Share

Part 07

Bismillahirrahmanirrahim.

Ibu tampak mengangguk, lalu masuk ke kamar. “Jangan lupa kunci pintu,” pesanku cepat sebelum melangkah pergi. Keselamatan ibu lebih penting dari apapun.

Lega terpancar dari raut wajahku, ibu dalam keadaan baik-baik saja.

Aku bergegas pergi ke kamar Bia. Sama halnya yang kulakukan di depan pintu kamar ibu, aku ketuk pintu itu pelan dan memanggil nama Bia. Namun sayang, beberapa kali ketukan, tidak ada sahutan dari dalam. Apa Bia sudah tidur? terus tadi itu suara teriakan siapa? Apa mungkin itu hanya halusinasiku saja. Aku bermonolog sendiri. Belakangan ini, karena saking khawatir dengan keselamatan ibu dan Bia, aku sering berpikir yang aneh-aneh. Bahkan kadang muncul bayangan, seolah ibu dan Bia tengah dianiaya.

Terkadang sampai terbawa ke alam mimpi. Aneh bukan!!

“Gimana Mas? Apa Bia yang teriak? “ tanya Nuri menyusulku keluar kamar tak lama kemudian.

“Tidak tahu, soalnya Bia tidak menjawab, mungkin sudah tidur.”

“Nah! Apa kubilang, itu bukan teriakan dari rumah ini. Mungkin dari tempat lain, suaranya sampai ke sini  karena dibawa angin, bisa jadi-kan.”

“Mungkin kamu benar, sebaiknya kita kembali ke kamar.” Ajakku pada Nuri, Nuri bergelayut mesra di tanganku. Inilah yang kusuka dari istriku, tak sungkan menunjukkan kemesraan. Bagaimana aku semakin tidak cinta padanya. Sementara aku lelaki yang kurang romantis.

Pagi baru saja menjelang, suara kicau burung terdengar saling bersahutan. Dari mana lagi suara burung itu, kalau bukan dari rumah pak Atmo tetangga blok yang memelihara banyak macam burung. Di garasi dan terasnya banyak kandang burung yang berjejer manis di gantungan. Suara kicauan burung itu menjadi hiburan tersendiri bagiku.

Setelah menunaikan sholat subuh, aku bergegas ke ruang keluarga dan meminta Nuri menyiapkan secangkir kopi. Sambil menunggu kopi datang, kusibukkan diri membaca berita di sosmed.

“Ini kopinya Mas,” ucap Nuri sambil meletakkan kopi di atas meja. Aroma kopi sungguh menggelora dan memantik semangatku untuk segera meminumnya.

“Masih panas Mas, awas nanti mulutnya ke bakar.” Cegah Nuri dengan mimik lucu.

Perkataan Nuri kubalas dengan anggukan seraya tersenyum kecil. Candaan Nuri tidak membuatku lupa, wajah aslinya kini telah ada dalam genggaman. Tentu saja tidak sama lagi, bagaimana pun dia berusaha membuatku senang dan bahagia, kini bagiku tiada artinya lagi.

Aku segera meraih cangkir dan hendak meminumnya. Baru saja, cangkir itu mengenai ujung bibir, terdengar teriakan dari ibu dari arah kamar Bia.

“Arfan sini, Bia tidak ada di kamarnya.” Jerit ibu histeris.

Aku terkejut, spontan berdiri. Hampir saja kopi panas yang berada di tanganku tumpah. Untunglah hanya mengenai beberapa ruas jari saja. Kaget, itulah reaksiku atas teriakan ibu. Segera kuletakkan kopi di meja dan kuayunkan langkah sedikit berlari menyusul ibu ke kamar.

Dengan napas ngos-ngosan aku sampai di dekat ibu. Wanita itu tengah berurai air mata.

“Yang benar saja Bu, semalam kami ngobrol banyak. Masak pagi begini tidak ada di kamarnya,” ucapku sangsi.

“Benaran, lihat saja. Dia tidak ada di mana-mana? Ibu sudah cari di semua tempat, terakhir ya kamar ini, tapi tidak ada.”

