delapan," jawab Mala, angka itu terasa menyakitkan. Mereka telah kehilangan banyak di pertempuran sebelumnya, dan tim kecilnya tidak kembali. "Ini tidak akan cukup untuk menenggelamkan monster itu secara langsung. Kita akan menyerbu. Kita akan menjadi pisau yang menusuk jantungnya."

Mala memproyeksikan diagram The Behemoth yang lebih rinci. "Lyra, kau akan memimpin serangan luar. Buat keributan di sisi timur. Tarik semua Zirah Uap Hitam dan kapal pertahanan mereka. Aku akan memimpin tim terdepan. Empat Leviathan tercepat untuk menembus lapisan pertahanan bawah, menuju jalur suplai energi utama di sisi barat."

"Tim utama akan langsung ke inti?" tanya Lyra, cemas.

"Tidak. Akan ada terlalu banyak Void-Fire. Kita akan menuju ruang kendali utama, tempat Houtman pasti berada. Aku yakin Krael ada di dekatnya. Aku akan menghadapinya secara langsung."

Tiga hari berikutnya adalah badai persiapan. Tidak ada yang tidur. Peralatan diperiksa, Leviathan diberi makan, dan ikatan resonansi diperkuat hingga batas. Para Wraith-Raiders mengasah Rencora mereka, menyanyikan lagu-lagu lama Aethelgard yang memilukan, seolah-olah mereka adalah himne pemakaman untuk diri mereka sendiri. Mereka adalah Inong Balee, dan mereka siap untuk menjadi ratu janda yang akan mati demi lautan mereka.

Mala tidak menunjukkan keraguan. Dia adalah Ratu Janda Lautan, dan dia akan menuntun pasukannya ke neraka.

*

Pagi hari serangan.

Samudra di sekitar The Behemoth terasa seperti bubur es, kabut hitam menggantung tebal. Aroma logam terbakar dan bau belerang terasa tajam di udara. Di balik kabut itu, siluet The Behemoth menjulang, sebuah gunung yang tak bergerak, namun memancarkan ancaman yang mengerikan.

Armada Wraith-Raiders, dua puluh delapan Leviathan yang kini menjadi bayangan biru gelap di bawah permukaan, bergerak dengan kecepatan dan kesunyian yang menakutkan. Mereka tampak jauh lebih kecil dari yang dibayangkan, seperti serangga yang menyerang seekor paus.

"Lyra, berikan aba-aba," perintah Mala melalui ikatan resonansi. Suaranya tenang, fokus.

"Semua unit, serbu! Demi Aethelgard! Demi Ratu!" teriak Lyra, memimpin pasukannya menuju sisi timur The Behemoth, membelah air yang membeku. Ledakan pertama dari meriam-meriam Houtman segera terdengar, dijawab oleh raungan Leviathan yang marah.

Mala tidak melihat ke belakang. Kaelia, Leviathan terkuatnya, melesat maju, diikuti oleh tiga Leviathan tercepat lainnya. Mereka menembus lapisan pertahanan luar The Behemoth yang pertama, sebuah jaring energi Void-Fire yang rapuh di bawah Hydro-Resonance Mala yang terfokus. Alarm meraung di dalam struktur raksasa itu.

"Ini dia, Krael," bisik Mala.

Kaelia melesat naik, membentur lambung baja utama The Behemoth dengan momentum luar biasa. Mala melompat. Dia mendarat dengan keras di geladak baja utama yang dingin dan licin, Rencora di tangan, mata menatap ke arah inti uap hitam yang mengepul di kejauhan.

Dia sendirian.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • WANITA PENAKLUK SAMUDRA   Bab 45

    Lyra mencengkeram kristal Mala di pergelangan tangannya. Kristal itu berdenyut, bukan dengan kehangatan, tetapi dengan peringatan. Pada saat yang sama, Elara, di sampingnya, melihat layar sensor pribadinya berkedip-kedip dengan anomali yang belum pernah terlihat. Sebuah pola energi yang tidak dikenal, bergerak dengan kecepatan yang menakutkan, dari luar batas sistem pertahanan Aethelgard.Lyra menatap Elara. "Anda merasakannya?"Elara mengangguk, wajahnya pucat. "Lebih jauh dari apa pun yang pernah kita deteksi. Lebih besar. Bukan dari sini."Di kejauhan, The Azure Sentinel berlayar dengan anggun, simbol harapan. Tetapi Lyra tahu, harapan itu akan segera diuji.Lima tahun berlalu sejak peluncuran The Azure Sentinel. Lima tahun yang membentuk Aethelgard menjadi peradaban yang jauh berbeda. Ujian dari bisikan asing itu datang tak lama setelahnya. Ternyata bukan ancaman militer, melainkan sekelompok kecil penjelajah antar bintang yang tersesat, menderita kerusakan kapal. Lyra, dengan keb