“Mungkin joging di lapangan.”

“Tidak mungkin, adikmu itu tidak senang lari pagi.”

Aku segera masuk kamar, memperhatikan dengan seksama. Siapa tahu ada petunjuk hilangnya Bia. Tempat tidur acak-acakan, belum sempat dirapikan. Seperti ada yang terasa mengganjal, terasa aneh. Penghuninya entah di mana? Masak bangun tidur tidak sempat merapikan tempat tidur. Bisa jadi semalam itu benar teriakan Bia.

Sempat terpikir, apa bang Handi yang membawa paksa Bia dari rumah ini. Supaya Nuri leluasa menyiksa ibu. Jika benar begitu, tiada kata maaf untukmu Nuri. Lihat saja, aku akan buktikan, bahwa kamu pelaku di atas hilangnya Bia. Bisa jadi bukan, Bia hilang atas suruhan Nuri.

Tetiba mataku melihat sesuatu yang mencurigakan di bawah tempat tidur. Aku bergegas membungkuk dan meraihnya. Setelah kudapatkan, Ternyata hanya kertas kosong tanpa ada petunjuk.

“Cari adikmu Arfan, jangan biarkan dia hilang.”

“Nuri! Apa kamu pelaku hilangnya Bia?” tanya ibu menatap Nuri  curiga.

“Maksud ibu?”

“Kamu kan tidak suka Bia tinggal di sini?”

“Itu tidak benar Bu, kata siapa aku tidak menyukai Bia, ia bisa tinggal bebas sesuka hatinya.”

“Kamu sendiri-kan bilang waktu itu, kamu lupa ya.”

“Ibu jangan memfitnahku,” sanggah Nuri mendelik kesal.

Aku hanya bisa tercenung. Kemana harus kucari adikku itu.Tak ada petunjuk sama sekali. Apa mungkin Nuri pelakunya, seperti dugaan ibu.

Berarti yang teriak minta tolong semalam itu pasti Bia, coba semalam itu aku buka pintu dan mengecek langsung ke dalam. Tentu hal ini tidak akan terjadi, hilangnya Bia akan cepat diketahui. Aku menyesal kenapa semalam tidak kepikiran untuk membuka pintu. Sekarang, kemana harus kucari keberadaan adikku itu.

Aku mencoba telpon teman sekamar Bia saat ngekos, waktu itu Bia sempat memberi tahu nomor ponsel salah satu temannya.

Tak lama sambungan telepon tersambung.

“Assalamualaikum. Maaf, apa benar ini nomor Kinara?” tanyaku.

“Iya benar Mas, ini siapa ya,” tanyanya balik.

“Saya Arfan, kakak Bia. Maaf, apa Bia bersamamu.”

“Maaf Mas, sejak Bia pindah kemaren, sampai hari ini kami tidak ketemu, emang kenapa Mas?”

“Ini, Bia menghilang dari kamarnya pagi ini, siapa tahu dia bersamamu.”

“Jangan panik dulu Mas, mungkin Bia keluar sebentar dan lupa pamit. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu yang membahayakan dirinya.”

Aku segera memutuskan sambungan telepon setelah mengucapkan terima kasih. Mungkin benar juga perkataan Kinara, Bia hanya lupa pamit.

Aku pandangi wajah ibu yang cemas memikirkan nasib anak gadisnya. Tak tega melihat mendung di matanya.

“Ibu tenang ya, jangan khawatir, Bia pasti bisa jaga diri. Kita doakan, semoga Bia baik-baik saja.”

“Gimana ibu bisa tenang Arfan, adikmu di mana? Kamu harus cari terus sampai ketemu.”

“Iya Bu itu sudah pasti, sekarang sebaiknya ibu istirahat. Jangan banyak pikiran, aku tidak mau ibu jatuh sakit.”

Ibu mengangguk lemah, kemudian beranjak keluar dari kamar Bia. Begitu pun aku diikuti oleh Nuri.

Aku menyugar rambutku kasar dan beranjak ke ruang keluarga. Sementara Nuri pergi ke kamar atau ke dapur, entahlah, aku tidak memperhatikan.

Aku duduk terpekur seraya berdoa Bia baik-baik saja. Tengah asyik sendiri, terdengar panggilan telpon masuk. Nomor yang tidak dikenal.

Mungkin itu telpon dari Bia, bisa saja ponselnya lowbat dan dia meminta bantuan orang lain.

“Assalamualaikum,” salamku memulai menjawab panggilan.

“Jika ingin adikmu selamat, tebus dia dengan nominal 100 juta.”

Sontak wajahku menegang, kaget tentu saja. Aku pikir itu telpon dari Bia, ternyata perkiraanku salah. Orang yang menelpon, seorang pria yang meminta tebusan, dengan nominal yang tidak sedikit pula.

“Siapa kamu? Kenapa kamu menculik adik saya.”

“Kamu tidak perlu tahu siapa saya, siapkan saja uang sesuai permintaan saya.”

“Tolong jangan lukai adik saya, saya akan siapkan uang sesuai permintaan anda. Silakan sharelok alamatnya, sekarang juga akan saya usahakan mencari uangnya.”

“Ingat! Jangan sampai lapor polisi, jika anda coba-coba menghubungi aparat polisi, maka saya pastikan adikmu tidak selamat.”

Belum sempat aku mengabulkan permintaannya, sambungan telepon dimatikan.

Kini aku sungguh menyesal, andai aku kemaren sore sempat memasang cctv pastilah aku mengetahui siapa dalang dibalik semua ini.

Jangan-jangan ini perbuatan Nuri dan Abangnya.

Untuk memastikan dugaanku, aku melangkah ke kamar Bang Handi. Kini aku telah berada di depan pintu ruang tamu, tempat Bang Handi menginap sementara waktu.

Belum sempat aku mengetuk pintu, aku dikejutkan oleh pertanyaan dari lelaki yang baru muncul dari luar. Lelaki yang sedang berpakaian kaos olahraga dan celana training dengan sepatu sport lengkap.

“Mau cari Abang ya,” tanyanya dengan tersenyum ramah.

“Abang dari mana?”

“Kamu gak bisa lihat pakaian yang Abang kenakan. Ya habis olahraga dan lari pagi sekitaran komplek lah. Mau ngapain lagi!” serunya jenaka.

“Semalam Abang pergi ya,” tanyaku curiga.

“Pergi, pergi kemana?” sahut bang Handi mengernyit bingung.

“Abang yang pergi, kenapa tanya aku.”

"Abang gak pergi ke mana-mana?"

"Sudah ngaku aja, Bang. Buktinya tak lama setelah subuh Abang tidak muncul, ketika ibu teriak.Teriakan ibu kencang loh, itu membuktikan dari semalam Abang tidak di rumah.”

"Selesai sholat subuh Abang langsung jalan, ya tentu saja Abang tidak mendengar teriakan ibu."

“Oh iya, kenapa teriak?” tanya bang Handi memgenryit bingung.

“Bia hilang.”

“Kok bisa.”

“Karena Abang membawanya pergi, benarkan dugaanku. Lalu pagi ini Abang pulang, karena kepergok olehku, Abang pura-pura habis olahraga, biar aku tidak menduganya. Benarkan Bang!”

 "Pintar juga Abang bersandiwara, sengaja mengenakan kaos olah raga, bila ketahuan pulang pagi, Abang akan berkelit, seakan-akan Abang habis lari pagi, supaya aksi Abang tidak ketahuan." Sambungku mendengkus kasar. Tidak salah lagi, teriakan Bisa semalam karena perbuatan Bang Handi. Hanya dia yang aku curigai saat ini.

Siapa lagi yang patut aku curigai kali ini.

Bersambung...

Terima kasih sobat semua, bila suka dengan ceritanya, bisa bantu subscribe dan rate lima ya. 

Sekali  lagi, terima kasih atas perhatiannya.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status