  • WANITA PENAKLUK SAMUDRA   Bab 44

    Lyra memejamkan mata sesaat. Pertempuran ini telah berakhir. Tetapi perang... perang sesungguhnya baru saja dimulai. Bisikan dingin itu merayap di benaknya, sebuah firasat tajam yang menusuk melalui euforia kemenangan, seolah samudra itu sendiri mendesah dengan rahasia yang lebih kuno dan mengerikan. Namun, di hadapannya, lautan manusia bersorak, dan ia punya janji untuk ditepati. Sebuah janji kepada Krael, kepada Mala, dan kepada dirinya sendiri.Enam bulan kemudian. Aethelgard, yang dulunya puing-puing, kini menggeliat bangkit. Bukan sekadar rekonstruksi, tetapi metamorfosis. Pekerja berduyun-duyun membangun kembali, namun kali ini, arsitekturnya berbeda. Garis-garis yang lebih organik, terinspirasi dari Sisterhood, mulai terlihat. Kristal Aether yang dipulihkan, bukan obsidian, memancarkan cahaya lembut, menerangi jalan-jalan yang sebelumnya gelap.Di aula dewan yang baru direnovasi, suasana terasa jauh berbeda. Tidak ada lagi ukiran patriarkis yang mencolok, diganti dengan mural y

  • WANITA PENAKLUK SAMUDRA   Bab 43

    Lyra perlahan bangkit, tubuhnya yang terluka terasa ringan oleh tujuan yang baru. Dia menatap Heart of the Abyss yang kini berdenyut dengan pendaran biru yang stabil, murni. Di sana, di kedalamannya, Mala dan Krael kini adalah satu, penjaga yang abadi. Tetapi Lyra merasakan sesuatu yang lain. Sebuah bisikan samar dari jauh, sebuah gema di kedalaman samudra yang melampaui Aethelgard, sebuah panggilan samar dari kegelapan yang belum ia kenal. Sebuah pertanda bahwa meskipun perang ini telah berakhir, perjuangan sesungguhnya baru saja dimulai. Dia menarik napas dalam, merasakan beratnya takdir yang kini menantinya, sendirian di puncak dunia.Di sekeliling Lyra, Sisterhood yang kelelahan namun bersemangat mulai bergerak. Mereka membersihkan puing-puing, mengevakuasi Leviathan yang hancur, dan menstabilkan area inti. Si Naga Biru yang babak belur kini tertambat, para teknisi bekerja keras memperbaiki lambungnya yang robek. Vardus Solara, yang kini terbaring tak bergerak dengan mata kosong,

  • WANITA PENAKLUK SAMUDRA   Bab 42

    Lyra menatap inti kristal Jormungandr itu, hatinya dipenuhi campuran kesedihan dan kelegaan. Krael. Kau di sana? Bisikan itu nyaris tak terdengar, sebuah hembusan napas yang tertahan di tengah kehancuran. Di sekelilingnya, Heart of the Abyss perlahan pulih, denyutannya yang biru dan murni terasa seperti detak jantung yang baru terlahir kembali, namun di sampingnya, inti kristal Jormungandr terasa dingin, cahaya birunya redup, nyaris mati, setelah semua energi yang ia berikan.Luka di tubuh Lyra masih terasa perih, tetapi itu tidak seberapa dibandingkan dengan rasa kehilangan yang kembali menyeruak. Vardus Solara telah dikalahkan, tapi harga yang dibayar terasa begitu mahal. Mala kini satu dengan samudra, dan Krael... Apakah dia benar-benar pergi?Tiba-tiba, inti kristal Jormungandr berdenyut lagi. Bukan ledakan energi seperti sebelumnya, melainkan sebuah denyutan lembut, mirip detak jantung yang pelan, namun stabil. Dari kedalamannya, sebuah pendar keperakan muncul, berputar perlahan,

  • WANITA PENAKLUK SAMUDRA   Bab 41

    Vardus, yang selalu mengendalikan, kini sepenuhnya tidak berdaya. Dia merasakan setiap partikel dari dirinya disentuh, dianalisis, dan dinetralkan oleh kekuatan yang tak terkalahkan. Wajahnya pucat pasi, matanya memancarkan kepanikan liar.Cahaya biru Mala berdenyut lembut, tidak melukai, tetapi meresap. Lyra, yang berjuang untuk bangkit, melihatnya bukan serangan kekuatan, melainkan penetrasi. Vardus terbungkus dalam esensi Mala, terpaksa menghadapi sesuatu yang lebih dalam dari kehampaan yang ia puja.Sebuah gelombang ingatan, bukan milik Lyra, tetapi diproyeksikan oleh Mala, menghantam pikiran Lyra. Dia melihatnya dari mata Vardus. Seekor ikan kecil yang kesakitan, terengah-engah dalam air yang tercemar Void-Fire dari penambangan baru Vardus. Terumbu karang yang dulunya berwarna-warni, kini memutih, merana, mati. Arus Aether yang murni, berbelok, kering, tidak lagi memberi makan kehidupan di kedalaman. Lyra bisa merasakan rasa sakit itu, keputusasaan makhluk-makhluk laut yang pelan

  • WANITA PENAKLUK SAMUDRA   Bab 40

    Lyra menatapnya, matanya setengah tertutup, bayangan Vardus menari di depannya. Apakah ini... akhirnya? Dia merasakan denyutan Heart of the Abyss yang kini kembali dikuasai kehampaan, terasa seperti bisikan kematian yang akan datang. Pergelangan tangannya berdenyut sakit, kristal Mala di sana terasa dingin, mati, seperti dirinya sendiri.Vardus Solara, dengan senyum tipis kemenangan, mengangkat tangannya. Ujung jarinya berkumpul, memancarkan percikan Void-Fire yang mematikan. Itu adalah pukulan terakhir, tak terhindarkan. Lyra bisa merasakan embusan dingin kehampaan yang mendekat, seperti tangan tak terlihat yang siap merobeknya menjadi ketiadaan. Maafkan aku, Mala. Maafkan aku, Krael.Tepat saat Void-Fire itu siap dilepaskan, sebuah fenomena yang melampaui pemahaman Vardus terjadi.Dari inti kristal Jormungandr yang tergeletak di dekat tangan Lyra, sebuah pendar biru samar muncul. Bukan hanya cahaya, melainkan sebuah denyutan. Seolah jantung yang telah lama tertidur kini terbangun. P

  • WANITA PENAKLUK SAMUDRA   Bab 38

    Lyra merasakan seluruh samudra bergetar, air di sekelilingnya terasa panas dan dingin secara bersamaan, sebuah anomali yang mengerikan. Dia tahu Vardus baru saja mencapai puncaknya. Heart of the Abyss kini telah sepenuhnya dikorupsi. Di ruang kendali Si Naga Biru yang babak bel

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-31
  • WANITA PENAKLUK SAMUDRA   Bab 36

    Namun, di kejauhan, sensor jarak jauh Si Naga Biru berkedip-kedip, mendeteksi sesuatu yang sangat besar, sesuatu yang bergerak perlahan, seolah-olah bangun dari tidur panjang di kedalaman samudra. Sesuatu yang bahkan lebih kuno dari Void-Fire itu sendiri. Lyra merasakan merinding di len

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-30
  • WANITA PENAKLUK SAMUDRA   Bab 33

    Lyra memejamkan mata, merasakan denyutan kristal Jormungandr di sampingnya. Kekuatan Mala dan Krael. Dia bisa mendengarnya, sebuah bisikan yang lebih dari sekadar suara, sebuah firasat yang melintasi kedalaman waktu dan ruang. Sebuah panggilan. Sebuah panggilan yang bukan untuk Lyra semata, melaink

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-29
  • WANITA PENAKLUK SAMUDRA   Bab 37

    Tiba-tiba, dari Heart of the Abyss yang bergolak, sebuah gelombang Void-Fire murni, seperti ombak raksasa yang terbuat dari kegelapan dan ketiadaan, menyembur langsung ke arah Si Naga Biru. Lyra tidak punya waktu untuk bereaksi, tidak punya waktu untuk melarikan diri. Semuanya akan berak

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-31
Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status